8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Darah Keras 28: Siasat Melumpuhkan Joko


__ADS_3

*Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)*


 


Joss! Joss! Joss…!


Bluar! Bluar! Bluar…!


Ratu Aninda Serunai melesat ke sana ke mari memburu penghindaran Joko Tenang, sambil membombardir dengan lesatan sinar-sinar biru menyilaukan berulang-ulang.


Kecepatan Joko Tenang membuat Aninda Serunai benar-benar harus bekerja keras untuk mendapatkan nyawa kakaknya itu. Joko Tenang meninggalkan ledakan-ledakan dahsyat yang terjadi di belakangnya.


“Hanya sampai sebatas itu, Aninda? Di mana kehebatan pusaka Tongkat Jengkal Dewa?” seru Joko Tenang sambil berkelebat cepat menjauhi serangan. Ia ingin memancing Aninda agar menggunakan Tongkat Jengkal Dewa untuk menyerangnya.


“Jangan sombong!” teriak Aninda Serunai kesal. Ia tidak menyangka bahwa sebagai ratu ia bisa dibuat main kucing tikus.


Pada satu kesempatan, Joko Tenang justru menantang sinar biru menyilaukan dengan cara melesat bertentangan arah.


Srep! Wess!


Joko Tenang mempersembahkan punggungnya. Hasilnya, sinar biru menyilaukan itu masuk ke dalam Rompi Api Emas yang Joko Tenang pakai. Seiring itu, Joko melemparkan sinar hijau yang melesat melebar dan menangkap tubuh Aninda Serunai. Joko Tenang coba menaklukkan adiknya dengan ilmu Dewi Bunga Lima.


Ratu itu kini dilingkupi oleh kurungan sinar hijau.


Di dalam kurungan sinar hijau, Aninda Serunai merasakan udara yang begitu berat. Meski yang dilihatnya hanya dinding sinar warna hijau, tetapi Aninda Serunai merasakan pikirannya tidak nyaman, seolah dunia di sekitarnya berputar dengan begitu cepat.


Joss! Blarr!


Aninda Serunai mencoba menghancurkan dinding sinar itu dengan ilmu Dua Matahari-nya. Namun, tidak berhasil. Aninda Serunai terkejut.


“Sial! Tidak mungkin aku terkurung selamanya di dalam kurungan sinar hijau ini!” desis Aninda Serunai. “Terpaksa aku harus menggunakan Tongkat Jengkal Dewa.”


Aninda Serunai lalu mendongakkan wajahnya, sehingga lehernya benar-benar lurus dengan lubang mulutnya yang menganga terbuka lebar.


Dari dalam mulut Aninda Serunai yang terbuka lebar, muncul naik ujung Tongkat Jengkal Dewa. Hingga akhirnya, tongkat warna merah itu keluar semua dari dalam tubuh sang ratu.


Aninda Serunai meraihnya dan menggenggamnya erat.


Zerzzz!


Akhirnya, dua aliran listrik berwarna merah melesat menjalari dinding sinar hijau yang membuat perasaan tidak nyaman.

__ADS_1


Blass!


Ternyata kekuatan Tongkat Jengkal Dewa mampu melenyapkan dinding sinar hijau ilmu Dewi Bunga Lima.


“Akhirnya pusaka itu ia keluarkan,” kata Joko Tenang dalam hati. “Ilmu Dewi Bunga Lima hanya berpengaruh kecil.”


Saat ini, fisik Aninda Serunai telah berubah. Ia yang awalnya masih begitu muda, kini semakin dewasa, seperti berusia tiga puluh tahun. Perubahan raga Aninda Serunai terjadi karena pengaruh ilmu Dewi Bunga Lima.


Jika pendekar biasa yang dikurung oleh ilmu Dewi Bunga Lima, mungkin dalam kurungan singkat itu ia akan mati dalam kondisi sudah tinggal tulang belulang, karena waktu di dalam kurungan, berputar terlalu cepat, sehingga bisa membuat raga menua dengan cepat sampai mati sendiri termakan waktu.


Namun, kekebalan membuat Anina Serunai hanya terpengaruh sedikit dari ilmu Dewi Bunga Lima, sehingga raganya hanya menua kurang dari sepuluh tahun. Kondisi itu tidak disadari oleh Aninda Serunai.


Ceklek! Ceklek!


Aninda Serunai menatap tajam kepada Joko Tenang sambil memutar batang Tongkat Jengkal Dewa, membuat tongkat pendek itu memanjang kedua ujungnya menjadi sepanjang satu depa.


“Bersiaplah, kakakku!” teriak Aninda Serunai.


Zerzzz!


Berbeda dari sebelumnya ketika Aninda Serunai melawan kakaknya di Gua Lolongan, kini dari tongkat merah itu melesat sepuluh aliran sinar merah menyerang Joko Tenang.


Dengan keyakinan tinggi, Joko Tenang tidak menghindari serangan sepuluh aliran sinar listrik merah itu. Ia masih yakin bahwa sebagai pewaris sah pusaka itu, ia kebal dari kekuatan Tongkat Jengkal Dewa.


Joss!


Sambil terus mempertahankan aliran sinar merahnya, tangan kiri Aninda Serunai melesatkan bola sinar biru menyilaukan.


Joko Tenang cukup terkejut dengan siasat Aninda Serunai. Masalahnya, meski sengatan sepuluh aliran sinar merah tidak mencelakai, tetapi itu cukup menahan gerakan tubuh Joko Tenang.


Press! Bluarr!


Karena gerakannya tertahan, Joko Tenang cepat mengerahkan ilmu Surya Langit Jagad yang ia lesatkan menghadang sinar biru adiknya. Peraduan dua sinar menyilaukan mata terjadi hebat.


Fakta sebenarnya, ilmu Surya Langit Jagad jauh lebih sakti dari Dua Matahari. Karena Aninda Serunai kebal, maka yang terpental terjengkang hanya Joko Tenang, seiring ia lepas dari jeratan sepuluh garis sinar Tongkat Jengkal Dewa.


“Uhhuk! Uhhuk!” Joko Tenang terbatuk karena dadanya dibuat sesak.


Sementara Aninda Serunai masih berdiri di tempatnya tanpa dirugikan sedikit pun.


Ini pertama kali Joko Tenang terkena serangan.

__ADS_1


Buru-buru Joko Tenang bangkit berdiri. Dilihatnya Aninda Serunai telah melesat maju sambil menghentakkan tangan kanannya yang menggenggam tongkat. Genggamannya pada tongkat, bersinar biru.


Zerzzz!


Berbeda dari sebelumnya, kali ini dari Tongkat Jengkal Dewa melesat sepuluh aliran sinar berwarna biru, bukan merah.


Melihat perubahan itu, Joko Tenang tidak mau coba-coba. Ia cepat melesat mundur sambil menyalakan kedua telapak tangannya dengan sinar hijau menyilaukan.


Kesepuluh aliran sinar listrik biru itu jadi tersedot ke dalam kedua telapak tangan Joko Tenang.


“Apa?” kejut Aninda Serunai menyaksikan kegagalan serangan barunya. “Gagal siasatku!”


Sejenak Aninda Serunai terdiam menatap tajam Joko Tenang. Ia sedang memikirkan bagaimana cara menaklukkan kakaknya itu.


“Kakakku jauh lebih sakti dibandingkan ketika di Gua Lolongan. Bagaimana itu bisa terjadi?” batin Aninda Serunai. “Jika dia menyerap seranganku tadi, berarti itu bisa melukainya….”


Aninda Serunai lalu berkelebat cepat naik ke udara sambil tangan kanannya yang memegang tongkat menghentak. Sepuluh aliran sinar biru kembali melesat menyerang Joko Tenang. Seiring itu, di tangan kiri Aninda Serunai bercokol sinar kuning gelap yang sepertinya akan diagresikan juga.


Zerzzz! Set set set…!


Sepuluh aliran sinar biru kembali melesat dari Tongkat Jengkal Dewa. Joko Tenang pun kembali melakukan hal yang sama, dengan ilmu Dewi Bunga Empat ia menyedot sepuluh aliran sinar biru ke dalam kedua telapak tangannya.


Namun, pada saat itu, Aninda Serunai menghentakkan tangan kirinya. Sederetan sinar kuning gelap yang jumlah lebih dari sepuluh butir melesat pula.


Serangan berbarengan itu membuat Joko Tenang kelabakan, sebab ia tidak bisa menghindar di saat ia sedang menyerap sepuluh aliran sinar biru. Daripada deretan sinar kuning mengenainya, Joko Tenang memilih melepaskan satu tangannya dari aliran sinar biru dan beralih menyedot deretan sinar kuning yang datang.


Zerzz!


“Akkh!” jerit Joko Tenang ketika lima aliran sinar biru yang dilepasnya jadi menjerat dan menyengat tubuhnya.


Joko Tenang memang selamat dari serangan belasan sinar kuning yang masuk ke telapak tangannya, tetapi lima aliran sinar biru yang dilepas jadi menyetrum tubuhnya. Ternyata Joko Tenang tidak kebal dari aliran sinar biru.


Aliran sinar biru merupakan modifikasi ilmu Dua Matahari yang dialirkan ke dalam Tongkat Jengkal Dewa. Jadi sepuluh aliran sinar biru bukanlah kekuatan asli Tongkat Jengkal Dewa, karenanya Joko Tenang tidak kebal terhadapnya.


Joko Tenang berdiri mengejang sambil menahan sengatan lima aliran sinar biru pada tubuhnya.


Setelah belasan sinar kuning gelap habis masuk ke dalam telapak tangannya, Joko Tenang cepat kembali menyedot lima aliran sinar biru, sehingga berhenti menyengat tubuhnya dan terserap masuk ke dalam tangan.


Melihat hal itu, Aninda Serunai yang telah mendarat di atas tumpukan bebatuan, berhenti mengerahkan sepuluh aliran sinar biru.


Kini, kondisi Joko Tenang lumayan buruk. Wajahnya pucat dengan banyak darah kental yang keluar dari celah bibir merahnya akibat sengatan tadi. Kedua kakinya bahkan berdiri dengan gemetar. Tenaganya cukup melemah.

__ADS_1


“Aku tidak bisa merebut tongkat itu jika tanagaku melemah seperti ini. Aku harus memulihkan diri lebih dulu,” batin Joko Tenang. (RH)


__ADS_2