8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
BMP 30: Pertarungan Dua Raja


__ADS_3

*Bibir Merah Pendekar (BMP)*


 


Raja Anjas Perjana Langit dan Ratu Sri Mayang Sih menghilang dari pandangan di ruangan kamar raja itu.


Prabu Raga Sata segera teringat bahwa Anjas memiliki ilmu perisai atau penabir yang bisa membuat apa yang dilindunginya tidak terlihat.


Zerss! Booom!


Prabu Raga Sata mengerahkan ilmu Tapak Hancur Dunia. Kedua telapak tangannya bersinar biru. Selanjutnya ia maju beberapa langkah dan menghentakkan kedua lengannya menghantam sesuatu di udara.


Suara hantaman tenaga sakti terdengar keras dan mengguncang ruangan itu. Namun setelahnya, Prabu Raga Sata sudah bisa melihat keberadaan Anjas Perjana dan Ratu Sri Mayang Sih. Terlihat Ratu Sri Mayang Sih hampir selesai mengenakan pakaian tanpa tertotok lagi, membuat Prabu Raga Sata semakin yakin bahwa Anjas dan Ratu berselingkuh.


“Heah!” hentak Prabu Raga Sata sambil menghentakkan kedua tangannya bergantian terus-menerus.


Set set set…!


Pong pong pong…!


Blar blar blar…!


Kedua tangan Prabu Raga Sata seolah menjadi mesin pelempar bola pingpong. Dari kedua telapak tangannya berlesatan satu demi satu bola-bola sinar putih sebesar telur ayam. Serangan beruntun itu melesat cepat menghujani Anjas Perjana dan Ratu Sri Mayang.


Dalam menghadapi serangan seperti senapan serbu tersebut, Anjas mengandalkan ilmu Ratu Menangkis Raja Menyerang, ilmu pertahanan sekaligus ilmu serangan pula. Dua puluh tiga tahun yang lalu Anjas pernah menghadapi serangan seperti ini.


Anjas dengan cepat berdiri di depan Ratu Sri Mayang Sih guna melindunginya dari tembakan sinar putih. Sementara kedua tangan Anjas bergerak cepat menangkis semua bola sinar dengan telapak tangan terbuka. Yang terjadi, semua bola sinar itu memantul balik ke arah Prabu Raga Sata.


Ledakan hebat beruntun terjadi pada tubuh Prabu Sata, membuat ia tidak banyak melesatkan bola sinar putihnya.


Namun ternyata, sejumlah ledakan itu hanya membuat Prabu Satu terjajar tiga tindak dengan kondisi pakaian mewahnya rusak parah menjadi compang-camping.


Sementara itu, Ratu Sri Mayang Sih yang berdiri di belakang punggung Anjas, jadi menatap tak berkedip kepada belakang kepala Anjas.


“Kenapa lelaki ini justru melindungiku?” tanya sang ratu dalam hati. “Tidak, dia tetap musuh dan telah melecehkanku!”


Ratu Sri Mayang Sih yang sudah dibebaskan dari totokan oleh Anjas sebelumnya, akhirnya memutuskan untuk membokong Anjas saat itu juga. Diam-diam, pada tangan kanan sang ratu muncul sebuah pisau sinar berwarna kuning.


Ratu Sri Mayang Sih cepat mengangkat tangannya yang memegang pisau sinar untuk dihujamkan ke punggung Anjas.


Namun, belum lagi pisau sinar itu ditancapkan, Anjas tiba-tiba telah melesat cepat ke depan menyerang Prabu Raga Sata. Dengan mengandalkan ilmu Tapak Hancur Dunia, Prabu Raga Sata berusaha melawan agresi Anjas.


“Kau tidak akan pernah unggul melawan Bayang-Bayang Malaikat-ku, Raga Sata!” seru Anjas berkoar.

__ADS_1


Memang, gerakan pertarungan Anjas yang menggunakan Bayang-Bayang Malaikat nyaris tidak terbaca oleh Prabu Sata.


Bubuk!


Dua tinju Anjas mendarat di perut Prabu Raga Sata, tetapi sang prabu terus melanjutkan perlawanannya setelah menahan sakit sejenak. Semua serangan Prabu Raga Sata yang mengandung maut Tapak Hancur Dunia tidak ada yang mengenai target.


Bak! Dak!


Ujung-ujungnya, satu hantaman telapak tangan Anjas pada dada Prabu Raga Sata terjadi, membuat lelaki tua itu terjajar. Seolah terjadi pada waktu yang sama, tendangan Anjas sangat kuat menampar wajah Prabu Raga Sata.


Prabu Raga Sata terpelanting keras ke lantai kamar dengan bibir yang pecah dan berdarah.


“Biar aku bantu, Kang Mas Prabu!” pekik Ratu Sri Mayang Sih sambil berkelebat memasuki pertarungan dengan langsung menyerang Anjas.


Ratu Mayang Sih menggunakan pisau sinar kuningnya untuk melukai Anjas. Namun, begitu mudahnya Anjas mengelaki semua serangan sang ratu tanpa berniat untuk menyerang balik.


Melihat tindakan istrinya, Prabu Raga Sata bukannya girang, tetapi semakin marah.


“Hentikan sandiwara kalian!” teriak Prabu Raga Sata sambil melesat masuk ke dalam pertarungan juga.


Baks!


“Hekrr!” pekik Ratu Sri Mayang Sih dengan tubuh yang terpental keras lalu menghantam dinding kamar.


Alangkah terkejutnya Ratu Sri Mayang Sih mendapat serangan maut dari suaminya. Anjas pun terkejut melihat tindakan Prabu Raga Sata yang memang sudah gelap mata.


Ratu Sri Mayang Sih kini tergeletak di lantai kamar dengan kondisi dada atas berwarna hitam dengan luka yang besar, merusak kulit dan daging. Darah hitam banyak keluar dari mulut sang ratu. Ia sulit untuk bergerak banyak. Tatapannya pun sudah menerawang, seolah sudah melihat Malaikat Maut datang.


“Suami jahat!” desis Anjas yang dilanda kemarahan melihat kejadian tersebut. Entah kenapa ia begitu marah melihat Ratu Sri Mayang Sih diperlakukan jahat seperti itu.


Anjas menyerang Prabu Raga Sata dengan kecepatan tak terlihat, sampai-sampai tidak ada jatah bagi sang prabu untuk menangkis atau mengelak.


Baks!


“Hukh!” keluh Prabu Raga Sata saat hantaman telapak tangan kanan Anjas mendarat begitu keras pada dadanya. Ia sampai terlempar ke belakang dan terjengkang keras. Sampai-sampai darah terlonjak keluar ke mulut dan sinar biru pada kedua tangannya padam.


Ketika Prabu Raga Sata kembali memusatkan pandangannya kepada musuhnya, ternyata Anjas sudah hilang. Saat ia beralih melihat tubuh istrinya, wanita itu juga menghilang tanpa bekas. Namun, Prabu Raga Sata sadar bahwa Anjas kembali menutupi dirinya dengan ilmu tabirnya.


Dengan mengerenyit menahan sakit, Prabu Raga Sata bangkit berdiri.


Dugaan Prabu Raga memang benar. Anjas memang sedang menutupi dirinya.


Anjas tahu bahwa Ratu Sri Mayang Sih dalam kondisi kritis di ambang kematian. Karenanya, dia bertindak cepat untuk memberi sang ratu pengobatan sementara guna menarik nayawanya lebih menjauhi bibir jurang kematian. Agar memiliki waktu sedikit lebih banyak untuk mengobati, Anjas memasang ilmu perisai dan tabirnya.

__ADS_1


“Kenapa… kau mengobatiku… Anjas?” tanya Ratu Sri Mayang Sih terbata-bata dengan suara yang lirih. Ia tidak mengerti Anjas yang selaku musuh tidak mau membiarkannya mati, padahal ia tidak punya utang miliaran rupiah kepada suami Ningsih Dirama itu.


“Aku yang membuatmu seperti ini, karenanya aku bertanggung jawab untuk mengembalikanmu kepada kondisi semula, meski tidak bisa mengembalikan situasinya,” jawab Anjas.


“Tapi… kita akan mati… bersama,” ucap Ratu Sri Mayang Sih sambil menatap ke arah Prabu Raga Sata.


Anjas yang sedang dalam proses menyerap racun dari dalam luka di dada Ratu dengan telapak tangannya, segera menengok.


Ilmu perisai dan tabir Anjas membuat orang di luar tidak bisa melihat keberadaan orang di dalam tabir, tetapi orang di dalam tabir bisa melihat orang yang di luarnya. Seperti saat ini, Prabu Raga Sata hanya menduga tanpa bisa melihat keberadaan Anjas dan Ratu Sri.


“Dia ingin menghancurkan semuanya!” desis Anjas terkejut.


Kini Prabu Raga Sata sedang naik melayang ke udara dan mulai mengeluarkan bola sinar merah yang besar di atas kepalanya.


Anjas pernah menghadapi ilmu dahsyat yang bernama Kiamat Pagi itu. Karenanya, sebelum Prabu Raga Sata melesatkannya, Anjas cepat ambil tindakan lebih dulu.


Press! Set!


Sebelum Prabu Raga Sata melepas sinar merah sebesar rumah sehingga nyaris menyentuh langit-langit kamarnya, Anjas dalam sekejap meninggalkan Ratu Sri Mayang Sih dengan tangan kanan dan kiri bersinar putih menyilaukan mata. Ia melesat tidak terlihat menembus lapisan tabirnya dan langsung muncul di depan perut Prabu Raga Sata yang mengambang.


Bross! Set! Bluarrr!


Prabu Raga Sata hanya bisa mendelik ketika tahu-tahu Anjas sudah ada di depannya, menghantamkan sinar putih menyilaukan dari ilmu Surya Langit Jagad ke perutnya.


Maka hancur leburlah tubuh Prabu Raga Sata saat itu juga. Pada detik yang sama, Anjas langsung melesat pulang masuk ke dalam ilmu perisainya.


“Kang Mas Prabuuu!” jerit panjang Ratu Sri Mayang Sih menyaksikan akhir dari riwayat hidup suaminya. Namun, jeritannya hanya sebatas lingkup dalam tabir, terlebih Anjas tahu-tahu sudah datang memeluk tubuhnya dengan maksud melindungi.


Di dalam posisi memeluk tubuh Sri Mayang itu, Anjas juga mengerahkan ilmu perisainya yang bernama Lapisan Pemelihara Nyawa.


Dengan hancurnya tubuh Prabu Raga Sata, bola sinar merah besar yang ada di atas bergerak jatuh ke lantai. Maka ledakan dahsyat terjadi luar biasa. Semua yang ada di kamar itu hancur musnah. Dinding kamar pun berhancuran. Ratusan prajurit yang bersiaga di luar kamar tidak luput dari kemusnahan dan kematian.


Panglima Siluman Pedang, Senopati Siluman Jarum dan perwira lainnya sontak memasang ilmu perisai. Mereka tidak menyangka akan ada ledakan dahsyat dari dalam kamar. Mereka bahkan terpental hebat menabrak barisan prajurit khusus.


“Hoekh!” Panglima Siluman Pedang muntah darah, sementara kulit wajah dan tubuhnya mengalami luka bakar yang parah.


Kondisi yang sama di alami oleh Senopati Siluman Jarum, hanya saja lukanya tidak separah Panglima Siluman Pedang.


Para prajurit yang selamat dari ledakan ilmu Kiamat Pagi segera melihat kondisi di dalam kamar. Kehancuran yang tercipta luar biasa, bahkan itu tidak bisa lagi disebut sebuah kamar. Lantai pun menjadi kubangan batu yang besar.


Namun, mereka tidak melihat keberadaan raja dan ratu mereka, juga tidak melihat keberadaan Anjas yang mereka ketahui adalah penyusup. (RH)


 

__ADS_1


__ADS_2