
*Pelabuhan Cinta Ratu (PCR)*
Ratu Sri Mayang Sih dan Lima Pangeran Dua Putri terus menggebah kencang kudanya. Sebentar lagi mereka akan tiba di Kadipaten Repakulo. Di sana mereka harus mengganti kuda.
Namun, tiba-tiba mereka harus menghentikan mendadak kudanya. Mereka terhalang oleh seseorang. Seorang lelaki yang berusia separuh abad tetapi masih terlihat gagah dan tampan. ia mengenakan pakaian hijau tua agak lusuh. Ia mengenakan caping bambu. Ia menggendong sebuah keranjang bambu yang memiliki dua tiang tinggi pada bagian kanan dan kirinya. Keranjang itu berisi caping-caping yang warnanya masih baru.
Yang membuat perjalanan Ratu Sri Mayang Sih terhambat adalah banyaknya caping bambu yang berserakan di jalan. Sementara si lelaki pengrajin caping sedang bekerja memungutinya satu demi satu.
“Kisanak! Cepatlah, kami sedang buru-buru!” seru Pangeran Botak.
“Namaku Anyam Beringin!” sahut lelaki itu tanpa memandang kepada orang yang menyerunya. Ia sibuk memungut capingnya satu demi satu.
“Jika mau lewat, lewat saja, tetapi ja….”
Kata-kata lelaki bernama Anyam Beringin jadi terputus ketika ia mendongak memandang kepada para penunggang kuda. Anyam Beringin terdiam terpukau saat melihat paras cantik Ratu Sri Mayang Sih.
“Bidadari dari negeri mimpi,” ucap Anyam Beringin terpana oleh kecantikan sang ratu.
“Kisanak! Jangan memandangi ratuku seperti itu!” hardik Putri Embun yang menangkap cara pandang yang tidak biasa dari Anyam Beringin.
“Ratu?” ucap Anyam Beringin terkejut. Buru-buru dia minta maaf, “Maafkan aku, Ratu, maafkan aku!”
Wess!
Tiba-tiba Anyam Beringin mengibaskan tangan kanannya ke arah tanah jalanan. Serangkum angin seketika membuat semua caping yang berserakan naik melayang ke udara. Tindakan pengrajin caping itu juga mengejutkan Ratu Sri Mayang Sih dan para abdinya, mereka tidak menyangka bahwa orang itu ternyata bukan orang sembarangan.
Jalanan sudah bersih dari serakan caping.
Sreet!
Caping-caping itu bergerak melayang secara teratur, lalu menumpuk dan menyangkutkan diri sendiri pada dua tiang bilah bambu yang ada pada keranjang punggung.
“Ayo lanjutkan perjalanan!” perintah Ratu Sri Mayang Sih lalu menggebah lebih dulu kudanya.
Lima Pangeran Dua Putri segera menggebah pula kuda-kudanya.
Tidak berapa lama mereka pergi, tiba-tiba….
“Gusti Ratu! Tukang caping itu mengikuti kita!” teriak Pangeran Basah.
Ratu Sri Mayang Sih dan mereka semua segera menengok ke belakang. Mereka melihat si lelaki bercaping berlari di udara mengikuti rombongan kuda mereka. Anyam Beringin berlari di udara dengan setiap langkah menginjak caping-caping yang terbang mengikuti langkah kaki. Itu jelas cara lari bagi orang berilmu tinggi.
“Apa maunya orang itu?” tanya Ratu Sri Mayang Sih lalu menarik tali kekang kudanya. Ia terpaksa kembali berhenti karena penasaran dengan perbuatan Anyam Beringin.
__ADS_1
Lima Pangeran Dua Putri juga ikut berhenti.
“Apa yang kau lakukan, Kisanak bercaping?” tanya Ratu Sri Mayang Sih.
“Hehehe!” kekeh Anyam Beringin. “Aku hanya mengikutimu, Ratu.”
“Untuk apa kau mengikutiku?” tegas Ratu Sri Mayang Sih.
“Aku hanya ingin mengikutimu karena aku jatuh hati kepadamu, Ratu,” jawab Anyam Beringin.
Mendeliklah Ratu Sri Mayang Sih dan para abdinya.
“Lancang kau, Kisanak!” hardik Pangeran Botak.
“Hal apa yang membuatku lancang? Aku mencintai keindahan yang aku jumpai. Apakah kau tidak pernah merasakan jatuh hati, Anak Muda?” tanya Anyam Beringin.
Pangeran Botak tidak bisa menjawab.
“Aku hargai perasaanmu, Kisanak, tapi jangan ikuti kami!” kata Ratu Sri Mayang Sih.
“Tidak bisa, jika aku tidak mengikutimu, aku bisa kehilangan pujaan hatiku,” kilah Anyam Beringin.
“Gusti, Ratu. Kita akan kehabisan waktu jika meladeni orang ini,” kata Putri Pelangi mengingatkan.
“Abaikan dia!” seru Ratu Sri Mayang Sih. Ia kembali melanjutkan perjalanannya.
Anyam Beringin juga melanjutkan mengikuti rombongan itu. Caping-caping ia lesatkan di udara lalu dijadikan sebagai alat berpijak. Caping yang ditingggalkan akan langsung melesat ke depan mendahului tubuh Anyam Beringin, yang kemudian kembali menjadi bahan pijakan. Demikian terus-menerus.
Sementara itu di tempat lain di pagi itu.
Di sebuah sungai, Ningsih Dirama baru saja muncul dari dalam air ke permukaan. Wanita cantik itu segera mengusap wajahnya agar bisa melihat ke sekitar.
Saat itu dia mengenakan kain kuning yang dibalut sebatas dada. Ia mencari ke sekitar, tetapi Anjas yang dicarinya tidak terlihat.
“Aak!” jerit Ningsih Dirama terkejut tiba-tiba saat merasaskan ada sesuatu yang bergerak masuk ke dalam pangkal pahanya. Ia melihat kain kuningnya mengembang oleh satu benda bulat besar muncul di dalam kainnya.
Ningsih Dirama yang kelabakan cepat sadar bahwa suaminya menyerangnya dari kedalaman air.
“Hihihi…!” tawa Ningsih Dirama kemudian, saat merasakan keasikan di dalam air. Ia hanya memeluk kepala suaminya di dalam sarung.
Anjas lalu menarik tubuh Ningsih Dirama kembali masuk ke dalam air sungai yang jernih dan segar.
Tidak berapa lama, Anjas dan Ningsih Dirama muncul ke permukaan dalam posisi wajah saling bertemu dan bibir saling mencicipi.
“Hahaha!” tawa Anjas Perjana.
__ADS_1
“Hihihi!” tawa Ningsih Dirama begitu bahagia. “Bagaimana kalau aku hamil lagi?”
“Hahaha! Tidak apa-apa, sudah lama aku tidak memiliki anak kecil,” kata Anjas sambil memeluk Ningsih Dirama dari sisi belakang. “Aku ingin punya keturunan sebanyak-banyaknya.”
“Hah!” kejut Ningsih Dirama. “Tapi usiaku sudah tidak muda lagi.”
“Hahaha, nanti aku akan membuatnya menjadi muda lagi,” kata Anjas.
“Muda seperti Ratu Sri?” terka Ningsih Dirama.
“Apakah dia terlihat lebih muda darimu?” tanya Anjas.
“Ya, dia terlihat lebih muda dan lebih cantik,” jawab Ningsih Dirama.
“Seandainya wajahmu kau letakkan pada wajah Ratu Sri, pasti kau akan lebih sering memujinya. Kecantikan Ningsih Dirama adalah kecantikan yang tidak bisa tergantikan sampai kapan pun,” ujar Anjas lalu berujung satu kecupan pada leher mulus istrinya.
Ningsih Dirama hanya tersenyum bereaksi geli.
“Kang Mas, coba kau lihat!” kata Ningsih Dirama bernada serius.
Anjas segera memandang kepada arah pandangan Ningsih Dirama. Pada akar pohon di seberang sungai, terlihat sesosok tubuh berpakaian putih. Ia tersangkut. Dari jenis pakaiannya menunjukkan bahwa tubuh itu adalah milik perempuan.
“Tolong ambilkan celanaku, Sayang!” perintah Anjas. Ia lalu meluncur berenang mendekati tubuh perempuan yang tersangkut.
Sementara Ningsih Dirama berenang ke tepi untuk mengambil celana suaminya. Saat itu, Anjas memang tidak mengenakan celana.
Saat Anjas melihat wajah perempuan itu, ia tidak lain adalah Putri Manik Sari. Bagian lehernya tampak menghitam hingga ke dagu. Baju pada bagian perutnya robek lebar, memperlihatkan kulit perutnya yang terluka hangus.
Anjas segera memeriksa tanda-tanda kehidupan pada tubuh sang putri.
“Apakah dia sudah mati, Kang Mas? Dia begitu cantik, siapa orang yang tega berbuat seperti ini kepadanya,” kata Ningsih Dirama iba. Ia bekerja sambil memakaikan celana kepada kedua kaki suaminya.
“Ayo, kita kembali. Kita masih bisa menolongnya,” kata Anjas.
Mereka pun membawa tubuh Putri Manik Sari ke seberang. Anjas menggendong tubuh gadis berusia tiga puluh tahun itu naik ke darat.
“Tirana Tirana Tirana! Anjas bawa ikan besar! Hihihi…!” teriak Gurudi saat melihat kedatangan Anjas dan Ningsih Dirama. Ia melompat-lompat di tempatnya.
Tirana, Demang Yono Sumoto dan Rumih Riya segera berdiri menyongsong kedatangan Anjas.
“Kami menemukannya di sungai. Kondisinya cukup parah,” kata Anjas lalu membawa masuk tubuh Putri Manik Sari ke dalam tenda.
“Pakaiannya seperti wanita bangsawan,” terka Tirana.
“Lukanya sudah ada sejak malam. Pertarungan mungkin membuatnya jatuh ke sungai dan hanyut,” kata Anjas.
__ADS_1
Perkara menyembuhkan luka bukanlah hal yang sulit bagi Anjas karena ia memiliki ilmu pengobatan ampuh yang bernama Serap Luka. (RH)