
*Misteri Kematian Pendekar (Mis Kekar)*
Gadis Cadar Maut, Tembangi Mendayu, Joko Tingkir, dan Lanang Jagad akhirnya tiba di sebuah pinggir jurang. Di bibir jurang itu tumbuh berjejer sepuluh pohon kelapa. Sementara di bawahnya ada tiga gubuk kecil. Di halaman ada sebuah meja kayu panjang. Namun, di atas dan bawah meja berantakan pecahan guci-guci tanah liat. Air juga tampak menggenang becek dan membasahi papan meja.
Aroma tuak yang tajam terserap masuk ke dalam penciuman mereka. Air itu adalah genangan tuak dari guci-guci yang pecah.
“Telah terjadi sesuatu!” kata Lanang Jagad sambil cepat melompat sebelum kuda benar-benar berhenti. Ia berlari menuju gubuk sambil berteriak, “Rara Sutri!”
Lanang Jagad bergerak masuk ke dalam gubuk pertama.
Sementara itu, seekor kuda lagi datang dan berhenti di antara mereka. Gadis Cadar Maut dan lainnya tidak mengenal pemuda tampan berpakaian bagus itu. Namun, dari panggilannya kepada Lanang Jagad saat di tengah jalan tadi, menunjukkan bahwa ia kenalan Si Tampan Sakti.
“Siapa kau, Kisanak?” tanya Gadis Cadar Maut.
“Aku Adipati Arya Permana,” jawab Arya Permana.
“Rara Sutri!” teriak Lanang Jagad lagi sambil keluar dari gubuk pertama dan masuk ke gubuk kedua.
“Adipati semuda ini?” tanya Tembangi Mendayu seraya tersenyum samar, seakan tidak percaya dengan pengakuan Arya Permana.
“Aku rasa dia menjadi adipati karena anak bangsawan, bukan karena keterampilannya,” kata Joko Tingkir yang tiba-tiba merasa memiliki saingan.
“Apa yang terjadi, Nisanak?” tanya Arya Permana kepada Gadis Cadar Maut tanpa mengindahkan perkataan Joko Tingkir dan Tembangi Mendayu.
“Kami mengejar pembunuh yang mengincar tokoh-tokoh tua sakti aliran putih,” jawab Gadis Cadar Maut.
Ketika melihat Lanang Jagad kembali, Arya Permana segera turun dan menghadang murid kakeknya itu.
“Apa yang terjadi, Lanang?” tanya Arya Permana.
“Guru sudah mati dibunuh seseorang, Arya,” jawab Lanang Jagad sedih.
“Apa?!” pekik Arya Permana terkejut bukan main. Ia merasa syok mendengar berita itu.
“Tidak ada sesiapa, Kak,” kata Lanang Jagad kepada Gadis Cadar Maut.
“Lanang!” panggil Arya Permana sambil menarik lengan Lanang Jagad, agar murid kakeknya itu fokus kepadanya. Arya yang telah menangis dengan wajah memerah bertanya, “Siapa yang membunuh kakekku, Lanang?”
“Kami tidak tahu. Kami sedang berusaha mengejarnya. Kami menduga pembunuh itu akan membunuh guru Rara Sutri juga,” kata Lanang Jagad.
“Aku juga harus ikut mengejar pembunuh Kakek!” kata Arya Permana.
__ADS_1
“Jelas ada yang datang dan menghancurkan guci-guci ini,” kata Gadis Cadar Maut yang sudah turun dari kudanya. Ia berjalan melihat-lihat area itu. “Tapi tidak ada tanda-tanda pertarungan.”
Tiba-tiba ada sesosok wanita berpakaian biru gelap berkelebat dan mendarat tidak jauh dari mereka. Ia seorang wanita muda cantik berambut panjang terurai sepunggung. Gadis berkulit putih bergincu merah muda itu berbekal gulungan cemeti warna kuning di pinggangnya. Ia adalah Rara Sutri yang berjuluk Putri Cemeti Bulan.
“Apa yang Kakang Lanang lakukan di kediamanku? Kenapa kalian menghancurkan semua guci tuak itu?” tanya Rara Sutri dengan alis bertaut tanpa senyum sambutan.
“Bukan kami yang melakukannya. Kami baru datang dan kondisinya sudah seperti ini!” sangkal Lanang Jagad, lalu cepat bertanya, “Rara, di mana gurumu?”
“Pergi,” jawab Rara Sutri, masih menaruh tatapan tanda tanya. “Ada apa? Dan siapa mereka?”
“Kami menduga gurumu sedang menjadi incaran pembunuh sakti. Jadi kami segera mengejar pembunuh itu ke sini.” Yang menjawab adalah Gadis Cadar Maut. “Siapa nama gurumu?”
“Pangeran Mabuk,” jawab Rara Sutri.
“Oh, rupanya Linglung Pitura tinggal di sini,” ucap Gadis Cadar Maut yang ternyata kenal dengan Pangeran Mabuk.
“Ke mana gurumu pergi? Kita harus memastikan dia baik-baik saja,” tanya Lanang Jagad.
“Guru pergi ke Kerajaan Sanggana Kecil untuk mengunjungi Surya. Guru sudah berangkat sehari yang lalu,” jawab Rara Sutri.
“Berarti pembunuh itu tidak menemukan gurumu dan mereka menghancurkan guci-guci itu,” kata Joko Tingkir menyimpulkan. Ia turun dari kudanya.
“Bagaimana, Kak?” tanya Tembangi Mendayu yang juga sudah turun dari kudanya.
“Aku pun akan mengejar pembunuh Guru,” kata Lanang Jagad.
“Ayo! Kita harus cepat mengejar ke arah Sanggana Kecil!” kata Joko Tingkir lalu kembali menaiki kudanya.
“Ayo, Rara! Kita harus mengejar gurumu!” kata Lanang Jagad.
“Tapi aku tidak punya kuda,” kata Rara Sutri.
“Kau adalah kekasihku, berkuda bersamaku!” kata Lanang Jagad.
“Baiklah,” kata Rara Sutri.
“Bagaimana dengan kita, Kak? Bukankah kita tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini?” tanya Tembangi Mendayu.
“Ini adalah serangan terhadap kekuatan utama aliran putih. Aku harus turut ikut dalam mencegah pembunuhan ini terus berlanjut!” jawab Gadis Cadar Maut. Ia memang memiliki rekam jejak sering turun tangan membantu memberantas orang-orang jahat yang meresahkan banyak orang.
Mereka semua lalu naik ke punggung kuda masing-masing. Khusus Rara Sutri, dia naik ke belakang punggung Lanang Jagad. Meski dalam kondisi berduka, pemuda itu merasa sedikit terhibur hatinya.
__ADS_1
Mereka berenam pun pergi mengejar kepergian Pangeran Mabuk yang sudah lama. Perjalanan mereka kembali melewati Kadipaten Surosoh. Ketika rombongan bertemu dengan Bukira, Arya Permana meminta kuda pengawalnya untuk diberikan kepada Rara Sutri. Maka perjalanan mereka pun bisa lebih cepat.
Namun kali ini, lari kuda mereka tidak secepat tadi, sebab belum ada kepastian. Mereka hanya bisa melakukan penyisiran di jalan.
“Rara! Gurumu berjalan kaki atau mengendarai kuda?” tanya Joko Tingkir sambil terus memacu kudanya.
“Jalan kaki,” jawab Rara Sutri.
“Berarti kita masih bisa mengejarnya,” kata Joko Tingkir. Lalu sambil tersenyum ia memuji, “Kau cantik sekali!”
Rara Sutri hanya tersenyum mendengar pujian itu.
“Apa yang kau katakana, Tingkir?” tanya Lanang Jagad yang mendengar samar-samar pujian Joko Tingkir, tetapi tidak begitu jelas. Namun, senyum Joko Tingkir dan senyum reaksi Rara Sutri membuatnya curiga.
“Tidak apa-apa, hanya nasi basi!” sahut Joko Tingkir sambil tersenyum kuda.
“Kakak! Apakah kita akan mengejar sampai Kerajaan Sanggana Kecil, jika di jalan kita tidak menemukan Pangeran Mabuk?” tanya Tembangi Mendayu agak berteriak, sambil terus memacu kudanya di sisi kuda kakaknya.
“Iya. Kenapa?” jawab Gadis Cadar Maut, lalu langsung balik bertanya.
“Aku belum lama ini bermasalah dengan orang-orang Kerajaan Sanggana Kecil!” kata Tembangi Mendayu jujur.
“Kenapa? Kau berbuat jahat?”
“Tidak. Tapi apakah Kakak tahu siapa raja kerajaan itu?” tanya Tembangi.
“Tidak. Aku baru kali ini mendengar ada kerajaan yang bernama Sanggana Kecil,” jawab Gadis Cadar Maut.
“Rajanya adalah Joko Tenang!”
“Apa?!” kejut Gadis Cadar Maut. “Bukankah kau sangat mencintainya? Sampai kau memilih tidak memiliki kekasih sampai sekarang demi menunggunya. Apakah dia sudah memiliki ratu?”
“Bukan hanya sudah, tetapi istrinya ada delapan orang!”
“Apa?!” kejut Gadis Cadar Maut. “Bagaimana bisa itu terjadi?”
“Jika Kakak datang ke Kerajaan Sanggana Kecil, Kakak bisa tanya langsung kepada Joko Tenang tukang kawin itu!” kata Tembangi Mendayu dengan wajah berubah cemberut.
“Jika tidak dapat Joko yang itu, kau bisa dapat Joko yang ini!” kata Gadis Cadar Maut bermaksud menggoda adiknya.
“Joko yang ini lebih kurang ajar orangnya!” kata Tembangi Mendayu.
__ADS_1
“Hihihi!” tawa Gadis Cadar Maut. (RH)