
*Maut di Tahta Baturaharja (Mata Batu)*
Kini Penasihat Angger Buda berhadapan langsung dengan delapan siluman dari Siluman Sepuluh. Lelaki tua itu tampak gagah di atas kudanya. Di belakang kudanya berbaris lima puluh prajurit yang dipimpin oleh Adimuka dan Tibamaling.
“Kepung!” perintah Penasihat Angger Buda kepada pasukannya.
Para prajurit yang bersenjata tombak dan tameng itu segera bergerak memecah dua yang kemudian mengurung. Siluman Sepuluh tetap tenang, sebagian dari mereka bahkan tersenyum-senyum.
“Siapa kalian, para Kisanak?” tanya Angger Buda berwibawa.
“Kami Siluman Sepuluh,” jawab lelaki bertubuh besar gemuk berhidung besar. Lelaki yang masih tergolong muda itu memiliki dahi yang lebar. Di leher gemuknya melingkar gelang kayu berwujud ular hitam yang melingkar. Ia adalah Siluman Ular Hitam.
“Apa yang kalian lakukan di kediaman Mahapati Abang Garang?” tanya Angger Buda yang seharian ini menjadi tukang tanya.
“Kami ingin membunuh Menak Ujung,” jawab Siluman Ular Hitam apa adanya.
“Lancang!” teriak Angger Buda. “Prajurit! Tangkap mereka!”
Baks! Tseb! Tseb!
Namun, alangkah terkejutnya Angger Buda. Adimuka dan Tibamaling justru bergerak cepat menghantamkan telapak tangannya ke dada kuda Angger Buda. Sementara beberapa prajurit menusukkan tombaknya ke tubuh kuda dan juga menyerang sang penasihat.
“Pengkhianat kotor!” maki Angger Buda gusar sambil melompat naik ke udara, meninggalkan kudanya yang bernasib malang karena tidak memiliki asuransi.
Wuss! Bluar!
Tidak tanggung-tanggung, Angger Buda langsung melepaskan satu sinar biru seperti komet dari atas. Siluman Sepuluh, Adimuka dan Tibamaling cepat melesat mundur sebelum sinar itu menghancurkan tanah di tengah-tengah mereka. Sepuluh prajurit langsung berpentalan tanpa nyawa karena berada pada jarak yang begitu dekat dengan sumber ledakan.
“Kami serahkan kepada kalian!” kata Siluman Pita kepada Adimuka dan Tibamaling. Siluman Pita adalah seorang wanita berusia tiga puluh tahun yang wajahnya tampak berwarna oleh riasan bedak dan gincu. Ia memiliki gulungan pita berwarna merah dan kuning pada pinggangnya.
“Baik!” sahut Adimuka dan Tibamaling bersamaan.
Siluman Sepuluh segera berkelebat pergi.
Angger Buda yang baru turun ke tanah, langsung disambut oleh tusukan tombak-tombak.
Wuss! Wuss!
Angger Buda langsung membungkuk rendah, membuat tombak-tombak itu menusuk di atas punggung. Dalam kondisi seperti itu, kedua lengan Angger Buda menghentak bergantian melepaskan dua angin pukulan yang menerbangkan para prajurit.
Bruss! Zing!
Adimuka dan Tibamaling bergerak kompak seirama seperti pasangan kembar siang-siang. Mereka kompak menghentakkan tinju jarak jauh. Dua arus sinar hijau melesat bersamaan dari tinju keduanya yang menyerang Angger Buda.
Spontan Angger Buda melebarkan kedua tangannya di depan tubuh, menciptakan lapisan sinar biru yang menahan serangan kedua lawannya. Pijakan kedua kaki Angger Buda harus tersurut satu tombak.
Bluar!
Ketika ada serangan tombak dari para prajurit, Angger Buda menghentakkan tenaga saktinya, menciptakan ledakan tenaga yang mementalkan Adimuka dan Tibamaling. Keduanya dapat mendarat dengan kakinya meski agak goyah. Namun, dari celah bibir mereka keluar darah.
Tseb!
“Akh!”
__ADS_1
Angger Buda yang juga terjajar beberapa tindak, harus menjerit tertahan saat satu tombak berhasil menyusup dari belakang. Meski tusukan itu tidak begitu dalam pada pinggang belakang, tetapi menjadi modal utama bagi Angger Buda untuk mengamuk.
Wuss! Wuss!
Dua angin pukulan dahsyat Angger Buda menerbangkan para prajurit. Setelah itu, Angger Buda melompat ke hadapan Adimuka dan Tibamaling.
Kedua orang muda itu langsung menyambut Angger Buda dengan pukulan dan tendangan mematikan.
Meski sudah terluka, Angger Buda masih lebih lihai mengatasi serangan kedua lawannya.
Baks! Bukk!
Pukulan telapak tangannya menghantam dada Adimuka dan tinju tangan kirinya menghantam sisi kepala Tibamaling.
Wuss!
Dua anak muda itu terhempas cukup jauh ketika angin pukulan Angger Buda telah mengenai mereka. Keduanya jatuh terjengkang dan bergulingan di tanah.
Beg! Wuss!
Angger Buda menjejakkan kakinya ke bumi. Sekumpulan kerikil terlompat naik ke udara. Kerikil-kerikil itu kemudian dihempaskan dengan angin pukulan yang kuat, menyerang para prajurit yang datang mendekat. Tameng kayu bahkan jebol, membuat para prajurit tidak luput dari kematian.
Separuh prajurit sudah tumbang.
Adimuka yang sudah terluka cukup parah, berkelebat di udara.
Bruss! Wuss! Bluar!
Adimuka menghentakkan tinjunya yang melesatkan arus sinar hijau. Angger Buda langsung menantang dengan sinar biru seperti komet. Pertemuan dua sinar itu menciptakan ledakan keras.
Tak! Set! Tseb!
“Aakh!”
Tibamaling memanfaatkan momentum. Di saat temannya beradu nyawa, ia melambungkan sebatang tombak, lalu ia melompat dan menyepak ujung tombak dengan keras. Tombak itu begitu cepat melesat kepada Angger Buda yang kehilangan kendali. Tombak menancap di bahu kanan Angger Buda.
Penasihat semakin terhuyung.
Tibamaling melompat tinggi di udara lalu menghentakkan tinjunya.
Bruss! Wuss!
Pertemuan sinar hijau dan biru kembali terjadi. Tubuh Tibamaling terpental liar di udara, sementara Angger Buda terjajar nyaris jatuh terjengkang.
Set! Tseb!
“Aaak!”
Angger Buda menyempatkan diri mencabut tombak pada bahunya lalu ia lemparkan dengan cepat. Tombak itu melesat dan tepat menembus perut Tibamaling.
“Tibamaliiing!” teriak Adimuka yang juga dalam kondisi terluka parah.
Angger Buda berdiri gontai dengan pinggang dan bahu terus mengeluarkan darah.
__ADS_1
Angger Buda melompat tinggi ke udara.
Wuss! Wuss!
Bluar! Bluar!
Kedua telapak tangan Angger Buda melesatkan sinar biru seperti komet. Satu menyerang kumpulan prajurit yang tersisa, satu lagi menargetkan Adimuka yang bergerak mendatangi tubuh Tibamaling.
Sepuluh prajurit berpentalan terkena ledakan di tanah. Sementara Adimuka terpental keras ketika serangan jatuh di dekat kakinya.
Bduk!
“Aaak!”
Adimuka jatuh berdebam dalam kondisi kaki yang hancur keduanya. Ia menjerit kesakitan.
Angger Buda kembali mendarat dengan terhuyung. Ia memungut sebatang tombak, lalu ia lesatkan kepada Adimuka. Tombak itu tepat menancap di dada Adimuka dengan dalam.
Dengan demikian, tamat sudah riwayat Adimuka dan Tibamaling.
Dua puluh prajurit yang tersisa kini jadi ciut.
“Munduuur!” teriak seorang prajurit mengambil alih komando.
Para prajurit itu segera bergerak mundur meninggalkan Angger Buda dan mayat rekan-rekan mereka.
Angger Buda jatuh terlutut satu kaki. Kondisinya semakin lemah.
“Akan bunuh diri aku jika memaksa kembali ke Istana. Lebih baik aku merawat luka dan mengirim utusan kepada Senopati Duri Manggala,” pikir Angger Buda.
Ia lalu kembali bangkit dan melangkah pergi.
Set set!
“Aaak!” jerit Angger Buda saat tiba-tiba dua potongan ranting kayu kecil melesat menancap di pahanya.
Angger Buda jatuh terlutut. Sambil meringis, ia memandang ke sumber serangan. Dari balik sebatang pohon muncul seorang lelaki tua berjubah abu-abu dan berwajah buruk seperti kulit kayu kering.
“Raja Akar Setan!” sebut Angger Buda.
“Pengkhianat!” sebut Raja Akar Setan.
“Apa yang akan kau lakukan Raja Akar? Apakah kau dalang pemberontakan ini?” tanya Angger Buda.
“Lihatlah hasil pengkhianatanmu terhadap Prabu Banggarin dan putranya Arta Pandewa. Kesenanganmu tidak berlangsung lama. Pada akhirnya Menak Ujung dan dirimu merasakan pula bagaimana rasanya dikhianati,” kata Raja Akar Setan.
Wuss! Bluar!
Angger Buda masih sanggup melesatkan sinar biru dari kesaktiannya. Namun, mudah bagi Raja Akar Setan mengelak, cukup dengan menggeser tubuhnya. Akibatnya sinar biru itu meledak di kejauhan.
Blet! Krekr!
Dan kini, belalai jari-jari tangan kanan Raja Akar Setan sudah membelit di leher sang penasihat. Dua belalai dari balik jubah Raja Akar Setan juga melesat melilit kedua tangan Angger Buda. Lilitan itu terus menguat mencekik Angger Buda, membuatnya tidak berkutik.
__ADS_1
Hingga akhirnya, lilitan pada leher meremukkan tulang. Angger Buda pun tewas. (RH)