8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Perjaka 19: Tantangan untuk Raja Kawin


__ADS_3

“Bagaimana, Pendekar Raja Kawin?” tanya Joko Tenang datar kepada lelaki yang sedang dilanda kemarahan di sisi jasad istrinya yang bernama Manar.


“Hamba sangat berterima kasih kepada Gusti Prabu karena telah menyelamatkan nyawa istri hamba yang satu lagi, Gusti Prabu,” ucap Senggara Bolo. Ia lalu bersujud di lantai gazebo sebagai wujud rasa terima kasihnya.


Tindakan Senggara Bolo itu juga diikuti oleh kelima istrinya, mereka juga bersujud.


“Bangunlah!” perintah Joko Tenang.


Ketika kelima istri yang juga sedang berduka atas kematian satu madu mereka itu bangun berdiri, Senggara Bolo memilih terus bersujud. Hal itu membuat Joko Tenang dan kedua istrinya menaruh heran.


“Aku sudah memerintahkanmu untuk bangun, tapi kenapa kau tetap bersujud, Pendekar?” tanya Joko Tenang.


“Ampuni hamba, Gusti. Hamba harus berbuat lancang meski Gusti Prabu telah menolong istri hamba,” jawab Senggara Bolo masih dalam posisi bersujud.


“Katakan saja, agar kau bisa lepas beban pikiranmu!” kata Joko Tenang.


“Aku ingin melamar Gusti Ratu Lembayung sebagai istriku,” ujar Senggara Bolo.


“Hahaha!” tawa Joko Tenang di saat Ratu Lembayung Mekar dan Sandaria tersulut emosinya.


Jika tidak ada suami mereka, mungkin Ratu Lembayung Mekar dan Sandaria sudah menyerang Senggara Bolo lantaran kelancangannya yang keterlaluan.


“Aku paham, lelaki memang terkadang tidak ada puasnya. Padahal terkadang ketinggian rasa ingin memiliki tidak diiringi dengan ketinggian bukti dalam memelihara. Namun, bagaimanapun permintaanmu itu melanggar aturan kemanusiaan dan kewajaran, Pendekar. Namun, aku coba maklumi,” kata Joko Tenang tanpa sedikit pun rasa amarah yang muncul.


“Jadi Gusti Prabu menerima keinginanku?” tanya Senggara Bolo sambil mengangkat kepalanya dan menatap pemuda yang jauh lebih muda darinya itu.


“Aku tidak masalah, Pendekar,” jawab Joko Tenang.


Jawaban Joko Tenang itu mengejutkan Ratu Lembayung Mekar dan membuat Senggara Bolo tersenyum.


“Namun demikian, antara aku dan Ratu Lembayung ada ikatan saat ini. Tidak mungkin bahwa aku sendiri yang harus memutuskan ikatan itu, tapi harus kau yang memutusnya. Kau mengerti maksudku, Pendekar?” tutur Joko Tenang.


“Aku mengerti. Jika Gusti Prabu tidak mau memutuskan sendiri ikatan itu, maka aku yang bisa memutusnya, yaitu dengan cara membuat mati Gusti Prabu, sehingga ikatan itu bisa putus,” kata Senggara Bolo.


Ratu Lembayung Mekar hanya bisa terkejut, tanpa berani bersuara selagi suaminya ada di sisinya.

__ADS_1


“Benar. Namun, jika kau aku izinkan berbuat demikian, tentunya akan adil jika kau mewajarkan aku juga berbuat sama,” ujar Joko Tenang.


Mendeliklah Senggara Bolo dan kelima istrinya mendengar hal itu. Seketika itu juga, mereka bisa menerka arah maksud dari Joko Tenang. Terlihat Joko Tenang tersenyum manis.


“Aku juga ingin memperistri kelima istrimu, bagaimana?” tanya Joko Tenang.


Semakin mendeliklah Senggara Bolo dan kelima istrinya. Ratu Lembayung Mekar juga terbeliak terkejut. Hal yang sama dialami oleh Sandaria. Jika ia tidak buta, mungkin sepasang matanya juga akan melebar.


Namun, baik Ratu lembayung Mekar maupun Sandaria, mereka meyakini bahwa itu hanyalah siasat suami mereka untuk memberi pelajaran kepada Senggara Bolo yang kurang ajar.


“Agar para pejabat dan rakyat Balilitan tidak marah kepadamu, maka aku akan memberimu kesempatan untuk membunuhku secara sah dengan lewat adu sakti di alun-alun besok pagi. Bagaimana?” ujar Joko Tenang.


“Tentu, aku setuju!” jawab Senggara Bolo cepat.


“Aku perjelas. Jika besok kau bisa membunuhku, maka Ratu Lembayung Mekar boleh kau pinang. Namun, jika besok pagi kau yang mati, maka kelima istrimu menjadi milikku,” tandas Joko Tenang.


“Setuju!” tegas Senggara Bolo.


“Semua orang kerajaan yang terlibat atas kematian istrimu, hari ini juga aku pastikan mereka ditangkap,” kata Joko Tenang.


“Bangkitlah!” perintah Joko Tenang seraya tersenyum.


Senggara Bolo dan kelima istrinya pun kembali tegak dalam duduknya.


“Urusan dan niatan hamba sudah tersampaikan, Gusti Prabu. Jadi, hamba mohon izin untuk pergi mengurus jasad istri hamba,” ujar Senggara Bolo.


“Silakan,” kata Joko Tenang singkat.


Senggara Bolo lalu menjura hormat. Demikian pula dengan kelima istrinya.


“Prajurit, antar Pendekar Raja Kawin!” perintah Joko kepada prajurit yang ada.


Senggara Bolo lalu mengangkat jasad Manar dan membawanya turun dari gazebo. Kelima istrinya mengikut di belakang. Kepergian Pendekar Raja Kawin ke luar taman dikawal oleh beberapa prajurit.


Mereka langsung menuju ke tempat kereta kuda mewah beroda empat diparkir.

__ADS_1


“Kakang, lebih baik batalkan pertaruhan nyawa ini!” ujar Janila saat kereta sudah berjalan menuju gerbang Istana.


“Seorang Senggara Bolo lebih baik mati daripada harus menanggung malu,” kata Senggara Bolo teguh pendirian.


“Kesaktian Prabu Dira sangat tinggi, Kakang,” kata Janila lagi.


“Pertandingan besok pagi tidak akan terjadi,” kata Senggara Bolo.


Terkejutlah kelima istri Senggara Bolo mendengar itu.


“Bagaimana bisa, Kakang?” tanya istri yang berpakaian kuning, namanya Wuri Semai.


“Ketika aku bersujud lama, aku mengirimkan ilmu Gelombang Buruk. Nanti sore raja itu akan mati keracunan,” jelas Senggara Bolo.


Terkejutlah kelima wanita cantik tersebut.


“Prabu Dira tidak akan tahu siapa yang telah meracuninya, karena dalam rentang waktu hingga sore hari, ia pasti bertemu dengan para pejabat Istana dan lainnya,” kata Senggara Bolo.


“Tapi, bagaimana jika cara itu gagal, Kakang? Maka kemungkinan besar kita akan berpisah,” kata wanita berpakaian warna merah, namanya Naya Mawar.


“Tidak … tidak, cara itu tidak akan gagal, Sayang. Makanya aku berani menyetujui tantangan Prabu Dira. Kalian tidak usah khawatir akan kehilangan aku. Tapi … jika aku mati pun, bukankah kalian akan mendapat lelaki yang jauh lebih muda, lebih tampan, dan lebih sakti.”


“Kakang …!” ucap beberapa dari kelima istri itu dengan wajah merengut.


“Biar pun Prabu Dira lebih tampan, lebih muda, tapi urusan rasa tidak bisa bohong. Hihihi …!” kata Ginaya lalu tertawa genit. Ia istri yang berbaju warna ungu.


“Hahaha …!” tawa Senggara Bolo keras, yang diikuti oleh tawa para istrinya, kecuali Janila yang diam terlihat resah. Lalu katanya sambil membelai kepala Janila, “Kenapa kau secemas itu?”


“Manar sudah mati, Kakang. Selain perkara bahaya dengan menantang Prabu Dira, ada orang yang sedang mengincar kematian kita. Kematian Manar bukan murni karena serangan orang-orang suruhan putra Menteri Keuangan Kerajaan, tetapi ada orang lain yang menyerang Manar tanpa muncul ketika pertarungan terjadi,” tutur Janila.


“Orang lain?” sebut ulang Senggara Bolo.


“Benar. Saat kami berdua dijebak, ada wanita bercadar putih yang membantu kami, tapi dia tidak mengaku jika memiliki teman di tempat itu pada saat itu. Aku yakin ada orang lain yang menyerang Manar tanpa memunculkan dirinya,” jelas Janila lagi.


“Itu berarti ada pendekar yang menginginkan kematian kita semua, Kakang,” ucap istri berpakaian biru, ia bernama Iing Bulih.

__ADS_1


Senggara Bolo terdiam berpikir. (RH)


__ADS_2