8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Rajungan 7: Apa Kabar Ginari?


__ADS_3

*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*


 


Usai pergi menemui Ratu Puspa yang sedang gandrung memancing ikan, Joko Tenang bersama Permaisuri Tirana pergi menemui Ginari di kamarnya.


Sepeninggal Tirana dan Kerling Sukma beberapa hari, Ginari dimomong oleh dayang. Sekarang ada empat dayang yang khusus untuk mengurus wanita secantik bidadari tanpa ingatan itu.


Ketika dikunjungi oleh Joko Tenang dan Tirana, Ginari sedang disuapi makan bubur nasi campur sop oleh seorang dayang.


Melihat kedatangan kedua junjungannya, pelayan itu berbisik kepada Ginari.


Ginari kemudian menengok dengan gerakan yang pelan. Saat melihat Tirana, Ginari tersenyum manis. Ia sudah begitu mengenali Tirana. Namun, Ginari yang bermata indah itu hanya melihat keberadaan Tirana seorang.


Joko Tenang yang bersembunyi di balik punggung Tirana, lalu melongokkan kepala dan wajahnya dari balik punggung istrinya. Melihat kemunculan wajah tampan berbibir merah milik Joko Tenang, membuat Ginari tersenyum bahagia. Deretan gigi putihnya yang rapi sampai terlihat banyak ketika melihat wajah Joko Tenang.


Ginari yang dalam posisi duduk, buru-buru bangun berdiri dan berjalan cepat menyongsong tubuh Joko yang ada di belakang Tirana. Ia melewati Tirana dan memeluk tubuh Joko Tenang.


Melihat perkembangan pada diri Ginari, Joko Tenang terkejut bahagia. Ia tidak menyangka bahwa perkembangan bagusnya demikian pesat. Joko Tenang menyambut pelukan Ginari dengan membelai lembut rambut panjangnya yang hitam dan lebat.


“Apa kabarmu, Ginari sayangku?” tanya Joko Tenang lembut.


“Joko suamiku,” ucap Ginari tanpa menjawab pertanyaan sang prabu.


“Kau sudah bisa bicara?” tanya Joko Tenang sambil menarik kepalanya dan memandang girang kepada wajah jelita nan polos itu.


“Hihihi!” tawa Ginari terdengar lucu, karena seperti tawa yang dipaksakan, meski itu tidak dipaksakan. Lebih kepada keterbatasan ekspresi.


“Ayo kita makan, aku suapi,” kata Joko sambil membimbing Ginari kepada tempat duduknya. Ia mengulurkan tangannya meminta makanan Ginari kepada dayang.


Dayang itu dengan sikap hormat menyerahkan mangkuk yang berisi bubur nasi. Sementar sopnya ada di mangkuk lain di meja.


“Iya makan,” ucap Ginari.


Tirana hanya tersenyum tanpa henti melihat tingkah Ginari yang sudah mulai lucu dan menggemaskan, bahkan bisa menjadi saingan Sandaria dalam hal menggemaskan, meski tidak bisa seimut Permaisuri Serigala.


“Perkembangan Ginari sangat bagus, Tirana,” kata Joko kepada Tirana. “Bahkan bisa menyebutku sebagai suaminya.”


“Ada bantuan dari Tabib Rakitanjamu lewat sop, yang bermanfaat untuk menyegarkan ingatannya. Ginari memang sangat sedikit mengingat kenangannya pada masa lalu, tetapi dengan semakin segarnya ingatannya, Ginari akan lebih muda mengingat hal baru yang diberikan kepada ingatannya. Karenanya aku mencoba dengan mengulang-ulang kata ‘Joko suamiku’ kepada Ginari. Ternyata dia menyukainya, Kakang Prabu. Padahal kata-kata itu baru kemarin aku tanamkan ke dalam pikirannya,” kata Tirana yang bertanggung jawab atas perkembangan kesehatan Ginari.


“Berarti di ingatannya aku begitu ia kenal,” kata Joko menyimpulkan sambil dengan lembut menyuapi Ginari dengan sendok kayu.


“Benar, Kakang Prabu. Jadi tidak ada lelaki lain yang ada di dalam ingatannya, kecuali Kakang prabu,” kata Tirana.


“Berarti Ginari wajib aku nikahi,” kata Joko Tenang.


“Ginari wajib Kakang Prabu nikahi, dengan cinta dan kehangatan, aku rasa akan lebih cepat menyembuhkannya,” kata Tirana.


“Tidak, Tirana. Aku tidak akan melakukannya sebelum kondisinya normal. Aku tidak mau seperti lelaki yang memanfaatkan keluguan seorang wanita,” kata Joko Tenang.


Joko Tenang benar-benar melayani menyuapkan Ginari hingga makanannya habis. Senyum-senyum kecil yang ditunjukkan oleh Ginari memperlihatkan bahwa ia bahagia. Sesekali dia menyebut ‘Joko suamiku’.


Ketika Tirana mengambil alih untuk mengurus diri Ginari, sementara Joko Tenang hendak pergi, Ginari seolah tidak mau melepas Joko Tenang. Ginari terus memeluk lengan kanan Joko, seolah tidak mau ditinggalkan oleh Joko.


“Ginari sayang, Kakang Joko mau pergi untuk datang lagi kepadamu, Sayang. Tunggu Kakang, ya,” ucap Joko membujuk.


Ternyata bujukan Joko ampuh, Ginari mau melepaskan tangan Joko seraya tersenyum dan mengangguk.


Dengan senyuman manis yang menawan, Joko Tenang berjalan mundur meninggalkan Ginari yang bersama Tirana.

__ADS_1


Dari kamar Ginari, Joko Tenang pergi ke kamar tamu tempat Ratu Lembayung Mekar menginap.


“Yang Mulia Gusti Prabu Dira tibaaa!” teriak prajurit penjaga depan pintu kamar.


“Hah!” kejut Ratu Lembayung Mekar di dalam kamar. Lalu perintahnya kepada pengawal perempuan pribadinya, “Janila, cepat kau ke depan. Katakan kepada Prabu Dira, aku sedang berpakaian, harap tunggu sebentar!”


“Baik, Gusti Ratu,” ucap wanita muda yang bernama Janila. Dia yang biasa membawakan panah perang sang ratu.


Ratu Lembayung Mekar sebenarnya panik hanya karena riasan wajahnya kurang sempurna, bukan karena urusan pakaian. Buru-buru ia mematut diri di depan cermin yang kala itu masih jenis buram.


“Hormat hamba, Gusti Prabu,” ucap Janila seraya menjura hormat kepada Joko.


“Bangunlah!” perintah Joko.


“Maafkan, Gusti Prabu, Gusti Ratu sedang berpakaian, jadi harap menunggu sejenak,” kata Janila.


“Baiklah,” ucap Joko seraya tersenyum manis kepada Janila, membuat prajurit wanita Balilitan itu tersenyum malu dengan hati berdaun-daun.


Di dalam sana, Ratu Lembayung Mekar benar-benar berusaha menenangkan dirinya agar bisa terkontrol. Ia tidak mau gegara krasak-krusuk lalu terjadi kesalahan fatal dalam riasannya, yang justru akan membuatnya malu. Terlebih ia wajib bertemu dengan Joko.


Aura pesona Joko yang dikelilingi para permaisuri yang cantik-cantik dan sakti-sakti, ketampanan Joko yang halus dan belum ada duanya karena bibir merahnya, keramahan dan kemesraan Joko Tenang kepada tamu, membuat Ratu Lembayung Mekar selalu rindu ingin bertemu Joko. Ia menanti-nantikan pertemuan ketiganya dengan Prabu Dira.


Dua pertemuan sebelumnya dengan Joko, sang ratu nilai kurang berkesan. Pertemuan pertama meski membuat Ratu Lembayung Mekar terpukau dan berharap, tetapi masih tahap perkenalan dan tawar-menawar antara musuh atau calon istri. Pertemuan kedua, Joko bahkan tidak menyapanya pada acara pernikahan dengan Permaisuri Sri Rahayu.


“Siapa namamu?” tanya Joko kepada Janila.


Gadis itu semakin berdaun bunga perasaannya ditanya namanya.


“Janila, Gusti Prabu,” jawab Janila.


“Apakah kau senang berada di Sanggana Kecil?” tanya Joko.


“Tentunya kau tidak sekedar menyenangkanku. Apa alasan yang membuatmu senang, Janila?” tanya Joko lagi.


“Di sini banyak kejadian luar biasa yang menarik, meski terkadang sifatnya berbahaya,” jawab Janila.


“Hahaha….!” Tawa Joko Tenang agak panjang. “Berarti jika Sanggana Kecil dalam keadaan damai tanpa pertarungan, tentunya akan menjenuhkan ya.”


Janila hanya tersenyum lebar tanpa berkomentar. Sebab, Ratu Lembayung Mekar telah melangkah ke luar dengan penampilan yang cantik, anggun dan harum.


“Hormatku, Gusti Prabu Dira,” ucap Ratu Lembayung Mekar seraya menghormat.


Joko Tenang tersenyum melihat kecantikan dan keanggunan sang ratu. Ia lalu maju melangkah dan meraih tangan sang ratu yang masih dalam posisi menghormat.


Setuhan itu membuat Ratu Lembayung Mekar terkejut dan mendelik bahagia, tapi tidak mendesah.


“Bangkitlah!” ucap Joko dengan tetap memegang kedua tangan sang ratu.


Sikap Joko Tenang yang begitu mesra membuat Ratu Lembayung serasa melayang ke atas pohon randu.


“Hingga sejauh ini, apakah Ratu masih ingin menjadi permaisuriku?” tanya Joko sambil menatap tanpa berkedip sepasang mata sang ratu.


Tatapan itu benar-benar membuat Ratu Lembayung Mekar tersenyum malu dengan wajah putih yang bersemu merah, ia puber kedua.


“Iya, sangat mau,” jawab Ratu Lembayung Mekar seraya menunduk hendak menyembunyikan senyum malu-malunya, tetapi tetap saja tidak bisa bersembunyi dari tatapan Joko yang tertawa rendah melihat sikap sang ratu.


Perasaan Ratu Lembayung Mekar saat itu meledak-ledak seperti kembang api Golden Buzzer. Jika seandainya tidak tahu malu, mungkin ia akan meloncat-loncat kegirangan.


“Hahaha! Mari, aku hanya ingin berdua denganmu sebelum aku dan para permaisuri berangkat ke Jurang Lolongan!” ajak Joko sambil berjalan tanpa mau melepas tangan halus sang ratu, seolah tangan itu menempel menggunakan lem jerat tikus.

__ADS_1


Ratu Lembayung Mekar pun berjalan beriringan dengan Joko Tenang. Ia membiarkan tangannya tetap dipegang oleh calon suaminya. Karena Joko memegang dua tangan sang ratu, membuat janda kembang itu berjalan begitu rapat dengan tubuh Joko, sehingga kemesraan itu begitu terang benderang.


Terlebih ketika Joko menepuk-nepuk lembut pungung tangan Ratu Lembayung Mekar. Hal itu memancing gairah kewanitaan sang ratu sebagai petarung ranjang yang berpengalaman. Desir-desir semilir di dalam aliran darah dan denyut-denyut manja di pusat nafsu birahi mendadak muncul, yang membuat sang ratu menggigit bibir bawahnya pada satu ketika. Namun, reaksi itu cepat ia sembunyikan. Akan malu dirinya jika sampai Joko melihatnya seperti itu.


Entah mimpi apa Ratu Lembayung Mekar semalam. Kebahagiaannya yang sedang menuju puncak tiba-tiba rusak dan buyar.


“Eh! Kenapa Kakang Prabu pegang-pegang semesra ini?” tanya Sandaria yang tiba-tiba muncul di antara tubuh pasangan itu. Ia bahkan melepas pegangan tangan Joko dan sang ratu.


Keduanya hanya bisa terkejut dan mengelus dada oleh gangguan permaisuri mungil itu.


“Hihihi…!” Tertawa nyaringlah Sandaria. Lalu katanya cepat untuk membela diri sebelum suaminya marah, “Aku hanya ingin berkenalan dengan calon istri Kakang Prabu!”


Joko Tenang memang mendelik kepadanya. Namun, merengutnya wajah mungil jelita Sandaria membuatnya luluh, terlebih jika melihat ujung lidahnya yang muncul sedikit di sudut bibir. Itu membuat Joko Tenang terpancing gairah. Namun, ia harus menjadi lelaki dan raja yang mengedepankan profesionalisme.


“Aku mohon maaf, Kakang Prabu. Aku pamit pergi jika ternyata aku mengganggu. Hihihi!” ucap Sandaria lalu menghilang begitu saja.


Ratu Lembayung Mekar tidak bisa berkomentar apa-apa mengenai ulah Sandaria itu, ulah yang menghancurkan kebahagiannya dan mengusir keindahan gairahnya.


“Seperti itulah Permaisuri Sandaria, sifatnya jahil,” kata Joko Tenang seraya tersenyum kepada sang ratu. “Kita lanjutkan kemesraan kita.”


Joko Tenang dan Ratu Lembayung Mekar melanjutkan berjalan menuju taman. Hanya mereka berdua tanpa pengawalan prajurit ataupun dayang. (RH)


*****************************


Kisah Covid-19 Author (Bag.4)


 


Saya itu punya tabiat buruk, yaitu tidak mau berobat, apa lagi kalau berobat ke klinik. Walau ekonomi saya tergolong miskin, saya bisa terbilang orang yang sibuk. Saya paling tidak suka dengan yang namanya masa menunggu, karena saya menganggap waktu akan terbuang. Jika ke klinik, pasti ada masa tunggu. Apalagi kalau ke rumah sakit, masa tunggu dan prosedurnya tidak cukup satu jam. Sampai-sampai hingga usia tua seperti ini, saya baru sekali urusan dengan rumah sakit.


Ketika saya sakit dan belum mengklaim bahwa saya terkena Covid-19, saya kira hanya masuk angin biasa yang membuat kepala pusingnya berat. Biasanya saya hanya makan obat warung untuk sakit kepala. Biasanya cocok. Hasilnya, pusing hilang sejenak, tapi muncul lagi seiring panas tubuh yang juga naik.


Ketika sadar sakit Covid-19, barulah saya perhatian dengan obat. Obat atau tips yang saya pakai tentunya yang mudah didapat, seperti jemuran di atas jam 8 pagi selama 15-20 menit. Untuk mendapat sinar matahari pagi maksimal, saya harus turun dari rumah ke tanah. Jalan pelan, harus pegangan agar tidak jatuh, karena fisik saya benar-benar lemah.


Saya juga terapi minyak kayu putih, karena muda dibeli di warung. Minyak kayu putih diteteskan dalam air panas di mangkuk lalu uapnya dihirup. Termasuk tisu yang diberi minyak kayu putih lalu disumpalkan ke lubang hidung. Rajin minum air hangat dan meminum Panadol merah untuk panas dan sakit kepalanya.


Jadi mohon maaf, banyak tips dari rekan dan Readers yang tidak saya ambil karena keterbatasan. Saya tidak bisa ke mana-mana cari obat, hanya bisa disuplai atau dibawakan.


Ketika MER-C mengirimkan obat gratis, saya konsumsi rutin obat tesebut. Di antaranya, obat untuk batuk, sakit kepala, vitamin C 2X sehari, zinc, dan cairan untuk disemprotkan di hidung plus suntikannya guna mengembalikan indera penciuman. Namun, buat cairannya saya tidak pakai karena saya merasa tidak begitu terganggu kehilangan penciuman, justru beruntung ketika harus mencium bau yang tidak sedap. Indera penciuman kembali dengan sendiri setelah beberapa hari hilang.


Saya juga mengkonsumsi madu dan habbatussauda yang dikirim oleh kantor. Plus racikan Bejo, madu dan jeruk nipis.


Banyaknya saran agar jangan panik, dibawa enjoy saja, dibawa gembira, membuat saya sempatkan waktu nonton komedi di YouTube sampai tertawa-tawa sendiri, baca Al-Quran, dan memaksakan menulis. Meski ketika saya paksa up novel, sejumlah Readers yang begitu perhatian mengkritik dan menyuruh istirahat dulu. Terima kasih untuk itu semua. Dengan saya up, saya ada interaksi dengan pembaca. Itu adalah salah satu kegembiraan saya bersama para Readers.


Ada sahabat yang telepon berbagi pengalaman ketika dia terpapar Covid-19. Untuk membuat dirinya gembira, sampai-sampai dia menyuruh saya bersetubuh dengan istri. Bagi saya masuk akal jika suami istri sama-sama kena Covid, dan tingkat keparahan sakitnya biasa saja. Tapi kalau separah saya, bisa-bisa saya innalillahi kehabisan tenaga dan napas.


Teman dan bos juga merekomendasikan terapi prone position, posisi besujud lalu batuk untuk mengeluarkan dahak, yang viral dipraktikkan oleh dokter Muslim di Amerika (jika tidak salah). Karena teman saya berhasil mengeluarkan dahak besarnya yang dianggap biang Covid-nya.


Tiga hari saya praktikkan. Hari pertama, batuk yang selama ini kering, jadi keluar dahak. Hari kedua saya lakukan, hasilnya saya muntah full air, dua kali. Ini muntah paling keren dan yang pertama saya alami. Dalam posisi berdiri saya muntah seperti air terjun, murni semua air bersih. Mungkin karena seharian saya hanya minum tanpa makan.


Hari ketiga saya peraktikan, muntah lagi dua kali. Kali ini racikan air dan makanan. Semua keluar sampai perut dan ulu hati saya sakit. Saya memilih berhenti. Saya tidak menyalahkan terapinya, mungkin cara saya yang salah. Jika tiap hari semua isi perut harus dimuntahkan, saya merasa itu bukan hal bagus.


Kemudian cara saya melawan kondisi tidak bisa tidur lima malam berturut-turut. Karena mencoba tidur itu menjadi siksaan bagi pikiran dan psikis, saya memutuskan untuk menyetel mendengarkan murotal Al-Quran dari waktu saya mengantuk hingga subuh.


Orang Islam meyakini bahwa mendengar bacaan Al-Quran bisa menjadi obat dan meningkatkan imun. Saya rasakan itu sangat membantu. Selain mendengar Al-Quran baik dalam posisi melek atau tidur, saya juga paksakan menulis agar tidak tidur.


Yang terakhir, ketika saya sudah sehat. Tinggallah batuk yang tersisa. Kata ahli medis, adanya batuk itu membuktikan bahwa masih ada bangkai-bangkai virus di dalam tubuh. Saya sempat lalai selama satu dua minggu tidak minum obat batuk, sehingga batuk saya berkepanjangan meski sudah sehat. Lalu kakak memberi obat batuk yang jenis permen, ternyata itu cepat mengikis batuk. Yang saya makan obat batuk merek Wood. Mungkin merek selain itu bisa juga dicoba. ALHAMDULILLAH SEHAT. (Bersambung)


 

__ADS_1


Mohon maaf jika kepanjangan. Begitulah seorang penulis, mau buat yang singkat, tapi faktanya selalu menulis panjang.


__ADS_2