
*Dewi Bunga Kedelapan (De Bude)*
Tanpa kehadiran, Permaisuri Nara, Prabu Dira Pratakarsa Diwana dan para istrinya mengadakan pertemuan khusus dengan Tiga Malaikat Kipas, Ki Ageng Kunsa Pari, Ki Sombajolo, Pendekar Seribu Tapak, Serigala Perak, dan Nenek Tongkat Lentur. Sementara Dewi Ara sedang mendapat pengobatan serius, terutama kedua matanya yang terancam buta.
Untuk rombongan para tetua, juru bicaranya adalah Pendekar Seribu Tapak selaku Ketua Barat Barisan Putih.
“Sebenarnya kami sudah mengusulkan agar Kerajaan Sanggana Kecil dilibatkan dalam persatuan Barisan Putih, tetapi suara penolakan lebih banyak. Bahkan suara Guru Tiga Malaikat Kipas pun kurang disetujui,” ujar Pendekar Seribu Tapak.
“Apakah karena Dewi Geger Jagad?” terka Joko Tenang.
“Benar,” jawab Pendekar Seribu Tapak. “Bahkan Serigala Perak pun tidak setuju jika Dewi Geger Jagad menjadi bagian keluarga Sanggana Kecil.”
“Jelas aku tidak setuju jika Dewi Geger Jagad harus berbagi cinta dan suami dengan cucuku!” tandas Serigala Perak.
“Kau harus berpikir sehat, Santa Marya!” sahut Emping Panaswati. “Jika harus ada yang disingkirkan, posisi cucumu lebih lemah karena Dewi Geger Jagad sudah berbuah anak, sedangkan cucumu belum!”
“Heh! Jangan ikut campur, Emping!” hardik Serigala Perak.
“Tenang saja, Nek. Nanti aku akan atur, saat aku memberi anak, aku beri dua sekaligus!” sahut Sandaria dengan wajah merengut menggemaskan.
Para permaisuri yang lain hanya tersenyum mendengar pembelaan Sandaria.
“Aku akan memimpin sendiri kekuatan yang kami miliki dan melakukan apa yang harus kami lakukan,” tandas Joko Tenang.
“Barisan Putih akan mengumpulkan kekuatan aliran putih untuk menyerang Kerajaan Siluman. Siasat terbuka yang dipertunjukkan oleh orang-orang Kerajaan Siluman jelas sudah sangat meresahkan. Meski Kerajaan Sanggana Kecil tidak diikutsertakan, aku harap Gusti Prabu bisa membantu juga,” kata Pendekar Seribu Tapak.
“Selagi aliran putih masih bisa mengatasi permasalahannya, tentu kami harus tahu diri. Namun, aku memiliki urusan sendiri dengan Putri Dua Matahari adik tiriku. Aku akan berhenti berurusan dengan adikku jika Tongkat Jengkal Dewa sudah ada di tanganku,” kata Joko Tenang.
“Benar itu, Gusti Prabu. Kau harus mengambil pusaka yang menjadi hakmu itu. Peduli apa dengan para ketua!” sahut Emping Panaswati.
__ADS_1
“Kenapa kau berkata seperti itu, Emping? Aku juga ketua!” kata Pendekar Seribu Tapak.
“Aku kesal, Joko Tenang itu cicitku, tetapi mereka mengabaikannya,” kilah Emping Panaswati. Lalu dia berbicara sendiri seperti artis sinetron dengan suara yang lebih lirih, “Pantaskah disebut persatuan sedangkan pada saat yang sama mengabaikan kekuatan besar yang lain? Aku curiga, Ganesa Putih pasti takut jika pamornya kalah dari pendekar ingusan.”
Joko Tenang hanya tersenyum mendengar ceracauan nenek buyutnya.
“Sanggana Kecil sebagai sebuah kekuatan, akan selalu terbuka untuk memberi bantuan dan perlindungan bagi mereka yang memintanya. Tentunya berdasarkan hukum Sanggana Kecil,” kata Joko Tenang.
“Selain urusan dengan Kerajaan Siluman, ada satu hal lagi yang menjadi perhatian utama dari Barisan Putih, yaitu mengenai ancaman nyata dari Negeri Tanduk. Hal ini lebih bagusnya disampaikan oleh Guru Kipas Putih,” kata Pendekar Seribu Tapak.
“Ehhem!” dehem Ewit Kurnawa sebelum mulai menjelaskan tentang Negeri Tanduk yang mengancam.
Ewit Kurnawa pun menjelaskan tentang Negeri Tanduk sebagaimana yang telah ia paparkan dalam pertemuan di Jurang Lolongan.
“Namun, yang menjadikan ancaman ini menjadi lebih berbahaya adalah raja baru Negeri Tanduk yang dalam beberapa purnama lagi akan naik tahta. Dia adalah Punggawa Samudera dan Langit, cicit dari Resi Jiwa Putih….”
“Cicit Resi Jiwa Putih?” ucap ulang Joko Tenang terkejut. “Aku tidak pernah tahu tentang Resi Putih Jiwa memiliki keturunan.”
“Maafkan aku, Guru Putih. Maksud Guru Putih, jika Tanah Jawi berhadapan dengan Negeri Tanduk, kemungkinan besar kita akan berhadapan dengan Hewan Alam Kahyangan? Dan hanya aku orang di Tanah Jawi yang memiliki Hewan Alam Kahyangan?” terka Joko Tenang memotong penjelasan gurunya.
“Terkaanmu ada benarnya dan ada salahnya,” kata Ewit Kurnia.
“Dasar murid tidak sabaran!” rutuk Minati Sekar Arum. “Ini pasti pengaruh beristri banyak!”
“Hahaha…!” tawa terbahak Ewit Kurnawa dan Iblis Timur mendengar perkataan Minati.
Joko Tenang hanya tersenyum, sementara Ratu dan para permaisuri saling tersenyum malu.
“Yang jadi masalah, dua ekor kura-kura Alam Kahyangan itu jantan dan betina, bisa beranak pinak. Kau bisa bayangkan jika kura-kura itu bertelur banyak!” jelas Minati Sekar Arum.
“Pasukan kura-kura Hewan Alam Kahyangan!” terka Ratu Getara Cinta.
__ADS_1
“Pintar!” teriak Iblis Timur. Lalu katanya lagi, “Adalah salah jika hanya Joko Tenang yang memiliki Hewan Alam Kahyangan. Di ujung timur Tanah Jawi masih ada seorang pendekar wanita yang memiliki Hewan Alam Kahyangan, namanya Alma Fatara, berjuluk Dewi Dua Gigi.”
“Oh,” desah Joko Tenang.
“Hahaha…!” tawa Ewit Kurnawa tiba-tiba tanpa bahan yang lucu.
“Kenapa kau menertawakanku, Gendut?!” hardik Iblis Timur.
“Aku tidak menertawakanmu, Iblis!” sentak Ewit Kurnawa pula dengan tawa yang masih tersisa. “Aku selalu tertawa jika mengingat senyum manis Alma. Hahaha!”
“Hahaha!” Iblis Timur dan Minati Sekar Arum akhirnya turut tertawa.
Hanya mereka bertiga yang mengenal pendekar wanita bernama Alma Fatara itu, jadi haya mereka bertigalah yang tertawa. Sementara yang lainnya hanya tersenyum untuk mengimbangi ketiga guru dari guru itu.
“Berhenti, Guru!” kata Joko Tenang ketika ia merasa ada yang aneh dari apa yang diingatnya.
“Kenapa, kenapa?” tanya Ewit Kurnawa sambil menengok ke kanan dan ke kiri, memandangi mereka yang hadir di ruangan itu.
“Ada yang aku herankan, kenapa nama Alma Fatara memiliki kesamaan nama dengan telaga di belakang Istana, yaitu Fatara?” tanya Joko Tenang.
“Hah!” Kini Tiga Malaikat Kipas yang terdiam terkejut. Sejenak mereka bertiga saling pandang, seolah bertanya siapa yang bisa menjawab.
“Seingatku, fatara itu nama seekor ikan legenda. Jenis ikan yang disukai oleh para pelaut, tapi juga membuat mereka takut. Konon ceritanya, ikan fatara wujudnya wanita cantik jelita, tetapi ujung kakinya dari betis sampai jari kaki adalah ekor ikan berwarna jingga. Ikan fatara tidak boleh dibuat marah, jika marah akan berubah menjadi makhluk berbahaya. Itu yang aku tahu tentang nama fatara,” tutur Minati Sekar Arum.
“Iya, iya, benar. Setahuku itu nama ikan zaman dahulu. Tapi aku tidak tahu kenapa nama asli Dewi Dua Gigi memakai Fatara. Apakah kalian ada yang tahu kenapa telaga di belakang Istana bernama Fatara?” kata Ewit Kurnawa.
“Tidak,” jawab Joko Tenang. “Permaisuri Penjaga, panggilkan Senopati Batik Mida ke mari!”
“Maafkan, Kakang Prabu. Senopati sedang izin libur selama dua pekan. Ia dan Dewi Bayang Kematian sedang pulang ke Kerajaan Sanggana untuk bertemu keluarga Senopati,” kata Tirana.
“Oh, tidak mengapa. Mungkin nanti ketika dia pulang, aku bisa menanyakan rasa malam pertamanya,” kata Joko Tenang.
__ADS_1
“Hihihi…!” tawa Ratu Getara Cinta bersama permaisuri lainnya cukup panjang, karena mereka membayangkan Senopati Batik Mida yang kewalahan dalam pertarungan terhebatnya bersama Dewi Bayang Kematian. (RH)