
*Dewi Bunga Kedelapan (De Bude)*
“Sandaria!” panggil Serigala Perak kepada cucu kesayangannya.
“Neneeek! Hiks hiks…!” pekik Sandaria sambil melompat turun dari punggung Satria. Wanita buta itu berlari seperti orang normal sambil menangis, bukannya gembira.
“Kenapa?” tanya Serigala Perak heran.
“Kakang Prabu Joko jatuh ke juraaang! Hiks hiks…!” kata Sandaria yang tangisnya meledak dalam pelukan neneknya, padahal sepanjang perjalanan ia tidak menunjukkan kesedihan yang berlebihan.
“Tirana Cantiiik! Hihihi!” teriak Ratu Puspa seraya tertawa nyaring sambil melambaikan tangan dari atas punggung Abna Hadaya yang hanya memasang wajah merengut.
Permaisuri Tirana hanya tersenyum lebar sambil balas melambaikan tangan.
“Hormat kami kepada para Gusti Permaisuri. Selamat datang di Perguruan Bukit Dalam, Gusti!” sambut Ki Rawa Banggir ramah di tangga kaki bukit, seraya menghormat.
Demikian pula para pendekar sakti senior, mereka juga menghormat.
“Terima kasih, Tetua!” ucap Tirana yang menjadi pemimpin rombongan itu sambil balas menghormat, demikian pula para wanita cantik lainnya. Lalu Tirana juga menghormat kepada Tiga Malaikat Kipas yang dikenalnya.
“Hormat sembahku, Gusti Permaisuri!” ucap Tabib Rakitanjamu, Iblis Takluk Arwah dan Raja Akar Setan sambil turun menghormat dengan berlutut.
“Bangkitkah, para Tetua!” kata Tirana.
Bentuk hormat ketiga tokoh tua itu membuat para tokoh tua lainnya agak terbeliak.
“Hormatku, Kakek Guru!” ucap Kerling Sukma yang datang ke depan Pendekar Seribu Tapak lalu menghormat.
“Bagaimana kondisimu, Sukma?” tanya Pendekar Seribu Tapak.
“Kami semua terluka oleh Tongkat Jengkal Dewa. Dan Kakang Prabu jatuh ke jurang!” jawab Kerling Sukma sambil menitikkan air mata kesedihan.
Laksana burung merpati yang terbang mendarat, Dewi Mata Hati datang ke hadapan Tirana dan para permaisuri lainnya.
“Hormat kami, Permaisuri Guru!” ucap Tirana dan permaisuri lainnya sambil menghormat secukupnya.
“Di mana Kakang Prabu?” tanya Dewi Mata Hati cepat.
“Jatuh ke jurang. Kakang Prabu kalah melawan adiknya. Kami mundur ke sini karena perintah Kakang Prabu. Tongkat Jengkal Dewa dikuasai oleh Putri Aninda Serunai,” jawab Tirana.
“Apa?!” pekik Emping Panaswati. “Celaka! Jadi Tongkat Jengkal Dewa dikuasai oleh adiknya?”
“Benar, Nek,” jawab Tirana.
Maka gemparlah para tokoh tua di tempat itu. Jelas itu berita buruk.
“Guru, apa yang terjadi dengan Joko Tenang? Kenapa sampai seheboh ini?” tanya Joko Tingkir kepada gurunya, Ki Sombajolo.
“Dengarkan saja, Tingkir!” kata Gujara, paman atau kakak seperguruan Joko Tingkir.
__ADS_1
“Bagaimana ini? Pusaka itu sekarang berada di tangan tokoh hitam baru, sedangkan pewaris sahnya malah jatuh ke jurang,” kata Ki Ageng Kunda Poyo cemas.
Ki Ageng Kunsa Pari berkelebat cepat tanpa suara. Ia datang belakangan.
“Tirana, di mana Joko Tenang?” tanya Ki Ageng Kunsa Pari.
“Jatuh ke jurang, Guru,” jawab Tirana sedih.
“Jangan kalian katakan bahwa kebangkitan Dewi Geger Jagad terjadi setelah Kakang Prabu jatuh ke jurang!” kata Dewi Mata Hati yang membuat para tokoh tua berubah tegang dan para permaisuri menjadi bingung tidak mengerti.
Belum sempat para tokoh tua saling kasak-kusuk, Emping Panaswati cepat bertanya.
“Apakah ada kejadian aneh setelah cicitku itu jatuh ke dalam jurang?” tanya Emping Panaswati dengan wajah tegang.
“Ada,” jawab Tirana yang membuat mereka semakin tegang, seolah dugaan yang ada di dalam pikiran mereka semakin kuat akan benar.
“Apa?” tanya Dewa Kematian yang membutuhkan kejelasan, karena selama ini mereka hanya menduga.
Tirana tidak langsung menjawab. Ia memandang heran para wajah tokoh tua yang berkumpul di belakang Tiga Malaikat Kipas dan Dewa Kematian.
“Sinar putih menyilaukan muncul dari dasar jurang yang membias ke langit. Kami semua menyaksikannya saat kami sudah mundur dari Jurang Lolongan,” jawab Tirana.
“Benar-benar celaka!” ucap Datuk Kramat.
“Pantas bisa bangkit, orang yang jatuh ke jurang bukan orang sembarangan,” ucap Nenek Peti Terbang.
“Joko benar-benar membawa bencana bagi Dewi Mata Hati!” celetuk Bidadari Wajah Kuning.
“Tutup mulutmu, Wajah Kuning!” bentak Dewi Mata Hati sambil menunjuk wajah Bidadari Wajah Kuning, membuat wanita cantik itu terbelalak terkejut.
“Prabu Dira adalah orang yang mulia dengan cinta dan kesaktiannya. Dia tidak mungkin sengaja memberiku dan memberi permaisuri yang lain bencana!” ucap Dewi Mata Hati lantang.
Tirana dan permaisuri yang lain jadi bertanya-tanya, sebab mereka tidak mengerti masalah yang sampai membuat Dewi Mata Hati marah.
“Permaisuri Guru, ada apa sebenarnya?” tanya Tirana lembut.
“Jika Kakang Prabu jatuh sebelum sinar itu muncul ke langit, berarti Kakang Prabu lah orag yang telah menyetubuhi mayat Dewi Geger Jagad dan membangkitkannya,” jawab Dewi Mata Hati bernada datar.
Jawaban itu membuat para permaisuri terkejut tanpa suara. Semakin membuat bingung dengan adanya kata “menyetubuhi mayat” dan “membangkitkannya”.
“Ada juga suara tangisan bayi yang didengar oleh semua orang yang ada di atas jurang,” kata Tirana lagi.
“Appa?! Bayi?!” teriak sebagian besar dari para tokoh tua dengan ucapan yang sama, sehingga terdengar ramai dan lucu dengan ekspresi serius yang beragam.
“Ini sangat tidak masuk akal!” kata Ewit Kurnawa. “Dewa Kematian, apakah bisa kau jelaskan kejadian tidak masuk akal ini?”
Gretek!
Namun, sebelum Dewa Kematian menjawab, tiba-tiba terdengar suara keras yang mengejutkan mereka. Suara itu seperti suara batu besar yang rengkah atau retak.
Serentak mereka semua memandang ke tempat asal suara itu bersumber. Mereka semua memandang ke tebing batu, tepatnya bagian tebing yang berada di bawah Awan Batu.
__ADS_1
Mereka semua melihat ada rengkahan cukup besar pada bagian tebing batu itu.
“Pasang tenaga!” teriak Gentabaya keras yang memberi komando kepada para murid perguruan, yang sudah duduk menunggu selama dua jam lamanya di pinggang bukit.
“Siap!” teriak lantang puluhan murid Perguruan Bukit Dalam yang duduk menghadap ke arah tebing. Suara mereka menggema keras yang memberi atmosfir ketegangan tinggi, di saat para orang sakti itu sudah dibombardir oleh berita-berita mengejutkan dari Gua Lolongan.
Zezz!
Setelah melakukan gerakan bertenaga dalam yang kompak, kini kedua tangan para murid Ki Rawa Banggir telah bercokol sinar hijau. Suaranya berdesis. Sinar hijau pada tangan mereka ditahan, mata mereka tajam menatap ke arah tebing di bawah Awan Batu. Mereka seolah menunggu sesuatu yang akan terjadi pada tebing di bawah Awan Batu.
“Pintu Bawah Awan!” sebut Ki Rawa Banggir tegang.
“Apakah itu Dewi Geger Jagat?” tanya Iblis Timur.
“Mungkin,” jawab Dewa Kematian dengan wajah tetap memandang ke arah tebing.
Gregek!
Tebing batu yang mereka pandangi kembali mengeluarkan suara, terlihat jelas ada gerakan retakan yang besar, bahkan ada rompalan batu tebing yang meluncur jatuh, seolah ada kekuatan besar yang mencoba menghancurkan dinding itu dari sisi dalam.
“Siap menyerang!” teriak Gentabaya lagi.
Sinar-sinar hijau yang ada di tangan puluhan murid itu kian membesar dan terang. Ketegangan pun semakin tinggi. Jantung mereka berdebar-debar menunggu sesuatu yang mereka tidak tahu apa yang akan muncul.
Bluarr!
Akhirnya, ketegangan mereka dibuyarkan oleh suara ledakan dahsyat, dengan hancurnya sebidang dinding batu pada tebing di bawah Awan Batu.
“Seraaang!” teriak Gentabaya keras dan panjang.
Zezz zezz zezz…!
Puluhan sinar hijau melesat setelah semua murid yang bersiap menghentakkan kedua lengannya. Puluhan sinar itu melesat cepat seperti hujan sinar, menyeberang dari pinggang bukit menuju ke lubang tebing yang telah tercipta akibat ledakan. Di balik kebulan debu pada titik ledakan di tebing yang tinggi, terlihat samar-samar keberadaan sesuatu, entah itu manusia, dedemit, binatang, atau sesuatu lainnya.
Zing!
Blar blar blar…!
Sebelum puluhan sinar hijau mencapai lubang, tiba-tiba muncul lapisan sinar warna hijau pula. Sinar itu berbentuk bidang lingkaran besar yang kemudian menutupi lubang.
Semua sinar hijau yang melesat ke arah lubang di tebing membentur lapisan sinar hijau tersebut, menciptakan ledakan beruntun yang dahsyat dengan suara yang cukup mengganggu gendang telinga.
“Oee oee…!”
Setelah ledakan berhenti dan suasana sejenak menghening, tiba-tiba terdengar suara tangis bayi. Semua orang yang mendengar suara tangis bayi yang terdengar jauh itu, terkejut. Suara tangis itu berasal dari lubang tebing.
“Tahan!” teriak Ki Rawa Banggir cepat, mencegah tindakan lanjutan para muridnya.
Setelah ledakan tenaga sakti berhenti dan lapisan sinar hijau perisai hilang, maka kini mereka melihat sesosok wanita berpakaian hitam-hitam berdiri di mulut lubang besar pada tebing. Rambutnya yang panjang sekaki berkibar-kibar tertiup angin. Wanita itu berdiri di atas sebongkah batu yang melayang di udara. Kedua tangannya menggendong sebuah bungkusan kain yang mengeluarkan suara tangis bayi.
“Dewi Geger Jagad!” sebut para tokoh tua yang langsung mengenali sosok wanita berpakaian hitam itu.
__ADS_1
“Dewi Ara!” sebut beberapa orang lainnya.
“Joko Tenang tidak ada!” sebut Serigala Perak pula. (RH)