8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Darah Keras 8: Menghakimi Gulung Lidah


__ADS_3

*Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)*


Rombongan Raja Anjas Perjana Langit terus berlari kencang. Ada sebanyak 17 kuda yang berlari. Rombongan itu saat ini sedang berlari di jalan belahan hutan. Setelah keluar dari hutan, mereka mau tidak mau harus melewati sebuah kademangan.


Sebenarnya ada dua jalan yang bisa mereka lalui, tetapi petunjuk dari tim pengaman jalan yang dipimpin oleh Siluman Lidah Kelu mengarahkan mereka ke Kademangan Binowengi, kademangan paling timur yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Siluman. Petunjuk yang mereka lihat berupa pelepah daun pisang yang digantung di atas pohon lain.


Kedatangan rombongan mereka jelas menjadi sumber perhatian warga Kademangan Binowengi. Mereka harus memperlambat kecepatan kuda agar tidak mengganggu masyarakat yang cukup ramai.


Di sebuah kedai wedang jahe merah plus-plus, ada seorang lelaki gemuk berbaju putih yang langsung menengok ke arah jalan karena mendengar keramaian. Sambil meminum wedang jahenya di terik panasnya hari, ia memperhatikan rombongan pendekar berkuda itu.


“Eh, sesese… seperti Gusti Mulia Raja Anjas dan Gugugu… Gusti Ratu Sri,” ucap lelaki gemuk berbaju ketat itu. Ia tidak lain adalah Gulung Lidah alias Siluman Gagap. “Kok bisa bebebe… bersama?”


Jarak kedai dengan jalanan memang tidak begitu dekat, sehingga perlu pandangan yang fokus untuk bisa mengenali para penunggang kuda, terlebih kuda mereka berjalan agak cepat.


“Ki, bayarannya!” kata Gulung Lidah sambil melemparkan sekepeng uang. Ia lalu buru-buru pergi sambil membawa gelas minumnya.


“Eh, Kikiki… Kisanak! Gelasnya!” teriak si pemilik kedai wedang jahe terkejut karena gelasnya dibawa serta.


Gulung Lidah jadi berhenti kesal.


Glek glek glek!


Gulung Lidah meminum habis wedangnya sambil berdiri. Selanjutnya ia lempar gelasnya ke dalam kedai.


Dak!


Gelas bambu itu tepat mengenai pemilik kedai sehingga langsung tumbang karena kesadarannya melayang.


Setelahnya, Gulung Lidah segera pergi berlari ke pinggir jalan. Lemak tubuhnya sampai terguncang-guncang.


Raja Anjas sebenarnya sudah melihat pergerakan Gulung Lidah di antara keramaian warga.


“Wih, ada bibibi… bidadarinya jujuju… juga,” ucap Gulung Lidah senang ketika memandang Tembangi Mendayu. “Tapi mau kekeke… ke mana mereka?”


Putri Pelangi memajukan kudanya sehingga berlari di sisi kuda Ratu Sri Mayang Sih.


“Gusti Ratu, di antara warga di sisi kanan ada Siluman Gagap!” lapor Putri Pelangi.


“Biarkan saja, dia tanggung jawab putriku,” kata Ratu Sri Mayang Sih.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Putri Pelangi lalu kembali menempatkan kudanya agak ke belakang, berjalan bersama kuda Putri Embun.


“Kau teltangkap, Siluman Gagap!” teriak seorang wanita dengan perkataan yang cadel. Wanita berpakaian hijau gelap itu menempelkan sebilah pisau di leher Gulung Lidah dari belakang. Ia adalah Siluman Lidah Kelu, Panglima Pasukan Siluman Generasi Pertama.


“Apa yang kau lalala… lakukan, Lilili… Lidah Kelu?!” teriak Gulung Lidah tanpa berani berontak.


Keributan itu membuat Raja Anjas memutuskan berhenti dan melihat keributan yang terjadi di pinggir jalan utama kademangan.


“Kalena kau pengkhianat!” bisik Siluman Lidah Kelu.


“Kenapa kau menyergap Siluman Gagap seperti itu, Lidah Kelu?” tanya Ratu Sri Mayang Sih kepada Siluman Lidah Kelu yang muncul tiba-tiba, karena dia tidak termasuk peserta dalam rombongan.


“Dia pengkhianat, Gusti Latu! Dia mata-mata!” jawab Siluman Lidah Kelu.


Terkejut Ratu Sri Mayang Sih dan Lima Pangeran Dua Putri mendengar tudingan itu.

__ADS_1


“Apakah benar kau teliksandi kerajaan lain, Gulung Lidah?” tanya Ratu Sri Mayang Sih dengan tatapan tidak bersahabat atau berkasih.


“Bububu… bukan. Aku bukan teliksandi!” bantah Gulung Lidah.


Keributan itupun menjadi pusat perhatian warga Kadipaten Binowengi.


“Ayo jawab, kau olang kelajaan mana!” bentak Siluman Lidah Kelu sambil lebih menekankan mata pisaunya ke leher Gulung Lidah yang mulai menunjukkan wajah ngeri. Sebab lehernya mulai berdarah.


“Jajaja… jangan main-main, Lilili… Lidah Kelu!” teriak Gulung Lidah seraya mengerenyit. “Gugugu… Gusti Mulia, tototo… tolong aku!”


“Hahaha!” tawa pelan Raja Anjas tiba-tiba.


Semua jadi heran dengan tawa sang raja tampan itu.


“Gulung Lidah itu orangku,” kata Anjas akhirnya.


Terkejutlah Ratu Sri Mayang Sih, Lima Pangeran Dua Putri dan Siluman Lidah Kelu. Sementara yang lain tidak begitu mengerti konflik apa yang terjadi di antara Raja Anjas dengan orang-orang Kerajaan Siluman.


“Dia orangku yang aku tanam di Kerajaan Siluman sejak lama, sama seperti Gurudi,” ujar Anjas kepada Ratu Sri Mayang Sih.


Ratu cantik itu melirik tajam kepada calon suaminya.


“Lepaskan dia!” perintah Ratu Sri Mayang Sih kepada Siluman Lidah Kelu.


Tanpa membantah, Siluman Lidah Kelu melepaskan ancamannya terhadap leher gemuk Gulung Lidah yang sudah berkeringat.


Babak!


“Hugk!” keluh Gulung Lidah dengan tubuh yang terjengkang dan berguling dua kali, setelah tiba-tiba Ratu Sri Mayang Sih menerjangnya.


Pak! Bak!


Setelah mendapat tamparan seperti tamparan kekasih yang sakit hati, wajah Gulung Lidah disusul dengan tamparan kaki yang berkelebat cepat. Kembali Gulung Lidah terguling-guling dengan wajah yang memerah dan bibir sudah pecah berdarah.


Gulung Lidah benar-benar kelabakan. Ia kian terkejut ketika melihat tangan kanan Ratu Sri Mayang Sih bersinar merah.


“Jangan, Gusti Ratu!” teriak Gulung Lidah lancar karena saking paniknya.


Ses! Blar!


Sinar merah di tangan sang ratu melesat menyerang Lidah Gulung. Dengan gerakan terbirit-birit, Gulung Lidah menggulingkan tubuhnya di jalanan, sehingga ia terloloskan dari kematian.


“Cukup, Sayang!” seru Anjas ketika melihat calon istri ketiganya itu hendak melanjutkan menyerang Gulung Lidah.


“Iya cucucu… cukup!” kata Gulung Lidah yang mengerenyit dengan napas terengah-engah.


“Hahaha!” tawa Joko Tingkir sendirian melihat kondisi Gulung Lidah.


Ratu Sri Mayang Sih pun menahan amarahnya.


“Dia harus mati! Karena ulahnya aku jadi begini!” kecam Ratu Sri Mayang Sih.


Anjas lalu turun dari kudanya dan menghampiri calon istrinya.


“Apa kau tidak suka kondisimu sekarang sebagai calon istriku?” tanya Anjas sambil merangkul bahu Ratu Sri Mayang Sih, mencoba menenangkannya dari kemarahan.

__ADS_1


Dengan wajah merengut, Ratu Sri Mayang Sih melirik tajam kepada Anjas.


“Suka!” jawab sang ratu ketus, tapi tidak berusaha melepaskan dirinya dari rangkulan Anjas.


“Semuanya sudah berlalu. Ini bagian dari perjalanan hidup menuju kepada kondisi yang lebih bahagia. Aku yang merenggut kerajaanmu, jadi aku akan mengembalikannya kepadamu,” kata Anjas.


Ratu Sri Mayang Sih hanya mengangguk.


“Oooh, mesra sekali,” ucap Petra Kelana iri. “Kepada siapa aku harus bermesraan?”


“Kepadaku kau mau?” tanya Nenek Rambut Merah dengan lirikan seram kepada Petra Kelana.


“Hahaha!” Tertawalah Petra Kelana mendengar pertanyaan Nenek Rambut Merah, tetapi tidak membuat si nenek tersenyum sedikit pun.


“Minta ampunlah kepada calon istriku, Gulung Lidah!” perintah Anjas.


“Hah! Cacaca… calon istri?” kejut Gulung Lidah. “Bababa… bagaimana bisa, Gusti Mulia? Jejeje… jelas ini tititi… tidak mungkin!”


“Eeeh, bukannya minta ampun, malah plotes!” hardik Siluman Lidah Kelu.


“Iya, iya, iya!” teriak Gulung Lidah kesal karena mau dipukul oleh wanita cantik cadel itu.


Gulung Lidah yang masih terduduk di tanah, lalu mengesot ke depan Ratu Sri Mayang Sih dan berlutut menyembah, “Ampuni hahaha….”


“Jangan teltawa! Itu kulang ajal!” bentak Siluman Lidah Kelu.


“Hahaha… hamba tidak tertawa, Gugugu… Gusti Ratu. Hahaha… hamba hanya prajurit yang bababa….”


“Bandel! Hahaha…!” sahut Joko Tingkir di belakang, yang diikuti oleh tawa Petra Kelana, Setang Ngompol, Arya Permana, dan Lanang Jagad.


“Hei! Siapa yang belani teltawa!” teriak Siluman Lidah Kelu marah kepada para lelaki di atas kuda.


“Hahahak…!”


Tawa Petra Kelana, Joko Tingkir dan yang lainnya justru semakin menjadi.


“Aduh aduh! Bocooor!” ucap Setan Ngompol panik, karena dia tidak bisa menahan tawa dan kencingnya di celana. Ia pun ngompol di atas punggung kuda.


“Setan Ngompol pipisin kuda!” teriak Tembangi Mendayu terkejut karena melihat pergerakan medan basah pada celana Setan Ngompol.


“Hahahak…!” Semakin terbahaklah tawa Petra Kelana dan yang lainnya, termasuk Lima Pangeran Dua Putri turut tertawa.


Bakbak! Bduk!


Tiba-tiba Siluman Lidah Kelu berkelebat menerjang dada Joko Tingkir, membuat pemuda itu berheni tertawa dan jatuh terjengkang ke tanah.


“Perawan Cadel! Berani adu sakti denganku?” teriak Joko Tingkir marah sambil buru-buru bangun pasang kuda-kuda, bukan kuda-kudaan.


“Kulang ajal! Belaninya menyebutku Pelawan Cadel!” balas Siluman Lidah Kelu.


“Perawan Cadel, bukan Pelawan Cadel!” balas Joko Tingkir, bermaksud meledek.


Set!


Siluman Lidah Kelu melesatkan dua bilah pisau terbang.

__ADS_1


Pertarungan Joko Tingkir dengan Siluman Lidah Kelu terjadi. (RH)


__ADS_2