
*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*
Ki Ageng Kunda Poyo dan Emping Panaswati malam ini dibuat kenyang dengan rasa terkejut.
“Apa maksudmu Joko adalah pewaris Tongkat Jengkal Dewa, Kunda?” tanya Nara.
“Nenek Joko yang bernama Putri Bibir Merah telah menitipkan Tongkat Jengkal Dewa di kediamanku, untuk nanti aku berikan kepada putra Ningsih Dirama yang bernama Joko Tenang, murid Ki Ageng Kunsa Pari, karena Joko Tenang adalah keturunan Ratu Bibir Darah yang berbibir merah alami,” jawab Ki Ageng Kunda Poyo.
“Akulah itu, Ki Ageng,” sahut Joko Tenang.
“Iya, aku sudah tahu!” hardik Ki Ageng Kunda Poyo kesal. Ia kesal bukan karena Joko, tapi karena nasibnya yang ia nilai sangat buruk. “Tapi sebelum aku menemukan dirimu dan memberikan pusaka itu, wanita bernama Putri Aninda Serunai itu tiba-tiba datang dan merebutnya. Aku dirampok. Aku bingung, apakah ini salah? Memang benar pusaka itu jatuh bukan kepadamu, Joko, tapi wanita itu juga adalah keturunan Ratu Bibir Darah.”
“Jadi kau adalah cicitku, Joko?” tanya Emping Panaswati guna memastikan lagi.
“Mungkin,” jawab Joko Tenang ragu.
“Benar kau adalah cicitku, karena nenekmu si Rumih Riya itu adalah keponakanku. Hihihi! Cicitku!” kata Emping Panaswati lalu tertawa sambil menghamburkan diri memeluk Joko Tenang, seperti nenek buyut yang begitu kangen dengan cicitnya.
Joko Tenang hanya mendelik bingung antara menolak atau menerima pelukan itu. Pertimbangan itu justru membuatnya telat, karena si nenek sudah memeluk dan menciumi wajah licinnya. Meski tidak mencium bibir, tetapi ciuman bertubi-tubi tiga kali empat itu, tiga di pipi kiri dan empat di pipi kanan, cukup membuat Joko kewalahan untuk bernapas.
“Hihihi! Bocah bagus!” puji Emping Panaswati sambil tertawa. Ia benar-benar senang memiliki keturunan tidak langsung yang tampan dan gagah.
“Sekarang kau menyebutnya bocah bagus, tadi kau menyebutnya kewanitaan!” celetuk Nara.
“Hihihi! Itu kan tadi, masa lalu biarlah masa lalu, hadapi apa yang ada sekarang,” kata Emping Panaswati, seolah ia penyuka lagu Inul Daratista yang berjudul “Masa Lalu”. Ia mengelus-elus punggung Joko karena begitu senangnya.
“Wasiat yang sampai kepadamu dari Putri Bibir Merah adalah pusaka itu untuk keturunan Ningsih Dirama yang bernama Joko Tenang, bukan Putri Aninda Serunai. Jadi pusaka itu adalah hak milik suamiku!” tandas Nara beralih kepada Ki Ageng Kunda Poyo.
“Iya iya iya, aku salah. Tapi aku dirampok dan aku kalah, jadi bukan salahku. Yang salah adalah orang yang membocorkan tentang keberadaan pusaka itu bahwa ada di kediamanku,” kata Ki Ageng Kunda Poyo masih mencoba membela diri.
“Semua sudah terjadi, Ki Ageng. Tidak perlu menyalahkan diri atau membela diri,” kata Joko Tenang.
“Berarti aku harus pergi langsung ke Kerajaan Siluman untuk merebut kembali pusaka itu, tapi setelah pertemuan di Jurang Lolongan,” kata Ki Ageng Kunda Poyo.
“Tidak perlu, Ki Ageng, karena Putri Aninda Serunai berada di sekitar Gua Lolongan. Tidak mungkin jika dia berada di Gua Lolongan lalu senjatanya dia tinggal di Kerajaan Siluman,” kata Joko Tenang.
“Bagaimana kau tahu, Joko?”
__ADS_1
“Karena istri kedelapan Joko tahu siapa dalang di balik keramaian di Gua Lolongan.” Nara yang menjawab pertanyaan itu.
“Apa?! Istri kedelapan?!” pekik terkejut Ki Ageng Kunda Poyo dan Emping Panaswati bersamaan.
Blar blar blar…!
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara ledakan beruntun yang nyaring. Bukan terjadi di tempat itu, tetapi di tempat lain di sisi timur.
Joko Tenang, Ki Ageng Kunda Poyo dan Emping Panaswati seketika menengok ke arah timur. Berbeda dengan Nara, wajahnya bergeming tetap mengarah lurus ke depan.
Rasa penasaran ingin tahu membuat Ki Ageng Kunda Poyo dan Emping Panaswati segera berkelebat ke arah timur, meski sebenarnya mereka masih punya pertanyaan tentang diri Joko Tenang.
Dalam waktu singkat, keduanya tiba di bawah pohon menyaksikan pertarungan yang ramai di malam itu.
Ada empat orang yang terlibat dalam pertarungan dan seorang wanita yang berdiri hanya menonton. Pertarungan itu terdiri dari dua lelaki tua dan seorang wanita tua yang mengeroyok satu wanita muda cantik nan seksi. Wanita cantik berpakaian hijau muda itu tidak lain adalah Dewi Bayang Kematian.
Entah kesalahan apa yang diperbuat oleh Dewi Bayang Kematian sehingga ia dikeroyok oleh tiga orang tua?
“Waw! Tiga tokoh tua mengeroyok seorang wanita muda cantik!” komentar Emping Panaswati.
“Bukankah wanita itu Dewi Bayang Kematian, muridnya tokoh hitam Pita Api?” terka Ki Ageng Kunda Poyo.
“Hehehe! Sepertinya kau susah hati jika aku menilai wanita cantik,” kata Ki Ageng Kunda Poyo seraya terkekeh.
“Setahuku Dewi Bayang Kematian orang yang sulit dikalahkan, meski ia masih muda. Setan Ngompol dan Hantu Kaki Tiga belum tentu bisa mengalahkan wanita itu,” kata Emping Panaswati.
Setan Ngompol yang disebut oleh Emping Panaswati adalah seorang lelaki tua gemuk berkulit gelap. Ia tambah gelap di kala malam. Ia mengenakan pakaian gelap warna cokelat, celana cokelat gombrong. Rambut putihnya yang pendek ditutupi dengan kain warna putih. Uniknya, dia bertarung dengan senjata seperti kain sarung. Namun, baik sarung dan celananya, menebarkan bau pesing yang tajam.
Adapun Hantu Kaki Tiga adalah seorang lelaki kurus berambut putih pendek tetapi keriting. Lelaki berwajah tirus dan berjenggot keriting itu, mengenakan pakaian warna biru gelap dengan sabuk berwarna merah gelap. Ia bertarung dengan sebatang kaki berpotong paha di tangan kanannya. Namun, itu bukan kaki sungguhan, tetapi kaki kayu yang dibuat sebagai replika. Di dalam bagian paha, ada pegangan untuk tangan. Karena kaki palsu itulah ia dijuluki Hantu Kaki Tiga.
Sementara si wanita tua yang turut mengeroyok Dewi Bayang Kematian adalah Nenek Rambut Merah. Sesuai namanya, ia memang berambut merah terang, bukan merah dalam artian kuning. Ia pun mengenakan jubah merah yang dililit oleh sabuk hitam. Nenek itu tidak memiliki senjata pada kedua tangannya, tetapi ada beberapa helai daun melesat-lesat di udara yang menjadi senjatanya.
Sementara Dewi Bayang Kematian mengandalkan ilmu Gerak Bayangan Dewi, yang memiliki kecepatan gerak nyaris secepat ilmu Bayang-Bayang Malaikat milik Joko Tenang dan Anjas Perjana Langit. Kecepatan gerak itulah yang membuat dia bisa bertahan dalam pengeroyokan ketiga tokoh tua itu. Ia belum menggunakan senjata pita birunya.
“Dewi Bayang Kematian,” sebut Joko Tenang lirih saat hadir di area tersebut menyaksikan pertarungan yang terjadi.
“Kau kenal wanita berdada besar itu, Kakang Prabu?” tanya Nara yang bisa tahu secara detail sosok Dewi Bayang Kematian, meski Dewi Mata Hati bermata buta dan jaraknya dari pertarungan cukup jauh.
__ADS_1
“Iya. Dia adalah mantan kekasih Ketua Raja Pedang, pendekar pedang yang pernah mengajakku bertarung memperebutkan Ginari. Ternyata dia tertarik juga dengan kabar pusaka Gua Lolongan. Tapi kenapa dia sampai dikeroyok seperti itu?”
“Urusan mereka bukan urusan kita, lebih baik kita pergi melanjutkan perjalanan agar cepat tiba di Jurang Lolongan,” kata Nara.
“Tunggu!” kata Joko Tenang.
Pemuda berbibir merah itu memusatkan perhatiannya kepada sosok wanita muda cantik yang hanya berdiri menonton pertarungan. Wanita itu berbaju merah muda dan bercelana hitam. Tangan kirinya memegang pedang, sementara tangan kanannya menggunakan penyangga tangan dari kain putih, karena tangannya cedera. Wanita itu tidak lain adalah Limarsih, Pendekar Pedang Bangau.
Beberapa hari yang lalu, Limarsih menjalani pertarungan dengan Dewi Bayang Kematian. Tingkat kesaktian Dewi Bayang Kematian memang terlalu jauh di atas Limarsih. Hampir saja Limarsih menemui ajal di tangan Dewi Bayang Kematian, jika tidak buru-buru dibawa kabur oleh gurunya, yaitu Nenek Rambut Merah.
Joko Tenang berjalan pergi ke arah Limarsih yang tidak begitu memperhatikan kemunculannya. Namun kemudian, Limarsih menengok ketika menyadari ada seseorang yang datang ke arahnya.
“Siapa?” ucap Limarsih lirih kepada dirinya sendiri. Keningnya berkerut memandangi sosok yang tidak begitu jelas karena temaramnya malam.
Ketika sosok Joko Tenang semakin dekat kepadanya, Limarsih berubah mendelik dengan sepasang bibir yang menganga.
“Jo… Joko? Joko Tenang?” terka Limarsih gembira tapi separuh ragu-ragu. Yang membuatnya mengenali bahwa pemuda itu adalah Joko Tenang, yakni warna bibirnya. Yang membuatnya ragu adalah dugaan bahwa ada lelaki lain yang juga berbibir merah.
Joko Tenang akhirnya berada di dekat Limarsih. Joko berhenti lima langkah dari posisi Limarsih.
“Apakah Nisanak bernama Limarsih?” tanya Joko Tenang seraya tersenyum ramah.
“Kau Joko Tenang?” tanya Limarsih seraya tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca.
“Ya,” jawab Joko singkat.
“Jokooo!” pekik Limarsih sambil merangsek maju hendak memeluk pemuda itu.
“Eiit! Jaga jarak!” kata Joko cepat sambil mundur beberapa langkah hingga Limarsih juga berhenti.
“Hihihi…!” tawa Limarsih nyaring dan panjang karena begitu gembiranya. Ia tidak kecewa tidak dapat memeluk Joko Tenang yang sangat tampan itu, karena sepengetahuannya, Joko Tenang memiliki penyakit aneh yang tidak bisa didekati wanita.
Mendengar suara jeritan Limarsih dan tawanya, Nenek Rambut Merah menjadi heran, memaksanya berhenti sejenak dari pertarungan hanya untuk melihat kondisi muridnya. Dilihatnya Limarsih sedang berhadapan dengan seorang lelaki berompi merah, berambut gondrong.
Wuss!
Satu angin pukulan menderu menyerang Nenek Rambut Merah yang sedang lengah. Serangan dari Dewi Bayang Kematian itu mengejutkan Nenek Rambut Merah. Ia cepat melompat, tapi agak terlambat. Sepasang kaki si nenek masih sempat tersambar angin, membuat tubuhnya berputar dan terbanting ke tanah.
__ADS_1
“Guru!” pekik Limarsih terkejut. Namun, ia kemudian lega, sebab gurunya dengan cepat bangkit kembali dan melanjutkan pertarungan. (RH)