8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Rajungan 38: Pertarungan Wanita Cantik Dimulai


__ADS_3

*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)* 


Jika hanya berhadapan dengan Putri Aninda Serunai seorang, mungkin tidak akan setegang ini. Namun masalahnya, Putri Aninda Serunai memegang Tongkat Jengkal Dewa yang katanya membuat pemiliknya tidak akan terkalahkan.


Kini keenam permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil berdiri berhadapan dengan adik tiri Permaisuri Sri Rahayu itu. Meski tegang, tetapi para lakon masih berusaha bersikap santai, terutama Aninda Serunai yang merasa berada di atas angin.


Para pendekar yang ada di seberang jurang hanya bisa menyaksikan ambang perseteruan itu. Belum terlihat tanda-tanda pertarungan akan dimulai.


Ketegangan baru juga tercipta di luar gua dengan datangnya satu rombongan besar dengan jumlah lebih seratus orang. Separuh rombongan itu terdiri dari para lelaki berpakaian warna bebas, tapi model bajunya seragam, yaitu tanpa lengan. Mereka adalah anggota Kelompok Tinju Dewa.


Separuh rombongan lainnya adalah para lelaki berpakaian hitam-hitam. Mereka bersenjatakan tongkat kayu yang ujungnya memiliki bola besi padat. Mereka adalah Kelompok Jago Sodok, kelompok yang tadi malam digaruk habis oleh para permaisuri dan Pasukan Pengawal Bunga.


Orang yang berjalan paling depan dalam rombongan itu adalah Lima Siluman Topeng. Mereka berpakaian serba hitam dan wajah mengenakan topeng kayu hitam sebatas hidung ke bawah.


Di belakang Lima Siluman Topeng berjalan Siluman Bola Kilat alias Pendekar Bola-Bola, Ketua Kelompok Jago Sodok. Di sisinya berjalan Siluman Cemeti Kutuk, yang pada hari kemarin kerja paruh waktu sebagai sekuriti Rumah Makan Nyi Blotot di Desa Lamongan.


Ada pula dua pengawal Putri Aninda Serunai yang baru muncul. Yang pertama seorang pemuda tampan berkepala botak berambut satu centi. Ia berpakaian serba putih. Di pinggang kanannya ada sebuah topeng berwarna hitam, di pinggang kiri ada topeng berwarna merah. Ia bernama Siluman Seratus Rupa.


Sementara pemuda tampan bertubuh besar mengenakan pakaian warna biru bernama Siluman Benteng. Ia tidak membawa senjata apa pun.


Ada satu orang lagi yang berjalan di posisi depan, yaitu lelaki berusia separuh abad. Ia mengenakan baju merah terang tanpa lengan. Otot-otot lengannya yang begitu kekar terkesan sangat keras. Ia bernama Si Tinju Api, Ketua kelompok Tinju Dewa, yang sebelumnya berada di bawah perintah Siluman Gendut.


Kedatangan pasukan di bawah perintah Putri Aninda Serunai itu membuat Pasukan Pengawal Bunga dan lima serigala waspada. Para pendekar yang berkerumun bergerak memberi jalan, sehingga dua kelompok besar itu saling berhadapan.


Para pendekar secara umum ikut tegang.


Keenam permaisuri sejenak melihat ke luar gua. Permaisuri Kerling Sukma berinisiatif pergi ke depan untuk menjadi komandan bagi Pasukan Pengawal Bunga.


Sess!


Dari dalam gua, dari ujung tongkat biru Sandaria, melesat lima sinar biru kecil yang kemudian jatuh kepada kepala lima serigala. Tubuh kelima serigala itu kini diselimuti lapisan sinar biru yang berfungsi sebagai baju zirah.


“Auuu…!”

__ADS_1


Tiba-tiba kelima serigala itu melolong panjang dengan menjulurkan moncongnya ke arah langit. Seolah mengumumkan bahwa mereka siap bertempur.


“Adik Putri Aninda Serunai,” sapa Permaisuri Tirana seraya tersenyum lembut kepada gadis berkumis halus itu. “Apa yang kau inginkan dari bencana ini?”


“Kekuasaan dan kejayaan bagi Kerajaan Siluman dan aliran hitam!” jawab Putri Aninda Serunai lantang lalu tersenyum pula.


“Tapi korban yang mati di Gua Lolongan ini tidak mengenal hitan dan putih,” kata Tirana.


“Matinya pendekar aliran putih adalah tujuan kami. Matinya pendekar golongan hitam adalah pengorbanan kami,” kilah Aninda Serunai.


“Tapi kau akan saling bunuh dengan kakakmu jika kau memilih meneruskan perbuatanmu ini,” kata Tirana lagi.


“Maaf, aku tidak suka dengan kakakku,” kata Aninda Serunai sambil menatap kepada Permaisuri Sri Rahayu. “Apalagi dia menghalangi kedudukanku di Kerajaan Siluman. Selama ada dia, aku akan selalu menjadi nomor dua di mata Ayahanda. Jika aku membunuhnya, Ayahanda pun tidak akan marah karena aku membunuh seorang pengkhianat!”


Ketika menyebut kata “pengkhianat”, Aninda Serunai menekankan nada bicaranya. Hal itu menyulut kemarahan Sri Rahayu.


“Kau mau setor muka kepada Ayahanda yang sudah mati?” tanya Sri Rahayu.


“Apa?” ucap Aninda Serunai pelan tapi terkejut. Kali ini dia yang menatap tajam kepada Sri Rahayu. “Apa yang kau katakan, Putri Sri?”


Dengan cepat darah tinggi Aninda Serunai melejit naik ke ubun-ubun. Wajah tenangnya seketika berubah marah.


“Tanpa Kerajaan Siluman pun aku tetap akan baik-baik saja, karena kini aku akan menjadi Ratu Jagad Raya!” teriak Aninda Serunai keras.


Ceklek! Bress!


Jari tangan kanan Aninda Serunai yang menggenggam Tongkat Jengkal Dewa memutar satu lingkaran pada pusaka itu. Tongkat yang awalnya hanya sejengkal, memanjang dari kedua ujungnya dengan ketebalan yang lebih kecil, sehingga tongkat itu kini sepanjang satu hasta.


Seiring itu, dari tongkat muncul geliat sinar merah yang kemudian menjalar ke tubuh Aninda Serunai, tetapi gadis itu tidak menjerit atau mengejang. Namun, terjadi perubahan pada rambut Aninda Serunai yang menjadi warna merah terang dan dihiasi kilatan-kilatan aliran listrik.


“Mundur!” teriak seorang wanita tiba-tiba dengan keras, tetapi tidak ada yang tahu siapa yang berteriak.


Zerrzz…!

__ADS_1


Blar blar blar…!


Teriakan itu bersamaan dengan Aninda Serunai yang menghentakkan tangan kanannya. Maka enam garis sinar merah berwujud aliran listrik melesat dari tongkat yang menyerang kelima permaisuri. Satu aliran sinar lagi menyerang ruang kosong.


Teriakan wanita tadi membuat kelima permaisuri dapat bersiaga dan dengan cepat menghindari semua serangan, sehingga ujung keenam sinar itu meledakkan dinding gua dengan dahsyat. Gua depan itu sampai terguncang.


“Seraaang!” teriak Topeng Satu dari Lima Siluman Topeng memberi komando. Ia memberi komando itu sesuai arahan Aninda Serunai sebelumnya.


“Seraaang!” teriak ramai pasukan Kerajaan Siluman sambil berlari maju menyerbu Pasukan Pengawal Bunga di depan mulut gua.


“Serang!” teriak Kerling Sukma kencang dan singkat.


Maka serentak seluruh prajurit Pasukan Pengawal Bunga berlompatan dan berlesatan menyambut serangan. Masing-masing dari mereka bebas memilih lawan.


West! Bduk! Blarr!


Sementara Kerling Sukma melesat dengan Lompatan Ratu Belalang. Dijamin, calon korban tidak akan bisa menghindari tabrakan dari lompatan tekhnik itu. Orang yang disasar oleh Kerling Sukma langsung Topeng Satu, komandan pasukan lawan.


Topeng Satu tidak bisa menghindar saat tubuhnya ditubruk oleh bahu Kerling Sukma yang melesat nyaris tidak terlihat. Ganasnya Kerling Sukma dalam pertarungan kali ini, ia langsung menghancurkan tubuh Topeng Satu dengan sinar putih menyilaukan dari ilmu Jari Surga, tanpa memberi kesempatan Topeng Satu untuk menunjukkan kesaktiannya.


Lima serigala langsung berlari menyeruduk orang-orang Kelompok Tinju Dewa dan Kelompok Jago Sodok, bukan menerkam atau mencakar.


Pertempuran dua pasukan pun terjadi hebat dan sengit.


Seperti warga umum yang tiba-tiba terjebak dalam kerusuhan atau tawuran pelajar, para pendekar yang awalnya berkerumun segera bubar menjauh demi keselamatan. Mereka tidak ingin terkena peluru nyasar atau serangan salah alamat.


Sementara di dalam gua, setelah serangan sekaligus oleh Aninda Serunai, jumlah wanita cantik bertambah satu orang. Ketujuh wanita itu adalah Tirana, Yuo Kai, Sandaria, Kusuma Dewi, Sri Rahayu, Aninda Serunai, dan Murai Manikam yang bergelar Anak Halus.


Murai Manikam muncul tiba-tiba. Dialah orang yang tadi berteriak “mundur” saat Aninda Serunai menyerang. Satu aliran sinar merah yang tadi menyerang tempat kosong, sebenarnya menyerang keberadaan Murai Manikam.


Kehebatan Tongkat Jengkal Dewa salah satunya adalah bisa mendeteksi posisi manusia lain yang ada di sekitar pemiliknya. Meski saat itu Murai bersembunyi di balik kesaktiannya, tetapi kesaktian Tongkat Jengkal Dewa bisa mengetahui keberadaannya.


“Aku adalah Murai Manikam, murid Putri Bibir Merah!” kata Murai Manikam memperkenalkan diri.

__ADS_1


Terkejutlah keenam wanita cantik-cantik itu. (RH)


__ADS_2