8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mata Batu 9: Orang di Balik Mahapati


__ADS_3

*Maut di Tahta Baturaharja (Mata Batu)*


 


“Bagaimana menurut kalian tentang Kerajaan Sanggana Kecil itu?” tanya Prabu Menak Ujung.


“Izinkan hamba bicara, Gusti,” kata Penasihat Angger Buda.


“Hmm,” gumam Prabu Menak Ujung seraya mengangguk.


“Jika melihat Kerajaan Sanggana Kecil yang memiliki orang-orang berkesaktian tinggi, tentunya itu akan sangat baik untuk dijadikan kerajaan sahabat yang sewaktu-waktu bisa kita mintai bantuannya,” kata Angger Buda.


“Izinkan hamba bicara, Gusti,” kata Mahapati Abang Garang.


Prabu Menak Ujung kembali mengangguk.


“Hamba justru berbeda pandangan dengan Panasihat. Hamba melihat kehadiran Permaisuri Sandaria baru saja memang menghibur, tetapi hamba curiga dengan tingkahnya di depan kita. Wanita ini berkesaktian tinggi, tidak mungkin dia melakukan kecerobohan seperti tadi. Hamba curiga dia sedang membaca kekuatan kita,” ujar Abang Garang.


“Jika benar demikian, apa masukanmu?” tanya Prabu Menak Ujung.


“Hancurkan Kerajaan Sanggana Kecil selagi mereka masih kecil. Meski mereka memiliki orang-orang berkesaktian tinggi, tetapi akan sulit menang melawan kerajaan besar seperti kita. Hamba khawatir, ketika mereka besar, justru kita tidak sanggup melawannya dan mereka akan menekan dan menguasai kita,” ujar Abang Garang.


“Izinkan hamba bicara, Gusti,” kata Senopati Duri Manggala pula.


Prabu Menak Ujung mengangguk mengiyakan.


“Dalam peperangan di Jalur Bukit, jumlah mereka tidak sampai dua puluh orang. Namun, mereka bisa mengalahkan lebih dari lima ribu pasukan. Dan orang-orang yang memimpin pasukan itu adalah orang-orang yang sangat sakti. Aku khawatir, jika kita menciptakan permusuhan dengan orang-orang Sanggana Kecil, justru kita akan rugi besar. Apalagi pemberontakan di Kadipaten Kelang dan Repakulo belum jelas kapan bisa kita tumpas,” kata Senopati Duri Manggala.


“Kau meremehkan aku, Senopati,” ucap Abang Garang dengan lirikan tidak suka atas pendapat Senopati.


“Bahkan aku ragu, apakah kau mampu melawan satu orang perempuan saja dari Kerajaan Sanggana,” kata Senopati Duri Manggala yang membuat Abang Garang mendelik.


Abang Garang benar-benar merasa diremehkan oleh Senopati Duri Manggala.


“Sepertinya Senopati sangat akrab dengan Permaisuri Sandaria?” tanya Angger Buda.


“Meski dia yang membunuh putraku Gala Patra, tetapi dia juga yang menyelamatkan hamba dari putraku, dan menyelamatkan pasukan Baturaharja. Hamba rasa Gusti Prabu sudah mengetahui, rombongan Permaisuri Sandaria lebih dulu berkunjung ke kediamanku kemarin sebelum menghadap Gusti Prabu,” kata Senopati.


“Baik,” ucap Prabu Menak Ujung. “Kita tidak akan mengganggu orang-orang Kerajaan Sanggana Kecil, kecuali mereka membuat masalah dengan kita. Kita akan konsentrasi untuk memulihkan situasi di Kadipaten Kelang dan Repakulo. Adipati Sewa Legit, laporkan kondisi terkini wilayahmu!”


Adipati Sewa Legit adalah seorang lelaki berusia separuh abad dengan postur tubuh tinggi tapi berperut gendut, menunjukkan bahwa dia orang yang doyan makan. Ia mengenakan baju berwarna biru terang. Di tangannya terpegang sebuah pedang yang lengkap dengan warangkanya.

__ADS_1


“Pemberontakan di Kadipaten Kelang dilakukan oleh kelompok pendekar yang bernama Jago Sodok. Mereka dipimpin oleh Pendekar Bola-Bola. Mereka sudah menguasai kadipaten secara keseluruhan, Gusti,” lapor Adipati Sewa Legit.


“Bagaimana denganmu, Adipati Tulang Sampit?” tanya Prabu Menak Ujung.


Adipati Tulang Sampit adalah sosok lelaki kurus dengan sorot mata yang tajam. Ia berkumis tebal makmur, kontras dengan fisiknya. Tubuhnya hanya ditutupi dengan kain selempangan kuning semodel Penasihat Angger Buda. Ia membawa sebilah keris yang diselipkan di belakang pinggangnya.


“Hampir sama dengan Kadipaten Kelang, Kadipaten Repakulo juga sudah direbut oleh Kelompok Tinju Dewa. Kelompok itu juga merupakan kumpulan para pendekar yang dipimpin oleh Juragan Gendut. Dalam kelompok itu juga ada sejumlah pendekar tua yang bergabung,” lapor Adipati Tulang Sampit.


“Hamba melihat, pola pemberontakan ini hampir sama dengan yang terjadi di Kadipaten Surosoh, yaitu kelompok pendekar. Hamba menyimpulkan, ada satu kekuatan di belakang pemberontakan ini. Mereka tidak berdiri sendiri,” kata Angger Buda.


“Senopati, aku perintahkan kau memberantas pemberontakan di Kadipaten Kelang. Dan kau Mahapati Abang Garang, tumpas pemberontakan di Kadipaten Repakulo!” perintah Prabu Menak Ujung.


“Baik, Gusti Prabu!” ucap Mahapati dan Senopati seraya menjura hormat.


“Kalian semua juga harus mecari tahu, siapa pihak yang berada dibalik pemberontakan itu!”


“Baik, Gusti Prabu!” ucap para abdi itu.


“Pertemuan pagi ini aku cukupkan!” kata Prabu Menak Ujung.


Ia lalu bangkit dan berjalan menghampiri permaisurinya. Salik Jejaka bergerak mengikuti junjungannya.


“Baik,” ucap Adipati Sewa Legit mengangguk.


Sementara itu, Mahapati Abang Garang segera pergi kembali ke kediamannya. Setibanya di luar istana, Mahapati Abang Garang segera dikawal oleh kedua abdinya yang berpakaian serba biru gelap.


Pengawal pertama bernama Adimuka, seorang pemuda bertubuh besar dan kokoh. Pengawal kedua bernama Tibamaling, seorang pemuda bertubuh pendek tapi kekar. Keduanya tidak berbekal senjata.


“Siapkan Pasukan Walang Kekek dalam jumlah besar. Serang rombongan permaisuri pembawa anjing-anjing itu di Jalur Bukit!” perintah Mahapati Abang Garang.


“Baik, Gusti,” ucap kedua pengawal itu.


Setelah menghormat, keduanya bergegas pergi.


Mahapati Abang Garang segera mendapati kudanya dan pergi menuju kediamannya yang tidak jauh di luar Istana. Ia memacu kencang kudanya karena seseorang telah menunggunya.


“Hah!” kejut Abang Garang saat melihat rombongan Putri Manik Sari melintas di depan laju kudanya.


Putri Manik Sari dan para dayangnya jadi terkejut. Putri Manik Sari yang terkenal sakti hanya berdiri menjerit sambil membungkuk menutupi wajahnya.


Buru-buru Abang Garang menarik kencang tali kekang kudanya, sehingga sang kuda mengerem pakem dengan dua kaki depan terangkat tinggi, seperti gaya kuda pahlawan bertopeng Zorro.

__ADS_1


“Gusti Putri tidak apa-apa?” tanya Abang Garang sambil beru-buru turun untuk memeriksa kondisi sang putri yang cantik.


Gadis berusia dua puluh delapan tahun itu tersenyum kepada Abang Garang.


“Maafkan hamba karena tidak melihat rombongan Gusti Putri!” ucap Abang Garang.


“Mahapati sepertinya sangat terburu-buru. Apakah ada hal yang sangat bahaya?” kata Putri Manik Sari.


“Benar, Gusti. Hamba harus mempersiapkan pasukan untuk berangkat ke Kadipaten Repakulo,” jawab Abang Garang.


“Situasinya pasti sangat gawat, sampai-sampai Ayahanda mengirim Mahapati yang turun,” kata Putri Manik Sari.


“Hamba mohon izin, Gusti Putri,” ucap Mahapati.


Putri Manik Sari mengangguk seraya tersenyum. Ia dan para dayangnya segera melangkah memberi jalan bagi kuda Mahapati. Sang putri hanya memandangi kepergian Abang Garang dengan senyum tipis penuh misteri.


Abang Garang terus memacu kencang kudanya keluar meninggalkan lingkungan Istana.


Setibanya di kediamannya, Mahapati Abang Garang langsung melompat turun begitu saja, sementara kudanya diurus oleh prajurit yang berjaga.


“Kau membuatku menunggu lama, Siluman Hitam!” kata seorang wanita ketika Abang Garang masuk ke sebuah kamar yang megah.


Wanita itu adalah seorang gadis cantik jelita berpakaian serba ungu. Wajahnya model bulat dengan hidung yang mancung dan berbibir merah alami. Keputihan kulit wajahnya membuat kumis halusnya terlihat jelas. Wanita itu tidak lain adalah Putri Aninda Serunai, adik tiri Putri Sri Rahayu yang juga adalah putri Ningsih Dirama dari Prabu Raga Sata.


“Maafkan hamba, Putri,” ucap Abang Garang tanpa beralasan.


“Kadipaten Kelang dan Kadipaten Repakulo sudah kita kuasai. Dalam beberapa hari ke depan, kadipaten yang lain akan kita kuasai pula. Bagaimana kesiapan di Istana untuk menggulingkan Menak Ujung?” tanya Putri Aninda Serunai.


“Aku diperintahkan untuk memberantas pemberontakan di Repakulo. Sedangkan Senopati Duri Manggala akan dikirim ke Kelang. Itu artinya hanya Penasihat Angger Buda dan Putri Manik Sari sebagai orang sakti yang dekat dengan Prabu Menak. Siluman Mata Elang bisa memimpin Pasukan Walang Kekek untuk menggulingkan Prabu Menak. Jadi, tinggal menunggu perintah dari Putri,” kata Abang Garang.


“Sebelum kau pergi ke Kadipaten Repakulo, kau harus menghidupkan kembali Pasukan Walang Kekek yang kita tanam di Istana. Serahkan tanda perintah kepada Salik Jejaka, Siluman Hitam!” perintah Putri Aninda Serunai.


“Baik, Putri. Oh ya, Putri. Kelompok yang menghancurkan Gerombolan Kuda Biru adalah orang-orang Kerajaan Sanggana Kecil. Pagi ini permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil datang menemui Prabu Menak,” ujar Abang Garang yang punya nama lain Siluman Hitam.


“Waspadai keberadaan orang-orang kerajaan itu. Kehancuran Kuda Biru menunjukkan bahwa mereka orang-orang yang sulit diatasi. Berarti mereka juga yang membunuh Siluman Panah Setan,” kata Putri Aninda Serunai.


“Aku sudah memerintahkan Pasukan Walang Kekek untuk menghabisi permaisuri itu di Jalur Bukit. Mati atau tidak, serangan itu akan memancing konflik antara kedua kerajaan,” kata Abang Garang.


“Ceroboh kau, Siluman Hitam. Itu sama saja kau membenturkan kita dengan Kerajaan Sanggana Kecil, karena dalam waktu dekat kita yang menguasai tahta Baturaharja!” kata Putri Aninda Serunai agak keras. “Batalkan rencana mencelakai permaisuri itu. Kita akan urus Sanggana Kecil setelah Baturaharja kita kuasai penuh!”


“Baik, Putri.” (RH)

__ADS_1


__ADS_2