8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mata Batu 7: Jajal Kekuatan Tamu


__ADS_3

*Maut di Tahta Baturaharja (Mata Batu)*


 


Rombongan Sandaria dan pasukannya sudah tiba di Kerajaan Baturaharja, di Ibu Kota Jayamata. Kedatangannya sudah dilaporkan ke Prabu Menak Ujung, tetapi sang prabu baru bisa menerimanya besok pagi, bertepatan ketika sidang pagi di Balairung Kejayaan.


Untuk sementara, Sandaria dan rombongan ditempatkan di Wisma Agung, kediaman yang memang diperuntukkan untuk tamu istimewa dari negeri atau kerajaan lain.


Sandaria memerintahkan seluruh prajuritnya beristirahat dengan dalih para serigala akan berjaga meski mereka juga beritirahat.


“Kau tidur di luar, aku tidur di dalam, Sugigi!” kata Surya Kasyara.


Selain kamar yang ditempati oleh Sandaria, masih ada satu kamar kosong yang kemudian diperebutkan oleh Surya Kasyara dan Sugigi Asmara.


“Eh, tidak bisa. Secara kondisi, kamar itu jatahku karena aku adalah wanita,” kata Sugigi.


“Memangnya kenapa kalau kau wanita, aku juga lelaki!” tandas Surya Kasyara.


Ia lalu berjalan hendak masuk ke kamar. Namun, Sugigi Asmara tidak mau mengalah dan cepat menghadang Surya Kasyara di ambang pintu.


“Eh minggir!” desak Surya Kasyara sambil maju hendak menabrak tubuh Sugigi dengan tubuhnya.


“Tidak mau!” tolak Sugigi sambil ikut mendorong.


Akhirnya yang terjadi adalah dua insan yang saling menempelkan dada dan wajah mereka jadi tinggal berjarak setengah jengkal. Surya Kasyara mendelik melihat apa yang disuguhkan di depannya.


“Ayo maju jika kau seorang lelaki!” tantang Sugigi Asmara.


Surya Kasyara hanya menelan ludah.


“Pendekar, untuk apa memperebutkan kamar kosong? Bukankah sejak awal kalian dipasangkan? Akan lebih baik jika kalian berbagi kamar dan ranjang!” sahut seorang prajurit yang merasa terganggu dengan keributan dua pendekar itu. Ia dan sebagian rekannya sudah merebahkan diri di lantai ruang depan.


Sebagian prajurit lagi tidur sambil berjaga di depan.


“Usul yang bagus!” kata Sugigi Asmara, lalu tiba-tiba ia menarik tubuh Surya Kasyara masuk ke dalam kamar.


“Aaa!” jerit Surya Kasyara seiring pintu kamar ditutup.


“Hahaha…!” tawa para prajurit itu.


Bak bik buk!


Terdengar suara gaduh dari dalam kamar.


“Hahaha! Ranjangnya pasti jebol!” kata satu prajurit.

__ADS_1


“Hahaha…!” tawa prajurit lainnya.


Setelah itu mereka tidur.


Pertarungan kecil memang sempat terjadi di antara Surya Kasyara dan Sugigi Asmara. Jurus mabuk Surya Kasyara tidak berfungsi ketika Sugigi melawan tidak menggunakan jurus, cukup menjadi lintah dengan cara memeluki tubuh Surya Kasyara dengan sekuat-kuatnya.


Wanita yang memang jatuh cinta kepada Surya Kasyara itu hanya tertawa-tawa karena membuat pemuda itu kesulitan.


Meski berniat berontak, tetapi kelelakian Surya Kasyara justru takluk lebih dulu karena tingkah Sugigi Asmara yang tidak tahu malu sebagai wanita. Akhirnya Pendekar Gila Mabuk pasrah satu kamar dengan Sugigi, juga pasrah jika dibelai-belai oleh gadis genit itu.


Waktu pun berlalu dan malam semakin ke puncaknya.


Agak jauh di luar wisma, sebanyak enam sosok berpakaian hitam-hitam bergerak di dalam kegelapan. Langkah mereka yang sangat ringan dan tidak bersuara pada pijakannya, seolah menunjukkan tingkat keilmuannya.


Keenam sosok hitam itu berhenti di balik tembok halaman yang setinggi dada. Halaman itu hanya diterangi oleh dua suluh yang dipasang di sudut luar rumah tamu.


Sejenak mereka memperhatikan keberadaan lima serigala besar yang sedang diam tertidur. Ada pula empat prajurit Sanggana Kecil yang tidur di dekat pintu.


Keenam lelaki berpakaian hitam lalu mengeluarkan benda berupa sumpit. Untuk bisa lebih menjangkau kelima serigala itu, mereka bergerak begitu perlahan lebih mendekat.


Set set set…!


Dengan pengerahan tenaga dalam, keenam lelaki itu meniup sumpitnya. Enam jarum yang tidak terlihat karena kegelapan, melesat menargetkan kelima binatang. Dua jarum menargetkan Satria.


Namun, sebelum jarum-jarum itu tiba di tubuh para tubuh serigala, tiba-tiba ada lima sinar biru kecil yang melesat lebih cepat dari atas atap rumah dan masuk ke dalam kepala kelima serigala.


Tubuh kelima serigala langsung diselimuti lapisan sinar biru, sehingga jarum-jarum itu terpental tanpa ada yang masuk menusuk tubuh serigala.


Kemunculan sinar biru itu jelas mengejutkan keenam lelaki berpakaian hitam. Mereka langsung menyimpulkan bahwa mereka telah ketahuan.


“Cepat pergi!” bisik satu di antara mereka.


“Hihihi!”


Baru saja mereka mau berbalik, mereka sudah mendengar suara cekikikan di belakang mereka.


Tak tik tok…!


Belum sempurna mata mereka mencoba menangkap wujud wanita yang tertawa di dalam kegelapan, tahu-tahu kepala mereka semua sudah dihantam keras oleh ujung tongkat Sandaria. Gerakan tongkat itu begitu cepat, seperti dilakukan oleh tukang pentung profesional.


Auu…! Auu…!


Tiba-tiba kelima serigala bergerak bangun lalu melolong panjang dan ramai. Sontak saja lolongan tengah malam itu menciptakan suasana horor bagi penghuni istana dan Ibu Kota.


Para prajurit Kerajaan Sanggana, Surya Kasyara dan Sugigi Asmara bangun dengan terkejut dan menggeragap.

__ADS_1


“Hihihi! Menikah tidak membuat kepekaanku berkurang,” kata Sandaria sambil tertawa-tawa memandangi enam orang yang sudah terkapar tidak sadarkan diri.


Para prajurit segera berkeluaran.


“Lepaskan tanganmu, Surya!” bentak Sugigi Asmara karena tangan surya terlelap tidur di dada Sugigi.


“Maafkan aku!” ucap Surya Kasyara terkejut melihat tangannya ada di tubuh Sugigi.


Keduanya yang tidur satu ranjang segera berlomba bangkit lalu berebut untuk keluar.


Setibanya di luar wisma, keduanya heran melihat kondisi. Semua prajurit sudah berada di luar dan kelima serigala sudah terbangun. Beberapa prajurit memegang obor.


Sandaria lalu muncul dari balik tembok dengan cara melompat bersalto di udara.


“Kalian bawa masuk enam orang yang ada di balik tembok. Ikat mereka dengan kuat!” perintah Sandaria kepada para prajuritnya.


“Baik, Gusti Permaisuri!” ucap para prajurit itu patuh.


“Apa yang terjadi, Gusti Permaisuri?” tanya Surya Kasyara.


“Nanti aku akan meminta kepada Gusti Prabu untuk menikahkan kalian berdua agar setiap mengawal aku, kalian tidak berebut ranjang,” kata Sandaria tanpa menjawab pertanyaan Surya Kasyara.


“Terima kasih, Gusti!” ucap Sugigi Asmara.


“Tapi nanti kekasihku Garis Merak bagaimana?” tanya Surya Kasyara khawatir.


“Masih banyak pemuda lain,” kata Sandaria sambil tersenyum.


“Tapi tidak ada yang sesakti aku, Gusti,” kata Surya Kasyara lagi.


“Iya, tapi yang lebih sakti banyak. Hihihi!” kata Sandaria lalu tertawa sambil melangkah masuk.


“Tenang saja, calon suamiku. Biar aku yang nanti bicara kepada wanita pemancing ikan itu!” kata Sugigi Asmara sambil memeluk satu lengan Surya Kasyara.


“Eh, jangaaan!” seru Surya Kasyara sambil menarik lepas tangannya.


Sugigi Asmara hanya tertawa senang, meski melihat Surya Kasyara berlagak jual mahal. Buktinya semalam waktu tidur, tangan Surya ada pada tubuhnya, meski tidak sampai menyusup masuk.


Surya Kasyara bergabung bersama para prajurit yang mengangkuti tubuh keenam lelaki penyerang itu.


Sementara para serigala kembali merebahkan perutnya ke tanah.


Sebenarnya insting para serigala sudah mengetahui kedatangan para penyusup, tetapi memang dasarnya mereka diperintahkan untuk tidak bereaksi jika ada gerakan yang mencurigakan di sekitar Wisma Agung.


Yang Sandaria pikirkan adalah, jika para serigalanya bereaksi, itu akan menciptakan kehirukpikukan. (RH)

__ADS_1


__ADS_2