
*Pendekar Raja Kawin (Perjaka)*
Sebuah kereta kuda mewah berhenti di depan rumah makan terbesar di Jayangga, ibu kota Kerajaan Balilitan. Selain mewah, kereta kuda itu terbilang unik karena ia memiliki empat roda kayu. Bilik keretanya pun lebih panjang dari bilik kereta standar. Jika kereta kuda biasa diibaratkan sedan, makan kereta kuda warnah hijau gelap ini diibaratkan mobil jenis limosin.
Sejak memasuki gerbang Ibu Kota, kereta kuda mewah itu sudah menjadi perhatian warga, bahkan para prajurit yang berpatroli enggan untuk melakukan pemeriksaan. Para prajurit takut jika pemilik kereta kuda itu adalah pejabat tinggi negara.
Namun nyatanya, kereta kuda itu tidak menuju Istana, tetapi justru berhenti di depan rumah makan.
Pemilik rumah makan, para pelayan dan semua pengunjung mengalihkan perhatiannya kepada kedatangan kereta kuda tersebut. Mereka sangat ingin tahu, siapa dan seperti apa orang yang menaiki kereta kuda itu.
Pintu bilik kereta akhirnya terbuka. Sais kereta buru-buru pergi memasang sebuah kotak kayu yang berfungsi sebagai tangga.
Orang pertama yang turun adalah seorang wanita cantik lagi muda, berpakaian merah. Model pakaiannya layaknya seorang bangsawan. Orang kedua yang turun juga wanita cantik lagi muda, berpakaian warna hijau. Menyusul keluar empat wanita lainnya yang juga cantik-cantik di atas standar. Mereka mengenakan warna pakaian berbeda, yaitu putih, kuning, biru, dan ungu.
Setelah turun, keenam wanita itu tidak langsung pergi, tetapi berdiri bersifat menunggu.
Ternyata, masih ada satu orang lagi yang keluar dari dalam bilik kereta, yaitu seorang lelaki berpakaian warna hitam bagus. Lelaki berkumis tebal berusia empat puluh tahunan itu memiliki postur tubuh yang gagah. Kepalanya mengenakan blangkon warna hitam pula. Lelaki gagah yang melambangkan kemakmuran itu turun dengan senyum manis yang mengembang. Bahkan ketika turun, satu tangannya dipegangi oleh seorang wanitanya. Ia bernama Senggara Bolo, berjuluk Pendekar Raja Kawin.
Keenam wanita itu adalah istri-istri Senggara Bolo.
Sambil merangkul belakang pinggang dua istrinya di kanan-kiri, Senggara Bolo melangkah bersama menuju pintu masuk rumah makan. Terlihat mereka penuh senyum, seolah semua kebahagiaan di dunia hanya milik mereka bertujuh.
Kedatangan mereka tidak disambut oleh para pelayan, tetapi disambut langsung oleh pemilik rumah makan.
“Selamat datang! Selamat datang, Gusti!” ucap pemilik rumah makan penuh keramahan dan senyum. Namanya Ki Liwung.
“Hahaha! Pokoknya, sajikan saja yang terlezat, jika bisa, semua menu sajikan! Hahaha!” kata Senggara Bolo sambil tertawa tanpa beban utang sedikit pun.
“Baik! Hahaha!” jawab Ki Liwung begitu gembira. Ia pun segera berbalik memanggil pelayannya, “Buluk! Cepat tata meja untuk tujuh orang dan lap dulu sampai bersih!”
“Baik, Ki!” sahut pelayan yang dipanggil Buluk, padahal nama lahirnya Jalu Guraba.
Pelayan itu lalu bergegas men-setting dua meja dirapatkan jadi satu sehingga lebih panjang. Tidak lupa dilap sebersih mungkin tanpa deterjen.
“Silakan, Gusti!” ucap Ki Liwung lagi.
__ADS_1
“Oh ya, Ki. Mereka semua yang makan pada waktu yang bersamaan denganku, aku yang bayar. Katakan, dibayar oleh Pendekar Raja Kawin. Hahaha!” kata Senggara Bolo.
“Hah!” kejut Ki Liwung. Lalu katanya dengan senang hati, “Oh, baik baik baik, Gusti!”
Maka, pergilah Senggara Bolo bersama keenam istrinya ke meja khusus yang telah dipersiapkan. Para pelayan pun memberikan pelayanan yang istimewa. Serba cepat, serba lengkap, dan serba assiaaap.
“Kepada para pengunjung yang aku hormati!” seru Ki Liwung kepada para pelanggannya yang saat itu sedang makan minum di rumah makannya.
Para pengunjung pun mengalihkan perhatiannya kepada Ki Liwung.
“Kalian yang saat ini makan dan minum di sini, semuanya dibayarkan oleh Pendekar Raja Kawin!” seru Ki Liwung lagi.
“Waaah!” sorang para pengunjung gembira.
Brak!
Di saat para pengunjung rumah makan itu gembira, tiba-tiba ada seorang pengunjung yang menggebrak meja, sampai-sampai hidangannya yang sudah mau ludes, terlompat dan mendarat kembali dalam kondisi berserakan.
“Siapa itu Pendekar Raja Kawin?!” teriak lelaki penggebrak meja marah. Ia bangkit berdiri.
Gebrakan dan teriakannya jelas membuat Pendekar Raja Kawin dan keenam istrinya agak terkejut, lalu alihkan perhatian kepada lelaki yang masih muda tersebut.
Saat itu ia sedang makan bersama rekannya yang juga seorang anak pejabat. Namanya, Bara Makaya. Ia mengenakan pakaian warna merah dan berbekal keris pada belakang pinggangnya.
Agung Jarak lalu berjalan pergi mendatangi meja tempat Senggara Bolo berada. Bara Makaya segera mengikuti rekannya.
“Hei, Pendekar Raja Kawin!” panggil Agung Jarak kasar.
Senggara Bolo hanya tersenyum tipis melihat arogansi yang ditunjukkan oleh Agung Jarak.
“Apa maksudmu kau membayar apa yang aku makan? Kau pikir orang yang makan di sini miskin semua, hah?!” bentak Agung Jarak lagi.
“Hahaha!” tawa pelan Senggara Bolo. Lalu tanyanya, “Jadi kau tersinggung dan merasa dinilai miskin?”
“Betul! Aku tersinggung! Apalagi kau siapa, hah? Kau bukan bangsawan di ibu kota ini!” kata Agung Jarak masih ngegas seperti knalpot motor racing.
__ADS_1
“Janila, urus anak pongah itu!” perintah Senggara Bolo kepada salah seorang istrinya.
“Baik, Kakang,” ucap istri berbaju warna putih. Ia bernama Janila.
Janila lalu bangkit berdiri. Dengan wajah dingin, ia berdiri menghadap kepada Agung Jarak dan Bara Makaya.
“Jika kau tidak terima dibayarkan makan dan minummu, kau tinggal menolak, tidak perlu berlaku seperti jagoan!” ujar Janila. Ia lalu memutar pergelangan tangan kanan dan kemudian menghentakkan jari-jarinya seperti mengusir cecak.
Buk!
Tiba-tiba satu kekuatan tidak tampak menghantam perut Agung Jarak. Pemuda itu langsung terpental keras sampai ke dekat pintu masuk rumah makan.
Pemilik rumah makan dan para pengunjung lainnya terkejut, sebab mereka mengenal siapa adanya Agung Jarak. Mereka meyakini bahwa pertengkaran itu akan berbuntut panjang dan besar.
Bara Makaya segera berlari mendapati temannya di pintu dan membantunya untuk berdiri.
“Lepaskan aku! Akan aku beri pelajaran perempuan setan itu!” teriak Agung Jarak murka sambil berontak melepaskan dirinya dari pegangan sahabatnya.
“Agung, jangan memperburuk masalah!” kata Bara Makaya berusaha menahan.
“Aaah!” teriak Agung Jarak sambil menepis tangan Bara Makaya. Ia lalu berjalan cepat sambil mencabut pedangnya.
Melihat si pemuda datang dengan senjata terhunus. Janila lalu maju tiga langkah ke depan menyongsong kedatangan Agung Jarak. Pengunjung yang berada dekat dengan mereka, cepat bangkit dan berlari menjauh, kemudian mereka menonton.
Set! Bak babak!
“Hukh!”
Agung Jarak langsung menebaskan pedangnya. Namun, dengan mudahnya Janila mengelak dan mendaratkan satu pukulan ke dada Agung Jarak. Lalu disusul dua pukulan cepat, sampai-sampai pedang di tangan Agung Jarak terlepas.
Buk! Brak!
Satu tendangan pamungkas ditusukkan ke perut Agung Jarak. Pemuda itu jatuh terjengkang menghancurkan meja kayu rumah makan. Setelahnya, Agung Jarak sudah tidak bisa bangun, selain meringkuk mengerang dan memegangi perutnya. Seluruh isi perutnya serasa hancur ***** akibat tendangan Janila.
“Ada apa ini?” tanya seseorang dari ambang pintu rumah makan.
__ADS_1
Orang itu adalah seorang pemuda tampan, gagah, dan berpakaian bagus warna putih. Tubuhnya dari bawah hingga kepala memiliki hiasan emas dan perak. Di belakangnya mengawal empar orang prajurit berpedang, tapi tidak bertameng.
“Gusti Pangeran Tajilingga!” sebut para pengunjung rumah makan itu. (RH)