
*Perang Pendekar Sanggana (Pepes)*
Ketika Gimba terbang rendah, Pangeran Mabuk, Pangeran Lidah Putih, Gadis Cadar Maut, dan Bidadari Wajah Kuning melompat dari ceker Gimba. Keempat orang sakti itu terjun langsung ke tengah-tengah pasukan pimpinan Siluman Merah.
Fruuut!
Saat masih di udara, Linglung Pitura alias Pangeran Mabuk menyemburkan tuak yang sifatnya seperti air raksa. Ketika semburan tuak itu menyiprati beberapa prajurit, mereka langsung menjerit kesakitan, tetapi tidak sampai mati. Barulah ketika mendarat, Pangeran Mabuk mulai menari dengan tinju mabuknya.
Bak bak bak…!
Petra Kelana dengan tenang memanen nyawa para prajurit Kerajaan Siluman. Dengan hanya berbekal dua telapak tangan yang bercahaya putih membara, ia memukuli para prajurit satu per satu. Dada prajurit yang ditapakinya pada berjebolan, seperti setrika panas menjebol sehelai plastik jenis Styrofoam.
Gadis Cadar Maut melesatkan tombak kayunya yang kemudian terbang seperti sapu terbang nenek sihir. Tombak terbang itu menusuk jebol para prajurit satu demi satu, dari perut jebol keluar lewat punggung. Hal itu membuat tombak tersebut berlumuran darah.
Sementara Bidadari Wajah Kuning menari di tengah-tengah pasukan musuh. Ia benar-benar menari layaknya penari panggung. Ia menari indah dengan hentakkan pinggul ke sana dan ke mari seiring gerakan jari jemari yang lentik.
Namun kemudian, satu demi satu prajurit yang berusaha menyerangnya bertumbangan tanpa luka sedikit pun. Sebelum para prajurit itu menyentuh Bidadari Wajah Kuning, mereka dengan sendirinya terserang satu gelombang tenaga halus yang membuat mereka mengejang, lalu tumbang dengan mata melotot merah. Seperti itulah kehebatan ilmu Bidadari Menari, tariannya memberi serangan gaib yang membetot nyawa.
Di sisi utara, ratusan prajurit sudah bergelimpangan dalam kondisi tubuh hancur berantakan. Permaisuri Sandaria dan Serigala Perak sudah berhenti menggunakan ilmu Putaran Dewa Perang. Kini mereka turun langsung melakukan pembunuhan lanjutan. Sementara kesembilan serigala sudah mengamuk menabraki para prajurit yang masih mencoba melawan. Tubuh kesembilan serigala itu diselimuti lapisan sinar biru yang menjadi zirah pelindung. Peran mereka berubah menjadi banteng penyeruduk.
Fot fot fot fot!
Tiba-tiba terdengar suara tiupan terompet tanduk yang bernada aneh.
“Seraaang!”
Adipati Ririn Salawi yang sejak tadi bersembunyi di dalam Hutan Malam Abadi di sisi utara lereng, akhirnya berteriak. Kegatalannya untuk turun ke medan perang akhirnya tergaruki juga.
Ia bersama lima puluh pendekar yang dipimpinnya segera berlari dan berkelebat memasuki peperangan. Mereka memerangi pasukan pimpinan Siluman Merah.
Para pendekar yang merupakan mantan kelompok penyamun jahat itu, bertarung dengan penuh kegarangan, seolah mereka menikmati panen nyawa para prajurit Kerajaan Siluman.
“Pasukan pendekar? Mati aku!” keluh Siluman Merah. Ia berdiri sejenak memperhatikan kondisi pasukannya yang tinggal beberapa ratus lagi. Wajahnya yang memerah seperti udang rebus, mengerenyit sakit hati.
Wuut! Dak!
Tiba-tiba sekelebat sosok berpakaian kuning datang menerjang Siluman Merah. Ia sudah bergerak cepat untuk menghindar. Namun, tetap saja ujung kaki sosok kuning itu menyambar wajah merahnya. Tenaga dalam yang tinggi membuat Siluman Merah terbanting keras ke tanah.
__ADS_1
“Aku menyerah! Aku menyerah!” teriak Siluman Merah dengan terburu-buru sambil bersujud di tanah dan menjatuhkan pedangnya.
Gadis Cadar Maut yang hendak melanjutkan serangannya terhadap panglima pasukan itu, jadi menahan diri.
Tap!
Tombak kayu yang baru saja melakukan safari bunuh, datang sendiri ke dalam genggaman Gadis Cadar Maut. Tombak yang penuh berlumuran darah segar itu, membuat tangan Gadis Cadar Maut belepotan darah.
“Selamatkan nyawa pasukanmu! Perintahkan mereka menyerah!” perintah Gadis Cadar Maut.
“Ba… baik!” ucap Siluman Merah patuh.
Siluman Merah yang belum bertarung dengan mati-matian itu, segera berdiri. Ia pun berteriak dengan sedikit pengerahan tenaga dalam.
“Pasukan Siluman Merah menyerah!” teriak Siluman Merah.
Pasukan pimpinan Siluman Merah yang tinggal empat ratusan orang segera berlutut ramai-ramai dan membuang senjata mereka.
Menyerahnya Siluman Merah dan pasukannya membuat Senopati Siluman Pagar Maut, Panglima Siluman Angin Api, Panglima Siluman Kaki Baja, dan Panglima Siluman Serang Jauh terkejut.
“Jangan bunuh lagi! Mereka sudah menyerah!” teriak Ririn Salawi kepada para pendekarnya yang seolah tidak mau berhenti menyerang.
“Kita baru sebentar berperang!” protes seorang pendekar lelaki kesal.
Kaaak!
Pekik Gimba yang melesat terbang rendah.
Brusss!
Tidak tanggung-tanggung, Gimba terbang sangat rendah menabrak pasukan pimpinan Siluman Kaki Baja yang sedang berlari maju. Siluman Kaki Baja sendiri dan ratusan prajurit pasukannya terlempar jauh, saat ceker dan bentangan sayap Gimba yang panjang menabrak tubuh mereka, seperti barisan pion-pion catur yang dilempar bantal.
Bruaks!
Tidak sampai di situ, Gimba melanjutkan menerabas rombongan tiga ratus pasukan berkuda. Kekuatan kuda-kuda perang itu tidak sanggup menahan gempuran tubuh raksasa Gimba. Puluhan kuda dan para penunggangnya terlempar.
Setelah itu, Gimba melesat terbang naik kembali ke langit. Namun, Hewan Alam Kahyangan itu terbang dan terus pergi, tidak berbalik atau berbelok arah lagi. Gimba telah pergi.
__ADS_1
Kepergian Gimba meninggalkan dua sosok sepasang suami istri, yang melayang turun dari udara ke hadapan pasukan yang dipimpin langsung oleh Senopati Pagar Maut. Joko Tenang dan Kerling Sukma mendarat lembut di hadapan seribu lima ratus pasukan infanteri dan dua ratus pasukan berkuda. Pasukan itu belum diniatkan untuk maju ke medan perang.
Namun, kini pemimpin tertinggi Kerajaan Sanggana Kecil yang justru mendatangi mereka langsung.
Kini Joko Tenang dan Kerling Sukma berhadapan dengan Senopati Siluman Pagar Maut yang duduk di punggung kudanya. Senopati didampingi oleh Panglima Serang Jauh yang juga berkuda.
“Serang pasukan belakaaang!” teriak Ririn Salawi kepada pasukannya sambil menunjuk pasukan pimpinan Panglima Kaki Baja.
“Seraaang!” teriak para pendekar pasukan Hutan Malam Abadi sambil berlari beramai-ramai meninggalkan pasukan yang sudah menyerah. Mereka menuju pasukan lawan berikutnya dan siap memanen nyawa lagi.
Hal itu juga memancing Sandaria, Serigala Perak, dan empat pendekar tamu melesat menyerang ke arah pasukan pimpinan Siluman Kaki Baja.
“Sekali lagi aku sarankan kepadamu, Prajurit!” seru Joko Tenang kepada Senopati Pagar Maut. “Jangan korbankan para prajuritmu ke dalam kebinasaan!”
Siluman Pagar Maut menatap tajam kepada Joko Tenang dan Kerling Sukma yang cantik jelita bermata hijau. Hal itu menunjukkan bahwa pemimpin agresi itu dalam kondisi bimbang.
Menurut analisanya, Pasukan Siluman Tingkat Dua yang berperang paling depan kemungkinan akan kalah, sebab mereka kini kalah jumlah. Pangliman Siluman Merah dan pasukannya sudah menyerah. Kini pasukan Panglima Siluman Kaki Baja siap dibantai lagi oleh para pendekar berkesaktian “gila”.
“Serang dan bunuh dua orang ini!” teriak Senopati Siluman Pagar Maut sambil menunjuk kedua orang di depannya.
“Seraaang!”
Belum lagi ada prajurit yang melaksanakan perintah itu, tiba-tiba mereka mendengar suara teriakan ramai dari arah belakang pasukan Kerajaan Siluman. Suara teriakan itu diiringi dengan suara derap kaki kuda yang banyak.
Senopati Siluman Pagar Maut, Panglima Siluman Serang Jauh dan pasukannya kompak menengok ke arah belakang. Mereka terkejut.
Mereka melihat, ratusan pasukan berkuda berseragam prajurit Kerajaan Sanggana Kecil tiba-tiba muncul dari arah belakang. Belum ada yang tahu, pasukan itu datang lewat mana, sebab tidak ada jalan lain untuk sampai ke belakang selain lereng itu.
“Ciaat!” pekik Joko Tenang tiba-tiba.
Wusss!
Senopati Siluman Pagar Maut dan Siluman Serang Jauh bersama ratusan prajurit di belakangnya, berterbangan seperti daun kering yang dihempas angin kencang. Mereka beterbangan jauh ke belakang.
Joko Tenang telah melepas angin Badai Malam Dari Selatan yang menciptakan segelombang angin badai dahsyat. Maka kacaulah pasukan tersebut. Setelah kesaktiannya yang sempat tersegel kembali aktif, ini pertama kalinya Joko Tenang menggunakan ilmu Badai Malam Dari Selatan lagi.
Setelah Senopati Siluman Pagar Maut diterbangkan, Kerling Sukma melesat cepat memburu tubuh lelaki brewok itu. (RH)
__ADS_1