8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mis Kekar 19: Ilmu Dewi Bunga Dua


__ADS_3

*Misteri Kematian Pendekar (Mis Kekar)*


 


Setelah berburu pisang di kebun warga desa, tiga nenek putih, yakni Reka Wani, Sunik Rangkai dan Surti, kembali melanjutkan perburuan mereka, yaitu membunuh para pendekar hanya untuk menciptakan sensasi viral.


Sebelumnya mereka mencari kesepakatan sambil menikmati pisang-pisang mungil yang mereka kupasi.


“Kita sudah mengintai dan tidak menemukan tokoh tua yang kita kenal. Apakah kita harus berhenti hingga pertemuan besok?” tanya Sunik Rangkai dengan pipi kanan benjol oleh desakan pisang di dalam mulutnya.


“Kita cari acak saja, tua atau muda, kenal atau asing, yang terpenting adalah pesan yang kita berikan bisa sampai kepada para pendekar lainnya,” kata Reka Wani, lalu menyumpal mulut tuanya dengan satu pisang mungil penuh, membuat mulutnya jadi seksi dengan kemonyongan.


“Jika begitu, kita menunggu saja di jalan besar seperti penyamun,” kata Surti.


Reka Wani dan Sunik Rangkai mengangguk sepakat.


Maka, setelah menyantap pisang-pisang itu, ketiga nenek ganas itu memilih pos yang tepat untuk melakukan penyergapan terhadap siapa pun yang pantas disergap. Mereka bersembunyi di tanah tinggi plus di balik semak belukar. Bahkan mereka bertengkurap ria dan mengintip jalanan lewat celah-celah tumbuhan semak.


Mereka benar-benar bertindak seperti hewan pemburu. Diam dalam waktu lama demi menunggu mangsa yang lewat di jalan besar yang ada di bawah mereka.


Ketika ada pedati petani lewat, mereka tidak melakukan apa-apa.


Namun, ketika ada rombongan orang berkuda dengan satu kereta, insting membunuh ketiga nenek itu langsung terbelalak.


Mereka bertiga bersiap untuk melakukan sergapan dan serangan mengejutkan, tetapi mereka harus menunggu rombongan berada tepat di bawah mereka.


Dan ketika rombongan kereta kuda, tiga pendekar dan sepuluh prajurit berkuda itu semakin dekat, Reka Wani mulai mengangkat tangan kanannya, siap memberi tanda.


Di dalam rombongan berkuda itu ada Hantam Buta, Warok Genang, dan Lintang Salaksa.


Saat rombongan benar-benar telah berjalan di bawah posisi mereka, Reka Wani lalu menggerakkan jari-jari tangan kanannya ke depan, sebagai tanda saatnya bergerak menyerang.


Serentak ketiga nenek putih itu melompat tinggi ke depan sambil membuang genggaman tangannya menjadi terbuka.


Furr! Furr! Furr!


Kemunculan tiga nenek putih di udara tinggi yang kemudian menaburkan serbuk putih yang banyak, mengejutkan rombongan berkuda.


Sets!

__ADS_1


Namun, ketiga nenek harus terkejut pula. Tahu-tahu di bawah kaki mereka muncul begitu saja lapisan sinar merah tipis, datar lagi luas, seolah menjadi atap bagi rombongan berkuda tersebut.


Ces ces ces!


“Ak! Aw! Aaak!”


Ketiga nenek itu berjejeritan saat mereka tidak bisa menghidar. Mereka harus menginjak lapisan sinar merah tersebut, seperti orang bertelanjang kaki menginjak lantai bara api.


Kerasnya lapisan sinar merah tersebut memaksa ketiga nenek tersebut melompat balik naik ke atas tanah tinggi.


Sementara serbuk racun yang mereka tabur pastinya tidak sanggup pula menembus lapisan sinar merah dari ilmu Payung Kematian.


Sebelum serangan sergapan itu, Permaisuri Mata Hijau yang ada di dalam bilik kereta kuda bersama para dayang, sudah mengetahui keberadaan beberapa orang yang mencurigakan di sisi atas jalan, terlebih ketika orang-orang yang tidak diketahui siapa adanya itu tepat di atas mereka.


Sebagai murid Dewi Mata Hati, Kerling Sukma mewarisi ilmu perasa yang tinggi, meski tidak setinggi ilmu gurunya atau Sandaria. Karenanya, ketika ketiga nenek itu melompat menyerang rombongan, Kerling Sukma langsung menghentakkan lengan kirinya lurus ke atas mengerahkan ilmu perisai Payung Kematian.


“Kejar!” teriak Kerling Sukma dari dalam bilik kereta.


Hantam Buta, Warok Genang dan Lintang Salaksa serentak berkelebat dari punggung kudanya, mengejar keberadaan ketiga nenek putih di atas tanah tinggi.


Sementara itu, ketiga nenek mengerenyit menahan perih pada kedua telapak kaki mereka yang terbakar. Jelas itu kondisi yang tidak bagus untuk bertarung.


Ketiga pendekar Pengawal Bunga muncul dari bawah dan mendarat di semak belukar.


“Hati-hati serangan serbuk racunnya!” seru Lintang Salaksa memperingatkan.


Mendengar peringatan itu, Hantam Buta langsung melompat ke samping dan bergulingan di semak belukar, padahal tidak ada serangan dari nenek Surti.


Zess! Zess! Zess!


Blar blar blar!


Ketiga nenek itu kemudian kompak menusukkan tongkat putihnya yang melesatkan bola sinar merah kecil, yang masing-masing menyerang satu target. Hantam Buta, Warok Genang dan Lintang Salaksa sigap melompat menghindar, sehingga menimbulkan tiga ledakan di tiga titik.


Ketika Hantam Buta dan Warok Genang hanya menghindar, berbeda dengan Lintang Salaksa yang menghindar sambil melakukan serangan balik. Ia menghindar naik ke udara lalu balas melesatkan dua sinar merah berpijar dari kedua tangannya.


Wess! Zoss zoss! Blar blar!


Dua sinar merah Lintang Salaksa disambut dengan sinar putih sebesar kepala dari Reka Wani dan Sunik Rangkai. Dua ledakan adu tenaga sakti terjadi di pertengahan jarak.

__ADS_1


Hasilnya, tubuh Lintang Salaksa terpental keras ke belakang dengan mulut menyemburkan darah kental. Tubuhnya meluncur jatuh menuju ke jalanan.


“Lintang!” teriak Hantam Buta dan Warok Genang bersamaan.


Di sisi lain, kedua nenek putih yang beradu ilmu dengan Lintang Salaksa tidak mengalami luka apa pun, karena memang tingkat tenaga dalam mereka jauh lebih tinggi dibandingkan ketiga Pengawal Bunga itu.


Ketiga nenek putih mendelik terkejut ketika melihat tubuh Lintang Salaksa kembali muncul naik ke udara bersama Permaisuri Kerling Sukma.


“Mundur!” perintah Kerling Sukma kepada Hantam Buta dan Warok Genang. Sementara Lintang Salaksa yang bertubuh mungil ia turunkan dalam kondisi terluka dalam parah.


Ketiga nenek putih itu menatap tajam kepada Kerling Sukma yang berpenampilan layaknya seorang wanita kerajaan.


“Jadi kalian yang melakukan pembunuhan tidak jelas itu!” seru Kerling Sukma sambil berjalan lebih mendekat kepada ketiga nenek tersebut.


“Hebat! Muda, cantik, dan sakti!” puji Reka Wani.


“Aku tahu kaki kalian sedang terluka, maka matilah!” kata Kerling Sukma sambil melakukan satu lompatan kancil sejauh sepuluh kaki.


Jess!


“Mundur!” teriak Reka Wani tiba-tiba dengan nada panik.


Clap! Clap!


Ketika ujung kaki kanan Kerling Sukma menyentuh tanah, gelombang sinar hijau melesat cepat dan melebar, seolah melakukan pengecatan terhadap tanah dan apa yang ada di atasnya. Sambil menahan perih pada kakinya, Reka Wani dan Surti meloncat naik ke udara lalu menghilang dari pandangan mata.


Meski keduanya menghilang, tetapi Kerling Sukma tahu ke arah mana keduanya pergi. Berbeda dengan Sunik Rangkai yang telat menghindar.


Sluff! Bress!


“Aaak!” jerit Sunik Rangkai panjang karena harus melepas nyawanya.


Cepatnya jalaran lapisan sinar hijau pada semak belukar membuat Sunik Rangkai kalah cepat dibandingkan kedua rekannya.


Ketika Sunik Rangkai meloncat menghindari lapisan sinar mengenai kakinya, dari bawah ternyata ada lapisan sinar yang melesat naik tanpa putus seperti mulut terompet, menangkap kedua kaki dan menahan loncatan nenek Sunik Rangkai. Jeratan itu membuat tubuh si nenek langsung terbakar oleh api hijau.


Mengerikan, proses bakar api hijau itu begitu cepat, sehingga hanya dalam setarikan napas saja, pakaian, kulit dan daging tubuh Sunik Rangkai terbakar habis.


Tadi, ada juga dua moncong yang naik dari bawah hendak menangkap kaki Reka Wani dan Surti, tetapi mereka berdua lebih cepat meloncat dan menghilang.

__ADS_1


Ketika lapisan sinar hijau yang luas itu hilang, maka Sunik Rangkai jatuh dalam kondisi tinggal tulang-belulang berlapis daging hangus berbau sangit.


Inilah pertama kalinya Kerling Sukma mencoba ilmu Dewi Bunga Dua. (RH)


__ADS_2