
*Dewi Bunga Kedelapan (De Bude)*
Setelah menafkahi batin Ratu Getara Cinta dan Kerling Sukma, jadwal Joko Tenang berikutnya adalah pergi ke Kerajaan Balilitan untuk menikah dengan Ratu Lembayung Mekar. Khusus untuk Ratu Getara Cinta, Joko Tenang tidak perlu konsultasi ke dokter kandungan untuk bercocok tanam susulan.
Alangkah syoknya Ratu Lembayung Mekar karena terlalu gembiranya, ketika jemputan yang bernama Gimba datang. Dengan penuh pemuliaan, Joko Tenang mempersilakan sang ratu naik ke pangkal leher burung rajawali raksasa itu.
Karena belum menikah, jadi Joko Tenang naik duduk di belakang sang ratu cantik, beda cerita jika sudah menikah. Dari itu saja, Ratu Lembayung Mekar sudah merasa begitu dimuliakan oleh sang prabu.
Akhirnya Gimba lepas landas membawa kedua calon pengantin, dilepas oleh seluruh permaisuri plus calon istri Dewi Ara, minus Nara.
Demi menghargai kehormatan calon istrinya, saat berada di udara lepas, Joko Tenang tidak bertindak terburu *****. Jejarinya ia tahan agar tidak super aktif berjalan seperti tarantula, bibirnya ia tahan agar tidak menyosor ke mana-mana, meski ia dirayu oleh aroma tubuh Ratu Lembayung yang begitu memabukkan pikirannya ke dalam asmara rasa baru. Akibatnya, Ratu Lembayung Mekar justru harus menahan dongkol, karena tidak ada konser belaian dari calon suaminya.
“Apakah Kakang Prabu menikahiku benar-benar karena terpaksa? Hanya ingin mengambil keuntungan dari kerajaanku? Mengapa ia tidak mau menyentuhku lebih dalam? Bukankah sebentar lagi juga kami akan menikah?” tanya Ratu Lembayung dalam hati.
Namun kemudian, sang ratu akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, toh dia juga telah berani menawarkan diri sebagai istri.
“Kakang Prabu!” sebut Ratu Lembayung Mekar.
“Iya, Sayang?” tanya Joko Tenang lembut dan mesra.
“Tapi nada suaranya begitu mesra…” ucap sang ratu lagi dalam hati. Lalu tanyanya, “Apakah Kakang Prabu terpaksa menikahiku? Sehingga hanya mau menikahiku tapi tidak mencintaiku.”
“Ya, aku memang terpaksa. Beberapa istriku aku nikahi secara terpaksa. Namun demikian, setelah itu aku harus mencintai mereka dengan penuh kasih dan sayang. Termasuk dirimu, Sayang,” jawab Joko Tenang.
“Tapi kenapa Kakang Prabu tidak mau menyentuhku? Bukankah kita hanya berdua di atas burung ini?” tanya Ratu Lembayung Mekar sambil menengok seperempat putaran ke belakang.
Hal itu membuat wajah mulus sang ratu berada begitu dekat dengan wajah Joko Tenang yang tersenyum manis. Karena malu, sang ratu buru-buru mengembalikan arah wajahnya.
“Sejak kejadian di dasar jurang Gua Lolongan, aku jadi merenung, membuatku bertekad untuk lebih menghargai dan menghormati seorang wanita. Aku tidak akan menyentuhmu secara berlebihan sebelum kita resmi menikah. Namun, jika hanya sekedar pelukan, aku akan memberikannya,” kata Joko Tenang, lalu merangkulkan kedua tangannya ke pinggang sang ratu.
__ADS_1
Tersenyumlah Ratu Lembayung Mekar, merasakan kehangatan dalam dinginnya angin yang kencang. Berbunga-bungalah hatinya. Dengan tanpa beban lagi, ia senderkan punggungnya ke dalam pelukan Joko Tenang. Begitu terlenanya, sampai-sampai sang ratu tertidur dan mendengkur. Joko Tenang hanya tersenyum sambil membelai kepala wanita yang jauh lebih tua dari usianya itu.
Perjalanan udara itu tidak membutuhkan waktu yang lama, hanya dua jam pakai kurang sedikit.
Kaaak!
Warga Istana dan ibu kota Kerajaan Balilitan mendadak panik, ketika melihat seekor burung raksasa terbang rendah di langit Ibu Kota. Warga berlarian terbirit-birit hingga terkentut-kentut, seperti emak dan anak ayam melihat elang besar.
Namun, ketika Gimba mendarat di alun-alun depan gerbang benteng Istana, suasana berubah jadi lebih tenang, karena mereka melihat sosok yang berdiri di atas punggung burung raksasa itu. Rakyat dan para prajurit segera turun diri menghormat.
Kedatangan ratu mereka bersama lelaki tampan setampan dewa yang terkontaminasi debu dunia, disambut dengan gembira dan gegap gempita. Mahapati Tarik Sewu menjadi pihak yang paling repot menyiapkan sambutan di Istana dan persiapan untuk pernikahan besok, karena saat itu mulai menjelang malam.
Keesokannya, hari pernikahan pun digelar begitu meriah dan ramai. Ternyata, Kerajaan Balilitan adalah sebuah kerajaan yang kaya. Kemakmuran rakyat pun terlihat dari gaya hidup rakyat Ibu Kota, dengan jenis pakaian lebih mapan dari berbagai permukiman yang pernah Joko masuki.
Berbeda dengan pernikahan-pernikahan sebelumnya, kali ini Joko Tenang harus melalui cukup banyak ritual budaya versi masyarakat Balilitan. Seperti injak seratus butir telur bebek yang diletakkan di atas jalan berpermadani kuning emas. Joko juga harus menggendong pengantin wanita sambil duduk di atas seekor kerbau cantik, lalu diarak keliling Ibu Kota dengan pakaian pengantin.
Ritual yang cukup berat bagi Joko Tenang adalah menggendong pengantin perempuan di kedua pundaknya, kemudian dia harus bergerak jongkok lalu berdiri lagi hingga seratus hitungan. Yang membuat ritual itu jadi seru adalah para pejabat Istana, prajurit dan warga, ikut menghitung ramai-ramai dari satu sampai seratus. Itu disaksikan oleh orang banyak karena dilakukan di atas panggung, seolah acara pemecahan rekor.
“Jika Kakang Prabu bisa menyelesaikan sebanyak seratus kali, semua orang meyakini bahwa Kakang Prabu adalah lelaki yang kuat di atas ranjang. Hihihi…!” jawab Ratu Lembayung Mekar sambil tidak henti-hentinya tertawa sambil berpegangan pada kepala calon suaminya.
“Sembilan puluh sembilan! Seratuuus! Hebaaat!”
Plok plok plok…!
Teriak semua orang sambil bertepuk tangan gembira.
“Hahaha…!” Akhirnya Joko Tenang tertawa sendiri melihat keseruan acara pernikahan tersebut.
Dari pagi sampai menjelang sore, barulah Joko Tenang ijab kabul di depan Penasihat Kerajaan dan sejumlah saksi yang jumlahnya wajib sepuluh orang, enam lelaki dan empat wanita.
__ADS_1
Menjelang ijab kabul, Joko Tenang memberikan Cincin Mata Langit terakhir kepada Ratu Lembayung Mekar.
Zerzzz!
“Hah!”
Ketika Cincin Mata Langit bermata putih masuk ke jari manis Ratu Lembayung Mekar, tiba-tiba dari mata cincin itu melesat keluar sinar putih besar yang kemudian naik ke atas langit senja. Sinar putih besar itu berwujud domba bertanduk besar melingkar dan berbulu lebat. Uniknya, domba itu bermisai panjang seperti udang dan berkaki banyak seperti kaki udang.
Kemunculan makhluk sinar itu mengejutkan semua orang, termasuk diri ratu sendiri.
Setelah terbang ke langit tinggi, makhluk domba sinar itu menukik turun dan masuk menghilang ke dalam tubuh sang ratu.
“Hebaaat!” sorak rakyat Balilitan lagi sambil bertepuk-tepuk gembira.
Namun, di balik kebahagiaan Joko Tenang dan Ratu Lembayung Mekar, di balik kebahagiaan para pejabat dan rakyat Balilitan, ada dua orang yang terlihat berwajah dingin, yaitu dua orang pemuda tampan. Keduanya adalah Pangeran Barasungka dan Pangeran Tajilingga. Kedua putra Ratu Lembayung Mekar itu sudah berkenalan dengan ayah tiri mereka tadi malam.
Tepat memasuki malam, acara pernikahan yang cukup melelahkan itu akhirnya berakhir. Ratu Lembayung Mekar resmi menjadi istri kesembilan Prabu Dira Pratakarsa Diwana.
Di kamar pengantin yang luas dan megah, bekas kamar pribadi raja terdahulu, Joko Tenang dan Ratu Lembayung Mekar harus lebih sabar menahan gejolak birahi. Mereka harus mandi terlebih dahulu dan memakai wewangian setelah berjibaku dalam peluh melaksanakan berbagai ritual pernikahan.
Setelah itu, terserah keduanya. Kalau sudah sah, mau berbuat apa saja, bebas.
Namun, menikah dengan wanita yang sudah berpengalaman urusan ranjang, cukup berbeda dirasakan Joko Tenang ketika melakukan hubungan intim, dibandingkan dengan wanita yang baru pertama kali menikah seperti kedelapan istrinya.
“Maaf, Kakang Prabu,” kata Ratu Lembayung Mekar saat Joko Tenang sudah berniat mengeksekusi tendangan penalti.
“Ada apa, Sayang?” tanya Joko yang sudah melalui babak pemanasan.
“Pemasakannya kurang mendidih, Kakang Prabu. Harus lebih lama lagi, supaya rasanya bisa lebih menggigit ketika termuntahkan. Ayo, aku tunjukkan bagian mana saja yang Kakang Prabu harus tekuni. Aku pun nanti harus menekuni tubuh Kakang Prabu agar bisa menyerah tanpa penyesalan,” kata Ratu Lembayung Mekar yang malam itu menjadi guru senggama bagi Joko Tenang.
__ADS_1
Dan ternyata kemudian, Joko Tenang memang menyerah tanpa penyesalan. Joko Tenang sampai tidak menyangka. Dia yang selama ini sudah terbutakan oleh kenikmatan dari persembahan para istrinya, ternyata masih ada wanita yang lebih berkwalitas pelayanan asmaranya di atas ranjang.
Berkat bimbingan yang baik, hasil yang keduanya rasakan bisa maksimal. Itu terbukti dari erangan Joko Tenang yang dalam dan lenguhan panjang lagi kencang dari sang ratu. Maka wajar saja jika Joko Tenang minta lagi setelah masa rehat untuk pemulihan. (RH)