
*Dewi Bunga Kedelapan (De Bude)*
Joko Tenang terkejut saat dia menyadari bahwa dirinya telah duduk di atas pungung seekor singat betina, duduk rapat di belakang punggung wanita berambut emas. Kedua tangannya melingkar ke perut wanita yang berbau harum itu. Joko Tenang tidak kenal aroma harum apa itu, tapi itu keharuman yang membetahkan. Memeluk wanita itu dari belakang, membuat Joko Tenang merasakan rasa desiran indah yang mengalir hingga ke tubuh bawahnya.
“Avabella!” sebut Joko Tenang berbisik.
“Hihihi!” tawa wanita berambut emas.
Setelah itu, singa yang mereka tunggangi tiba-tiba berlari kencang di padang rumput, membuat Joko Tenang kian mengencangkan pelukannya pada perut wanita bermata biru yang bernama Avabella tersebut.
Avabella kian tertawa kencang, membuat suasana itu kian terasa mesra.
“Itu jurang, Avabella!” teriak Joko Tenang terkejut saat melihat di depan sana adalah jurang.
“Hihihi…!” tawa Avabella berkepanjangan, tanpa mempermasalahkan jurang yang ada di depan.
Singa itu kemudian melompat jauh terbang ke atas jurang, lalu meluncur jatuh ke arah tanah gurun yang panas. Tubuh Avabella dan Joko Tenang terpisah dari singa. Keduanya meluncur deras ke bawah. Dalam luncuran itu, Avabella mengatur posisi tubuhnya sehingga ia berhadapan dengan tubuh Joko Tenang. Ia lalu memeluk tubuh Joko sambil tersenyum lebar. Joko Tenang yang sudah diserang rasa gairah juga memeluk tubuh Avabella dengan erat.
Swep!
Ketika Avabella memnempelkan bibir merahnya kepada bibir merah Joko, tiba-tiba alam di sekeliling Joko Tenang berubah gelap. Dan tahu-tahu Joko Tenang seorang diri sedang meluncur di dalam kegelapan yang gulita.
Joko Tenang merasakan seluruh tubuhnya begitu sakit. Wajahnya mengerenyit di dalam gelap. Bahkan ia merasakan darah keluar dari dalam mulutnya. Kepalanya begitu sakit, seolah ingin meledak. Namun, di dalam dera derita akibat luka parah yang ia alami karena ledakan ilmu Dua Matahari milik adik tirinya, ia masih bisa merasakan denyut-denyut enak pada pangkal pahanya.
“Aku jatuh ke mana ini?” tanya Joko Tenang dalam hati. Ketika jatuh, ia memang sempat tidak sadarkan diri untuk beberapa saat.
__ADS_1
Bress!
Tiba-tiba tubuh Joko Tenang diselimuti sinar kuning emas yang bersumber dari bersinarnya Rompi Api Emas. Seiring itu, Joko Tenang juga merasakan sakit pada seluruh tubuhnya berkurang perlahan, saat ada aliran sejuk yang terserap masuk.
Kini Joko Tenang bisa melihat keberadaan dua dinding batu yang seolah sedang melesat cepat ke atas, padahal dirinyalah yang meluncur deras menuju dasar jurang.
Buam!
Joko Tenang merasa menghantam satu lapisan keras, tapi bisa ditembus masuk, lalu kembali meluncur jatuh dan menghantam dasar jurang dengan begitu keras. Perlindungan dari Rompi Api Emas membuat Joko Tenang tidak mengalami hancur tubuh atau patah tulang.
Joko Tenang terdiam dalam posisi terlentang dengan dada yang naik turun dalam ritme napas yang cepat. Sinar kuning emas pada tubuhnya telah lenyap.
“Akkr!” erang Joko Tenang saat bergerak bangkit.
Sepasang mata Joko Tenang terbeliak ketika melihat area sekitarnya, penuh berserakan potongan-potongan tubuh yang hancur, dari daging segar hingga tulang-belulang yang sudah begitu usang. Bahkan, tidak ada kepala atau tengkorak kepala yang terlihat tersisa, karena begitu hancurnya, mendekati kategori musnah.
Joko Tenang memandang ke sekitar. Dasar jurang itu seperti sebuah ruangan besar yang terbatas, yang dikurung oleh dinding di semua sisinya, sangat berbeda dengan bentuk jurang di atas sana yang memiliki kelebaran yang luas.
Pandangan mata Joko Tenang akhirnya tertumpu pada sebuah bongkahan batu yang juga bersinar putih redup. Letaknya sejauh tiga tombak dari posisi Joko Tenang. Yang mengejutkan, di atas batu datar itu terbaring sesosok tubuh wanita yang utuh.
Zref!
Kepala Joko Tenang tiba-tiba tersentak ke belakang, saat pandangannya mendadak mengalami perubahan yang aneh. Joko Tenang melihat tubuh wanita yang terbaring itu begitu indah. Wanita itu memiliki paras yang begitu jelita dengan berbagai kesempurnaan bentuk wajah. Kekhasan wajahnya ada pada bentuk dahi yang cukup lebar dan licin. Dengan alis yang berketebalan sedang, ia memiliki bentuk hidung mancung yang sangat cantik, yang jika dilihat dari sudut manapun, tetap cantik. Rambutnya panjang hingga terurai dari atas batu hingga ke lantai. Kuku jari tangannya yang bersedekap di perut, sangat panjang hingga melingkar-lingkar, termasuk kuku jari kakinya. Sosok itu justru terkesan seperti jenglot berwajah bidadari. Bentuk tubuhnya pun begitu indah, meski tidak seindah gitar Spanyol.
Setelah memandang sosok itu begitu indah dan cantik, tiba-tiba alam pikiran Joko Tenang diserang oleh bayangan-bayangan kegiatan asmaranya di atas ranjang, kegiatan asmaranya bersama seluruh istri-istrinya. Bahkan memori ketika bersenggama di atas punggung Gimba hingga di atas langit bersama Nara, tergambar dengan jelas, seolah sejelas purnama merindu.
Bayangan-bayangan pergumulan yang dahsyat itu dengan cepat memompa gairah birahi Joko Tenang, yang kemudian menguasai seluruh syaraf dan aliran darah. Akibatnya, Prabu Kecil yang sempat terbangun saat memimpikan Avabella, kembali mengejang tanpa surut.
__ADS_1
“Apa yang terjadi? Mengapa gairahku begitu ganas?” batin Joko Tenang begitu cemas.
Meski pikirannya sadar, tetapi Joko Tenang merasa begitu ingin bercinta. Ternyata, semakin lama, rasa itu semakin menuntut dan tinggi. Joko Tenang berusaha menahan gairahnya, sampai-sampai ia mengerahkan tenaga dalam dan mengatur pernapasannya demi menormalkan pikirannya. Namun, tetap tidak bisa, bahkan kian tinggi.
“Aaak…!” teriak Joko Tenang keras karena tidak sanggup menahan dirinya.
Di dalam pikiran Joko Tenang terus terbayang yang indah-indah dari lekuk tubuh istri-istrinya, gerakan erotis yang begitu menggoda, hingga rasa kenikmatan yang berbeda-beda tetapi tetap satu jua.
Joko Tenang dengan tergesa-gesa membuka baju dan rompinya. Kini ia bertelanjang dada. Ketika ia ingin membuka pakaian bawahnya, dia berhenti. Dia masih berusaha melawan hasrat gairah yang begitu panas pada dirinya.
“Aku tidak kuat menahannya. Tapi tidak mengapa jika tidak ada yang mengetahuinya….”
Tiba-tiba pikiran Joko Tenang disusupi kalimat menyerah.
“Mayat siapa pun dirimu, maafkan aku!” teriak Joko Tenang keras. Ia lalu berteriak seperti orang kesetanan, “Aaakr…!”
Joko Tenang kemudian membuka seluruh celananya karena dia memang sedang dilanda ***** tak terkendali. Ia lalu berlari ke batu dan langsung merenggut pakaian mayat wanita tersebut. Cara Joko Tenang dalam mengeksekusi jasad wanita cantik itu begitu kasar. Joko Tenang seperti orang yang melakukan sesuatu tapi hilang kesadaran.
Tanpa acara bercumbu lebih dulu, Joko Tenang menciptakan gol tercepat dalam karir asmaranya.
Brusss!
Ketika penyatuan terjadi dan lahar panas terpancar dalam bekapan, tiba-tiba sepasang tubuh dua anak manusia itu bersinar putih menyilaukan. Sinarnya bahkan membias menyilaukan, melesat sangat cepat lurus ke atas, dengan suara yang memekakkan telinga.
Ketika bias sinar menyilaukan itu keluar melalui mulut jurang di Gua Lolongan, lalu terus melesat ke langit, ratusan pendekar yang ada di Gua Lolongan dan sekitarnya sangat terkejut.
Pada saat itu pula, di dalam sebuah kamar di Perguruan Bukit Dalam, sepasang mata Dewa Kematian terbuka lebar, menyadari bahwa Penjara Mahkota Suci telah dijebol oleh seorang lelaki. (RH)
__ADS_1