8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
De Bude 27: Ilmu Delapan Dewi Bunga


__ADS_3

*Dewi Bunga Kedelapan (De Bude)*


Prabu Dira Pratakarsa Diwana kini berkumpul dengan ketujuh istrinya dan seorang calon istrinya, yang termasuk dalam calon Dewi Bunga. Hanya Kusuma Dewi yang tidak hadir.


Sementara Dewi Ara sudah sembuh dengan sepasang mata yang sudah normal kembali. Seterunya dengan Nara benar-benar sudah berakhir. Joko Tenang memilih untuk menyelesaikan ilmu Delapan Dewi Bunga sebelum menikahi Dewi Ara secara sah.


Sebelum mereka melakukan penguasaan ilmu Delapan Dewi Bunga, terlebih dulu mereka harus mendengarkan paparan teori dari Tirana terlebih dahulu. Tirana telah dibekali pengetahuan mendalam tentang ilmu tersebut.


“Di saat kami berdelapan menyalurkan tenaga dalam tingkat tertinggi, yang masing-masing kami miliki ke dalam tubuh Kakang Prabu, kondisi tubuh Kakang Prabu harus kosong dari tenaga dalam, biarkan semua tenaga itu masuk dan saling menyatu satu sama lain. Kekuatan yang mengunci seluruh kesaktian Kakang Prabu sebelumnya akan menjadi penawar, sehingga kedelapan tenaga kami tidak menjadi kekuatan yang saling bertentangan. Tenaga itu akan menyatu dan membentuk kekuatan dahsyat sehingga meledak. Dengan meledaknya tenaga itu, maka Kakang Prabu sudah memiliki sumber ilmu Delapan Dewi Bunga. Setelah itu, Kakang Prabu harus menyalurkan ilmu kepada kami satu per satu dengan menyentuh kepala kami. Pada proses ini, kita berdelapan harus menahan dengan sekuat tenaga. Karenanya, kesaktian yang masih setingkat Kusuma Dewi akan hancur jika memaksakan menerima ilmu ini…” papar Tirana.


“Semudah itu caranya?” tanya Sandaria.


“Tidak mudah. Pada awal penyaluran tenaga secara bersamaan ke dalam tubuh Kakang Prabu, akan terjadi ledakan yang mencelakakan jika di antara istri ada yang masih menaruh dendam dan kebencian. Jika rasa benci itu masih ada di salah satu hati kalian, maka pembentukan itu akan gagal. Sengketa antara Permaisuri Guru dengan Dewi Ara akan dibuktikan di sini, apakah benar-benar sudah selesai atau masih ada yang terpendam,” kata Tirana.


“Aku pastikan sudah tidak ada kebencian,” kata Dewi Ara.


“Jika demikian, apakah sudah bisa kita lakukan?” tanya Nara.


“Bisa,” jawab Tirana.


Maka keluarlah mereka ke pelataran Aula Sanggana Perkasa. Kawasan itu ditutup. Selain prajurit yang berjaga, orang lain dilarang untuk memasuki area pelataran aula.


Joko Tenang berdiri di tengah pelataran tanpa mengenakan baju. Rompi pusaka yang selalu ia kenakan juga ia lepas. Ia lalu berdiri sambil merentangkan kedua tangannya.


Sementara kedelapan wanitanya berdiri mengelilingi tubuh suaminya dalam posisi yang berdesakan. Ratu Getara Cinta dan Tirana menempelkan satu telapak tanganya pada dada Joko Tenang, Yuo Kai dan Kerling Sukma menempelkan telapak tangannya pada punggung, Sandaria dan Sri Rahayu menyentuh pada kedua lengan, Nara dan Dewi Ara memegang telapak tangan.


“Ingat, Kakang Prabu, jangan mengerahkan tenaga dalam sedikit pun. Jika ada sakit, tahan menggunakan tenaga kasar,” kata Tirana mengingatkan.


“Laksanakan!” perintah Joko Tenang.


“Mulai!” seru Tirana berkomando.


Secara serentak, kedelapan wanita itu membangkitkan tenaga saktinya masing-masing dengan tingkat yang berbeda-beda. Tenaga dalam tertinggi jelas dimiliki oleh Nara.

__ADS_1


“Hekh!” keluh Joko Tenang tertahan dengan tubuh yang tersentak karena merasakan rasa sakit.


Namun, ia berusaha untuk melemahkan seluruh otot-ototnya agar tubuhnya menjadi berdiri santai, meski ada rasa sakit yang menggerogoti di dalam tubuh. Sakit itu sebenarnya tidak begitu pedih, tetapi cukup mengganggu.


Joko Tenang merasakan ada delapan jenis tenaga sakti yang masuk ke dalam tubuhnya lalu bertemu dan saling mengaduk di dalam. Rasa itu terasa begitu aneh, membuat wajah Joko Tenang mengerenyit menahan kondisi dalam tubuh yang tidak wajar, bahkan rasa mules yang menggigit sempat melintas. Namun, ia tetap berusaha menahan agar tenaga dalamnya tidak terpancing keluar.


Joko Tenang kemudian merasakan penyatuan delapan tenaga sakti itu mulai memadat, seolah secara perlahan memenuhi seluruh rongga di dalam tubuh, di dalam aliran darah, di setiap persendian, hingga menusuk ke dalam tulang-tulang.


“Tubuhku terasa ingin meledak,” batin Joko Tenang.


Blast!


Tiba-tiba ada ledakan sinar hijau yang dahsyat dari dalam tubuh Joko Tenang ke segala arah. Ledakan itu mementalkan tubuh kedelapan wanita cantik jelita tersebut. Semuanya terjengkang dengan punggung menghantam lantai pelataran. Kedelapannya segera bangkit kembali tanpa mengalami luka. Semuanya memandang kepada Joko Tenang.


Tubuh Joko Tenang kini menghijau karena ada pancaran sinar hijau dari dalam tubuhnya, seolah-olah sinar yang bersumber dari dalam tubuh itu membias melalui lubang pori-pori. Warna hijaunya sedikit lebih gelap dibandingkan warna hijau kesaktian Permata Darah Suci.


“Berhasil. Kakang Prabu sudah memiliki sembilan tingkat ilmu Delapan Dewi Bunga!” kata Tirana bersemangat. Lalu katanya kepada para permaisuri yang lain, “Lakukan seperti apa yang aku lakukan ketika menerima ilmu Delapan Dewi Bunga. Tahan tekanannya dengan sekuat tenaga!”


Tirana lalu maju ke hadapan tubuh suaminya yang bersinar hijau. Ia turun berlutut dengan satu kaki.


Joko Tenang lalu meletakkan tangan kanannya pada kepala Tirana. Mulailah Joko Tenang menyalurkan tenaga dalam yang berisi ilmu Delapan Dewi Bunga. Dari wajah Joko Tenang muncul jalaran gelombang sinar hijau menyilaukan yang mengalir turun hingga ke tangan, kemudian menyerap masuk ke dalam kepala Tirana.


“Hekk!” pekik Tirana tertahan dengan tubuh mengejang. Terlihat kedua tangannya mengepal kuat. Pada saat itu, Tirana mengerahkan tenaga saktinya untuk menahan tekanan yang sangat berat di dalam tubuhnya.


Bukan hanya satu sinar yang masuk ke dalam kepala Tirana, tetapi ada delapan sinar yang bersusulan. Setiap menyusul masuk satu sinar, maka rasa sakit dan tekanannya bertambah.


Setelah berhasil menahan serangan delapan sinar hijau pada dalam tubuhnya, Tirana akhirnya berhenti mengejang, yang kemudian disusul tubuh Tirana bersinar hijau menyilaukan selama tiga detik. Sepadamnya sinar hijau pada tubuh Tirana, menandakan bahwa Permaisuri Penjaga berhasil menerima ilmu Delapan Dewi Bunga.


Tirana kemudian mundur dengan tubuh yang berbanjir peluh.


Giliran Yuo Kai yang maju dan melakukan seperti apa yang tadi dilakukan oleh Tirana.


Hal yang sama dialami oleh Yuo Kai. Hingga akhirnya ia pun mampu menahan serangan ilmu Delapan Dewi Bunga.

__ADS_1


Satu per satu para permaisuri menerima ilmu Delapan Dewi Bunga dari Joko Tenang. Orang yang terakhir adalah Dewi Ara. Semuanya berhasil. Setelah itu, kedelapan wanita itu memang merasakan memiliki ilmu baru, bukan hanya satu, tetapi ada delapan.


“Sekarang serang satu per satu dada Kakang Prabu!” perintah Tirana.


Paks!


Ia yang lebih dulu melesat maju menapakkan telapak tangannya yang bersinar hijau menyilaukan ke dada Joko Tenang. Tubuh Joko Tenang memang tersentak, tetapi ia tetap kokoh berdiri di tempatnya.


Paks! Paks! Paks…!


Para istri yang lain bersusulan menghantam dada Joko Tenang dengan telapak yang sama-sama bersinar hijau menyilaukan.


Paks! Bruss!


Pada hantaman telapak kedelapan, sinar hijau yang selama ini ada pada tubuh Joko Tenang seketika padam.


“Kesaktianku kembali,” ucap Joko Tenang lirih. Meski ia tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata kondisinya, tetapi ia bisa merasakan bahwa kesaktiannya telah kembali.


Wuss! Blep!


Segulung angin pukulan dilepas oleh Joko Tenang. Angin panas itu menderu keras membelai lantai pelataran yang kosong dari manusia. Tiba-tiba muncul lautan api yang tidak begitu luas.


“Hahaha! Kesaktianku akhirnya kembali!” teriak Joko Tenang yang didahului dengan tawa kegembiraannya, setelah melihat angin Langit Membakar Bumi kembali bisa ia lepaskan.


Press!


Joko Tenang pun mengeluarkan sinar hijau menyilaukan mata pada kedua telapak tangannya. Itu buka dari ilmu Delapan Dewi Bunga, tetapi itu adalah ilmu Surya Langit Jagad yang kembali bisa Joko Tenang keluarkan.


Kedelapan wanita Joko Tenang tersenyum lebar melihat kesaktian suami mereka telah kembali.


“Kakang Prabu kini memiliki ilmu Delapan Dewi Bunga dengan sembilan tingkat. Sedangkan kita para istri memiliki delapan tingkat. Meski kita sama-sama memiliki delapan tingkat, tetapi masing-masing dari kita memiliki satu tingkatan yang lebih unggul dari yang lain,” jelas Tirana kepada Ratu dan permaisuri yang lain.


“Kakak Permaisuri, aku tidak mengerti penjelasan yang terakhir,” kata Sandaria dengan wajah mengerenyit, tapi tetap saja menggemaskan.

__ADS_1


“Jika aku adalah Dewi Bunga Pertama, maka ilmu Dewi Bunga Pertamaku lebih tinggi dibandingkan ilmu Dewi Bunga Pertama kalian. Jika Sandaria adalah Dewi Bunga Keenam, maka ilmu Dewi Bunga Keenam milik Sandaria lebih tinggi dari ilmu Dewi Bunga Keenam yang kami miliki. Paham?” jelas Tirana lebih rinci.


“Hihihi!” tawa Sandaria. (RH)


__ADS_2