8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
BMP 27: Ratu Sri Dilecehkan


__ADS_3

*Bibir Merah Pendekar (BMP)*


 


Cukup lama Raja Anjas Perjana Langit berdiri menunggu di balik pintu rahasia kamar Prabu Raga Sata. Dalam keterdiaman itu ia memasang tajam pendengarannya. Barulah ia mendengar suara percakapan di saat hari telah pagi.


Sementara Gurudi yang awalnya bersamanya, telah ia perintahkan untuk kembali.


Anjas bisa mendengar dengan jelas percakapan antara Prabu Raga Sata dan ratunya, Sri Mayang Sih.


Sebelum acara tantangan Joko Tenang di Ladang Anjing, ternyata Putri Sri Rahayu dipanggil datang ke kamar ayahnya. Anjas menyimak dengan teliti isi pembicaraan penting antara orangtua dan anak itu.


“Jika Joko mati di Ladang Anjing atau di Gua Mutiara, maka tentunya kau tidak mungkin menikahinya. Namun, jika ternyata perkiraan Ayahanda meleset, maka kau tetap harus menikah dengannya. Dia itu suami yang sakti dan sulit dicari tandingannya. Sebagai permaisuri, nantinya kau bisa mengatur siasat agar kekuatan yang dimiliki oleh Kerajaan Sanggana Kecil bisa membantu Kerajaan Siluman melebarkan kekuasaan ke mana-mana. Satu demi satu kerajaan-kerajaan di Tanah Jawi ini akan berada di bawah kendali Kerajaan Siluman….”


“Maafkan aku, Ayahanda. Aku mencintai Joko, jadi aku tidak akan memanfaatkannya atau berbuat jahat kepadanya. Aku lebih baik tidak menikah dengannya daripada harus menjahatinya!” tandas Putri Sri Rahayu.


“Jangan berbuat bodoh, Putriku. Kau mencintai Joko, maka kami merestuimu menikah dengannya. Jika kemudian dia nanti bisa membunuhku, maka itu bisa kau jadikan alasan untuk berbuat licik kepadanya. Tapi dia hanya akan bermimpi jika berniat membunuhku!” kata Prabu Raga Sata. “Ingat, kau akan menderita batin jika kau tidak menikah dengan orang yang kau cintai, Putriku.”


Tidak panjang percakapan antara Prabu Raga Sata dengan putrinya, karena Putri Sri Rahayu memilih cepat pergi menemui Tirana dan mengajaknya ke tempat menonton Ladang Anjing.


“Kang Mas Prabu pergilah lebih dulu, aku mau membersihkan diri dulu,” kata Ratu Sri Mayang Sih kepada suaminya.


“Jangan terlalu lama!” pesan Prabu Raga Sata.


Seperginya Prabu Raga Sata, para dayang segera masuk semua ke dalam kamar untuk melayani Ratu Sri Mayang Sih.


Setelah melayani junjungannya, Ratu Sri Mayang Sih mandi sendiri di dalam kamar mandinya yang besar, yang menyatu dengan kamar tidur. Sementara para dayang yang berjumlah sepuluh orang berdiri menunggu di balik layar.


Pada saat itulah, Anjas keluar dari persembunyiannya. Ia masuk ke kamar pribadi Prabu Raga Sata. Ia sudah tidak menggunakan ilmu tabirnya lagi sehingga ia akan bisa dilihat oleh siapa pun. Namun, pada saat itu, semua dayang berdiri diam dalam kekusyukan menghadap kepada tabir kamar mandi yang agak transparan. Anjas datang melangkah mendekat dari belakang tanpa suara sedikit pun.

__ADS_1


Tutuk tutuk tutuk…!


Kemudian, hanya sekali gerak dari ilmu Bayang-Bayang Malaikat, Anjas sudah menotok kesepuluh dayang itu. Bukan hanya membuatnya tidak bisa bergerak, tetapi juga tidak bisa berbicara sedikit pun. Mereka hanya bisa mendelik ketika melihat keberadaan seorang pria yang sangat tampan, meski usianya sudah terbilang matang.


Anjas lalu memanggul dua tubuh dayang sekaligus, kemudian dibawa masuk ke lorong rahasia. Di sanalah mereka diletakkan oleh Anjas. Lelaki berkumis tipis itu harus bolak-balik menggunjal para dayang dan menyembunyikannya di satu tempat.


Ratu Sri Mayang Sih sedikit pun tidak menyadari apa yang terjadi di balik tabir yang lebar dan tinggi. Suara pancuran air ke dalam kolam kecil dan suara gemericik air yang dimainkan, membuatnya tidak mendengar ada suara mencurigakan di dalam kamar, terlebih Anjas melakukannya dengan sangat halus.


Setelah kamar itu bersih dari keberadaan dayang, Anjas lalu membuka bajunya sehingga ia bertelanjang dada. Maka tampaklah keindahan dan kegagahan badannya yang berotot bagus. Perutnya saja sixpack, apalagi otot dada dan lengannya. Bahunya pun tebal oleh otot. Status raja tidak membuatnya malas fitness.


Anjas kemudian melangkah perlahan. Ia masih mengenakan celananya dengan lengkap. Perlahan ia sibak tepian tirai, itu tidak disadari oleh Ratu Sri Mayang Sih. Maka Anjas bisa melihat keberadaan wanita berkulit bersih itu di dalam air yang bertabur bunga warna-warni.


Dalam mandinya, Ratu Sri Mayang Sih tidak mengenakan kain sehelai pun. Posisi wajah yang membelakangi tirai membuat Anjas bisa bergerak mendekat ke pinggir kolam. Hingga Anjas berjongkok di pinggir kolam batu itu, sang ratu masih asik mengusap-usap tubuhnya yang tenggelam hingga dada.


Ratu Sri Mayang Sih bukanlah seorang ratu tanpa ilmu kesaktian seperti Selir Ningsih. Namun, hingga Anjas bisa sedekat itu, ia masih belum merasakan kehadiran penyusup, karena memang kehadiran Anjas begitu halus.


Namun kemudian, Ratu Sri Mayang Sih mendelik terkejut saat mendengar samar bahwa ada suara napas orang lain di dekatnya.


Tidak ada kesempatan bagi wanita berusia hampir setengah abad itu untuk melakukan sesuatu. Totokan Anjas begitu cepat dan komplit. Ratu bahkan tidak bisa bersuara lagi. Tubuh Ratu Sri Mayang Sih jatuh tenggelam sejenak lalu muncul kembali mengambang. Dengan demikian, Anjas bisa melihat semua jenis perabotan yang dimiliki oleh sang ratu.


Alangkah malunya Ratu Sri Mayang Sih mendapati dirinya dinikmati dengan gratis oleh mata Anjas. Ia bersumpah, jika tidak terjadi apa-apa dengan dirinya, ke depannya ia akan selalu mandi menggunakan kain.


“Maafkan aku karena berbuat kurang ajar kepadamu, Ratu. Aku tidak akan memperkosamu, aku hanya memerlukanmu untuk memancing suamimu kembali ke kamar ini,” ucap Anjas. “Maafkan aku sekali lagi, Ratu.”


Anjas lalu meraih tubuh Ratu Sri Mayang Sih dan mengangkatnya naik. Dalam kondisi basah-basah, Anjas membawa tubuh sang ratu keluar dari kamar mandi itu. Ratu Sri Mayang Sih benar-benar dalam keadaan bugil berada dalam gendongan Anjas.


Tubuh sang ratu lalu direbahkan di atas kasur, sehingga kasur dan bantalnya turut basah.


“Tidak perlu malu, Ratu. Anggap saja aku adalah suamimu,” kata Anjas seenaknya.

__ADS_1


Anjas lalu menutupi tubuh sang ratu dengan selimut tidur hingga sebatas atas dada. Anjas kemudian tersenyum manis kepada Ratu Sri Mayang Sih.


“Selesai. Tinggal menunggu ada orang yang datang menjemputmu, Ratu,” kata Anjas sambil meletakkan bokongnya di sisi sang ratu.


Ia lalu menatap lekat-lekat wajah sang ratu yang memang masih menyisakan kecantikan pada usia hampir separuh abad itu.


“Sebenarnya kau sangat cantik, Ratu. Tapi aku heran, kenapa suamimu begitu bernafsu mengambil istriku, padahal dia tahu aku dan istriku sudah menikah? Jika aku mau memperturutkan dendamku, mungkin saat ini juga aku akan menodaimu. Aku memiliki pasukan yang sangat kuat, tetapi aku tidak mau ada banyak nyawa yang dikorbankan hanya demi pelampiasan dendam,” ujar Anjas. Lalu ia memberi tawaran kepada Ratu Sri Mayang Sih, “Aku akan membebaskan pita suaramu jika kau tidak berteriak. Kedipkan matamu dua kali jika setuju.”


Ratu Sri Mayang Sih lalu mengedipkan matanya dua kali, seperti kedipan genit.


“Tapi jika kau berteriak, maka aku akan langsung membunuhmu!” ancam Anjas.


Ratu Sri Mayang Sih kembali mengedipkan matanya dua kali, tanda setuju.


Anjas pun kemudian membebaskan totokan pada suara Ratu Sri Mayang Sih.


“Siapa kau?” tanya Ratu Sri Mayang Sih langsung, ketika suaranya sudah tidak tersumbat.


“Aku Anjas, suami dari Ningsih Dirama. Aku datang pagi ini untuk membunuh suamimu,” jawab Anjas.


“Kenapa kau lakukan ini kepadaku?” tanya Ratu Sri Mayang Sih.


“Kau masih beruntung, Ratu. Suamimu memperkosa istriku sampai-sampai dia hampir bunuh diri karena begitu hancurnya jiwanya. Kau tahu, betapa sakitnya perasaanku mengetahui istriku diperkosa. Apakah kau mau merasakan apa yang istriku rasakan?” kata Anjas dengan tatapan tajam tidak bersahabat.


“Jangan! Aku mohon jangan kau lakukan!” kata Ratu Sri Mayang Sih berubah panik.


“Bukankah sama saja rasanya, Ratu. Mungkin aku bisa lebih memuaskan dibandingkan suamimu yang sudah menua,” kata Anjas sambil bergerak naik ke atas ranjang. Ia lalu memasukkan kedua kakinya ke dalam selimut pula.


Anjas merebahkan tubuhnya di sisi tubuh Ratu Sri Mayang Sih. Ia lalu memposisikan tubuhnya miring dengan kepala menyanggah pada topangan telapak tangan. Sementara pandangannya langsung tertuju kepada sang ratu.

__ADS_1


Ratu Sri Mayang Sih benar-benar terpaksa harus membuang rasa malunya. Entah, mimpi apa ia tadi malam, tahu-tahu di pagi itu dia kedatangan lelaki yang sangat tampan tetapi jahat. Lelaki itu melecehkannya. (RH)


__ADS_2