8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mis Kekar 22: Pertemuan di Jalur Bukit


__ADS_3

*Misteri Kematian Pendekar (Mis Kekar)*


Satu malam kembali berlalu.


Rombongan Permaisuri Kerling Sukma telah tiba di Jalur Bukit lebih dulu sebelum matahari naik ke puncak.


Di dua bukit sedikit kembar itulah peperangan cukup besar pernah dilakoni oleh Joko Tenang dan istri-istrinya, sebelum mereka memiliki sebuah kerajaan. Lawannya bukan orang jauh, yaitu Ginari yang mengangkat dirinya sebagai ratu dan membawahi Raja Kerajaan Balilitan, yang jandanya kini menjadi istri kesembilan Joko Tenang.


Pertempuran kala itu menjadi peperangan yang sulit untuk dilupakan, karena hampir saja Joko Tenang dan semua istri-istrinya gugur sebab kehebatan ilmu Roh Tujuh Langit.


Kerling Sukma memilih mencari tempat yang teduh. Ia dan rombongannya beristirahat di sebuah celah batu di kaki bukit, tetapi posisinya separuh mengitari salah satu bukit. Seorang prajurit ditugaskan menjadi pengintai di pinggang bukit, memantau jikalau sudah ada dari kelompok yang mereka tunggu tiba.


Menjelang matahari benar-benar lurus di atas kepala, prajurit yang berdiri memantau dari balik batu di pinggang bukit segera bergerak turun.


“Lapor, Gusti Permaisuri!” kata prajurit itu.


“katakan!” perintah Kerling Sukma.


“Sepertinya dua nenek pembunuh itu muncul di sini, Gusti Prabu!”


Terkejut Kerling Sukma dan ketiga Pengawal Bunga-nya mendengar laporan itu.


“Kalian tunggu di sini!” pesan Kerling Sukma kepada para prajuritnya.


Clap!


Tiba-tiba Kerling Sukma menghilang dari tempatnya. Para prajurit itu hanya bisa mendelik terkejut.


Kerling Sukma tahu-tahu muncul di balik batu di pinggang bukit. Ia langsung mengintai dan langsung bisa melihat pergerakan dua obyek putih yang cukup jauh di kaki bukit sebelah.


Obyek putih itu adalah dua orang wanita berambut putih yang artinya mereka adalah dua orang nenek. Meski tidak begitu jelas wajah tuanya, tetapi Kerling Sukma sangat yakin bahwa dua nenek itu adalah dua pembunuh yang sempat kabur, di kala satu temannya dipanggang oleh ilmu baru sang permaisuri.


“Sedang apa mereka di daerah ini?” tanya Kerling Sukma dalam hati. “Mereka berhenti.”


Kedua nenek yang memang adalah Reka Wani dan Surti itu, berhenti berteduh di bawah bayang tebing batu yang ada di kaki bukit sebelah.


Kerling Sukma lalu kembali berkelebat menuruni bukit dengan menjaga keberadaannya agar tetap terlindungi.


“Kau kembalilah naik mengintai, kabarkan jika ada yang datang lagi,” perintah Kerling Sukma kepada prajurit pengintai tadi.


“Baik, Gusti,” ucap prajurit itu, lalu menghormat dan berbalik pergi.


“Kedua nenek pembunuh itu berhenti berteduh, sepertinya mereka sama seperti kita yang sedang menunggu,” kata Kerling Sukma memberi tahu ketiga Pengawal Bunga, yakni Hantam Buta, Warok Genang dan Lintang Salaksa.

__ADS_1


Kondisi Lintang Salaksa sudah lebih baik karena mendapat pengobatan dari Kerling Sukma. Namun, luka itu masih tersisa separuh.


“Tidakkah lebih baik kita serang keduanya, Gusti?” usul Hantam Buta.


“Kita harus menunggu untuk melihat apa yang akan mereka lakukan. Mungkin mereka menunggu dua rekannya yang kakek-kakek. Kemungkinan besar mereka akan bertemu dengan kelompok kita yang lain,” kata Kerling Sukma.


Sementara itu di kaki bukit sebelah.


“Aku heran dengan Tebaklupa, kenapa dia mengusulkan pertemuan di tempat panas seperti ini?” keluh Surti.


“Aku rasa dia punya alasan, tapi hanya dia yang tahu. Dia selalu seperti itu, rahasia hanya dipendam sendiri,” kata Reka Wani pula.


“Jika bukan karena balas budi, tidak sudi aku melakukan tugas ini. Akhirnya kita kehilangan Sunik Rangkai!” tandas Surti.


“Bagaimana ratu ingusan itu bisa tahu kita memiliki sumpah setia kepada ayahnya? Padahal ayahnya saja, belum pernah melibatkan kita dalam perkara kerajaannya semenjak kejadian dua puluhan tahun yang lalu,” kata Reka Wani.


“Dugaanku, Prabu Raga Sata pernah menyebut nama kita kepada putrinya atau menceritakan kejadian itu,” kata Surti.


“Mungkin. Atau Siluman Ratu Siluman yang mengusulkan nama kita kepada Ratu Aninda.”


“Tapi waktu di Istana, kita datang bersamaan dengan Ratu Siluman.”


“Aku tidak menyangka, pendekar muda aliran putih kesaktiannya luar biasa. Jika kemarin telat sedikit saja, habis kita bertiga,” kata Reka Wani.


“Sepertinya seperti itu.”


“Ada yang datang,” kata Surti.


Keduanya memandang ke arah jalan yang diapit oleh kawasan berpohon.


“Rambut merah. Itu Nenek Rambut Merah dan Setan Ngompol!” kata Surti setelah mengenali orang yang mereka lihat.


“Cepat sembunyi!” kata Reka Wani.


“Terlambat,” kata Surti tanpa niat bergerak. “Mereka sudah melihat kita.”


Orang dalam rombongan yang mereka kenali memang Nenek Rambut Merah yang rambutnya sangat mencolok. Ia bersama Setan Ngompol, Limarsih dan sepuluh pendekar Pasukan Hantu Sanggana.


“Itu, nenek-nenek putih itu ada di sana!” tunjuk Setan Ngompol.


“Ayo kepung!” teriak Nenek Rambut Merah memberi komando.


Maka serentak ketiga belas pendekar itu melesat ke arah kaki bukit tempat Reka Wani dan Surti berada. Kecepatan lesat mereka berbeda-beda. Jelas Nenek Rambut Merah dan Setan Ngompol yang paling cepat berlari.

__ADS_1


“Apakah kita harus bertarung melawan mereka, Reka?” tanya Surti.


“Aku yakin, Tebaklupa dan Serak Buto sebentar lagi akan datang. Nenek Rambut Merah dan Setan Ngompol hanyalah pendekar tua kepengan,” kata Reka Wani.


Sementara itu di bukit sebelah, prajurit pemantau segera turun dari posisinya.


Setelah mendapat laporan dari prajuritnya, Kerling Sukma mengajak tiga Pengawal Bunga untuk naik mengintai.


Dari balik batu-batu besar di pinggang bukit, mereka memantau kondisi yang cukup jauh dari tempat mereka berada.


“Itu rombongan Nenek Rambut Merah. Mereka langsung menyerang,” kata Warok Genang.


“Bagaimana, Gusti Permaisuri?” tanya Hantam Buta yang tidak sabaran. Ia ingin turut turun pula menghajar dua nenek menjengkelkan itu.


“Kita tunggu yang lain. Sepertinya dua nenek itu yakin bisa melawan ketiga belas pendekar,” kata Kerling Sukma.


Di kaki bukit sana, akhirnya Nenek Rambut Merah dan rombongannya telah mengepung posisi nenek Reka Wani dan Surti.


“Kali ini kalian berdua tidak akan bisa lolos dari kematian!” teriak Nenek Rambut Merah marah, masih terbawa dendam.


“Di mana teman kalian yang satu lagi?” tanya Setan Ngompol.


“Menyiapkan jebakan untuk kalian semua! Hihihi!” jawab Reka Wani mencoba membangun pertarungan nyali.


“Kalian semua! Waspadai serangan membokong dan racun kedua orang ini. Mereka orang-orang licik!” teriak Nenek Rambut Merah mengingatkan kesepuluh pendekar Pasukan Hantu Sanggana.


Tiba-tiba dari arah barat muncul dua ekor kuda berlari kencang. Kuda putih dan cokelat itu ditunggangi oleh dua kakek serba putih. Mereka tidak lain adalah Tebaklupa dan Serak Buto.


“Reka Wani dikeroyok!” kata Tebaklupa terkejut ketika melihat serombongan orang di kaki bukit.


“Kenapa mereka hanya berdua?” tanya Serak Buto yang menunggang kuda cokelat, kuda hasil mencuri.


“Reka, Tebaklupa datang!” kata Surti gembira saat melihat kedatangan kedua kakek itu.


Jarak mereka masih cukup jauh.


Melihat posisi Reka Wani dan Surti yang tidak bagus, Tebaklupa dan Serak Buto memacu kudanya menuju ke arah pengepungan.


Zess! Blarr!


Sambil berkuda, Tebaklupa menusukkan tongkat pendek putihnya ke langit. Sebola kecil sinar merah melesat dari ujung tongkat itu melesat ke langit. Pada ketinggian yang melewati tinggi puncak bukit, sinar itu meledak nyaring menciptakan kembang sinar, buka kembang api.


Serak Buto, Reka Wani dan Surti tidak mengerti maksud Tebaklupa melakukan hal itu, seperti sedang memberi tanda tentang keberadaan mereka. (RH)

__ADS_1


__ADS_2