8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Pepes 23: Tetap pada Rencana


__ADS_3

*Perang Pendekar Sanggana (Pepes)*


Semua mata pun tertuju kepada wajah jelita Riskaya, kecuali mata Nara dan Sandaria.


“Kondisi kami saat ini sedang terpuruk. Sebagai seorang yang sakti, aku yakin Ayah sudah bisa menerka hasil dari serangan tadi malam. Aku sangat yakin, Ayah memiliki alasan yang sangat kuat sehingga menyuruh kami datang ke Sanggana Kecil. Jelas kami membutuhkan bantuan, jelas kami membutuhkan perlindungan, dan kami membutuhkan kekuatan untuk membalas apa yang kami alami. Saat ini, jelas kami tidak memiliki kekuatan untuk melawan puluhan pendekar sakti seperti pasukan siluman itu, apalagi harus melawan sebuah kerajaan. Namun, itu akan menjadi berbeda jika Keluarga Ki Rawa Banggir menjadi bagian dari Keluarga Istana Sanggana Kecil. Jika untuk mendapatkan kekuatan besar dari Sanggana Kecil aku harus menjadi istri Gusti Prabu yang keseratus, aku rela, Gusti Prabu,” ujar Riskaya.


“Jika kalian datang untuk minta perlindungan, maka kami akan memberi tempat dan pembelaan. Jika kalian meminta bantuan, akan kami berikan, kecuali bantuan untuk menyerang Kerajaan Siluman,” kata Joko Tenang.


Penolakan bantuan menyerang Kerajaan Siluman seketika memberi rasa kecewa kepada Bunga Senja dan keluarganya. Namun, untuk sementara rasa itu mereka pendam karena Joko Tenang masih bicara.


“Dan aku sangat berterima kasih kepada Riskaya karena bersedia rela menjadi istriku yang keseratus, itu artinya kau harus menunggu istriku sampai sembilan puluh sembilan,” kata Joko Tenang.


Meski serius perkataan Joko Tenang, tetapi itu membuat para istrinya tertawa di dalam hati. Namun, mereka tidak mengekspresikannya sedikit pun, kecuali Sandaria.


“Hihihi! Kakang Prabu bercanda,” kata Sandaria yang didahului tawanya. “Aku tidak tega jika kembaranku harus menunggu selama itu. Aku pilih ya, untuk kakak kembarku, Riskaya!”


“Kakang Prabu tidak minta pendapat kita!” hardik Kerling Sukma dengan berbisik kepada Sandaria.


“Tidak apa-apa. Jika Kakak Riskaya itu mirip Sandaria yang cantik imut menggemaskan ini, pasti Kakang Prabu tidak akan menolak,” kata Sandaria optimis.


“Mengambil Riskaya yang begitu cantik sebagai istriku yang kesebelas, tentu adalah hal yang membuatku menjadi lelaki yang semakin beruntung. Namun, aku harus mempertimbangkan suara-suara hati Ratu dan para permaisuriku,” kata Joko Tenang yang menolak secara halus tawaran Riskaya, agar gadis itu tidak menuai malu. “Perkara bantuan pasukan untuk menyerang Kerajaan Siluman, tetap tidak bisa aku bantu. Besok aku akan pergi ke Kerajaan Siluman, bukan untuk menyerang kerajaan itu, tetapi untuk merebut pusaka milikku. Aku pergi tanpa pasukan. Karena Ki Rawa Banggir adalah Ketua Besar Barisan Putih, perkara kematian dan pembantaian di Bukit Dalam aku serahkan kepadamu, Tetua.”


“Hah! Kok aku?” kejut Petra Kelana yang dipandang oleh Joko Tenang. Ia jadi mendadak bingung.


“Tidak aku sangka pendekar dari Lembah Seribu Bunga bisa tidak siap seperti itu,” celetuk Bidadari Wajah Kuning.

__ADS_1


“Aku lelaki yang bisa memimpin, tetapi tidak ambisi untuk memimpin. Jika dadakan seperti ini, aku terkadang hilang ingatan,” kilah Petra Kelana.


“Hihihi!” tawa Serigala Perak.


“Jika begitu, kau saja Santa Marya!” lempar Petra Kelana.


“Aku ini wanita,” kilah Serigala Perak.


“Aku juga tahu kau wanita, tua lagi!” rutuk Petra Kelana. “Ah, seperti ini saja. Karena perkara ini menyangkut Barisan Putih, lebih baik kita mengumpulkan tokoh-tokoh tua aliran putih yang sebelumnya hadir di Jurang Lolongan. Bagaimana?”


“Aku setuju,” jawab Serigala Perak.


“Aku setuju, tapi bukankan kita besok berencana berangkat menyerang Kerajaan Siluman?” kata Bidadari Wajah Kuning.


“Jika demikian, kami ikut menyerang ke Kerajaan Siluman besok!” kata Arya Mungga cepat.


“Karena kita tadi siang sudah sepakat, lebih baik Tetua merundingkan ulang dengan Ayahanda Gusti Mulia Raja Anjas dan Ratu Sri,” kata Joko Tenang.


“Baiklah, kita berunding ulang, apakah akan berangkat besok atau harus menunggu para sahabat lainnya,” kata Bidadari Wajah Kuning.


Akhirnya Joko Tenang mengundang ayahnya dan Ratu Sri Mayang Sih untuk hadir pada senja itu, termasuk para pendekar yang tadi siang ikut musyawarah.


Tidak sampai setengah jam, ruangan Aula Dewi Bunga itu menjadi lebih ramai dengan kehadiran Raja Anjas, Ratu Sri Mayang Sih, Gadis Cadar Maut, Nenek Rambut Merah, Joko Tingkir, Arya Permana, dan Lanang Jagad. Setan Ngompol yang sadar diri, memilih tidak hadir. Ia menunggu kabar saja.


Petra Kelana harus menjelaskan secara singkat apa yang terjadi terhadap Perguruan Bukit Dalam kepada Raja Anjas dan yang lainnya.

__ADS_1


“Menyerang Kerajaan Siluman adalah rencana aku dan calon istriku, Ratu Sri Mayang Sih. Jadi tidak terkait dengan Perguruan Bukit Dalam. Namun, jika pihak Perguruan Bukit Dalam ingin bergabung, silakan, dengan senang hati kami membuka diri, karena lebih banyak pendekar yang terlibat akan lebih baik. Namun, jika kalian ingin menunggu kedatangan para tetua persilatan dan berunding ulang, silakan. Namun, kami tetap akan berangkat besok pagi,” tandas Raja Anjas setelah mendengar kisah para tamunya.


“Benar, Gusti Prabu. Serangan ini harus disegerakan. Khawatir, jika telat sehari saja, Kerajaan Siluman kembali melakukan banyak pembunuhan!” kata Joko Tingkir.


“Aku akan ikut keberangkatan besok untuk menyerang Kerajaan Siluman. Aku tidak akan menunggu para Ketua Barisan Putih untuk mengambil keputusan apa pun!” tegas Riskaya.


“Benar, kami tidak mau menunggu!” timpal Badika pula.


“Sebentar!” seru Joko Tenang. “Kita berangkat ke Kerajaan Siluman akan menghadapi para pendekar sakti, karenanya kami tidak mau membawa pasukan yang hanya membahayakan mereka. Permaisuri Mata Hati, periksa tingkat kesaktian dari Keluarga Ki Rawa Banggir, siapa di antara mereka yang layak ikut menyerbu ke Kerajaan Siluman!”


“Hanya Riskaya dan Arya Mungga yang layak ikut ke Kerajaan Siluman,” jawab Nara cepat.


“Maafkan kami, jika kalian ingin ikut dalam rombonganku, maka hanya Riskaya dan Arya Mungga yang boleh ikut,” kata Anjas.


“Tidak bisa! Aku juga ingin membalas kematian ayah dan ibuku!” teriak Badika tiba-tiba sambil berdiri.


“Badika, jaga sikapmu!” hardik Bunga Senja kepada putra dari madunya yang tewas dalam serangan tadi malam.


Pemuda belia itu cepat menahan diri untuk bicara lebih. Ia kembali duduk dengan napas agak memburu.


“Baiknya seperti ini. Jika Gusti Prabu Anjas tetap akan berangkat besok, aku dan Bidadari Wajah Kuning sebagai wakil dari Barisan Putih juga akan berangkat sesuai kesepakatan tadi siang. Karena Serigala Perak tidak berangkat, jadi biarkan dia yang melakukan pertemuan dengan para pendekar Barisan Putih di sini dalam waktu tiga hari ke depan. Anggaplah Barisan Putih mendompleng kepada rombongan Prabu Anjas sebagai kelompok pertama. Kelompok kedua yang terdiri dari para pendekar tua akan menyusul kemudian. Biarkan Sunana dan Badika ikut dengan rombongan para tetua nantinya,” ujar Petra Kelana.


“Apa pun keputusan Gusti Prabu Anjas dan Gusti Prabu Dira, kami akan mengikuti dengan patuh,” kata Bunga Senja.


“Baiklah, kami akan menyediakan utusan untuk mengundang para tetua terdekat datang ke mari. Kami akan menyediakan tempat dan layanannya tanpa mencampuri kebijakan Barisan Putih. Untuk Ibu berdua, kami akan menyediakan tempat di Istana,” kata Joko Tenang.

__ADS_1


Mereka semua pun akhirnya sepakat, meski Badika dan Sunana merasa kecewa, karena harus menunda keberangkatannya ke Kerajaan Siluman. (RH)


__ADS_2