
*Pelabuhan Cinta Ratu (PCR)*
Keesokan harinya, pesta syukuran di adakan di Istana Sanggana Kecil meski tanpa kehadiran dua orang permaisuri dan beberapa pejabat tinggi.
Pesta itu untuk menyambut kedatangan keluarga besar Joko Tenang dan selesainya dendam antara Keluarga Anjas Perjana dengan Ratu Sri Mayang Sih. Pesta itu juga untuk mensyukuri resminya pertunangan Raja Anjas dengan Ratu Sri.
Para pejabat Kerajaan Sanggana Kecil dan para tamu bertempat satu ruangan besar bersama para ratu dan permaisuri.
Sementara kalangan prajurit dan warga disediakan tenda besar dan luas di luar, tidak perlu pakai meja, belum ada agen penyewaan kursi plastik, mereka duduk lesehan se-enjoy mungkin, yang penting hidangan akbarnya menggugah perut dan selera.
Jangan ditanya betapa pontang-pantingnya Gowo Tungga dan Gembulayu bersama tim dapur dan tim konsumsi. Di bawah komando Kepala Dayang Kicau Semilir, sejak kemarin siang mereka bekerja keras menyiapkan segala sesuatunya, demi memuaskan tenggorokan dan perut semua orang besok siang.
Namun, semangat mereka kian meningkat ketika ada kabar gembira dari Prabu Dira melalui pengumuman Kicau Semilir. Para kru belakang ini akan mendapat Bonus Hari Sibuk, masing-masing akan mendapat bonus sebesar setengah upah bulanan.
Hasil kerja keras mereka terlihat memuaskan saat ini, ketika hampir semua orang terlihat gembira ria menghadapi hidangan yang lezat, yang ketika baru melihatnya saja sudah bersendawa lebih dulu.
Benar-benar seperti pesta arisan emak-emak. Para ratu dan permaisuri berkumpul duduk di satu meja. Acara ngobras pun tergelar meriah. Bahkan Adipati Hutan Malam Abadi Ririn Salawi yang berjuluk Penagih Nyawa, turut diundang bergabung dengan para permaisuri.
Tampak yang paling mendominasi obral kata-kata adalah Ratu Lembayung Mekar. Orang yang paling tersudut adalah Ratu Sri Mayang Sih. Ia tersudut karena selalu digoda oleh Ratu Getara Cinta dan Ratu Lembayung Mekar. Usia yang setara membuat mereka tidak sungkan menggoda Ratu Sri Mayang Sih.
Putri Manik Sari yang awalnya menahan-nahan diri karena belum akrab, kecuali dengan Ningsih Dirama dan Tirana, akhirnya pecah juga larut dalam adukan obrasan kaum hawa. Apalagi ketika topiknya menjurus kepada perkara ranjang dan burung, mati kutulah Putri Manik Sari yang buta ranjang dan buta burung.
Permaisuri Nara tidak terlihat di ruang pesta itu, ia lebih memilih bersama Joko Tenang di kamarnya. Ia sangat anti dengan suasana pesta.
Sementara Ningsih Dirama lebih memilih berkumpul bersama kedua orangtuanya, bahkan bersama Surina Asih yang kini tingkahnya seperti anak kecil.
Adapun Raja Anjas, ia memilih bergabung dengan Lima Pangeran yang empat di antaranya masih dalam kondisi perawatan. Mereka juga bersama tamu dari Kerajaan Baturaharja dan Kerajaan Balilitan. Tampak Raja Anjas tampil sebagai sosok yang low profile di tengah-tengah para pejabat, yang jauh lebih rendah derajat sosialnya. Bahkan tim pemeliharaan aset Istana asal Kerajaan Sanggana yang sudah dikenalnya dengan baik, diajaknya bergabung satu forum santapan.
Suara tawa Gurudi sangat khas terdengar di antara mereka. Ia bahkan menjadi bintang komedi yang tidak kehabisan ide untuk melawak.
Bukan hanya di dalam ruangan yang suasananya ramai oleh tawa dan candaan, di luar juga tidak kalah riuhnya.
Ketika kegembiraan mereka terluapkan dan rasa kecewa mereka buang jauh-jauh, tiba-tiba ruangan dalam dibuat berantakan oleh kedatangan seseorang. Tidak tanggung-tanggung, orang itu membuat kacau dan berantakan di meja para ratu dan permaisuri.
Sess!
Tiba-tiba di atas langit-langit, tepatnya di atas meja makan para ratu dan permaisuri, muncul sinar putih berwujud lingkaran, dari lingkaran kecil bergerak membesar lalu hilang. Bukan hanya satu sinar putih, tetapi banyak yang bergerak dari titik menjadi lingkaran besar susul-menyusul.
__ADS_1
Bruakr!
Yang lebih mengejutkan, tiba-tiba dari dalam gelombang lingkaran sinar putih itu muncul sesosok tubuh yang jatuh dari langit-langit ruangan nan tinggi.
Tubuh milik seorang perempuan itu jatuh tepat di atas meja makan besar yang penuh dengan sajian makanan. Tak ayal lagi, kerasnya jatuh tubuh itu membuat meja menjadi retak dan hampir seluruh hidangan terlompat tidak karuan, seolah ingin bertukar posisi di atas meja.
Serentak para ratu dan permaisuri melompat mundur lepas dari kursinya, kecuali Tirana yang tetap bertahan pada kursi.
Kejadian itu juga langsung menghentikan tawa-tawa kaum batangan. Mereka cepat alihkan perhatian kepada meja kaum wanita.
Sosok wanita berpakaian warna-warni itu bergerak bangun. Pakaiannya ramai karena ia memakai beberapa lapis pakaian yang tidak rapi. Rambut panjangnya acak-acakan meski memiliki beberapa perhiasan penata rambut. Wanita itu berwajah cantik dengan hidung mancung tapi mungil, mata bening yang berbinar, dan bibir tipis. Kesepuluh jari tangannya berkuku panjang tebal dan tajam.
“Kutu joget!” maki wanita itu keras. Namun, tiba-tiba gerakannya berhenti ketika tangan kanannya tanpa sengaja menyentuh ayam bakar madu. Ia pun tertawa terkikik, “Hihihik…! Eh banyak lalapan kambing nih!”
Tanpa memperhatingan lingkungan dan suasana sekitarnya, wanita yang terkesan liar itu langsung memakan daging ayam mati itu dengan lahap, disusul suapan timun dengan tangan kiri. Begitu lahap sampai ruang mulutnya sarat oleh muatan. Bibirnya bahkan tidak bisa tertutup rapat.
Melihat tingkah buruk wanita cantik tapi liar itu, sejumlah wanita segera menunjukkan ekspresi marah dan tidak bersahabat.
“Ratu Puspa!” sebut Tirana seraya tersenyum lebar melihat tingkah wanita itu.
Mendengar ada yang memanggil, wanita cantik yang memang tidak lain adalah Puspa adanya, berhenti mengunyah dengan mata melebar terkejut. Ia pun akhirnya celingak-celinguk mencari pemilik suara yang menyebut namanya.
“Hihihi…!” tawa Puspa panjang sambil menunjuk wajah Tirana dengan potongan timun yang sudah terpotong oleh giginya. “Tirana Cantik! Hihihi…!”
Seenaknya Puspa menggetok kepala Tirana pelan dengan timun itu. Hal itu membuat terkejut bagi mereka yang tidak mengerti siapa Puspa adanya. Mereka menilai wanita liar itu bersikap terlalu lancang dan berani.
Puspa lalu berhenti tertawa saat sadar dengan kondisi sekitarnya. Dilihat semua mata tertuju kepadanya.
“Hei! Kenapa kalian memandangi Ratu Puspa cantik seperti itu, hah?! Apakah kalian meminta disentil bibirnya biar jadi buebek?!” bentak Puspa garang. Namun, kemudian ia tertawa sambil menunjuk Ratu Getara Cinta. “Hihihi…! Dasar Getara pembohong! Getara bilang berhenti jadi ratu, tetapi sekarang Getara masih menjadi ratu!”
“Maafkan jika kalian semua terganggu dengan ulah Ratu Puspa, dia adalah Ratu Kerajaan Tabir Angin di Rimba Berbatu!” seru Tirana kepada khalayak ramai.
Terkejutlah sebagian besar dari mereka mendengar status Puspa sebagai Ratu Kerajaan Tabir Angin. Kaum pejabat bahkan tiba-tiba bisik-bisik tetangga, seperti sedang arisan rahasia takut ketahuan kaum emak-emak.
“Gusti Ratu Puspa, mari turun dari atas meja,” ajak Tirana lembut sambil mengulurkankan tangannya kepada Puspa.
“Oh, rupanya Puspa di atas meja. Hihihi! Puspa kira mendarat di atas perahu!” ucap Puspa kocak lalu meyodok masuk buah timun yang masih agak panjang ke dalam mulutnya, membuat timun itu separuh badan masih menjulur di luar mulut. Puspa menyambut tangan Tirana dan bergerak turun dari meja. Wajah Puspa terlihat begitu lucu tapi serius.
“Pelayan! Ganti makanannya dengan yang baru!” teriak Ratu Getara Cinta kepada pelayan secara umum.
__ADS_1
“Baik, Gusti Ratu!” kata Kicau Semilir yang sedang berada di ruangan itu memperhatikan pelayanan kepada para tamu undangan.
“Mana itu Joko Ayam? Sudah jadi ayam apa dia? Hihihi! Pasti jadi ayam yang tiap pagi dan malam kepalanya matuk-matuk cari cacing. Mana? Mana? Hihihi!” kata Puspa sambil tertawa-tawa.
Di saat suasana meja kaum perempuan belum kondusif, tiba-tiba satu kejutan baru muncul dan lebih membuat onar.
Criiing!
Ratu Getara Cinta dan para permaisuri begitu akrab dengan suara gelang lonceng itu. Dugaan mereka langsung terwujud di depan mata.
Lima serigala besar, bersama Permaisuri Yuo Kai dan Permaisuri Sandaria, tiba-tiba muncul begitu saja di tengah-tengah ruangan pesta. Mengejutkan sebagian besar orang. Sebab, yang muncul bukan lima ekor kambing atau kuda, tetap lima ekor serigala yang lebih besar dari kuda.
“Hihihi…!” tawa Sandaria berkepanjangan sambil turun dari punggung Satria, serigala berbulu serba hitam.
Permaisuri Yuo Kai pun turun dari punggung Kemilau.
“Gusti Ratu! Aku sudah membunuh Prabu Menak Ujung! Hihihi!” teriak Sandaria tertawa, sambil berjalan lurus layaknya seorang wanita buta dengan bantuan tongkat biru kecilnya.
Jlegerr!
Putri Manik Sari laksana mendengar suara petir di depan wajahnya. Kata-kata Sandaria begitu jelas di telinganya. Bukan hanya Putri Manik Sari yang terkejut, tetapi juga Senopati Duri Manggala dan ketiga orang Kerajaan Baturaharja lainnya.
Ratu Getara Cinta dan para permaisuri langsung bisa memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Siapa orang yang berani membunuh ayahku?!” teriak Putri Manik Sari tiba-tiba berubah murka dan liar. Wajah putihnya berubah memerah menahan amarah.
Set! Pak! Prak!
Sebuah kendi keramik disambar oleh tendangan Putri Manik Sari, yang kemudian melesat kearah Sandaria yang berjalan di seberang meja. Tanpa menengok, Sandaria menepis kendi itu sehingga melesat menghantam tiang ruangan.
“Matilah kau!” teriak Putri Manik Sari sambil berkelebat cepat kepada Sandaria. Kedua tangannya sudah berbekal sinar hijau redup.
Suasana yang tadi ramai oleh tawa kegembiraan, kini berubah tegang karena pertarungan dahsyat di tengah ruang makan pesta akan tergelar. (RH)
*************************
Para Readers silakan prediksi sendiri hasil pertarungan antara Permaisuri Sandaria dan Putri Manik Sari.
Mulai chapter berikutnya masuk seasson Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan).
__ADS_1