8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Perjaka 17: Kedatangan Joko dan Serigala


__ADS_3

*Pendekar Raja Kawin (Perjaka)*


Alangkah terkejutnya Komandan Gada Kalang melihat kedatangan lima serigala. Yang membuat punggawa panah itu lebih terkejut adalah keberadaan Joko Tenang, sebab ia mengenalinya sebagai Prabu Dira, suami dari Ratu Lembayung Mekar. Demikian pula para prajurit yang masih hidup.


Sandaria bersama empat serigalanya memilih berhenti mendekat. Hanya serigala berbulu abu-abu bernama Bintang yang terus maju mendekati Gada Kalang. Di punggung Bintang duduk perkasa Joko Tenang. Ia yang tadi menghadang ilmu Janila dengan ilmu Pisau Neraka.


“Siapa pemuda hebat ini?” tanya Janila dalam hati.


“Hormat hamba, Gusti Prabu!” ucap Gada Kalang sambil turun menjura hormat.


Penghormatan juga diberikan oleh para prajurit yang terluka.


Bintang akhirnya berhenti di depan Gada Kalang, berjarak sepuluh langkah.


Sementara itu, Janila yang terluka dalam, jadi terkejut saat mendengar Gada Kalang menyebut Joko Tenang sebagai raja.


“Bangunlah, Prajurit!” perintah Joko Tenang.


Gada Kalang segera bangun berdiri dengan kepala tertunduk, karena ia memendam kekhawatiran yang tinggi. Ia sadar bahwa ia dan pasukannya dalam posisi yang tidak tepat.


“Apa yang terjadi?” tanya Joko Tenang.


“Maafkan hamba, Gusti Prabu!” seru Janila menyela. Ia berjalan terhuyung untuk lebih mendekat kepada posisi serigala. “Aku adalah istri dari Pendekar Raja Kawin, tamu Gusti Ratu Lembayung, tapi aku dan saudaraku justru diserang oleh pasukan panah!”


Perkataan Janila membuat Joko Tenang kerutkan dahinya sebentar. Sementara Gada Kalang mendelik dengan wajah yang pucat dan jadi berkeringat, menunjukkan bahwa ia ketakutan.


“Apa yang ingin kau katakan, Prajurit? Kebohonganmu bisa menjadi mautmu hari ini!” tanya Joko Tenang, tetapi disertai ancaman.


“Hamba …. Hamba ditugaskan oleh Menteri Keuangan Kerajaan, Gusti Tangkut Gena untuk menjebak dan mencelakai Pendekar Raja Kawin serta keenam istrinya,” jawab Gada Kalang jujur.


“Apa alasannya? Bukankah mereka adalah tamu Ratu?” tanya Joko Tenang lagi.


“Pendekar Raja Kawin telah menghajar Agung Jarak, putra Gusti Tangkut Gena,” jawab Gada Kalang.


“Siapa pendekar berpakaian cokelat yang mati itu?” tanya Joko Tenang.


“Mereka pendekar bayaran Gusti Tangkut Gena, Gusti Prabu,” jawab Gada Kalang.


“Lalu siapa wanita bercadar tadi?” tanya Joko lagi, tapi pandangannya yang berwibawa mengarah kepada Gada Kalang dan Janila.


“Hamba tidak tahu, Gusti Prabu,” jawab Gada Kalang.


Joko Tenang menatap Janila yang mengerenyit menahan sakit, baik pada tangannya maupun pada dadanya.


“Aku juga tidak mengenalnya, Gusti,” jawab Janila. Lalu batinnya, “Apakah ini raja yang akan dibunuh oleh Kakang Senggara?”


“Nisanak, siapa namamu?” tanya Joko Tenang.

__ADS_1


“Janila.”


“Di mana suamimu?” tanya Joko lagi.


“Di Istana, bertemu dengan Gusti Ratu Lembayung,” jawab Janila.


Joko Tenang lalu memberi perintah kepada Gada Kalang, “Panggil pasukan bantuan untuk membereskan kekacauan ini. Bawa para prajurit yang terluka untuk diobati, setelah itu penjarakan semua. Dan tangkap putra Menteri Keuangan Kerajaan!”


“Baik, Gusti Prabu,” ucap Gada Kalang.


“Setelah semuanya beres, penjarakan dirimu sampai Ratu memutuskan nasibmu!” perintah Joko Tenang lagi.


Mendelik Gada Kalang mendengar perintah terakhir itu.


“Baik, Gusti Prabu,” jawab Gada Kalang akhirnya.


“Pergilah!” perintah Joko Tenang.


Maka Gada Kalang menjura hormat lalu pergi dengan langkah terpincang.


“Aku dan istriku sedang menuju ke Istana. Jika kau berkenan, naiklah ke punggung serigala. Bawa serta mayat saudaramu, Janila,” ujar Joko Tenang kepada Janila.


Cukup terkesiap Janila mendengar tawaran itu.


“Jika aku tidak ikut raja ini, mungkin aku akan kesulitan masuk ke Istana menyusul Kakang Senggara,” pikir Janila. Lalu katanya kepada Joko, “Baiklah, aku ikut, Gusti Prabu.”


“Sepertinya raja ini memiliki kesaktian yang sangat tinggi,” batin Janila sambil pergi kepada mayat Manar.


Pedang dan panah masih bersarang di tubuh Manar. Pakaian hijaunya bersimbah darah yang banyak.


“Sepertinya kau perlu bantuan terlebih dahulu, Janila,” ujar Joko Tenang lalu turun dari punggung Bintang. “Kemarikan tanganmu, biar aku obati.”


Terkejut samar Janila mendapat tawaran itu, tetapi ia mengulurkan tangan kirinya yang terpanah.


Tak!


“Ak!” pekik Janila tertahan saat anak panah pada batang tangan kirinya dipatahkan dan dicabut oleh Joko Tenang.


Darah langsung mengucur lebih deras dari lubang luka. Joko menutup luka itu dengan cengkeraman tangan kanannya. Ia langsung mengerahkan ilmu Serap Luka-nya.


Janila sempat mengerenyit sebentar, menahan rasa sakit sekaligus rasa desiran indah yang mengalir membelai ke jantung.  


“Mengapa jantungku berdebar-debar? Raja ini memiliki pesona yang begitu tinggi. Dia jauh lebih muda dan lebih tampan dari Kakang Senggara …” batin Janila sambil menatap wajah mulus Joko Tenang yang semulus wajah wanita.


Namun kemudian, Janila terkejut ketika melihat hasil pengobatan Joko Tenang.


“Bagaimana mungkin?” ucap Janilah lirih, terkejut melihat kondisi tangannya yang mulus kembali, seolah tanpa ada luka.

__ADS_1


“Naiklah!” kata Joko Tenang, membuyarkan keterkejutan Janila yang jadi bingung sepintas.


Akhirnya Janilah menuruti perintah itu, padahal Manar masih tergeletak di tanah bersimbah darah. Dengan jantung berdebar-debar karena menyimpan rasa takut, Janila menghampiri serigala bernama Belang yang sudah menurunkan tubuhnya ke tanah. Dengan gerakan perlahan ia menyentuh tengkuk Belang. Melihat Belang tidak bereaksi seperti seekor kucing rumahan, Janila pun bergerak menaiki punggungnya dengan perlahan, seperti perawan mencelupkan dirinya ke dalam bak mandi berisi air hangat.


Joko Tenang lalu mencabut pedang pada perut mayat Manar. Ia kemudian melakukan penutupan dan pengeringan luka, seolah sedang mengelas mayat. Itu bertujuan agar darah tidak terus mengalir deras. Namun untuk anak panah, Joko Tenang membiarkannya.


“Panah ini bukan dilepaskan oleh prajurit, kedalaman tusuknya lebih dalam …” pikir Joko Tenang.


Setelah itu, Joko Tenang mengangkat tubuh Manar dan meletakkan di punggung Belang, tepatnya di depan dudukan Janila.


“Terima kasih, Gusti Prabu!” ucap Janila.


“Sayang sekali wanita secantik kalian harus mati seperti ini,” ucap Joko Tenang lalu membelai kepala Belang.


Joko Tenang kembali naik ke punggung Bintang.


“Sepertinya Kakang Senggara akan membuat kesalahan besar jika berurusan dengan raja baik hati ini. Aku harus mencegahnya,” batin Janila.


Bintang bergerak berjalan. Satria yang ditunggangi Sandaria segera bergerak bergabung. Joko Tenang bersama dua wanita cantik dan lima serigala meninggalkan area kebun tersebut. Para prajurit sibuk saling membantu sambil menunggu pasukan bantuan dari Ibu Kota.


Joko Tenang pergi ke pusat Ibu Kota lalu menuju ke alun-alun. Kemunculan lima binatang besar yang dianggap buas, menciptakan kehebohan, was-was, dan rasa takjub.


“Bukankah itu Gusti Prabu?” bisik seorang pria, salah satu warga Ibu Kota.


“Benar-benar. Aku ingat sekali warna bibirnya yang merah!” jawab pria yang ditanya.


“Semoga Yang Mulia Gusti Prabu panjang umur!” teriak warga tadi lalu buru-buru maju ke pinggir jalan dan turun bersujud menghormat.


Rekannya juga ikut bersujud.


“Semoga Yang Mulia Gusti Prabu panjang umur!” teriak seorang wanita tua yang menggendong bakul sayur. Ia turun sujud bersama bakul-bakulnya. Akibatnya isi bakulnya tumpah menutupi kepalanya yang bersujud, tetapi ia membiarkannya seperti itu.


Joko Tenang dan Janila jadi tersenyum.


“Semoga Yang Mulia Gusti Prabu panjang umur!” teriak sejumlah warga bersamaan sambil turun bersujud di pinggir jalan yang akan di lalui oleh kelima serigala.


Maka terjadilah penghormatan beruntun hingga menjalar sampai ke pasar pagi di alun-alun depan gerbang Istana.


Semua warga yang ada di sisi depan, mereka segera menghentikan aktivitasnya dan memilih menunggu untuk bersujud. Terlihat, ada pula yang berlarian dari sisi belakang menuju ke depan hanya agar bisa bersujud meghormat dengan ucapan, “Semoga Yang Mulia Gusti Prabu panjang umur!”


Semua warga itu mengenali Prabu Dira karena ketika menikah dengan Ratu Lembayung, ada momen Joko Tenang diarak keliling Ibu Kota bersama sang ratu.


Sementara di tempat yang cukup jauh, wanita bercadar putih bersama seorang lelaki tua berusia separuh abad, berdiri memperhatikan rombongan serigala Joko Tenang.


“Itu Joko Tenang, murid Ki Ageng Kunsa Pari. Dia yang mengorbankan nyawanya untuk menolong nyawaku, Ayah,” kata wanita bercadar putih.


Lelaki berpakaian hitam-hitam itu hanya mengangguk. Yang unik dari lelaki itu adalah kakinya tidak menginjak tanah, tetapi melayang seperti hantu. (RH)

__ADS_1


__ADS_2