
*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*
Massa di Gua Lolongan kini terbagi dua, yaitu para pendekar yang sudah berhasil menyeberang ke dalam gua, dan para pendekar yang masih berjubel di mulut gua.
Ditemukannya trik untuk menaklukkan dinding udara padat di tengah atas jurang, membuat banyak pendekar bisa menyeberang. Namun, tidak sedikit pula pendekar yang gagal melakukan trik dengan sempurna. Akibatnya tidak tanggung-tanggung, langsung dapat tiket emas menuju kematian di dasar jurang.
Sementara itu, pertarungan antara Putri Manik Sari dengan Bandewa sudah berakhir. Bandewa harus meregang nyawa di tangan Manik Sari.
Puluhan pendekar kini melakukan pencarian pusaka di dalam Gua Lolongan. Namun, hingga hari kian menuju siang, belum ada seorang pun yang menemukan pusaka dimaksud, pusaka yang mereka tidak tahu jenis senjata apa.
“Sial! Tidak ada apa-apa di dalam gua ini!” maki Nini Kuting yang mulai jengah dengan pencariannya. Ia yang memiliki kesaktian tinggi bahkan tidak bisa mendeteksi keberadaan adanya benda sakti yang terpendam di dalam gua itu.
Namun, para pendekar itu masih sangat penasaran, mereka terus berusaha mencari dan mendeteksi dengan kesaktian yang mereka miliki. Sejengkal demi sejengkal dari tempat itu mereka perhatikan dengan seksama. Seiring itu, satu demi satu pendekar berlompatan menyeberang ke bagian dalam. Jumlah orang di sisi dalam gua semakin banyak.
“Aaak…! Aaa…! Emaak…!
Masih saja ada pendekar-pendekar yang gagal menyeberang.
Sementara itu di salah satu sudut di mulut gua, duduk berjongkok Abna Hadaya, dalam rangka berduka atas kematian mantan istrinya.
“Minggir! Minggiiir!”
Tiba-tiba terdengar teriakan seseorang yang menggelegar dari luar gua, mengejutkan mereka yang sudah ada di dalam. Bahkan teriakannya sampai ke seberang sana.
Seorang lelaki tua berjubah hitam dan berambut putih gondrong, berkelebat melewati atas kepala para pendekar yang ramai di mulut gua.
Jleg!
Keras ia mendarat di tanah gua, tepat di bibir jurang. Lelaki tua bertubuh gagah berotot itu tidak lain adalah Domba Hidung Merah. Garis merah di hidungnya terlihat menyala seperti garis neon kecil.
“Siapa yang membunuh kekasihku Muni Kelalap?!” teriak Domba Hidung Merah marah sambil memandang wajah-wajah pendekar di sekitarnya.
“Kaulah yang membunuh Muni Kelalap, Domba!” teriak Abna Hadaya tiba-tiba.
Abna Hadaya tahu-tahu sudah melesat di udara. Domba Hidung Merah cepat pasang ilmu perisainya, ketika jari-jari tangan Abna Hadaya yang menyala hijau terang mendarat di tubuhnya. Ilmu perisai Domba Hidung Merah adalah munculnya lapisan sinar kuning tipis pada tubuh depannya.
Dass! Bdak!
__ADS_1
Cepatnya serangan Abna Hadaya membuat Domba Hidung Merah yang sedang memandang liar ke sana ke mari, tidak siap.
“Hukh!” keluh Domba Hidung Merah dengan tubuh terdorong kencang ke belakang menuju bibir jurang.
Namun, ia terhenti karena punggungnya menabrak punggung seorang pendekar, membuat pendekar muda itu terdorong ke depan masuk ke dalam jurang.
“Aaa!” jerit pendekar bernasib apes itu. Untung dia berstatus jomblo mandiri, jomblo tanpa adik dan kakak, tanpa bapak dan emak. Jadi, tidak ada yang meratapi kematiannya.
Abna Hadaya tidak berhenti. Ia terus memburu Domba Hidung Merah di bibir jurang. Domba Hidung Merah tangkas bangkit dan melayani pertarungan fisik Abna Hadaya dalam ritme cepat.
Boamm!
Tiba-tiba satu ledakan cahaya merah tercipta di dalam pertarungan yang berisiko jatuh ke jurang.
Ledakan yang diciptakan oleh Domba Hidung Merah itu membuat Abna Hadaya terdorong ke belakang, tapi tidak jatuh. Pertarungan itu membuat para pendekar sekitar jadi refleks menjauh dan dorong-dorongan kembali terjadi di mulut gua.
“Tanduk Domba Terbang!” teriak Domba Hidung Merah seperti jagoan animasi Manga, lalu melompat melesat terbang dengan tubuh berputar cepat seperti mata bor.
Tubuh Domba Hidung Merah langsung melesat menyerang Abna Hadaya yang baru berhenti dari terdorongnya.
“Hiat!” pekik Abna Hadaya serius sambil menyambut kepala Domba Hidung Merah dengan jari-jari yang menyala hijau.
Abna Hadaya cepat melompat mundur jauh ke belakang sekaligus menghindari serangan kaki Domba Hidung Merah. Abna Hadaya sengaja memancing lawannya untuk keluar agar tidak membahayakan para pendekar lain.
Domba Hidung Merah terpancing keluar. Kedua tokoh tua bertubuh kekar dan gagah itu kini saling berhadapan di ruang terbuka. Para pendekar yang jauh lebih muda dari mereka segera bergeser untuk memberi ruang.
Para pendekar yang masih berkerumun di luar gua kini terbagi, ada yang memilih ingin terus masuk, tetapi ada juga yang memilih menonton pertarungan dua tokoh tua yang terkenal itu, Ki Renggut Jantung lawan Domba Hidung Merah.
“Kenapa kau menyerangku, Abna?!” hardik Domba Hidung Merah sebelum melanjutkan pertarungan mereka.
“Karena kau, wanita yang pernah menjadi muni jantungku itu menjadi jahat. Lalu dia mati karena kejahatannya. Jika aku tahu Muni akan bernasib seperti ini, pasti dulu aku lebih memilih memenjarakannya daripada membiarkannya dia ikut denganmu!” tukas Abna Hadaya benar-benar marah.
“Hekr!” pekik tertahan Domba Hidung Merah saat Abna Hadaya menghentakkan tangan kanannya dengan jari-jari menggenggam kuat.
Domba Hidung Merah merasakan sakit yang sangat pada jantungnya. Ia tahu bahwa Abna Hadaya hendak merenggut jantungnya secara gaib.
Boam boam boam!
__ADS_1
Sebelum jantungnya hancur, Domba Hidung Merah cepat mengadu dua tinjunya di depan dada, meledakkan ilmu Kedipan Penguasa Bumi. Ledakan sinar merah muncul tiga kali yang menyerang Abna Hadaya dan orang sekitar.
Abna Hadaya terjajar beberapa tindak, sementara para pendekar yang posisinya masih terlalu dekat, jadi terjengkang, sampai-sampai ditertawakan oleh pendekar lain.
Hasil dari tindakan Domba Hidung Merah itu membuat jantungnya tidak lagi diserang.
Domba Hidung Merah melompat cepat dengan dua tangan menggenggam sinar merah berbentuk gada. Gada sinar itu diayunkan dari atas ke arah kepala Abna Hadaya.
Clap! Bross!
Namun sayang, Domba Hidung Merah memukul ruang kosong karena Abna Hadaya menghilang begitu saja dari tempatnya. Namun, ada sinar merah yang melesat ke tanah saat gada sinar dihantamkan. Tanah itu jadi berlubang dalam dan membara sejenak lalu berasap. Apalah jadinya jika yang terkena adalah sesosok tubuh.
Domba Hidung Merah tidak perlu mencari-cari keberadaan lawannya. Sebab, dari atas melesat turun sosok Abna Hadaya dengan kepala di bawah dan kaki di atas. Namun, kedua telapak tangannya telah bersinar biru menyilaukan mata.
Sambil menyipitkan matanya, Domba Hidung Merah menusukkan kedua gadanya ke atas menyambut serangan Abna Hadaya.
Jerzzz!
Kedua telapak tangan Abda Hadaya bertemu dengan kedua ujung gada sinar merah di atas kepala Domba Hidung Merah.
Suara berdesis terdengar keras dari peraduan dua tenaga sakti yang saling berusaha saling mendorong. Domba Hidung Merah berdiri dengan kuda-kuda kuat, wajahnya mengerenyit menahan serangan kekuatan ilmu Abna Hadaya.
Ki Renggut Jantung tetap dalam posisi berdiri terbalik di udara dengan bertopang pada gada sinar merah. Ia terus mengerahkan tenaga saktinya untuk memaksa Domba Hidung Merah takluk. Wajah tampan tuanya juga mengerenyit.
“Aaa…!”
Tiba-tiba terdengar suara jeritan dari kejauhan dan dengan cepat datang mendekat. Suara itu bukan jeritan dari kedua petarung, tetapi jeritan wanita, juga bukan dari dalam gua.
“Ada yang datang dari langit!” teriak seorang pendekar wanita kepada rekan-rekannya sambil menunjuk ke atas langit.
Selain kedua petarung yang masih bertaruh nyawa, para pendekar di luar gua segera mendongak memandang ke langit sambil menyipitkan matanya.
Mereka melihat seorang wanita berpakaian warna-warni sedang meluncur cepat menuju bumi, tepatnya ke arah mereka, lebih tepatnya ke arah posisi kedua petarung.
Namun, satu hal yang lebih mengejutkan lagi juga terjadi di dalam mulut gua.
“Aku menemukan pusakanya!” teriak seorang lelaki yang berada di pingir dinding gua sebelah depan, bukan pada bagian gua seberang jurang.
__ADS_1
Teriakan girang itu jelas mengejutkan para pendekar yang ada di dalam mulut gua, di luar gua, terutama puluhan pendekar yang sudah ramai di dalam gua seberang jurang. (RH)