
*Dewi Bunga Kedelapan (De Bude)*
“Kau wanita sakti, kau pasti tahu cara mengeluarkannya dengan selamat, Ara!” teriak Joko Tenang tegang, memberi dorongan spirit kepada Dewi Ara.
“Huh huh huh! Ekk…!”
Dewi Ara menarik napas dan membuang napas dalam ritme cepat sebagai ancang-ancang mengeden.
“Sekali lagi!” teriak Joko Tenang layaknya koordinator suporter sepak bola.
“Ekk…!” Dewi Ara kembali mengeden dengan tenaga luarnya saja, sambil pandangannya menatap perut gendut putihnya dan kedua tangannya menjambak rambut gondrong Joko Tenang.
Joko hanya bisa meringis sambil terus menyemangati Dewi Ara yang berada dalam pelukannya.
Posisi Dewi Ara saat itu duduk bersandar pada badan Joko Tenang dengan kedua kaki menekuk ke atas dan mengangkang lebar. Atas arahan Dewi Ara, Joko Tenang diminta turut mendorong-dorong lembut sisi atas perut calon ibu itu. Sementara kedua tangan Dewi Ara bergelayutan pada rambut gondrong Joko.
Dewi Ara tidak berani mengeden menggunakan tenaga dalam, khawatir bayinya langsung brojol, tapi tanpa napas.
“Jangan menyerah, Sayang! Kau pasti sanggup, ini perkara semudah kau membantingku!” seru Joko Tenang, tanpa sadar menyebut Dewi Ara “Sayang”.
“Ekk… akk!” Dewi Ara kembali mengeden panjang lalu menjerit sakit, karena merasakan ada yang robek pada tubuh bawahnya.
“Kenapa, Sayang?” tanya Joko Tenang terkejut karena Dewi Ara menjerit.
“Cepat lihat, Joko! Apakah sudah keluar?” perintah Dewi Ara panik sambil tangan kirinya menepuk-nepuk lengan Joko.
“Iya iya iya! Tapi rambutku dilepas dulu!” kata Joko Tenang yang rambutnya masih dijambak oleh tangan kanan Dewi Ara.
Dewi Ara segera melepas tangannya dari rambut Joko. Ia kemudian duduk dengan bertopang pada kedua tangannya di belakang. Sementara Joko Tenang segera bergerak ke depan dan melongokkan kepalanya ke bawah perut Dewi Ara.
“Bayi kita sudah mengintip, Sayang! Bayi kita sudah mengintip! Hahaha! Dia tersenyum cantik!” Joko Tenang berteriak-teriak kegirangan sambil menunjuk ke bawah perut wanita jelita itu.
“Joko Sableng! Mana bisa dia tersenyum!” maki Dewi Ara kesal, terbawa kondisi menahan rasa sakit. “Cepat ke sini lagi! Peluk aku lagi!”
Sambil tertawa-tawa, Joko Tenang kembali berlari kecil lalu naik duduk di belakang Dewi Ara. Ia kembali memeluk tubuh wanita itu dari belakang.
“Satu dua dorongan lagi, Sayang!” bisik Joko Tenang di dekat telinga Dewi Ara dengan napas yang sedikit terengah.
Pada saat bisikan itu, Dewi Ara merasa bahagia mendengarnya, terlebih ada bubuhan sebutan “Sayang”. Saat itu pula, ia merasa benar-benar sebagai istri Joko Tenang dan raja muda itu benar-benar sebagai suaminya. Apakah cinta kepada Joko sudah tumbuh di hati Dewi Ara?
__ADS_1
“Ayo, jangan berhenti, Sayang! Nanti bayi kita berhenti bernapas!” kata Joko Tenang mengingatkan Dewi Ara yang sempat terpaku sejenak.
“Huh huh huh! Ekk…!”
Dewi Ara kembali mengeden panjang.
“Oee… oee… oee…!”
Akhirnya suara tangis yang ditunggu-tunggu muncul juga.
“Hah!” desah Joko Tenang dan Dewi Ara terkejut.
Pasalnya, selain suara tangis bayi yang begitu kencang hingga memekakkan telinga kedua orangtua si bayi, muncul cahaya putih menyilaukan mata dari wajah si bayi yang masih berlumur darah.
Suara tangis bayi yang keras tidak wajar itulah yang sampai terdengar ke atas jurang, mengejutkan ratusan para pendekar yang ada di Gua Lolongan dan sekitarnya.
Namun, seiring cahaya putih pada wajah bayi padam, maka suara tangis si bayi pun melemah ke volume normal.
“Lelaki atau perempuan, Joko?” tanya Dewi Ara yang kini terbaring lemah di atas batu.
Joko Tenang kini sedang menggendong si bayi yang masih merah dan berdarah. Tali pusarnya masih bertaut.
“Laki-laki,” jawab Joko Tenang. “Tapi bibirnya tidak merah sepertiku.”
“Hahaha!” tawa Joko Tenang mendengar perkataan Dewi Ara.
“Jangan tertawa kau! Urusi semua kekacauan ini, Joko!” hardik Dewi Ara.
“Hahaha!”
Namun, Joko Tenang tetap tertawa bahagia. Ia begitu gembira menggendong bayi itu, seolah sudah tidak mempedulikan lagi keadaan ibu si bayi.
“Agar kau menjadi bayi yang istimewa, tali pusarmu harus dipotong dengan benda yang juga istimewa, dengan Pedang Singa Suci. Hahaha!”
Joko Tenang lalu mengeluarkan Pedang Singa Suci dari dalam tubuhnya. Ia pun memotong tali pusar bayinya tanpa ada efek samping.
Setelah itu, Joko Tenang membereskan dan merapikan kotoran sisa-sisa lahiran. Sang bayi ia berikan ke dalam pelukan ibunya. Joko Tenang dengan telaten bolak-balik ke sungai mengambil air menggunakan ember batu yang ia buat sendiri. Bahkan pekerjaan membersihkan gerbang tempat si bayi keluar pun ia yang melakukannya. Dewi Ara sudah tidak malu atau merasa terusik lagi. Hal itu menunjukkan bahwa semua apa yang ada pada dirinya kini milik Joko Tenang.
Bahkan ketika hendak menyusui si bayi, tanpa malu dan sungkan Dewi Ara mengeluarkan kendi indahnya secara bebas di depan Joko.
“Mengapa bayi kita wajahnya bersinar seperti itu, Joko?” tanya Dewi Ara setelah Joko Tenang duduk di sisinya.
__ADS_1
“Entahlah. Mungkin karena pengaruh kesaktianmu,” jawab Joko Tenang. “Yang jelas itu adalah tanda bahwa bayi kita berdua sangat istimewa. Aku yakin, ia kelak akan menjadi pendekar yang sesakti dirimu dan sepeti dirimu.”
“Hihihi…!”
Tiba-tiba Dewi Ara tertawa keras dan panjang mendengar perkataan Joko Tenang. Jelas hal itu membuat Joko Tenang heran.
“Kenapa kau tertawa?” tanya Joko Tenang.
“Kau benar-benar tidak tahu, siapa gadis tercantik di dunia persilatan yang telah kau nodai mayatnya?” tanya Dewi Ara. “Orang-orang menyebutku Wanita Iblis karena mereka menilai aku adalah seorang wanita yang jahat. Kau menginginkan anakmu ini seperti aku? Ketika besar dia akan disebut Lelaki Iblis?”
“Hah!” kejut Joko Tenang. Lalu katanya cepat-cepat, “Jika begitu, jangan menjadi seperti dirimu, tapi seperti diriku.”
“Seperti dirimu menjadi lelaki yang suka kawin dan menodai mayat wanita cantik?” tanya Dewi Ara lagi.
“Lalu seperti siapa?” tanya Joko Tenang.
“Seperti ayahku. Ayahku adalah orang yang sangat baik. Karena terlalu baiknya terhadap semua orang, dia akhirnya menjadi korban kebaikannya sendiri. Aku ingin anakku ini menjadi seperti kakeknya kelak,” jawab Dewi Ara dengan nada sedih karena mengenang ayahnya.
“Siapa nama ayahmu?” tanya Joko Tenang, juga bernada lembut.
“Arda Handara.”
“Jika begitu, sebagai wujud rasa cintamu kepada ayahmu, bagaimana jika anak kita ini, kita beri nama Arda Handara?” tanya Joko Tenang.
Dewi Ara menatap tanpa kedip wajah Joko Tenang. Ia kemudian tersenyum kepada pemuda beristri banyak itu lalu mengangguk tanda setuju. Joko Tenang tersenyum manis pula.
“Joko, apakah benar engkau seorang lelaki yang baik?” tanya Dewi Ara bernada serius.
“Mungkin tidak. Bagi para wanita aku adalah orang yang jahat,” jawab Joko Tenang.
“Saat aku melahirkan, kau menyebutku Sayang tanpa aku izinkan,” kata Dewi Ara.
“Maafkan aku, Ara. Ucapan itu keluar tanpa aku sadari, mungkin karena begitu tegang dan bahagia, seolah-olah kau sudah menjadi istriku,” ucap Joko Tenang seraya tersenyum malu.
“Apakah semua istrimu kau sebut seperti itu?” tanya Dewi Ara.
“Iya. Kadang-kadang juga memanggil mereka dengan nama khasnya, seperti Permaisuri Mata Hijau, Permaisuri Serigala, atau Permaisuri Penjaga,” jawab Joko Tenang.
“Aku ingin kau juga memanggilku Sayang, sama seperti istri-istrimu,” kata Dewi Ara.
Tersenyum lebarlah Joko Tenang.
__ADS_1
“Berarti Dewi Ara adalah Dewi Bunga kedelapan yang dimaksud ramalan Malaikat Serba Tahu,” kata Joko Tenang dalam hati.
“Joko, kau belum menceritakan, apa yang terjadi di atas sana yang membuatmu jatuh. Aku juga ingin tahu semua tentang dirimu dan istri-istrimu,” ujar Dewi Ara. (RH)