8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Pepes 16: Permintaan Berat Ratu Sri


__ADS_3

*Perang Pendekar Sanggana (Pepes)*


 


Kopi hitam pahit yang diseduh sendiri oleh Ratu Sri Mayang Sih menjadi suguhan spesial bagi Raja Anjas Perjana Langit. Dalam penerangan temaram dian di beberapa sudut, Anjas hanya berdua di dalam kamar yang beraroma harum itu, kecuali memang ada setan di antara mereka sebagai orang ketiga.


Namun sepertinya, setan yang ditugaskan menggoda pasangan matang dan lagi manis-manisnya itu, tidak akan betah karena si setan masih jomblo sejati.


Saat Ratu Sri Mayang Sih menyodorkan cangkir kopinya di atas meja, kedua tangan Anjas datang menyambut memegang kedua tangan calon istrinya yang putih lembut. Ia tersenyum menatap wajah cantik sang ratu yang jadi tersipu malu. Seolah pengalaman cinta wanita itu di masa lalu dengan Prabu Raga Sata telah hangus terlupakan.


Ratu Sri Mayang Sih lalu duduk tidak jauh dari Anjas, sehingga jika lelaki beristri dua itu berniat menjangkaunya, akan mudah. Kata lainnya adalah bahwa Ratu Sri Mayang memberi calon suaminya itu kemudahan jika mau minta lebih.


“Aku sudah mengerahkan pasukanku untuk membangun sebuah istana untukmu di sebuah tempat yang memiliki pemandangan indah. Akan aku kerahkan tenaga yang banyak agar kita cepat menikah, agar kecantikanmu bisa terpelihara dan tidak tercecer ke mana-mana,” ujar Anjas penuh antusias.


“Hihihi!” tawa Ratu Sri Mayang Sih mendengar pujian Anjas. Namun, kemudian katanya, “Batalkan pembangunan itu. Aku punya permintaan baru yang mungkin lebih berat.”


“Oh. Permintaan apa, Sayangku? Asalkan jangan memintaku untuk memindahkan gunung atau menguras air lautan,” kata Anjas, tetap memberikan senyum manisnya kepada sang pujaan hati barunya.


Lagi-lagi Ratu Sri Mayang Sih tertawa kecil mendengar kata-kata Anjas yang pandai berkelakar.


“Aku menginginkan kembali tahta Kerajaan Siluman. Cukup kerajaan itu yang kau berikan kepadaku, Raja Anjas,” kata Ratu Sri Mayang Sih.


“Hmm,” gumam Anjas, lalu terdiam seolah sedang berpikir.


“Bagaimana, calon suamiku?” tanya Ratu Sri Mayang Sih.


“Tidak masalah,” jawab Anjas tanpa ragu, meski di dalam otaknya sedang memikirkan apa yang akan terjadi jika dia menyerang Kerajaan Siluman.


“Karena kau yang aku minta menyerang Kerajaan Siluman, maka harus mengerahkan pasukan Kerajaan Sanggana, bukan Kerajaan Sanggana Kecil,” kata Ratu Sri Mayang Sih.


“Tidak,” kata Anjas singkat. Jari tangannya masih mengelus-elus punggung tangan sang ratu.


Elusan itu sebenarnya membangkitkan gelora asmara sang ratu, tetapi rasa itu ia pendam untuk menjaga maruahnya.


“Kenapa tidak?” tanya Ratu Sri Mayang Sih serius.


“Kerajaan Sanggana tidak boleh berurusan dengan kerajaan lain di luar Hutan Urat Dewa. Jika aku menginginkan merebut tahta Kerajaan Siluman, aku akan menyerang bukan sebagai Raja Sanggana, tetapi hanya sebatas Anjas Perjana Langit,” tandas Anjas.


“Kerajaan Siluman saat ini dipegang oleh anak dari istrimu, Ratu Aninda Serunai. Dia kini menjadi orang sakti tanpa tanding karena memiliki Tongkat Jengkal Dewa. Kaupun tidak akan bisa mengalahkannya,” kata Ratu Sri Mayang Sih.

__ADS_1


“Jika aku saja tidak bisa mengalahkan anak istriku itu, berarti prajuritku pun tidak akan bisa merebut tahta itu,” kata Anjas. “Jika seperti ini kondisinya, permintaanmu ini aku akui sangat berat, Sayang.”


“Aku dan putriku tetap menginginkan Kerajaan Siluman. Selama itu tidak terjadi, aku tidak akan menikah denganmu, Raja Anjas,” tandas Ratu Sri Mayang Sih.


“Baik, baik, Sayangku,” kata Anjas. Ia lalu meraih bahu sang ratu dan menariknya dengan lembut, mengajak calon istrinya agar bersandar pada dada dan pelukannya.


Ratu Sri Mayang Sih menggeser duduknya lebih merapat, agar sandarannya lebih nyaman dan mesra.


“Akan aku pikirkan cara terbaik untuk merebut tahta Kerajaan Siluman untukmu, Sayang,” kata Anjas berbisik, lalu mengecup kepala sang ratu yang berbau harum karena setiap mandi selalu memakai sampo.


“Di mana kau akan tidur?” tanya Ratu Sri Mayang Sih, merasa nyaman dalam pelukan Anjas.


“Aku tidak akan tidur bersamamu sebelum kita menikah. Aku akan tidur bersama istriku,” jawab Anjas jujur.


Ada rasa kecewa yang lahir di dalam hati Ratu Sri Mayang Sih mendengar jawaban itu. Ia memang tidak bisa memaksa. Namun, jika Anjas berani tidur di kamar itu bersamanya, ia pun tidak akan menolak karena Anjas sudah pernah melihat semua privasinya.


“Apakah kau menceritakan tentang aku kepada ratumu di Sanggana sana?” tanya Ratu Sri Mayang Sih.


“Iya,” jawab Anjas singkat.


“Apa reaksinya?” tanya sang ratu lagi.


“Lalu?”


“Aku membujuk dan membuatnya bahagia dengan berkuda sebanyak lima puluh kali,” jawab Anjas lagi.


“Apa?” pekik Ratu Sri Mayang Sih terkejut. Ia sampai menegakkan tubuhnya, lepas dari sandaran mesranya. Ia menengok memandang serius kepada wajah Anjas. “Lima puluh kali dalam semalam?”


“Hahaha…!” tawa Anjas keras dan panjang, membuat sang ratu jadi cemberut karena pertanyaannya justru ditertawakan. “Dalam lima hari lima malam. Apakah kau juga menginginkan yang seperti itu?”


“Jika kau sanggup lima puluh kali dalam sehari semalam, mungkin aku mau langsung menikah tanpa syarat. Hihihi…!” kata Ratu Sri Mayang Sih, lalu tertawa malu sendiri.


“Hahaha…!” Anjas kian tertawa sambil menarik tubuh Ratu Sri Mayang Sih ke dalam pelukannya. Sambil memeluk dari belakang dengan agak kencang, ia mengecup pipi sang ratu dari belakang.


Perlakuan Anjas itu benar-benar memancing gairah Ratu Sri Mayang Sih, tetapi dia tetap harus pasrah menahan.


“Apakah Anjas tidak merasakan ***** ingin bercumbu? Kenapa dia bisa betah menahan-nahan godaan asmara ini?” ucap batin Ratu Sri Mayang Sih. Namun kemudian tanyanya kepada Anjas, “Apakah kau sudah menemui Ningsih sebelum ke mari, Raja Anjas?”


“Belum. Aku ingin membuktikan bahwa aku serius mencintaimu,” jawab Anjas.

__ADS_1


“Sejak kapan kau serius mencintaiku?” tanya Ratu Sri Mayang Sih lagi.


“Kau mau jawaban yang jujur atau dusta?” tanya balik Anjas.


“Pastinya yang jujur,” jawab sang ratu seraya tersenyum yang tidak dilihat oleh Anjas.


“Aku mencintaimu sejak peristiwa di kamar mandimu di Istana Siluman,” jawab Anjas.


“Bohong,” tukas Ratu Sri Mayang Sih pelan. “Bagaimana bisa kau jatuh cinta kepada permaisuri seorang musuh?”


“Meski usiamu sudah sebaya denganku, tetapi ketika aku pertama melihatmu, aku memang jatuh cinta, karena wanita yang aku lihat memang cantik. Aku bahkan dapat menyimpulkan bahwa Prabu Raga Sata jarang meyentuhmu. Namun, pada saat itu aku hanya bisa memendam rasa itu. Karenanya aku punya ide jahil dengan cara menidurimu untuk memancing suamimu. Barulah setelah kau menuntutku untuk menjadi pengganti suamimu, aku serius mencintaimu,” tutur Anjas.


“Kau memang lelaki yang jahat,” kata Ratu Sri Mayang Sih tapi bernada datar. “Aku memang jarang disentuh oleh Prabu Raga. Dia lebih suka melamunkan istrimu Ningsih daripada pergi menggodaku di kamar.”


“Aku berjanji, aku akan memberikan tahta Kerajaan Siluman kepadamu, Sayang,” ucap Anjas berbisik di telinga calon istrinya.


Setelah itu, Ratu Sri Mayang Sih membalik tubuhnya sehingga menghadap kepada Anjas. Lelaki itu jadi mendelik melihat tindakan sang ratu. Sepertinya itu gelagat yang tidak baik baginya.


Ternyata, Ratu Sri Mayang Sih tidak bisa menahan ***** birahinya. Ia pun menyerang wajah dan bibir Anjas dengan bibir merah dan rabaan jari-jari tangannya. Anjas yang tidak berniat melakukannya, jadi gelagapan sendiri.


Demi menjaga perasaan sang ratu, akhirnya Anjas memberi sedikit sambutan terhadap serangan cumbuan wanita cantik itu.


Namun, ketika Ratu Sri Mayang Sih mulai meminta lebih dalam dan lebih ke bawah, Raja Anjas dengan cara yang lembut mencegahnya.


“Cukup, Sayang. Aku tidak mau menodaimu sebelum kita menikah,” bisik Anjas. Dia sendiri juga harus menahan tuntutan yang sedang menggebu-gebu di saat itu.


Dengan menarik napas yang panjang, Ratu Sri Mayang Sih akhirnya menghentikan serangan kenikmatannya, tetapi ia memaksakan diri untuk tetap tersenyum.


“Maafkan aku, Raja Anjas,” ucapnya malu. “Kau kini tahu bahwa aku sebenarnya sangat membutuhkanmu.”


“Bersabarlah, Sayang. Aku tidak akan membiarkanmu menunggu lama,” ucap Anjas menghibur.


Tidak lama setelah itu, Anjas pun berpamitan. Ratu Sri Mayang Sih mengiyakan dengan berat hati. Meski ia sangat menginginkan bersama Anjas untuk semalam suntuk, tetapi ia harus sadar diri. Statusnya adalah wanita yang kalah.


Setelah meninggalkan kamar Ratu Sri Mayang Sih, tujuan Anjas tidak lain adalah ke kamar istri sahnya, yaitu Ningsih.


Ningsih Dirama hanya terkejut mendapati kedatangan suaminya yang tiba-tiba. Tidak lama setelah pintu kamar ditutup, Anjas pun melampiaskan ***** birahinya yang sedang benggebu-gebu kepada sang istri.


Maka untunglah Anjas dan Ningsih, berbeda dengan perasaan Ratu Sri Mayang Sih yang hanya bisa menghayal menatap langit-langit kamarnya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2