8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Perjaka 25: Bawa Pulang Tiga Istri


__ADS_3

*Pendekar Raja Kawin (Perjaka)*


 


Dipergokinya Orang Sakti Benci Bumi dan putrinya yang bernama Kembang Buangi oleh Permaisuri Serigala, membuat keduanya dihadapkan kepada Joko Tenang.


Joko Tenang tertawa senang ketika Kembang Buangi membuka cadar putihnya di depannya. Seperti seorang pengantin perempuan membuka cadarnya untuk sang suami. Joko Tenang pun mengundang ayah dan anak itu untuk minum wedang jahe merah di Istana.


“Bagaimana kabarmu, Kembang?” tanya Joko Tenang seraya tersenyum manis kepada gadis cantik berkulit halus seperti bayi itu.


“Kakak Kembang Buangi dalam kondisi terluka, Kakang Prabu. Meski lukanya tidak seburuk ayahnya.” Yang menjawab justru Sandaria.


“Oh ya? Kau memilih aku yang mengobati atau tabib kerajaan?” tanya Joko Tenang menawarkan.


“Kau sudah bisa mengobati wanita, Joko?” tanya Kembang Buangi sambil tersenyum. Ia sangat ingat ketika mereka pertama bertemu beberapa bulan yang lalu, Joko Tenang suka main kabur-kaburan ketika ia dekati.


“Hahaha!” tawa Joko Tenang. “Aku sekarang adalah seorang penakluk wanita ….”


“Dan dewa kawin. Hihihi …!” celetuk Sandaria lalu tertawa yang disusuli oleh tawa mereka bersama.


“Ratu Lembayung Mekar adalah istriku yang ke sepuluh,” kata Joko Tenang.


“Apa?!” pekik Kembang Buangi. “Hanya dalam beberapa purnama saja kau sudah beristri sepuluh, Joko? Sesukses itukah Tirana mencarikanmu istri yang banyak?”


“Hahaha …!” tawa Joko Tenang terbahak melihat reaksi Kembang Buangi.


“Apakah Kakak Kembang mau ikut juga? Hihihi!” tanya Sandaria sambil tertawa cekikikan.


“Tidak, terima kasih, Gusti Permaisuri. Aku sudah memiliki kekasih,” jawab Kembang Buangi.


“Oh ya, di mana Hujabayat?” tanya Joko Tenang.


“Kakang Hujabayat sedang pulang ke kediaman gurunya,” jawab Kembang Buangi.


“Nyi Lampingiwa dan Ki Ranggasewa sudah kehilangan seluruh kesaktiannya karena ulah Mega Kencani. Mungkin Hujabayat akan cukup lama di kediamannya,” ujar Joko Tenang.


“Apa?!” kejut Kembang Buangi dan Orang Sakti Benci Bumi.

__ADS_1


“Bagaimana bisa?” tanya Orang Sakti Benci Bumi.


“Ki Ranggasewa memiliki Keris Serap Sakti, yang kemudian dicuri oleh murid durhakanya yang bernama Mega Kencani. Maka bencana itu bisa terjadi,” jelas Joko Tenang. “Lalu apa masalah kalian dengan Pendekar Raja Kawin?”


“Pendekar Raja Kawin adalah pembunuh istriku dan ibu Kembang Buangi,” jawab Orang Sakti Benci Bumi.


“Kau ingat dengan Demang Rubagaya yang membayar Nenek Kerdil Raga, yang membuat kami harus ditolong dengan Arak Kahyangan?” tanya Kembang Buangi kepada Joko Tenang.


“Ya, aku ingat.”


“Pendekar Raja Kawin dan Demang Rubagaya adalah dua orang yang membunuh ibuku,” ungkap Kembang Buangi.


“Dan kalian juga yang membunuh kedua istri Pendekar Raja Kawin kemarin?” terka Joko Tenang.


“Benar, Joko.”


“Tetua, apakah kau mengenal Nenek Peti Terbang?” tanya Joko Tenang.


“Sangat kenal,” jawab Orang Sakti Benci Bumi.


“Sekarang dia adalah buruan nomor satu. Jika kau bertemu dengannya dan bisa meringkusnya, maka bawalah ke Kerajaan Sanggana Kecil di Gunung Prabu,” kata Joko Tenang.


Pengawal pribadi Ratu Lembayung Mekar datang menghadap, tapi kepada Joko Tenang.


“Ketiga janda Pendekar Raja Kawin sudah hadir, Gusti Prabu!” lapor pengawal wanita itu.


“Bawa masuk saja!” perintah Joko Tenang.


“Baik, Gusti Prabu.”


Pengawal itu lalu menghormat dan berbalik pergi. Tidak berapa lama, dari luar pintu ia kembali masuk, tetapi kali ini ada tiga wanita cantik di belakangnya yang mengikuti. Ketiganya tidak lain adalah Janila, Wuri Semai dan Iing Bulih.


Ketiganya terlihat terkejut ketika melihat keberadaan Orang Sakti Benci Bumi dan Kembang Buangi. Dendam terpancar dari sorot mata mereka bertiga. Hal itu bisa ditangkap oleh Joko Tenang dan kedua istrinya, termasuk oleh kedua tamunya.


“Hormat sembah kami, Gusti Prabu, Gusti Ratu!” ucap Janila dan kedua madunya seraya turun bersujud.


“Bangunlah, wahai wanita-wanita cantik!” ucap Joko Tenang dengan menyelipkan pujian kepada ketiganya.

__ADS_1


“Terima kasih, Gusti Prabu,” ucap Janila seorang diri, lalu mereka bertiga bangun dan tetap duduk bersimpuh.


“Aku tahu kalian terkejut melihat kedua tamuku. Aku dan mereka dekat, tetapi aku baru tahu cerita tentang perseteruan kalian. Namun, justru di sinilah aku memerintahkan kalian untuk melupakan dendam yang masih ada,” ujar Joko Tenang.


“Aku dan ayahku menganggap dendam ini selesai. Kematian Pendekar Raja Kawin adalah pengakhirnya,” kata Kembang Buangi.


Janila, Wuri Semai dan Iing Bulih hanya diam, tapi tetap menatap tajam kepada Kembang Buangi dan ayahnya.


“Janila, Wuri Semai, dan Iing Bulih. Kalian bertiga kini adalah milikku, tapi aku tidak akan menjadikan kalian budak. Kalian tetap sebagai seorang wanita dan kini berada di dalam perlindunganku. Hari ini, kalian akan ikut denganku pulang ke Kerajaan Sanggana Kecil untuk menjalani hidup baru,” ujar Joko Tenang.


“Baik, Gusti Prabu,” ucap Janila patuh.


“Bagaimana kondisi hati mereka, Permaisuri Serigala? Apakah mereka memiliki niatan untuk membunuhku?” tanya Joko Tenang.


Pertanyaan Joko Tenang kepada Sandaria itu membuat Janila dan kedua saudaranya mendelik terkejut. Bagaimana jika Permaisuri buta itu memutuskan bahwa mereka bertiga memiliki niat membunuh Joko? Padahal mereka tidak memiliki niat itu.


Sebenarnya, kesaktian Sandaria tidak sampai pada tahap bisa mendeteksi niat jahat di hati seseorang, tidak seperti kesaktian Dewi Mata Hati. Namun, itu bagian dari drama akal-akalan yang Joko Tenang ciptakan.


“Di hati mereka masih menyimpan rasa dendam, Kakang Prabu,” kata Sandaria dingin, membuat ketiga wanita yang bersimpuh itu kembali terbeliak. “Namun, dendam itu bukan untuk Kakang Prabu, tetapi untuk Tetua Orang Sakti Benci Bumi dan Kakak Kembang Buangi.”


“Baiklah. Aku berharap ini adalah pertemuan terakhir kalian, agar di kemudian hari dendam yang tertahan tidak ditagih kembali!” tandas Joko Tenang.


“Baik, Gusti Prabu,” ucap Janila patuh.


“Aku berharap Tetua bisa membantu ratuku dalam membantu kekuatan pesisir untuk menghadapi peperangan pantai di masa depan,” kata Joko Tenang kepada Orang Sakti Benci Bumi.


“Peperangan apa yang Gusti Prabu maksud?” tanya Orang Sakti Benci Bumi.


“Nanti biarkan ratuku yang menjelaskan, terlebih kediaman Tetua tidak begitu jauh dari pantai,” kata Joko Tenang.


“Baik,” ucap Orang Sakti Benci Bumi yang ternyata bisa duduk menempel di kursi, meski kakinya tetap tidak menyentuh lantai.


Akhirnya, Joko Tenang pulang meninggalkan kerajaan istrinya. Joko Tenang pulang dengan menunggangi Bintang, Sandaria tetap menunggangi Satria.


Tiga wanita yang Joko Tenang bawa pulang juga diberi tunggangan serigala. Mereka bertiga tidak terlihat seperti tawanan, tetapi seperti wanita milik Joko Tenang.


Karena perjalanan menggunakan jasa para serigala, jadi membutuhkan waktu dua hari perjalanan. Terkadang Sandaria memilih bermanja ria dengan pindah tunggangan ke Bintang. Binatang itu hanya bisa menggerutu dalam hatinya melihat tingkah majikannya, membuat dirinya harus menahan beban lebih, sementara Satria bersorak girang dan menertawakan nasib Bintang.

__ADS_1


Selama perjalanan, Joko Tenang bersikap lembut dan sopan kepada Janila dan dua lainnya. Hal itu membuat ketiganya cepat mengubah penilaiannya terhadap Joko Tenang.


“Ternyata Gusti Prabu benar-benar lelaki yang baik dan lembut kepada wanita,” batin Janila. “Mungkin aku tidak akan menyesal jikapun Gusti Prabu menjadikanku selirnya.” (RH)


__ADS_2