
*Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)*
Rombongan Raja Anjas akhirnya keluar dari Kademangan Binowengi, mereka melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan itu, Gulung Lidah mohon izin kepada Anjas untuk tidak ikut serta, sebab ia memiliki tugas lain yang lebih berat dari Permaisuri Sri Rahayu.
Sementara Siluman Lidah Kelu harus ikut dengan rombongan, untuk mengantisipasi siasat musuh jika kedatangan mereka sudah terendus. Ia dibelikan satu kuda di Kademangan.
Mereka pun harus menembus Kademangan Uruk Sowong, tempat mertua Anjas pernah menjabat sebagai demang. Di situ mereka mendapat hadangan dari dua puluh prajurit kademangan berseragam hijau gelap.
“Berhenti!” seru seorang Ketua Prajurit. Ia berani menghentikan rombongan Raja Anjas meski ia tahu bahwa mereka semua adalah pendekar.
Sebelum Raja Anjas atau Ratu Sri bersuara, Siluman Lidah Kelu lebih dulu turun menghadapi Ketua Prajurit itu.
“Prajurit, kau tahu lombongan siapa yang kau hadang ini?” tanya Siluman Lidah Keluh datar tapi berwibawa.
“Hahaha!” tawa Ketua Prajurit yang diikuti oleh kesembilan belas anak buahnya. Mereka tertawa karena mendengar kacadelan Siluman Lidah Kelu.
Ternyata wibawa Siluman Lidah Kelu sebagai Panglima Pasukan Siluman Generasi Pertama tidak berlaku.
Plak!
Langsung terdiam Ketua Prajurit saat satu tamparan keras menghajar pipinya, membuatnya nyaris jatuh ke samping. Para prajurit berhenti tertawa seketika dan langsung loloskan pedang.
“Kau pikil lucu mendengal olang bicala cadel?!” bentak Siluman Lidah Kelu. “Kau menghadang lombongan Gusti Latu Sli Mayang Sih, olang yang memegang nyawa kalian!”
Terkejut dan terdiam Ketua Prajurit dan pasukannya.
“Calon istriku memang penuh gereget!” ucap Joko Tingkir memuji.
Arya Permana dan Lanang Jagad hanya tersenyum mendengar komentar Joko Tingkir.
“Ampuni hamba, Gusti Ratu!” seru Ketua Prajurit sambil cepat bersujud di tanah.
“Ampuni hamba, Gusti Ratu!” seru para prajurit lainnya, ikut bersujud di tanah.
“Bangunlah! Biarkan kami berlalu!” kata Ratu Sri Mayang Sih.
Para prajurit Kerajaan Siluman yang bertugas di Kademangan Uruk Sowong itu segera bangun berdiri. Ketua Prajurit segera memerintahkan untuk memberi jalan kepada rombongan itu. Mereka tidak pernah mengerti tentang konflik yang terjadi di pusat. Tugas mereka hanyalah menjaga keamanan di kademangan.
Raja Anjas dan sang ratu kembali menjalankan kuda mereka. Pendekar yang lain mengikuti. Para prajurit hanya menghormat kepada kepergian rombongan itu. Siluman Lidah Kelu kembali menaiki kudanya.
Joko Tingkir segera menggebah kudanya lebih keras, segera maju ke depan lalu direm agar berjalan santai di samping kuda Siluman Lidah Kelu.
“Gayamu tadi begitu memukau, sampai-sampai hatiku tergetar oleh rasa suka,” puji Joko Tingkir seraya tersenyum kepada gadis cantik berusia tiga puluhan tahun itu.
“Ini bukan waktunya melayu halimau yang sedang malah!” ketus Siluman Lidah Kelu.
Tembangi Mendayu yang berada di belakang bersama kakaknya, memandangi pergerakan Joko Tingkir.
__ADS_1
Tus!
Hehekk!
Tembangi Mendayu menyentilkan satu tenaga kecil yang mengenai bokong bahenol kuda Joko Tingkir. Sang kuda terkejut bukan main dan langsung meringkik dengan menaikkan kedua kaki depannya. Selanjutnya, kuda tersebut berlari liar membawa tubuh Joko Tingkir pergi mendahului rombongan.
“Hihihi!” tawa Tembangi Mendayu, selaku biang usil.
Saat kuda Setan Ngompol lewat di depan para prajurit, mereka semua seketika mengerenyitkan hidung karena mendapat serangan bau pesing yang sangat menusuk, sampai-sampai menusuk ke ulu hati dan membuat pusing.
“Hahaha!” tawa Setan Ngompol melihat reaksi wajah para prajurit itu.
“Kenapa kau usil seperti itu?” tanya Gadis Cadar Maut kepada adiknya.
“Hihihi!” Tembangi Mendayu hanya tertawa sambil memandang kakaknya.
“Kau pasti menyimpan rasa cemburu, sehingga kau usil jika melihat mereka dekat!” terka Gadis Cadar Maut.
“Cemburu? Kakak ini apa-apaan sih? Joko Tingkir adalah pemuda tampan yang sangat menjengkelkan di mataku!” kata Tembangi Mendayu cepat menyangkal dengan wajah merengut.
“Setidaknya kau mengakui dia memang tampan. Hihihi!” kata Gadis Cadar Maut lalu menertawai adiknya.
“Tidak, aku tadi salah kata!” tandas Tembangi Mendayu meralat.
“Hihihi…!” Gadis Cadar Maut semakin tertawa, tapi tidak begitu keras.
“Ada apa, Tetua?” tanya Tembangi Mendayu.
“Menurutmu, jika aku menikahi kakakmu, apakah kami akan bahagia?” tanya Petra Kelana seraya tersenyum manis dengan deretan gigi rapi dan putihnya.
“Tidak akan bahagia, karena aku tidak akan setuju kakakku menikah dengan kakek-kakek!” kata Tembangi Mendayu blak-blakan.
Petra Kelana mendelik terkejut mendengar jawaban gadis cantik itu. Sementara Gadis Cadar Maut hanya tersenyum-senyum di balik cadarnya.
“Kakakku itu wanita yang sangat baik, tetapi hatinya tidak punya pintu!” kata Tembangi Mendayu.
“Maksudnya?” tanya Petra Kelana tidak paham.
“Tidak punya pintu untuk lelaki!” tandas Tembangi Mendayu.
Gadis Cadar Maut hanya mendengarkan perkataan adiknya, tanpa mencampurinya.
“Jika kau merestui hubungan kami, aku akan memberikan apa pun yang kau mau,” bujuk Petra Kelana.
“Saat ini tidak ada, tapi nanti jika ada, aku akan memberitahukanmu,” kata Tembangi Mendayu. Ia lalu mempercepat langkah kudanya lebih ke depan, lalu berjalan di sisi kuda Arya Permana.
Mendengar itu, tersenyumlah petra Kelana. Ia lalu menggeser posisi kudanya agar berjalan lebih merapat dengan kuda Gadis Cadar Maut.
__ADS_1
Joko Tingkir telah kembali bersama kudanya dan bergabung dalam rombongan. Tembangi Mendayu dan rekan-rekan selevelnya hanya tertawa kecil melihat kepulangannya.
Mereka akhirnya meninggalkan Kadipaten Uruk Sowong.
Menjelang senja, pada jalan menurun menuju pinggir sungai, ada pertigaan antara menuju hutan atau menuju aliran sungai.
Pada sebatang pohon di pertigaan, ada pelepah daun pisang yang diikatkan pada dahan pohon. Itu adalah petunjuk yang dibuat oleh anggota Pasukan Siluman Generasi Pertama. Tanda yang dipasang mengarahkan mereka menuju aliran sungai.
Tanpa diberi tahu oleh Siluman Lidah Kelu, Ratu Sri Mayang Sih yang bisa membaca tanda tersebut, mengarahkan rombongan menuju turun mengikuti jalan pinggir sungai.
Sambil kudanya berjalan, Siluman Lidah Kelu memandangi pelepah pisang yang ada di dahan pohon itu. Sepasang alisnya menegang dengan otak sedang berpikir menduga-duga.
Siluman Lidah Kelu mendadak menggebah keras kudanya. Ia maju ke dekat kuda Raja Anjas dan Ratu.
“Maafkan hamba, Gusti Plabu, Gusti Latu!” ucap Siluman Lidah Kelu.
Anjas memberi tanda agar rombongan berhenti sejenak.
“Ada apa, Lidah Kelu?” tanya Ratu Sri Mayang Sih.
“Tanda petunjuk itu lusak, Gusti Latu,” ujar Siluman Lidah Kelu.
“Rusak? Rusak bagaimana?” tanya Ratu Sri Mayang Sih.
“Olang-olangku tidak pelnah memasang pelepah pisang yang lobek, tapi daun pisang itu sudah lobek,” jelas Siluman Lidah Kelu.
Anjas dan Ratu Sri lalu kembali menengok memperhatikan pelepah pisang yang ada di dahan pohon. Hal itu membuat yang lainnya juga memperhatikan pelepah pisang di atas pohon, meski mereka tidak begitu mengerti secara detail maksud tanda pelepah itu.
“Hamba culiga ada olang yang mengubah posisi tanda itu, Gusti Latu,” kata Siluman Lidah Kelu.
“Itu artinya tanda itu tidak bisa dipercaya?” tanya Ratu Sri Mayang Sih lagi.
“Aku culiga olang-olang Kelajaan Siluman sudah mengendus kebeladaan kita. Mungkin tanda itu diubah untuk menuntun kita ke dalam jebakan,” kata Siluman Lidah Kelu yakin. “Sebaiknya kita lewat hutan, Gusti Plabu.”
“Tidak masalah. Jika kita sudah terpantau, itu artinya semua jalan bisa saja disediakan perangkap,” kata Anjas.
“Jika kedua jalan ada pelangkap, anak buahku pasti membeli tanda, Gusti Plabu!” tandas Siluman.
“Baik, kita pilih jalan hutan!” kata Anjas memutuskan.
“Belbalik! Belbalik!” teriak Siluman Lidah Kelu kepada rombongan.
“Ayo berbalik! Balik!” teriak Joko Tingkir pula, maksud hati membantu kerja Siluman Lidah Kelu.
Tindakan Joko Tingkir itu membuat Siluman Lidah Kelu memandang kepadanya dengan tatapan penuh misteri. Joko Tingkir hanya lemparkan senyum penuh pesona.
Medan jalan yang sempit dan menurun, membuat mereka agak sulit membalikkan arah kuda, tetapi bisa. Kuda-kuda belakang yang harus berbalik dulu lalu kembali menanjak dan berbelok arah menuju hutan.
__ADS_1
“Mereka memakan umpannya!” bisik seorang lelaki berpakaian hitam-hitam yang mengawasi rombongan itu dari kejauhan. Ia bersama dengan seorang temannya bersembunyi di atas pohon yang tumbuh jauh dari rombongan Anjas dan Ratu. (RH)