8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Pepes 2: Pesta Ledakan


__ADS_3

*Perang Pendekar Sanggana (Pepes)*


 


Seribu pasukan Kerajaan Siluman kini berlarian menuju gerbang benteng Istana yang terbuka. Di atas jembatan depan pintu gerbang benteng Istana telah bersiap tiga ratus Pasukan Muda, pasukan yang semua personelnya adalah prajurit rekrutan baru. Mereka dalam posisi mode bertahan, siap menyambut serangan musuh.


Melihat pasukan musuh sudah berlarian menyerang, Ratu Getara Cinta yang berdiri bersama para permaisuri di atas benteng memberi tanda.


Fuuut!


Prajurit peniup terompet meniupkan terompet tanduknya. Itulah tanda sah bahwa pasukan Kerajaan Sanggana mulai berperang.


Setiap prajurit Sanggana Kecil hingga para permaisuri menunggu komando sang ratu. Meski para permaisuri bisa bertindak sendiri-sendiri, tetapi mereka tetap harus bertindak berdasarkan komando.


Ketika pasukan musuh mulai melewati setengah padang rumput dan semakin dekat kepada jembatan gerbang benteng, Ratu Getara Cinta pun akhirnya memberikan perintah yang menentukan.


“Lorong Laba-Laba! Permaisuri Negeri Jang! Permaisuri Serigala! Serang dengan Dewi Bunga Pertama!” perintah Ratu Getara Cinta lantang.


Bress! Bress!


Permaisuri Tirana melaksanakan perintah. Ia melempar dua sinar merah berwujud jaring laba-laba besar ke hadapan Permaisuri Yuo Kai dan Sandaria.


“Hihihi!” tawa Sandaria girang sambil melompat masuk ke dalam sinar merah jaring laba-laba.


Hal yang sama dilakukan oleh Yuo Kai. Keduanya hilang masuk ke dalam sinar jaring. Seiring lenyapnya kedua sinar itu, sinar serupa kemudian muncul di udara, tepat di atas pasukan Kerajaan Sanggana yang sedang berlarian dengan penuh semangat.


Kemunculan kedua sinar merah jaring laba-laba di atas mereka, mengejutkan para prajurit Kerajaan Siluman yang melihatnya, terlebih ketika ada dua perempuan yang keluar dari dalamnya.


Yuo Kai dan Sandaria keluar dari dalam sinar ilmu Lorong Laba-Laba. Mereka terjun langsung ke tengah-tengah pasukan Kerajaan Sanggana di dua titik.


Jess! Jess!


Blar blar blar…!


“Akk! Akh! Aaakk…!”


Ketika Yuo Kai dan Sandaria menginjakkan kakinya di tanah berumput, lapisan sinar hijau tipis langsung melesat luas dari bawah telapak kaki keduanya. Sinar hijau itu menjalar luas ke depan, masing-masing menjangkau lebih seratus prajurit.


Semua prajurit yang kakinya terjangkau oleh sinar hijau itu, terkena ledakan-ledakan keras yang begitu ramai bersusul-susulan. Semua benda selain kulit, daging dan kain, berledakan keras di tubuh-tubuh para prajurit.


Ketika Sandaria mengacaukan pernikahan Ratu Puspa dengan Abna Hadaya menggunakan ilmu yang sama, ledakannya hanya seperti letupan petasan yang tidak membahayakan, karena kekuatan yang dikerahkan tidak besar.

__ADS_1


Namun kali ini, kekuatan ilmu Dewi Bunga Pertama yang dikerahkan adalah yang sesungguhnya. Maka ledakan-ledakan yang tercipta pada tubuh-tubuh prajurit itu sifatnya melukai, bahkan sampai membunuh ketika ledakannya terjadi di bagian leher.


Ratusan prajurit Kerajaan Siluman berjeritan kesakitan dan bergelimpangan dalam kondisi terluka fisik.


Bisa dibayangkan, jika sepatu, tombak, pedang, perisai, dan asesoris perang lainnya yang mereka kenakan, berledakan dengan kekuatan sebesar granat nanas.


Alangkah terkejutnya Siluman Merah Muda, Gatot Watu dan pasukannya mengalami serangan aneh seperti itu. Serangan itu jelas membuat sebagian pasukan Kerajaan Siluman jadi berantakan.


Jess! Jess!


Blar blar blar…!


“Akk! Akh! Aaakk…!”


Kedua permasuri melanjutkan dengan berkelebat terbang ke tempat yang lain, lalu mendarat di tengah-tengah larian pasukan musuh. Keduanya melakukan serangan yang sama sebagai gelombang kedua.


Siapa pun yang menyaksikan ratusan ledakan bersusul-susulan itu, seperti sedang menyaksikan pesta petasan jumbo di tengah-tengah pasukan musuh. Begitu mengerikan.


Bisa dikatakan bahwa separuh dari pasukan musuh sudah kalah di dalam perjalanannya.


Di atas benteng, Ratu Getara Cinta mengangkat tangan kanannya ke atas. Pasukan panah segera tarik senar busur dengan kencang.


“Panah!” perintah Ratu Getara Cinta lantang.


Seset seset…!


“Panah!” perintah Ratu Getara Cinta lagi


Seset seset…!


Serangan panah kedua kembali melesat. Banyak yang terkena, tetapi banyak juga yang selamat karena berlindung di balik tamengnya.


Fuut fuuut…!


Suara terompet tanduk kembali berbunyi, memberi irama perintah khusus.


Kebo Loreng yang mengerti irama perintah itu, segera berkomando.


“Pasukan Mudaaa! Seraaang!” teriak Kebo Loreng lalu berlari kencang lebih dulu memasuki padang rumput.


“Seraaang!” teriak Pasukan Muda penuh semangat.

__ADS_1


Tiga ratus prajurit baru itu segera berlari mengikuti komandan mereka dan pembawa panji pasukan.


Fooot…!


Tiba-tiba suara terompet tanduk terdengar agak berbeda. Itu irama khusus untuk pasukan kuda.


“Pasukan Kuda Pertama! Majuuu!” teriak Gaja Ireng sebagai komandan Pasukan Kuda Pertama.


Maka, seratus pasukan berkuda segera mengikuti lari kuda Gaja Ireng keluar dari benteng Istana.


Sebelum Pasukan Muda mencapai pasukan musuh, Pasukan Kuda Pertama sudah mendahului dan membabat para prajurit lawan yang mereka temui di medan pertempuran.


Bagi Pasukan Kuda Pertama, mereka menargetkan para prajurit musuh yang masih segar bugar. Sementara itu, Kebo Loreng sudah memahami maksud Ratu Getara Cinta mengerahkan Pasukan Muda. Kebo Loreng mengarahkan pasukannya untuk mengeksekusi para prajurit Kerajaan Siluman yang sudah terluka oleh ledakan-ledakan dari ilmu Dewi Bunga Pertama.


Separuh prajurit dari seribu kekuatan itu sudah dalam kondisi tidak layak tempur. Rata-rata mereka terluka parah pada kedua kaki, kedua tangan dan badan. Ledakan sepatu yang mereka gunakan mencederai kaki. Ledakan tombak, pedang dan tameng yang mereka pegang juga melukai kedua tangan.


Kondisi cedera mereka umumnya adalah kerusakan kulit dan daging. Kondisi itu membuat mereka gampang untuk dieksekusi.


Ada prajurit Pasukan Muda yang bersemangat dalam membunuh, ada pula yang ngeri-ngeri sedap, dan ada pula yang justru ketakutan untuk membunuh karena memang belum pernah membunuh.


“Aaa!” jerit seorang prajurit Pasukan Muda sambil menusukkan tombaknya ke perut prajurit lawan, sementara matanya terpejam. Demikian pula ketika mencabut tombaknya kembali, tetap menjerit dan memejamkan mata.


Selanjutnya, dia tetap harus mencari korban berikutnya yang aman untuk dieksekusi.


Satu per satu prajurit Pasukan Muda menikmati pengalaman pertama mereka di medan perang, yang memaksa mereka harus menikmati seperti apa rasanya membunuh orang lain.


“Uwwaaa!” teriak seorang prajurit Pasukan Muda ketika dia tanpa sengaja bertemu dengan seorang prajurit lawan yang masih segar bugar.


Dia cepat berbalik dan berlari menjauh. Prajurit lawan itu mengejar. Namun, satu lemparan tombak dari Kebo Loreng menghentikan prajurit lawan tersebut.


“Jangan takut!” teriak Kebo Loreng menyemangati prajuritnya yang penakut.


“Iya, hehehe!” ucap prajurit tersebut sambil tersenyum sawan.


Keunggulan jumlah tidak membuat pasukan pimpinan Siluman Merah Muda bisa unggul. Siluman Merah Muda hanya bisa terperangah melihat kondisi itu. Hanya dengan dua orang wanita sakti, pasukannya langsung kehilangan kekuatan.


“Munduuur!” teriak Siluman Merah Muda.


Namun, ketika Siluman Merah Muda hendak mundur, tiba-tiba ada seseorang yang menghadangnya, yaitu Mahapati Turung Gali.


“Munduuur!” teriak Gatot Watu melanjutkan perintah panglimanya.

__ADS_1


“Jangan kabur kau!” teriak Gaja Ireng sambil memacu kudanya dengan cepat ke arah Gatot Watu.


Di saat kedua pimpinannya terhadang, para prajurit Kerajaan Siluman yang masih bugar segera berlari mundur dari pertempuran. Pasukan berkuda segera memburu mereka. (RH)


__ADS_2