
*Dewi Bunga Kedelapan (De Bude)*
Di saat hampir semua warga Kerajaan Sanggana berpesta di hari pernikahan Joko Tenang dengan Dewi Ara, plus pernikahan Ratu Puspa dengan Abna Hadaya, Sandaria justru menyepi ke area kandang kuda.
Tidak jauh dari kandang kuda, terlihat sembilan serigala sedang duduk beristirahat. Empat serigala lainnya adalah milik Serigala Perak yang sedang menikmati pesta.
Sandaria berhenti di depan satu kandang yang berisi lima ekor kuda.
Wess!
Tangan kiri Sandaria melempar ke depan, seberkas sinar hijau melesat melebar lalu melingkupi satu kandang, seolah menciptakan kamar sinar tertutup bagi kelima kuda tersebut.
Selanjutnya, Sandaria hanya berdiri sambil mengetuk-ngetuk ujung tongkatnya ke tanah. Satu, dua, tiga, empat, lima.
Sandaria tersenyum sendiri. Pada hitungan kelima, sinar hijau yang mengurung kandang dan kudanya lenyap.
“Ak!” pekik Sandaria terkejut.
Seolah sepasang matanya melihat saja. Sandaria terkejut karena lima ekor kuda yang ada di dalam kandang, sudah dalam kondisi menjadi bangkai yang tinggal tulang dan separuh daging dari tubuhnya. Kondisinya sudah membusuk. Kondisi kandang pun sudah ambruk karena kayu-kayunya yang sudah berubah, menjadi sangat lapuk seperti habis dimakan rayap.
Sandaria baru saja menjajal ilmu Dewi Bunga Lima, yang memiliki kehebatan menjebak korban dalam dimensi putaran waktu yang terlalu cepat, sehingga korban akan menua dan mati dengan sendirinya termakan oleh waktu.
Dengan mimik wajah yang mengerenyit lucu, Sandaria buru-buru berbalik dan pergi. Kesembilan serigala yang ada di sisi lain hanya memandangi majikannya dengan gerakan moncong mengikuti arah kepergian Sandaria.
“Saaah! Hahaha!” teriak banyak orang tiba-tiba lalu disusul suara tawanya yang begitu ramai.
Suara itu berasal di pusat perta pernikahan. Sandaria segera pergi ke arah pesta.
Di tempat pesta, terlihat banyak para pendekar dari Pasukan Pengawal Bunga, Pasukan Hantu Sanggana, Pasukan Pedang Putri, dan pendekar lainnya, sedang ramai berkerumun. Mereka bergembira karena baru saja Prabu Dira Pratakarsa Diwana sah menikahi Dewi Ara. Dengan demikian, sempurna sudah keluarga Delapan Dewi Bunga.
“Hihihi! Giliran kita, Kerbau Ganteng!” teriak Ratu Puspa sambil menarik tangan Abna Hadaya ke depan Pendekar Seribu Tapak selaku penghulu dadakan Kerajaan Sanggana.
Saat itu, Ratu Puspa tampil dengan sangat jelita, tapi masih mengerikan. Tampil jelita karena dirias oleh ahli rias Istana. Mengerikan karena kuku-kuku panjangnya justru dicat warna ungu gelap. Namun, tingkah liar dan tidak tertatanya itu tetap melekat.
“Bayi Kelinci dan Kerbau Ganteng siap menikah!” teriak Puspa sambil tersenyum-senyum, sementara kedua tangannya memeluk erat lengan kekar Abna Hadaya yang juga sudah begitu necis.
Namun, wajah Abna Hadaya tetap menunjukkan keasaman seperti tapai singkong, seolah ia terpaksa menikah, bukan dipaksa menikah.
“Hahahak!” tawa Anyam Beringin alias Dewa Seribu Tameng yang kondisinya sudah sehat wal afiat. Ia menertawakan Abna Hadaya yang masih tergolong sahabatnya.
Agar tidak rusuh, para pendekar hanya tersenyum, tawanya ditahan.
“Apakah kalian sudah siap?” tanya Pendekar Seribu Tapak.
“Siap!” jawab Abna Hadaya setengah lantang.
“Ki Renggut Jantung, jika kau setengah hati menikah dengan Ratu Puspa, aku akan kurung kau di penjara dasar telaga!” sahut Ratu Getara Cinta mengancam.
Mendelik Abna Hadaya mendengar ancaman dari Ratu Sanggana itu.
“Ratu, kita punya penjara dasar telaga?” tanya Kerling Sukma berbisik.
“Tidak, hanya buat ancaman saja,” jawab Ratu Getara Cinta seraya tersenyum.
__ADS_1
“Apakah kau siap, Abna Hadaya?” tanya Pendekar Seribu Tapak.
Pak!
“Siap!” teriak Abna Hadaya lantang saat bokongnya mendapat tepukan keras dari tangan Puspa.
“Ucapkan kata-kata pernikahanmu kepada Gusti Ratu Puspa!” perintah Pendekar Seribu Tapak.
Abna Hadaya lalu menghadap kepada Puspa yang hanya tersenyum-senyum malu, sambil memandang sayu kepada calon suaminya yang tua-tua gagah.
Abna Hadaya lalu meraih kesepuluh jemari tangan Puspa yang mengerikan, tapi itu membuat perasaan Ratu Kerajaan Tabir Angin semakin berdaun-daun.
“Bayi Kelinciku, Ratu Puspa, saat ini aku menikahimu. Apakah kau mau menjadi istriku yang setan…” ucap Abna Hadaya lembut lalu terputus tiba-tiba. Ia mendelik sambil menjepit kedua bibirnya dengan dua jarinya.
Mendengar kata “setan”, Puspa langsung mendelik marah.
“Eh, maksudku itu, maukah kau menjadi istriku yang setia!” ralat Abna Hadaya cepat.
Ralat itu langsung membuat Puspa tersenyum lagi.
“Hahaha…!” tawa Joko Tenang dan para istrinya, juga tawa para hadirin yang sejak tadi menahan tawa.
Tiba-tiba Puspa melompat ke tubuh depan Abna Hadaya. Kedua tangannya merangkul leher Abna, kedua kakinya merangkul di pinggang, membuat wajah tampan tua itu disuguhkan dua tonjolan yang sesekali menonjok wajahnya.
“Puspa bersediaaa! Hihihi! Ayo berteluuur!” teriak Puspa nyaring sambil tangan kanan diangkat tinggi ke udara dan tangan kiri merangkul kuat kepala Abna Hadaya, membuat wajah lelaki itu terbenam dan tersumpal. Masih untung Puspa memakai baju yang tertutup.
“Saaah! Hahaha…!” teriak semua orang serentak, sehingga terdengar ramai.
Pada saat itu, di belakang kerumunan. Tanpa disadari oleh para hadirin, Sandaria tertawa cekikikan sendiri.
Jess!
Ctar ctar ctar…!
Dari jejakan kaki Sandaria menjalar cepat lapisan sinar hijau tipis ke arah depan, ke arah pusat acara pernikahan, melewati setiap kaki.
Ketika sinar itu lewat di lantai, setiap benda yang bukan berunsur kulit dan daging, meledak seperti petasan. Ada ratusan benda yang meledak hancur sehingga menimbulkan keributan yang sangat kacau, mengejutkan semua orang.
Senjata-senjata para pendekar berledakan di tubuh mereka, bahkan perhiasan yang melekat di tubuh hingga kepala para permaisuri berledakan. Namun masih beruntung, ledakan ratusan benda yang bersusul-susulan itu hanya letupan skala kecil, yang sifatnya hanya mengejutkan dan membuat perih kulit. Namun, kondisi itu jelas membuat acara dan tempat itu jadi berantakan luar biasa.
Para pendekar yang semuanya terkejut jadi berhamburan menjauhi pusat pernikahan. Meski tetap terlihat cantik jelita, tetapi penampilan Ratu dan para permaisuri jadi berantakan dengan rambut yang meriap tidak beraturan. Bahkan Permaisuri Mata Hati terkena pula.
Demikian pula dengan penampilan Ibu Ratu Ningsih Dirama dan Ibu Ratu Sri Mayang Sih, jadi berantakan.
Penampilan pengantin Ratu Puspa dan suaminya Abna Hadaya juga terlihat berantakan, karena sejumlah perhiasan pada tubuh dan pakaian mereka berledakan seperti petasan mercon, bahkan pakaian mereka jadi robek compang-camping.
“Kita diseraaang!” teriak sejumlah pendekar yang membuat suasana jadi tegang.
“Siapa yang menyerang kita dengan ilmu Dewi Bunga Pertama berkekuatan rendah?” tanya Tirana yang kondisi dandanannya juga kacau.
“Semua Dewi Bunga hadir, kecuali…” ucap Sri Rahayu.
“Sandariaaa!” teriak Ratu Getara dan para permaisuri kencang.
__ADS_1
Sandaria yang mendengar namanya diteriakkan, buru-buru berlari kabur sambil tertawa cekikikan dan.….
Clap!
Sandaria menghilang.
“Sayangku, biarkan Ratu yang menyelesaikan kekacauan ini, ayo kita ke kamar asmara!” bisik Joko Tenang kepada Dewi Ara.
Dewi Ara hanya tersenyum. Joko Tenang lalu mengangkat tubuh istri barunya dan membawanya menghilang dari keramaian.
“Lapooor!” teriak Gembulayu yang datang berlari terengah-engah ke pusat pesta yang sudah berantakan. Dia langsung menghadap kepada Ratu Getara Cinta.
“Ampun, Gusti Ratu! Ampuni hamba!” ucap Gembulayu sambil bersujud dan mengantuk-antukkan kepalanya ke lantai.
“Hei, kenapa kau membenturkan kepalamu, Gembulayu?” tanya Ratu Getara Cinta heran. “Hentikan!”
“Anu, Gusti Ratu. Kuda…!” ucap Gembulayu dengan wajah yang pucat pasi dan berkeringat karena ketakutan.
“Kenapa kudamu?” tanya Kerling Sukma pula.
“Itu, mati. Lima kuda mati tapi aneh, Gusti!” jawab Gembulayu.
“Aneh?” ucap ulang Tirana. “Ayo tunjukkan!”
Ratu Getara Cinta dan para permaisuri yang juga penasaran segera pergi mengikuti Gembulayu. Mereka sudah tidak peduli lagi dengan kedua pengantin.
“Kerbau Ganteng, Joko Ayam sudah pergi bertelur, ayo kita ke kandang, bikin telur yang banyak!” kata Puspa yang masih bergelayut di tubuh Abna Hadaya.
“Baik, Bayi Kelinciku,” ucap Abna Hadaya yang darah kelelakiannya sudah bergolak mendidih.
Abna Hadaya lalu berkelebat cepat meninggalkan tempat itu dengan membawa bayi kelincinya.
Rombongan Ratu Getara Cinta dan para permaisuri akhirnya sampai di area kandang kuda. Di sana sudah menunggu beberapa pengurus kuda, salah satunya Gowo Tungga.
Melihat kondisi lima bangkai kuda yang tidak wajar, mereka semua dilanda keheranan dan tanda tanya.
“Ampun, Gusti Ratu. Tadi pagi kelima kudanya sehat-sehat saja dan masih hidup segar,” lapor Gowo Tungga seraya mengerenyit takut. Takut dihukum.
“Apakah tidak ada yang melihat apa yang terjadi?” tanya Ratu Getara Cinta.
“Tidak,” jawab Gowo Tungga.
“Ada!” kata Serigala Perak agak kencang. Ia lalu memandang kepada kesembilan serigala yang berbaring di sisi lain.
Ratu dan yang lainnya jadi memandang kepada para serigala.
“Pelakunya Sandaria,” kata Serigala Perak akhirnya, setelah ia berkomunikasi dengan para serigalanya.
“Pasti Sandaria sedang menjajal ilmu Dewi Bunga. Kelima kuda ini korban ilmu Dewi Bunga Lima,” kata Tirana. (RH)
*************************
SEASSON BARU
__ADS_1
Chapter ini adalah chapter terakhir seasson Dewi Bunga Kedelapan (De Bude). Chapter selanjutnya adalah awal dari seasson Misteri Kematian Pendekar (Mis Kekar).