
*Maut di Tahta Baturaharja (Mata Batu)*
“Kenapa kau ikut, Sugigi?” tanya Surya Kasyara, menunjukkan wajah kesal.
“Kenapa? Kau tidak suka? Kita ini sudah dijodohkan oleh Gusti Permaisuri. Kau berani menentangnya?” Sugigi Asmara balik bertanya sambil berusaha menggandeng tangan tangan kanan Surya.
“Aku mana berani. Aku takut diturunkan pangkat menjadi prajurit biasa yang kerjanya selalu berbaris seperti itik,” kata Surya sambil menepis tangan Sugigi dari tangannya. “Tapi kan tidak harus ke mana-mana berdua denganku. Kau harusnya menjaga Gusti Permaisuri. Tidak perlu untuk urusan mengambil air saja kau harus ikut.”
Saat itu Surya membawa dua bumbung bambu kosong selain bumbung tuaknya. Ia ditugaskan pergi ke sungai untuk mengambil air.
“Eeeh, aku itu harus selalu bersamamu. Aku takut, ketika kau pergi ke sungai, kau justru bertemu dengan lelembut cantik penunggu sungai sedang mencuci baju,” kata Sugigi Asmara.
“Memangnya aku tidak boleh bertemu dengan wanita?”
“Tidak boleh yang menggoda,” tandas Sugigi.
“Lebih baik kau kembali dan menjaga Gusti Permaisuri!” kata Surya Kasyara.
“Gusti Permaisuri sukanya berada bersama serigalanya. Aku bingung cara menjaganya,” kata Sugigi Asmara. “Eh, Surya. Aku bingung memikirkan cara Gusti Permaisuri bertarung jika dalam kondisi buta seperti itu.”
“Hahaha! Kita ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan kesaktian para permaisuri. Dari semua permaisuri yang tujuh itu, hanya Permaisuri Pedang yang mendekati kita kesaktiannya. Aku pernah bertarung dengannya ketika dia menjadi jahat, tapi aku kalah. Kau lihat saja, bagaimana Gusti Permaisuri Serigala menjajaki kesaktian para pejabat Kerajaan Baturaharja.”
“Beruntungnya mereka bisa menjadi istri-istri Gusti Prabu Dira. Seandainya aku juga….”
“Sendainya kau juga menjadi istri Gusti Prabu, maka aku akan gembira,” kata Surya memotong perkataan Sugigi.
“Kakang tega,” rajuk Sugigi merengut, membuatnya terlihat semakin “manis”.
“Sudah sudah sudah, jangan cemberut seperti itu, aku jadi iba padamu. Kita sudah sampai di sungai,” kata Surya Kasyara.
Sungai yang mereka datangi menjorok ke bawah. Jadi untuk mengambil airnya, mereka harus turun lebih dulu.
“Aku tunggu di sini,” kata Sugigi Asmara saat Surya Kasyara melompat turun ke pinggir sungai yang berair jernih. Pada saat itu belum ada satu pun pabrik industri, bahkan industri rumah tangga sulit ditemukan di daerah berbukit seperti itu.
“Yah, tadi kau yang memaksa ikut, tapi sekarang tidak mau menemani turun,” rutuk Surya Kasyara. “Awas kalau sampai di Kerajaan Sanggana Kecil, aku akan minta ganti pasangan!”
“Coba saja kalau berani!” ancam Sugigi. “Aku akan meracuni wanita yang berani dekat denganmu. Hihihi!”
“Hah! Kau jahat sekali, Sugigi!” tukas Surya Kasyara. Ia sampai berbalik dan mendongak kepada Sugigi.
“Aku hanya bergurau. Kau serius sekal…. Awas, Surya!” kata Sugigi Asmara lalu tiba-tiba berteriak kencang.
Seset! Trak!
__ADS_1
Tiba-tiba dua potongan kayu kecil melesat menyerang Surya Kasyara dan Sugigi Asmara.
Surya Kasyara sigap menamengi dirinya dengan bumbung bambu biasa yang dibawanya. Namun, ranting kecil itu justru memecahkan bumbung itu, juga membuat tubuh Surya terdorong keras ke dinding tanah berumput yang ada di belakangnya.
Sementara Sugigi Asmara melompat lincah menghindari serangan itu.
Jleg! Dak!
“Hukh!”
Baru saja Sugigi mendarat dari lompatannya, sesosok tubuh berjubah abu-abu berkelebat menerjang gadis itu. Sugigi terpaksa menangkis terjangan kaki itu dengan kedua batang tangannya.
Sugigi Asmara mengeluh dan terjengkang di tanah berumput. Ia bisa merasakan betapa tingginya tenaga dalam penyerang tidak dikenal itu.
“Beraninya menyakiti calon istriku!” teriak Surya Kasyara yang sudah melompat naik ke atas dengan tendangan bertenaga dalam tinggi.
Tak! Duk! Setss!
Orang berjubah abu-abu itu mudah menangkis dengan batang tangan kanannya yang seperti batang kayu. Sementara tangan kirinya yang juga seperti tangan-tanganan kayu menusuk menyerang tubuh Surya Kasyara.
Cepat Surya Kasyara menangkis dengan bumbung saktinya, sehingga pukulan itu tertahan. Namun, tiba-tiba dari dari balik jubah orang itu, melesat sesuatu yang panjang seperti batang tumbuhan hijau tetapi lentur.
“Hakh!” jerit Surya Kasyara terkejut. Ia terkejut karena melihat wajah buruk lelaki tua itu yang seperti kulit kayu kering. Ia pun terkejut dengan kemunculan senjata yang keluar dari balik jubah.
Ujung benda seperti belalai tanaman itu menghantam perut Surya Kasyara. Tubuh Surya Kasyara terlempar ke arah sungai.
Jbur!
Surya Kasyara terjebur masuk ke air.
Sugigi Asmara sudah bangkit dan berlari menyerang lelaki tua berwajah buruk dengan gerakan tercepatnya. Namun, semua serangan Sugigi Asmara mentah. Jari-jari tangan yang seperti ranting-ranting kayu kecil itu bisa memanjang dan meliuk seperti tali.
Jari-jari yang memanjang itulah yang kemudian menjerat dan mengikat tangan kanan Sugigi Asmara. Wanita itu cepat mencabut kerisnya guna memotong belalai-belalai kecil itu.
Setss! Bukh!
“Hekh!” pekik Sugigi Asmara saat belalai kayu dari balik jubah orang aneh itu melesat lebih cepat menghantam perutnya.
Sugigi Asmara tidak bisa ke mana-mana karena satu tangannya terjerat kuat.
Set! Set!
Belalai seperti batang tanaman itu kemudian melilit pergelangan tangan Sugigi Asmara, membuat kedua tangan gadis itu terkunci. Tiba-tiba muncul lagi belalai hijau lain yang kemudian melilit pinggang Sugigi dengan keras.
Tiga jeratan itu kemudian mengangkat tubuh Sugigi sehingga tidak berpijak pada bumi. Keris di tangan kirinya jatuh terlepas. Sugigi mencoba melawan, tetapi jeratan menusia aneh itu semakin kuat.
__ADS_1
Seet!
Dari bawah sungai, tubuh Surya Kasyara melesat terbang karena terbawa oleh lesatan bumbung saktinya.
Bags!
Kedatangan bumbung bambu itu diadu dengan telapak tangan si orang tua buruk rupa.
Peraduan dua tenaga sakti terjadi. Orang tua itu bergeming, ia tetap berdiri tenang di tempatnya. Sementara Surya Kasyara kembali terlempar mundur lalu jatuh lagi ke sungai.
“Katakan, kenapa kalian datang ke Istana Baturaharja!” bentak lelaki tua itu dengan suara yang serak.
“Kami hanya bertamu!” jawab Sugigi kesakitan, karena belitan pada tubuhnya diperkuat.
“Bohong!” tuding orang tua itu.
“Benar! Kami dari kerajaan baru Sanggana Kecil, ingin memperkenalkan diri dengan kerajaan tetangga!” jawab Sugigi yang mulai merasa lemas karena tenaganya melemah.
“Kerajaan Sanggana Kecil,” ucap orang tua itu pelan, seraya berpikir. “Siapa raja Sanggana Kecil?”
“Prabu Dira Pratakarsa Diwana!” jawab Sugigi dengan lancar.
Set! Prak!
Sebongkah batu sebesar kepala orang melesat dari sungai. Dengan mudah tangan kiri lelaki tua itu meninju batu tersebut hingga hancur.
Setelah itu, sosok Surya Kasyara kembali melesat cepat terbang tertarik oleh lesatan bumbung tuaknya.
Bagks!
Lagi-lagi peraduan bumbung dan telapak tangan kiri si orang tua terjadi. Namun, kali ini tubuh Surya Kasyara tidak terpental balik lagi ke sungai. Ia bisa menahan efek pertemuan dua tenaga sakti itu.
Selanjutnya Surya Kasyara menyerang si orang tua dengan gaya mabuknya.
“Pepaya menggantung di depan pintu, bubur ayam diaduk untuk buaya. Siapa pun yang ganggu calon istriku, kuburan jadi tempat terbaik baginya!” teriak Surya Kasyara berpantun sambil menyerang membabi buta si orang aneh.
Dengan menggunakan tangan kiri dan satu kaki saja, jurus mabuk Surya tetap kewalahan.
Bak!
Pada satu kesempatan, tendangan orang tua itu terlalu cepat dan berhasil membaca gerakan Pendekar Gila Mabuk. Tendangan itu menampar wajah Surya yang membuatnya terbanting ke tanah.
Sreeets!
Tiba-tiba dari dalam tanah bermunculan akar tumbuhan berwarna cokelat yang keluar seperti tunas tumbuh super cepat. Ada lima akar yang langsung bergerak melilit kedua kaki Surya, kedua tangan dan pinggang. Surya Kasyara hanya bisa terkejut dalam kondisi sudah terjerat terbaring di tanah. (RH)
__ADS_1