
*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*
Asap merah beracun Permaisuri Sri Rahayu benar-benar menyebar memenuhi ruangan di mulut gua, memaksa tidak ada seorang pun pendekar yang memilih tetap bertahan, kecuali Bidadari Asap Racun sendiri.
Sementara puluhan pendekar lainnya, termasuk Putri Manik Sari, masih bertahan di gua seberang jurang.
Para pendekar yang jumlahnya ratusan itu kini tersebar di luar gua. Ketujuh belas Pengawal Bunga membentuk pagar manusia di depan mulut gua. Para serigala kini duduk menghadap ke jalanan sebagai penjaga pagar.
Pertarungan antara Permaisuri Sandaria dengan Mahapati Abang Garang masih berlangsung, agak jauh dari mulut gua yang sudah dipagar.
Meski dalam kondisi terluka parah, Mahapati Abang Garang ternyata masih sanggup bertarung. Sebagai seorang abdi yang setia terhadap Kerajaan Siluman, pilihan mati bukan hal yang menakutkan. Karenanya, ia memilih bertarung mati-matian melawan Sandaria.
Pak! Zerzz!
Mahapati Abang Garang menapakkan kedua tanganya ke bumi. Muncullah jalaran dua sinar biru yang melesat cepat di atas tanah kepada posisi kaki Sandaria. Setelah itu, Mahapati melompat tinggi ke udara dengan kedua telapak tangan masih bersinar biru.
Sandaria melompat naik ke udara.
Jalaran dua sinar biru di tanah berfungsi selain untuk menyerang, juga berfungsi sebagai pemancing. Biasanya, target yang diserang akan melompat ke udara menghindar. Itulah yang diinginkan oleh Mahapati Abang Garang.
Zerzz!
Mahapati yang sudah melompat ke udara pula, langsung menghentakkan lengan kanannya. Satu aliran sinar biru seperti listrik tanpa putus melesat menyerang Sandaria.
Sandaria yang buta mampu menyambut ujung sinar itu dengan ujung tongkatnya. Yang terjadi adalah ketika Sandaria dan Mahapati Abang Garang turun dari lompatannya, aliran sinar biru tetap saling bertaut antara telapak tangan Mahapati dan ujung tongkat biru Sandaria.
“Hihihi…!”
Ketika Mahapati Abang Garang sedang berjuang keras mengerahkan tenaga saktinya, sampai ada darah yang merembes dari celah bibirnya, Sandaria justru tertawa sambil tetap memegang tongkat birunya.
“Rupanya kau seorang pemberontak, Mahapati!” kata Sandaria kepada Mahapati Abang Garang. “Aku beri tahu kabar gembira untukmu. Pemberontakan kalian di Baturaharja gagal besar!”
“Apa?!” kejut Mahapati Abang Garang, yang selama ini berasumsi bahwa pemberontakan yang dipimpin oleh Salik Jejaka berhasil.
“Karena kau adalah pemimpin pemberontak dan membuat kacau di sini, Permaisuri Serigala yang cantik imut dan tidak membosankan ini, akan menghukummu. Hukumannya adalah mati!” tandas Sandaria.
Sess!
Tiba-tiba sinar biru pada titik ujung tongkat Sandaria berubah warna menjadi sinar kuning, lalu menjalar cepat menelan warna biru pada sinar itu.
__ADS_1
Buru-buru Mahapati Abang Garang menghentikan pengerahan ilmunya, membuat sinar biru di tangannya lenyap dan putus sebelum sinar kuning sampai kepadanya.
“Terlambat, Sayang!” ucap Sandaria.
Tuss!
Benar saja, terlambat bagi Mahapati Abang Garang. Meski putus, tetapi ujung sinar kuning justru melesat cepat menusuk dada Mahapati Abang Garang, tepat pada posisi jantung. Mahapati Abang Garang tumbang, langsung tanpa nyawa.
Pada hakikatnya, ilmu yang membunuh Mahapati Abang Garang adalah Tusuk Nyawa.
Sementara itu, Aki Ular Biru diam-diam memilih pergi setelah menyaksikan kematian Mahapati Abang Garang.
Perlahan-lahan, asap merah yang memenuhi mulut gua sudah ditarik hilang oleh Sri Rahayu. Kini, Gua Lolongan berada di bawah kendali para permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil. Para permaisuri sudah memasuki gua dan melihat wujud pusaka yang bernama Tongkat Jengkal Dewa, tetapi tidak ada seorang pun yang berani mendekati atau menyentuhnya. Pusaka itu dibiarkan tergeletak begitu saja.
“Siapa kalian sebenarnya?” tanya Emping Panaswati yang kini sudah berdampingan dengan Ki Ageng Kunda Poyo.
“Kami adalah para permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil, Nek,” jawab Tirana dengan santun. “Bolehkan aku mengetahui dengan siapa kami berhadapan?”
“Aku adalah Emping Panaswati, nenek buyut dari pewaris sah pusaka itu!” jawab Emping Panaswati agak ngegas.
“Kami hanya ditugaskan oleh Prabu Dira untuk mengendalikan kekacauan yang diciptakan oleh orang-orang Kerajaan Siluman. Bolehkan kami tahu siapa pewaris pusaka itu? Kenapa membiarkan ini terjadi?” tanya Tirana.
“Pewaris pusaka itu adalah murid Ki Ageng Kunsa Pari. Kami tadi malam bertemu dengannya, tapi saat itu kami belum tahu bahwa pusaka yang diincar oleh para pendekar ini adalah Tongkat Jengkal Dewa. Jika dia tahu, seharusnya dia datang ke sini,” jawab Ki Ageng Kunda Poyo.
“Apa?!”
Bukan hanya kedua orang tua itu yang menjerit kaget, tetapi sebagian pendekar juga jadi terkejut. Meski sebagian besar tidak mengenal siapa itu Joko Tenang, tetapi mereka terkejut karena semua orang cantik itu adalah istri dari satu orang.
“Tapi Kakang Prabu ada di Jurang Lolongan bersama Permaisuri Guru,” kata Permaisuri Kerling Sukma kepada Tirana.
“Lebih baik kalian pertahankan gua ini, biarkan kami berdua pergi ke Jurang Lolongan untuk memberi tahu Joko agar datang ke mari,” kata Ki Ageng Kunda Poyo.
“Terima kasih atas bantuan Tetua berdua,” ucap Tirana sambil menghormat kepada keduanya.
“Hihihi!” tawa Sandaria sambil berjalan mendekati Tirana. Lalu katanya, “Tadi aku mencium bau tubuh dua orang musuh. Satu Mahapati Abang Garang dan satu lagi adalah musuh yang aku temui tadi malam. Tapi sepertinya satu orang itu sudah pergi.”
“Jika sudah pergi tidak mengapa, Sayang,” kata Tirana kepada Sandaria.
“Apakah kau murid Serigala Perak, Nak?” tanya Emping Panaswati.
“Aku cucunya, Nek,” jawab Sandaria sambil tersenyum cantik menggemaskan.
__ADS_1
“Pantas. Mungkin aku dan nenekmu akan bertemu di Jurang Lolongan,” kata Emping Panaswati.
“Kami percayakan pusaka itu kepada kalian. Kami undur diri!” ucap Ki Ageng Kunda Poyo.
“Baik, Tetua,” ucap Tirana.
Ki Ageng Kunda Poyo dan Emping Panaswati lalu berbalik dan melangkah pergi.
“Pulanglah kalian semua! Pusaka itu dalam penjagaan kami!” seru Kerling Sukma kepada khalayak ramai yang masih berkumpul di jalanan menuju gua.
“Tidak! Kami masih tetap akan berusaha mendapatkan pusaka itu!” teriak seorang lelaki yang adalah Kudapaksa.
“Benar! Siapa pun berhak mencoba menaklukkan pusaka itu!” teriak pendekar lain.
“Ada musuh yang datang!” kata Sandaria memperingatkan.
Set set set…!
Tiba-tiba dari kejauhan muncul titik-titik hitam melesat di udara yang mengarah ke mulut gua. Saat mendekat, barulah jelas bahwa titik-titik itu adalah belasan bola-bola kecil berwarna hitam.
Bless bless bless…!
Bola-bola sebesar bola mata itu tidak menargetkan orang, tetapi jatuh di berbagai tempat kosong di mulut gua. Mereka berledakan mengeluarkan asap putih pekat yang langsung menyelimuti udara daerah itu.
Wuss!
Permaisuri Yuo Kai segera mengerahkan ilmu Selimut Angin-nya, membuat asap putih tebal itu segera buyar.
Bless bless bless…!
Namun, pada saat asap putih buyar, tahu-tahu sudah berlesatan sejumlah bola-bola ke dalam gua dan berledakan di sana.
Asap putih pekat langsung menyelimuti ruang gua tempat Sri Rahayu berada.
Wuss!
Sri Rahayu segera membuyarkan asap putih yang tidak beracun itu dengan embusan angin tenaga dalamnya. Namun, ketika asap itu menipis oleh angin dari Sri Rahayu, wanita berkulit racun itu dikejutkan oleh kemunculan seseorang yang tiba-tiba.
“Senang bertemu denganmu, Kak!” sapa orang yang tahu-tahu sudah berdiri tidak jauh dari posisi Sri Rahayu. Wanita berpakaian ungu itu tidak lain adalah Putri Aninda Serunai, adik tiri Sri Rahayu.
Terkejutlah Sri Rahayu dan para permaisuri lain yang segera menyadari kehadiran orang lain di dalam gua.
__ADS_1
Para permaisuri yang ada di luar dan mulut gua, kompak berkelebat masuk. Mereka melihat sosok gadis cantik jelita berbibir merah. Para permaisuri dibuat terkejut dan agak tegang, karena Putri Aninda Serunai telah menggenggam Tongkat Jengkal Dewa.
“Hihihi! Ini hari yang sangat tidak terduga. Aku bertemu dengan kakakku yang sudah menjadi istri musuh. Dan juga bertemu dengan para madunya!” kata Putri Aninda Serunai yang didahului dengan tawanya. (RH)