8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Perjaka 21: Dendam Masa Lalu


__ADS_3

*Pendekar Raja Kawin (Perjaka)*


 


Kereta kuda beroda empat itu akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang area pemakaman yang ada di pinggiran Ibu Kota. Area depan pemakaman dipagari dengan pagar bilah-bilah bambu yang memanjang. Sementara tiang-tiang pagar yang setinggi pinggang dibuat dari kayu gelondongan ukuran setebal batang tangan.


Yang namanya pemakaman, jelas banyak kuburan. Tanah kuburan itu luas. Sisi belakangnya menyatu dengan pinggiran hutan, yang memberi kesan angker. Di salah satu sisinya adalah daerah rawa. Area pemakaman juga terletak di bawah pepohonan besar dengan tanah yang keras.


Untuk membuat makam baru, tidak akan sulit, sebab masih luas daerah tanah yang belum terisi.


Senggara Bolo turun dari kereta kudanya dengan mengangkat tubuh Manar, istrinya yang telah tewas. Ia berjalan memasuki area pemakaman. Di belakang mengikuti lima istrinya.


Namun, belum jauh mereka masuk, tiba-tiba dari arah samping berkelebat sosok wanita berpakaian putih dan bercadar putih. Wanita berpedang itu berkelebat mendatangi mereka.


“Itu wanita bercadar yang membantuku saat dijebak, Kakang!” kata Janila kepada suaminya.


Namun, belum juga Senggara Bolo menanggapi perkataan istrinya yang berbaju putih, tiba-tiba wanita bercadar yang datang menghentakkan lengan kirinya.


Wuss!


Segelombang angin keras menderu menyerang keenam orang itu. Kompak keenamnya menghindar dengan cara naik ke udara lebih tinggi dari embusan angin yang menyerang.


Seets! Seets! Bsets! Bsets!


“Aaak!” jerit Naya Mawar, istri yang berpakaian warna merah.


“Akk!” pekik Ginaya, istri yang berpakaian warna ungu.


Sungguh mengejutkan bagi Senggara Bolo dan kelima istrinya. Dari sisi yang lain tiba-tiba muncul berkelebat dari balik pohon besar, sesosok lelaki berpakaian hitam. Sosok lelaki setengah baya itu mengibaskan kedua tangannya yang menghasilkan lesatan dua sinar biru tipis berbentuk lengkungan.


Serangan dua sinar biru itu menyerang di saat Senggara Bolo dan kelima istrinya tidak berpijak pada tanah, membuat mereka menjadi sasaran empuk di udara.


Senggara Bolo seketika melindungi dirinya dengan ilmu prisai individunya. Ia tidak bisa mengerahkan ilmu perisai yang bisa melindungi semua. Serangan sinar biru itu mengenai Senggara Bolo, tetapi lapisan sinar merah gelap yang muncul sekejap membuatnya tidak terluka, hanya terdorong mundur dan mendarat nyaris jatuh.


Sementara serangan sinar biru lainnya mengenai dua orang istri Senggara Bolo, yaitu Naya Mawar dan Ginaya. Keduanya menjerit dan jatuh dengan luka sayatan yang tajam pada lengan, dada dan perut.


“Mawar!” pekik Janila.


“Ginaya!” pekik Wuri Semai pula.

__ADS_1


“Mawar! Ginaya!” sebut Senggara Bolo terkejut. Ia berlari mendekati Naya Mawar dan Ginaya yang sudah meregang nyawa dalam pangkuan Janila dan Wuri Semai.


Naya Mawar dan Ginaya bersimbah darah.


“Ka-Kakang …!” sebut Naya Mawar sambil mengulurkan tangannya yang berlumur darah dengan berat kepada suaminya.


“Mawar, jangan mati!” ucap Senggara Bolo sambil menangis, sedih melihat kondisi istrinya.


“Ginaya! Ginayaaa …!” teriak Wuri Semai menangis sambil mengguncang-guncangkan wajah Ginaya.


Ginaya sudah tidak bergerak. Setelah itu, Naya Mawar juga berhenti bergerak. Tangannya yang baru memegang tangan suaminya, jatuh terkulai seiring tatapannya yang berubah kosong tanpa sinar kehidupan.


Janila, Wuri Semai dan Iing Bulih menangis menyaksikan kematian dua madu mereka sekaligus.


Dengan memendam kemarahan dan dendam yang menyatu, Senggara Bolo beralih menatap buas kepada sosok lelaki berpakaian hitam. Uniknya, lelaki itu berdiri tidak menginjak bumi, tetapi melayang setinggi satu hasta dari tanah.


Di sisi lelaki berpakaian hitam berdiri wanita bercadar putih.


“Orang Sakti Benci Bumiii …!” teriak Senggara Bolo gusar, menyebut nama lelaki berpakaian hitam.


Senggara Bolo yang sejak tadi membawa jasad Manar, meletakkan istrinya ke tanah. Setelahnya, Senggara Bolo langsung bertolak melesat ke arah kedua penyerang itu.


Kedua tangan Senggara Bolo bersinar merah menyilaukan, sementara kedua tangan Orang Sakti Benci Bumi bersinar biru menyilaukan pula. Empat telapak tangan dari keduanya beradu temu di udara.


Bluarr!


Tak ayal, peraduan dua tenaga sakti tingkat tinggi terjadi di udara. Tanah makam sampai terbongkar efek dari daya ledak tenaga yang tidak terlihat nyata. Pendekar Raja Kawin terdorong mundur dan mendarat dengan sempoyongan. Ia menatap tajam kepada Orang Sakti Benci Bumi yang juga terlempar mundur.


Orang Sakti Benci Bumi jatuh terjengkang, menunjukkan bahwa tenaga sakti Senggara Bolo lebih tinggi darinya. Namun uniknya, meski jatuh dengan punggung, tubuh Orang Sakti Benci Bumi berhenti dengan melayang dua jengkal di atas tanah. Tubuhnya tidak jatuh ke tanah. Ketika ia bangkit berdiri, ia tidak sedikit pun membutuhkan menginjak bumi.


Giliran wanita bercadar putih yang maju dengan serangan pedang. Serangan pedang itu ganas dan kesannya sangat ingin melukai atau membunuh Senggara Bolo.


Namun, ternyata Senggara Bolo benar-benar pendekar hebat. Terbukti, gerakannya begitu lincah menghadapi jurus pedang tersebut. Senggara Bolo bahkan berani main jarak dekat, tanpa takut akan teriris pedang.


Tang! Pak!


“Hukr!” keluh gadis bercadar. Dengan tubuh terdorong terjengkang, ada hentakan di balik cadarnya. Hasilnya terlihat bahwa kini cadar putih itu telah ternoda oleh cairan merah segar.


Sebelumnya, pada satu kesempatan, tiga jari tangan Senggara Bolo menghantam keras bilah pedang wanita bercadar dengan gerakan yang kecil, membuat pedang terhentak jauh ke samping. Pada saat itulah satu pukulan telapak tangan menghantam perut wanita bercadar. Kerasnya hantaman pukulan itu membuat wanita bercadar sampai menyemburkan darah di balik cadarnya.

__ADS_1


Buru-buru wanita bercadar bangkit dengan agak terhuyung. Sorot matanya begitu tajam. Ia lalu menarik copot cadarnya yang kotor oleh darah.


Maka tampaklah dengan jelas wajah si wanita bercadar, yaitu wajah cantik berkulit putih bersih dan halus, laksana sehalus kulit bayi. Wanita itu tidak lain adalah Kembang Buangi.


“Hah! Gendasari?” sebut Senggara Bolo kepada dirinya karena terkejut.


Namun, Senggara Bolo sadar bahwa wanita muda di depannya itu bukanlah Gendasari yang pernah dibunuhnya belasan tahun lalu. Dulu, ia bersama mendiang Demang Rubagaya telah membunuh seorang wanita cantik bernama Gendasari.


Sekedar pengingat. Demang Rubagaya sudah tewas di tangan Joko Tenang di awal-awal novel Pendekar Sanggana. Pada saat itu, selain membunuh Demang Rubagaya, Joko Tenang juga membunuh Nenek Kerdil Raga.


Pada hari itu pula Joko Tenang pertama kali bertemu dengan Tirana.


“Siapa sebenarnya wanita ini, Benci Bumi?” tanya Senggara Bolo.


“Namanya Kembang Buangi. Dia adalah putriku dari Gendasari. Aku dan dia datang untuk membalas kematian Gendasari yang kau dan Rubagaya bunuh. Kau pun harus ingat, Senggara. Kau juga telah membunuh istriku, Rukidah. Maka jangan tangisi jika aku juga membunuh istri-istrimu,” ujar Orang Sakti Benci Bumi.


“Aku tidak peduli dendam apa yang kalian bawa, tapi kematian ketiga istriku harus kalian bayar dengan kematian!” teriak Senggara Bolo.


“Heaat!” teriak Orang Sakti Benci Bumi lebih dulu melepaskan serangan.


Zwerss! Zoom! Bluarr!


Orang Sakti Benci Bumi menghentakkan kedua lengannya. Sinar kuning emas berbentuk spiral raksasa melesat dari kedua tangan itu.


Namun, Senggara Bolo juga mengerahkan sinar putih menyilaukan pada kedua tangannya. Sinar besar selebar baki itu menghadang dua spiral sinar kuning emas.


Ledakan dahsyat terjadi dengan suaranya yang terdengar sampai ke pusat Ibu Kota.


Senggara Bolo terjengkang keras. Bahkan ketiga istrinya harus terdorong jatuh terduduk oleh kekuatan ledaknya.


Namun berbeda dengan lawannya. Orang Sakti Benci Bumi terpental deras tanpa menyentuh tanah. Orang Sakti Benci Bumi jatuh di antara makam-makam, tetapi tubuhnya tidak menyentuh tanah makam.


Ternyata Kembang Buangi juga terpental akibat dorongan daya ledak itu, tetapi tidak sejauh ayahnya.


“Hoekh!” Orang Sakti Benci Bumi muntah darah. Untuk darah, masih bisa jatuh ke tanah.


Tanpa menyentuh tanah, Orang Sakti Benci Bumi segera bangkit. Ia cepat berkelebat ke sisi putrinya. Kembang Buangi lalu diajak berkelebat pergi dari tempat itu.


Senggara Bolo hanya bisa terkejut tanpa sempat untuk mencegah atau mengejarnya. Ia tidak bisa meninggalkan istri-istrinya saat itu.

__ADS_1


Peraduan kesaktian dengan Orang Sakti Benci Bumi hanya membuatnya terasa sesak pada dada, tapi tidak memberinya luka yang berarti. (RH)


__ADS_2