
*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*
Di saat pertarungan yang mengeroyok nenek Muni Kelalap siap terjadi, setelah melihat Nini Kuting berhasil menyeberangi jurang Gua Lolongan, beberapa pendekar yang merasa yakin bisa serentak berlari dan berkelebat menyeberangi jurang.
“Aaak! Akk…! Aaa…!”
Hasilnya lima orang pendekar yang melesat dengan berbagai cara dan gaya, semuanya menjerit ketika tubuh mereka gagal mencapai seberang dan jatuh ke dalam jurang.
“Serang!” teriak Kapak Walet berkomando kepada enam rekan lainnya yang mengeroyok Muni Kelalap.
Ketujuh orang itu segera menyerang Muni Kelalap bersamaan dan bergantian.
Namun, para pendekar yang menumpuk di mulut gua, sudah dilanda kesal karena situasi yang berdesakan. Mereka pun marah dengan ulah si nenek yang jadi pengacau. Lolosnya Si Tua Kerak Kubur ke seberang, mendorong mereka ingin cepat-cepat mencoba menyeberangi jurang.
“Majuuu!” teriak seorang pendekar di sisi belakang tiba-tiba.
“Ayo maju, kita mau menyeberang!” teriak pendekar yang lain.
Dari belakang, di luar mulut gua, terjadi dorongan. Akhirnya massa yang menumpuk di mulut gua, kembali dorong-dorongan menekan ke depan. Mereka yang bertahan di sisi depan penyumbatan massa, jadi terdorong dan semakin gusar.
“Bunuh saja ramai-ramai nenek pengacau ini!” teriak seorang pendekar wanita yang sudah emosi. The Power of Emak-Emak yang dimilikinya jadi keluar ganas.
“Bunuuuh!” teriak sejumlah pendekar mendukung.
Maka, bukan hanya Kapak Walet dan keenam rekannya yang menyerang Muni Kelalap, tetapi sekitar sepuluh pendekar lainnya serentak maju menyerang.
Muni Kelalap terkejut. Desakan ramai yang hendak mendorong ke bibir jurang, membuat Muni Kelalap memilih melompat ke atas. Sepertinya ia berniat pergi menjauhi bibir jurang lewat atas kepala massa.
Wusst! Bluar!
“Hekh!”
Di saat Muni Kelalap melompat tinggi itu, dari arah belakang massa melesat satu sinar biru laksana komet di antariksa. Serangan itu dilepaskan oleh seorang wanita cantik yang adalah Putri Manik Sari. Ternyata dia sangat cepat sampai di Gua Lolongan.
Muni Kelalap yang tidak menyangka akan serangan tersebut, terkejut. Ia hanya bisa hadangkan kepala tongkatnya guna menangkis. Satu ledakan keras yang menghancurkan tongkat terjadi, memaksa Muni Kelalap terpental ke arah jurang.
Blugk! Wuss!
“Aaa…!” jerit panjang Muni Kelalap ketika tubuhnya meluncur jatuh ke dalam jurang yang dalam gelap gulita.
Awalnya Muni Kelalap jatuh di bibir jurang, tidak langsung jatuh. Namun, segulung angin pukulan yang dilepaskan oleh Kapak Walet kembali mendorong tubuh Muni Kelalap langsung ke atas jurang yang menganga.
__ADS_1
“Muni Jantungku!” sebut Abna Hadaya terkejut saat mendengar suara jeritan nenek-nenek dari dalam sana.
Abna Hadaya terlihat ingin menangis. Ia memandang nanar ke arah dalam gua. Kemudian dia memutuskan berkelebat cepat masuk ke dalam gua lewat jalur atas.
“Muni Jantungkuuu!” teriak Abna Hadaya panjang dan histeris, sampai-sampai para pendekar yang jumlahnya sudah lebih seratus orang itu jadi terkejut dan mendongak ke atas.
Kakek berjuluk Ki Renggut Jantung itu menolakkan satu kakinya pada bahu seorang pendekar, kemudian tubuhnya naik tinggi ke langit-langit gua.
Crak crak!
Di atas sana, Abna Hadaya menancapkan kesepuluh jari tangannya pada batu langit-langit gua. Maka Abna Hadaya menemplok seperti seekor tokek besar dengan gaya Spiderman.
“Muni Jantungkuuu! Alangkah bodohnya dirimu. Sudah jelas itu jurig…. Eh kok jurig sih? Hiks hiks! Sudah jelas itu jurang yang celana dalam…. Eh, celana dalamku, hiks hiks. Maksudnya jurang yang sangat dalam. Sudah jelas itu jurang yang sangat dalam, masih juga kau melompat ke dalamnya. Apa kau pikir aku ada di dalam sana? Oh, Muni Jantungkuuu! Kenapa tidak ada yang melolong…. Eh, kok melolong? Maksudnya menolong. Hiks hiks…!” ratap Abna Hadaya seperti jurig penunggu gua.
Sementara itu, Putri Manik Sari yang memiliki ambisi karena didorong rasa dendam, terus bergerak merangsek di sela-sela manusia hingga berhasil mencapai depan, di bibir jurang.
“Ayo, Adimas. Lompatlah duluan!” kata seorang lelaki berpedang berusia empat puluhan kepada saudara mudanya. Namanya Bandewa.
“Baik, Kangmas,” ucap pemuda berusia tiga puluh tahun. Namanya Banseta.
Banseta mundur dua langkah untuk ambil ancang-ancang. Putri Manik Sari yang berdiri tidak jauh dari kedua lelaki itu hanya melirik.
Banseta lalu berlari tiga langkah dan melompat jauh ke depan.
Dalam lesatannya, Banseta mencabut pedangnya lalu mengibaskannya dua kali. Dua kiblatan sinar putih tipis melesat yang seolah menyerang lapisan udara padat di tengah jurang.
Terkejut Bandewa saat melihat Putri Manik Sari melesat lebih cepat tapi mengikuti belakang Banseta.
“Hah!” kejut Banseta saat sosok Putri Manik Sari tahu-tahu muncul melayang di atas kepalanya.
Dak!
“Aaak…!”
“Adimaaas!” teriak Bandewa histeris saat melihat satu kaki Manik Sari menginjak bahu kanan Banseta guna dijadikan tempat bertolak.
Tubuh Banseta berhenti maju, tetapi justru terdorong ke bawah dan meluncur jatuh ke dalam.
Sementara Manik Sari melesat cepat di atas jurang tanpa ada hambatan sedikit pun, seolah ia tidak membentur udara padat. Manik Sari mendarat di bibir jurang di seberang. Ia menjadi orang kedua yang menyeberang.
“Perempuan Ibliiis!” teriak Bandewa begitu murka. Wajahnya memerah hingga urat-uratnya bertonjolan. Sepasang matanya yang menangis melihat kejatuhan adik kandungnya, merah menatap buas kepada Manik Sari yang cantik. “Akan aku bunuh kau!”
__ADS_1
Di saat Bandewa dilanda amarah dan dendam, Kapak Walet justru kegirangan.
“Hahaha! Aku tahu cara mudahnya untuk menyeberang. Kita harus menciptakan lubang udara di atas jurang dengan ilmu kita. Selain itu, kita juga harus memiliki sesuatu untuk dijadikan tempat bertolak di tengah jurang!” kata Kapak Walet.
Set!
Bandewa melesatkan sarung pedangnya ke atas jurang. Lalu ia cepat berkelebat mengejar di atasnya.
Set set! Tak!
Seperti yang dilakukan oleh Banseta, Bandewa juga mengibaskan pedangnya sebanyak dua kali. Dua sinar putih tipis melesat merobek lapisan udara padat di atas jurang. Kemudian satu kaki Bandewa menginjak batang sarung pedangnya sebagai tempat tolakan kaki.
Tubuh Bandewa kemudian terus melesat menuju seberang tanpa terhalang oleh lapisan udara padat. Ia mendarat mudah di bibir jurang di seberang.
Para pendekar yang menyaksikan keberhasilan Bandewa yang mulus dalam menyeberang jadi sumringah.
“Perempuan Iblis, bayar kematian adikku! Hiaaat!” teriak Bandewa yang langsung memburu Manik Sari di seberang sana.
Pertarungan antara Putri Manik Sari dengan Bandewa tidak terelakkan lagi. Di saat Manik Sari sangat berkepentingan untuk mendapatkan pusaka tanpa tanding, Bandewa tidak memikirkan itu lagi. Saat itu, tujuannya tinggal satu, yaitu membunuh Manik Sari tanpa peduli dengan kecantikannya.
Perlu diketahui bahwa sisi seberang jurang memiliki area gua yang dalam dan besar. Jika dipakai untuk arena pertarungan beberapa orang, itu masih terbilang luas.
Set!
Seorang pemuda kembali mencoba peruntungan dengan mencontoh cara Bandewa. Ia melesatkan sarung pedangnya ke atas jurang. Ia lalu berkelebat mengejar.
Set set! Tak!
Pemuda itu mengibaskan pedangnya dua kali pada dinding udara padat di atas jurang. Lalu kakinya bertolak pada warangka pedangnya yang mengiringi di sebelah bawah.
Namun, ketika tubuh pemuda itu kembali bertolak maju, laju tubuhnya melambat. Ketika tubuhnya berhasil melewati lapisan udara, daya dorongnya berkurang dan dia jatuh jauh sebelum menggapai bibir jurang.
“Aaa…!”
Satu orang pendekar kembali menuju maut di dasar jurang yang gelap.
“Kenapa dia jatuh?” tanya sejumlah pendekar kelas menengah heran.
“Dia merobek udara di atas jurang hanya dengan tenaga dalam rendah,” jawab Kapak Walet. “Giliranku!”
Wuut!
__ADS_1
Kapak Walet lalu melesatkan kapaknya yang berputar-putar. Ia lalu berkelebat dengan tangan berbekal bola sinar berwarna biru gelap, siap dihantamkan kepada dinding udara. (RH)