
*Perang Pendekar Sanggana (Pepes)*
Peta saat ini di Lereng Tiga Mata.
Sepuluh Siluman Angin baru saja dihabisi oleh Ratu Puspa dan Abna Hadaya dalam waktu singkat.
Pasukan Siluman Tingkat Dua yang berjumlah seratus lima belas orang pendekar, berlari maju ke medan perang dan kini sudah melewati tengah lereng. Agak jauh di belakang, seribu pasukan yang dipimpin oleh Panglima Siluman Merah telah bergerak menyusul masuk.
Sementara di kubu Kerajaan Sanggana Kecil, dari pinggir Hutan Sanggana, sebanyak tiga ratus prajurit telah berlari maju dalam barisan yang rapat seperti pagar manusia. Tombak di tangan dalam posisi siap lempar. Di bawah pimpinan Mahapatih Turung Gali, mereka akan menyambut Pasukan Siluman Tingkat Dua.
Namun, di belakang barisan prajurit bertombak yang rapat, berlari sebanyak delapan puluh dua orang pendekar dari empat pasukan khusus, yaitu Pasukan Pengawal Bunga, Pasukan Hantu Sanggana, Pasukan Pedang Putri, dan Pasukan Penguasa Telaga.
Barisan rapat ketiga ratus pasukan bertombak, membuat pasukan Kerajaan Siluman tidak melihat keberadaan para pendekar pasukan khusus Sanggana Kecil karena terhalang.
Sebelum Siluman Angin Api dan pasukannya mencapai posisi Ratu Puspa dan Abna Hadaya, pasangan suami istri itu tiba-tiba menghilang dengan cara masuk ke dalam bumi. Puspa dan suaminya masuk ke dalam ilmu Gerbang Tanpa Batas.
Hal itu mengejutkan Siluman Angin Api dan pasukannya. Mereka tidak tahu, apa yang akan dilakukan oleh Puspa dan suami tuanya. Maksudnya suaminya yang berusia tua.
Biarkanlah dua orang itu menghilang, bagi Siluman Angin Api sekarang adalah menghabisi pasukan yang datang menyongsong. Pasukan prajurit biasa bertemu pasukan pendekar, jelas hasilnya sudah bisa diterka.
Ketika pasukan siluman semakin dekat, Mahapatih Turung Gali segera terapkan taktik sesuai keinginan Ratu Getara Cinta.
“Berhentiii!” teriak Turung Gali.
Breg!
Ketiga ratus prajurit yang berlari rapat itu langsung berhenti.
“Posisi melempar!” teriak Turung Gali lagi sambil matanya tajam menatap kedatangan pasukan musuh.
Para prajurit segera memasang kuda-kuda siap lempar tombak.
“Lemparan pertama!” teriak Turung Gali ketika Siluman Angin Api sudah berada dalam jangkauan lempar.
Seset seset…!
Teteb teteb…!
Sebanyak seratus lima puluh tombak dilempar sejauh mungkin oleh para prajurit saf pertama. Hujan tombak terjadi.
Siluman Angin Api dan pasukannya yang sejak tadi berlari tanpa henti, mendadak mengerem langkahnya. Sebagian pendekar siluman yang terjangkau oleh lemparan itu dengan gesit dan mudah menghindari puluhan tombak tersebut.
__ADS_1
“Akk! Akk!” jerit dua pendekar siluman yang kurang cermat dan tangkas, saat tombak menghujam tembus tubuh keduanya.
Seratus lima puluh tombak yang dilempar, tetapi hanya membunuh dua orang.
“Lemparan keduaaa!” teriak Turung Gali lagi.
Pasukan saf depan yang sudah melempar, segera berposisi jongkok, memberi ruang bagi pasukan saf kedua untuk leluasa melempar tombaknya.
Seset seset…!
Wuss wuss…!
Teteb teteb…!
Kembali, sebanyak seratus lima puluh tombak dilemparkan menghujani Pasukan Siluman Tingkat Dua. Siluman Angin Api dan beberapa orangnya berinisiatif melepaskan angin pukulan.
Gulungan-gulungan angin pukulan itu berembus kencang mengacaukan arah lemparan tombak. Angin pukulan Siluman Angin Api bahkan membakar sejumlah tombak di udara.
“Posisi bertahan! Benteng tameng!” teriak Turung Gali.
Breg! Breg!
Serentak pasukan Turung Gali semakin merapat dan memasang tameng rotan mereka di depan badan. Pasukan saf dua segera maju merapat dan turut memasang tameng mereka di depan saf pertama, sehingga terbentuklah pagar manusia yang dilapisi tameng rotan. Bahkan wajah-wajah para prajurit itu tertutupi. Mereka melihat ke depan hanya melalui celah-celah kecil yang ada di antara tameng.
Melihat pasukan musuh membentuk mode bertahan seperti pagar rotan, Siluman Angin Api dan anak buahnya kian bersemangat. Pikirnya, hanya dengan satu angin api, pastilah pasukan itu akan kocar-kacir.
“Seraaang!” teriak Siluman Angin Api sambil menunjuk kepada pasukan bertameng rotan.
Sebanyak belasan pendekar siluman kompak berlari dan berlompatan menyerbu ke arah pasukan Sanggana Kecil.
“Munduuur!” teriak Turung Gali cepat.
Pasukan Turung Gali cepat begerak mundur.
Sebelum pasukan siluman melepaskan kesaktiannya ke pagar tameng, tiba-tiba….
Wus wus wus…!
Tiba-tiba dari belakang pasukan tameng melompat tinggi maju melampaui kepala-kepala pasukan, lima sosok tubuh lelaki yang sama, yaitu sosok Reksa Dipa dengan kedua tangan telah berbekal sinar merah.
Sepersekian detik, melompat pula para pendekar pasukan khusus Sanggana Kecil dari belakang pasukan tameng. Sebagian dari mereka langsung melakukan serangan jarak jauh dalam lompatannya.
Alangkah terkejutnya Siluman Angin Api dan pasukannya yang sudah kadung maju menyerbu. Mereka tidak menduga bahwa di belakang pasukan bertameng itu ada banyak pasukan pendekar.
__ADS_1
Sebanyak seratus tiga belas pendekar Pasukan Siluman Tingkat Dua melawan delapan puluh dua pendekar Sanggana Kecil. Pasukan Siluman yang awalnya hendak menyerang pasukan Turung Gali, justru menjadi target serangan dadakan para pendekar Sanggana Kecil. Dalam waktu yang bersamaan, sebagian pendekar Sanggana Kecil melepaskan berbagai macam serangan.
Zess zess zess…!
Blar blar blar…!
Lima sosok Reksa Dipa dari ilmu Sukma Bayang Wujud melesatkan sepuluh sinar merah secara rapat ke sepuluh target. Sepuluh ledakan terjadi, enam meledakkan anggota tubuh lawan dan empat meledakkan tanah.
Siluman Angin Api dan para pendekar siluman dibuat terbeliak melihat keganasan ilmu Sukma Bayang Wujud.
Seset!
Babat Seta juga melompat muncul dari belakang pasukan tameng sambil melesatkan belasan paku besar ke arah Pasukan Siluman Tingkat Dua.
"Akk! Akh!"
Meski para pendekar itu bergerak gesit menghadapi serangan, ada dua pendekar yang terkena paku. Mereka tidak mati, hanya tumbang terluka.
Set!
Si cantik Manik Cahaya melompat sambil melesatkan kipas hitamnya yang mengembang.
Kipas itu melesat cepat dengan berputar-putar.
Set!
"Akrr!" jerit seorang pendekar siluman saat lehernya disayat oleh kipas. Ia lalai terhadap serangan kipas karena fokus menghindari serangan paku Babat Seta.
Setelah menyembelih seorang musuh, kipas hitam itu melesat pulang kepada tuannya.
Seet! Bsets!
Pada saat bersamaan, Garis Merak juga melompat melampaui kepala pasukan tameng. Ia melesatkan mata kailnya yang telah bersinar putih.
Kecilnya mata kail dan tipisnya tali pancing, membuat senjata pancing itu cukup sulit terlihat dalam situasi perang seperti itu, sehingga ada saja korban yang didapat.
Mata kail berhasil melilit dan mengikat satu leher musuh. Ketika Garis Merak menariknya, maka putuslah leher itu.
"Jangan kasih napas!" teriak Swara Sesat yang melompat lalu mendarat pendek dan berguling sekali di tanah. Ia tidak bisa melompat jauh seperti rekan-rekannya yang bertubuh langsing dan atletis. Namun, ia begitu bersemangat, karena sejak berada di Sanggana Kecil, ia hanya bertarung dengan ikan-ikan ganas di Telaga Fatara.
Setelah berguling di tanah, Swara Sesat lalu melesatkan dua besi kecil bersenarnya dari kedua pergelangan tangan.
Kedua senarnya melesat dan melilit kaki dua orang musuh. Saat senar itu ditarik, kedua orang yang dijerat kakinya jatuh terbanting, lalu terseret. Kedua senar panjang itu secara otomatis tertarik sendiri tergulung di kedua pergelangan tangan tuannya.
__ADS_1
Sebelum kedua orang itu membebaskan diri dari jeratan senar Swara Sesat, Kurna Sagepa datang dengan serangan cepat, menancapkan senjata besi pengaitnya ke perut kedua orang tersebut.
"Jangan kasih napas!" teriak Kurna Sagepa kencang setelah mengeksekusi dua pendekar siluman. (RH)