
*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*
“Apa yang ingin kau sampaikan, Gentabaya?” tanya Ki Rawa Banggir kepada muridnya usai menghormat kepadanya dan Tiga Malaikat Kipas.
“Eee… anu, Guru,” jawab Gentabaya ragu. Ia berpikir, jika ia jawab apa adanya, mungkin itu akan membuat ketiga tamu merasa tersinggung. Jika ia jawab yang lain, ia tidak punya jawaban untuk berdusta.
“Jangan hanya karena masalah tidak penting kau mengganggu suasana yang sedang dinikmati oleh ketiga tamuku,” kata Ki Rawa Banggir.
“Sebenarnya, Guru. Tadi di kamar tiga puluh, aku dan keempat murid yang sedang memeriksa kondisi kamar tamu, dipermainkan oleh suara tawa dua lelaki tua dan satu perempuan. Ada suara tawa, tapi ketika kami lihat di dalam kamar, suara tawanya hilang. Ada suara tawa, tapi tidak ada wujud orangnya. Aku curiga itu penyusup, Guru. Hal itu yang ingin aku laporkan kepada Guru. Aku tidak tahu bahwa Guru sedang ada tamu,” ujar Gentabaya apa adanya.
“Dua lelaki tua dan satu wanita?” sebut ulang Ki Rawa Banggir.
“Benar, Guru. Aku sangat kenal jenis suaranya,” tandas Gentabaya.
Ki Rawa Banggir lalu beralih memandang kepada Tiga Malaikat Kipas.
“Pandanganmu seolah mencocokkan bahwa dua lelaki tua dan satu perempuan itu adalah kami, Rawa,” kata Minati Sekar Arum.
“Apakah suara tawanya seperti tawa kami, Anak Muda? Jawab saja, jangan takut sebagai seorang pendekar dan lelaki!” kata Ewit Kurnawa.
“I… i… iya,” jawab Gentabaya agak-agak ngeri berurusan dengan tiga orang sakti itu.
“Kau bisa buktikan bahwa mereka ada di kamar itu ketika kalian di sana? Sebab sejak tadi Tiga Malaikat Kipas ada bersama kami,” tanya Ki Rawa Banggir.
“Ti… ti… tidak, Guru. Aku hanya mencocokkan suaranya saja,” jawab Gentabaya.
“Ah, sudahlah. Pergilah, lanjutkan tugasmu!” perintah Ki Rawa Banggir.
“Baik, Guru,” ucap Gentabaya patuh lalu menghormat dalam kepada gurunya dan ketiga tamu.
Gentabaya lalu beringsut mundur dan bangkit berdiri dengan perasaan lega.
__ADS_1
“Hahahak…!”
Tiba-tiba tawa Tiga Malaikat Kipas meledak keras, seolah menertawakan kepergian Gentabaya. Murid Ki Rawa itu hanya bisa mengelus dada.
Ki Rawa Banggir dan keempat istrinya pun ikut tertawa. Mereka tahu bahwa apa yang dialami Gentabaya dan keempat rekannya adalah perbuatan iseng Tiga Malaikat Kipas. Meski wujud keberadaan mereka bertiga ada di rumah itu, tetapi kesaktian mereka membuat tawanya bisa berada di tempat lain pada waktu yang bersamaan.
“Rawa Banggir, pertemuan kita akan tetap berjalan sesuai jadwal. Sebanyak empat puluh orang yang telah aku undang, tapi menurutku tidak semua akan datang. Seperti Resi Putih Jiwa, Raja Kera dan Resi Tambak Boyo tidak akan datang. Aku dapat kabar bahwa Raja Kera sudah tewas dalam perang di wilayah Kerajaan Baturaharja,” ujar Ewit Kurnawa.
“Oh,” desah Ki Rawa Banggir prihatin.
“Ya, tidak masalah. Setidaknya makanan akan berlebih banyak,” celetuk Ewit Kurnawa.
“Hahahak!” tawa Iblis Timur. “Itu namanya kau bergembira di atas duka orang lain. Semakin banyak tamu yang mati, kau semakin senang!”
“Aku mendapat laporan, Desa Lamongan hari ini dipadati oleh kedatangan para pendekar yang menuju Gua Lolongan. Menurut muridku yang aku kirim mencari kabar tentang keramaian itu, mereka menuju Gua Lolongan karena berita tentang keberadaan pusaka tanpa tanding. Siapa yang berhasil memiliki pusaka itu, pendekar tersebut tidak akan bisa terkalahkan. Namun, belum jelas pusaka apa itu,” tutur Ki Rawa Banggir.
“Jika berhasil memiliki pusaka itu, kemudian membuat pemiliknya tidak terkalahkan, itu seperti cerita pusaka Tongkat Jengkal Dewa,” timpal Minati Sekar Arum.
“Tapi sepertinya kami belum mendapat kabar tentang hilangnya pusaka itu. Yang kami tahu, Tongkat Jengkal Dewa masih berada di tangan Putri Bibir Merah yang saat ini masih menghilang. Betul? Betul?” kata Ewit Kurnawa lalu bertanya kepada kedua rekannya satu per satu untuk memastikan pengetahuannya.
“Benaaar!” sahut Minati Sekar Arum dan Iblis Timur bersaamaan dengan nada panjang.
“Hahahak!” tawa mereka bertiga yang menciptakan kekocakannya sendiri.
“Tapi, itu akan terjawab jika ada di antara kita yang datang memantau ke Gua Lolongan, atau para undangan pertemuan kita sudah berdatangan. Aku yakin di antara mereka ada yang tahu tentang keberadaan Putri Bibir Merah dan pusaka miliknya,” kata Iblis Timur usai tertawa.
“Aku sudah mengirim beberapa muridku ke Gua Lolongan,” kata Ki Rawa Banggir.
“Waktu yang bersamaan jelas sangat mencurigakan bahwa keramaian di Gua Lolongan bertujuan mengganggu acara kita. Mungkinkah orang yang berada di belakang keramaian itu adalah musuh besar aliran putih?” kata Ki Rawa Banggir.
“Sangat mungkin itu adalah keramaian yang sengaja dibuat oleh musuh-musuh besar aliran putih. Sebab, aku yakin bahwa kerahasiaan pertemuan ini sudah bocor kepada aliran hitam,” kata Minati Sekar Arum.
“Seperti pengantin baru di malam pertama. Meski bertarungnya rahasia, tetapi semua orang tahu kira-kira seperti apa berlangsungnya pertarungan itu. Yang ujung-ujungnya kedua petarung sama-sama kelelahan!” kata Ewit Kurnawa berapi-api.
__ADS_1
“Hahahak…!” tawa mereka semua.
Keempat istri Ki Rawa Banggir hanya tertawa sambil menutupi gigi mereka dengan tangannya.
“Aku menduga ini adalah ulah Malaikat Dewa Raja Iblis seperti di masa lalu,” kata Ki Rawa Banggir.
“Kesaktian Raja Kerajaan Siluman itu sebenarnya tidaklah begitu tinggi. Ia begitu kuat karena dikelilingi oleh pasukan siluman yang terdiri dari para pendekar sakti,” kata Iblis Timur.
“Meskipun orang yang membuat keramaian itu adalah Malaikat Dewa Raja Iblis, dia tidak akan berani masuk ke Jurang Lolongan berhadapan dengan Tiga Malaikat Kipas!” kata Iblis Timur.
“Apalagi harus berhadapan dengan Dewa Kematian,” kata Minati Sekar Arum.
“Hmm, masih ada yang mengenang cinta masa lalu. Hahaha!” sindir Ewit Kurnawa lalu tertawa sendiri, membuat Minati Sekar Arum melirik sinis.
“Mungkin saja besok ada berita bagus bahwa Dewa Kematian sudah menjanda!” celetuk Iblis Timur.
“Hahahak…!” tawa mereka semua ketika mendengar kata “menjanda”.
“Sepertinya ada yang mengharapkan aku menjanda!” kata satu suara berat dan tua tiba-tiba, tapi tidak terlihat wujudnya.
Suara itupun terdengar seolah berasal dari langit malam. Tiga Malaikat Kipas dan Ki Rawa Banggir seketika berhenti tertawa dan mendelik. Mereka kenal dengan suara itu, meski sudah puluhan tahun tidak pernah bertemu.
Wess!
Seembusan angin malam yang tidak wajar tiba-tiba datang menerpa tubuh mereka. Seiring itu, di dekat tangga di ujung teras muncul berjalan sesosok tubuh berpakaian merah megah berpadu warna putih. Seolah ia duta negara masa depan. Uniknya kemunculan lelaki tua berambut putih gondrong tersebut, tubuhnya seolah muncul terbentuk dari serbuk angin malam yang datang sehingga menjadi sosok yang utuh.
Lelaki tua itu masih menyisakan wajah yang tampan, terlihat dari hidung mancungnya yang kokoh dengan kumis putih yang tipis. Pada dahinya ada bando logam emas berukir. Tubuhnya masih gagah dengan langkah yang tidak menimbulkan suara sedikit pun. Lelaki itu memiliki fisik yang puluhan tahun lebih muda dari usia sebenarnya yang nyaris seratus tahun. Ialah yang bernama Dewa Kematian, buyut dari Joko Tenang atau kakek dari Raja Anjas Perjana Langit.
Melihat kedatangan Dewa Kematian, Minati Sekar Arum jadi tersenyum samar. Wajah putihnya bersemu agak merah.
“Hahahak!” tawa Ewit Kurnawa dan Iblis Timur kembali meledak, menertawakan Minati Sekar Arum yang pada masa mudanya memiliki ikatan kasih dengan tokoh yang baru datang itu.
Ki Rawa Banggir segera bangkit berdiri ketika melihat kedatangan lelaki tua gagah itu. Keempat istri Ki Rawa Banggir dan Tiga Malaikat Kipas juga turut bangkit menyambut kedatangan orang sakti itu. (RH)
__ADS_1