
*Dewi Bunga Kedelapan (De Bude)*
Setelah menempuh perjalanan pulang dua hari dua malam, Prabu Dira Pratakarsa Diwana dan rombongan akhirnya tiba di Istana pada tengah hari. Kedatangan mereka disambut langsung oleh Ibu Ratu Ningsih Dirama, Ibu Ratu Sri Mayang Sih, Ratu Getara Cinta, Ratu Lembayung Mekar, Mahapati Turung Gali, Adipati Yono Sumoto, dan Adipati Ririn Salawi, serta sejumlah pejabat lainnya.
Joko Tenang dan Sri Rahayu mendapat sambut peluk dari ibu mereka masing-masing.
“Apakah Permaisuri Mata Hati sudah kembali, Ratu?” tanya Joko Tenang kepada Ratu Getara Cinta.
“Belum. Apa yang terjadi?” jawab Ratu Getara Cinta lalu balik bertanya, ia cepat membaca bahwa ada satu peristiwa besar telah terjadi.
“Nanti aku ceritakan di dalam,” kata Joko Tenang. “Perkenalkan, ini adalah Dewi Ara, calon Dewi Bunga kedelapan. Dan ini adalah bayi kami, namanya Arda Handara.”
Terkesiaplah Ratu Getara Cinta dan yang lainnya.
“Hormatku, Gusti Ratu!” ucap Dewi Ara menghormat sambil menggendong bayinya.
“Selamat datang dalam lingkaran cinta Prabu Dira, Dewi Ara. Semoga kau bisa nyaman dan bahagia bersama kami,” ucap Ratu Getara Cinta dengan senyum lebar yang ramah, setelah menepis keterkejutannya. Ia tidak perlu bertanya, karena nanti Joko pasti akan menjelaskannya.
“Bagaimana dengan bayi kita?” tanya Joko kepada Ratu Getara Cinta sambil mengelus mesra perut ratunya.
“Hihihi! Aku baik-baik saja, Kakang Prabu. Ini baru beberapa hari,” kata Ratu Getara Cinta yang membuat sebagian dari mereka tertawa rendah. “Oh ya, Kakang Prabu. Rombongan penambang dari Tabir Angin sudah tiba kemarin. Demikian pula Utusan Asih Marang, dia datang bersama dua puluh warga Wongawet.”
“Oh, hadapkan mereka kepadaku setelah aku membersihkan diri!” perintah Joko Tenang.
“Baik, Kakang Prabu,” ucap Ratu Getara Cinta.
“Ratu Lembayung!” panggil Joko Tenang lembut kepada wanita cantik berparas dewasa.
“Aku, Kakang Prabu!” sahut Ratu Lembayung Mekar.
“Besok sore kita akan terbang bersama Gimba pulang ke Balilitan untuk menikah. Apakah di sana sudah diberi kabar?” ujar Joko Tenang.
“Sudah, Kakang Prabu!” jawab Ratu Lembayung Mekar seraya tersenyum lebar dan malu-malu. Meski sudah emak-emak, tetapi cinta tetap bisa membuatnya melayang-layang.
“Kicau Semilir!” panggil Joko Tenang
__ADS_1
Kepala Dayang Istana Kicau Semilir segera berlari kecil menghadap.
“Hamba, Gusti Prabu!” jawab Kicau Semilir seraya menghormat dalam.
“Besok Senopati Batik Mida akan menikah. Siapkan segala halnya dari sekarang!” perintah Joko Tenang.
“Surya Kasyara juga akan menikah besok!” teriak Sandaria cepat, membuat semua orang memandang kepada wanita mungil itu.
“Dengan siapa?” tanya Tirana.
“Sugigi Asmara. Hihihi!” jawab Sandaria lalu tertawa, seolah jawabannya lucu.
“Hah!” desah terkejut sebagian permaisuri.
Sandaria tambah tertawa.
Singkat cerita.
Setelah Joko Tenang dan para permaisurinya membersihkan diri, mereka lalu menemui tamu dari Desa Wongawet.
“Di mana Mak Gandur?” tanya Joko Tenang kepada warga Desa Wongawet yang baginya adalah sahabat.
“Mak Gandur menitipkan pernyataan maaf dan hanya bisa menitipkan salam,” jawab Asih Marang.
“Mak Gandur harus tetap berada di Desa Wongawet, karena desa kami sekarang mulai menjadi rute perdagangan, Gusti Prabu. Banyak pedagang yang memilih lewat Jalan Lubang Cahaya untuk mempersingkat jarak,” ujar Wiro Keling.
“Lalu siapa wanita bercadar hijau yang di sebelahmu, Sedap Malu?” tanya Joko Tenang saat melihat keberadaan wanita berpakaian dan bercadar hijau.
“Dia kakakku Mawar Embun, wanita yang ada di kerangkeng dalam gua,” jawab Sedap Malu.
“Bagaimana kondisi luka-lukamu, Mawar Embun?” tanya Tirana yang akrab dengan kaum wanita Desa Wongawet.
“Sudah lebih baik, Gusti Permaisuri,” jawab Mawar Embun yang tubuh dan wajahnya rusak oleh siksaan Tetua Desa Wongawet. “Terima kasih atas pertolongan kalian. Kini aku bisa menjadi manusia kembali.”
Joko Tenang dan para permaisurinya yang penuh karisma tersenyum mendengar perkataan Mawar Embun.
“Apa jawaban Mak Gandur terkait tawaranku kepada Desa Wongawet?” tanya Joko Tenang kepada Asih Marang.
__ADS_1
“Mak Gandur dan mereka semua sepakat untuk menjadikan Desa Wongawet sebagai kadipaten khusus di bawah pemerintahan Kerajaan Sanggana Kecil. Mak Gandur setuju untuk mengirim upeti separuh dari pendapatan Desa Wongawet….”
“Tidak!” sanggah Joko Tenang cepat, memutus perkataan Asih Marang. “Sanggana Kecil tidak akan mengambil upeti dari Kadipaten Wongawet. Kadipaten baru itu harus membangun diri dengan cepat. Ketika Kadipaten Wongawet sudah maju, barulah Istana akan mempertimbangkan untuk mengambil pajak.”
Terlihat Sedap Malu dan yang lainnya tersenyum mendengar kebijakan Joko Tenang.
“Aku akan mengirim utusan dan surat ke Kerajaan Tarumasaga, agar membantu kita untuk menempatkan pasukan keamanan di Kadipaten Wongawet,” kata Joko Tenang merujuk pada kerajaan yang pernah ia taklukkan dan kini diratui oleh Putri Alifa Homar. “Lalu, apakah kalian semua akan tinggal di Sanggana Kecil? Kami akan memberi kalian tanah lahan dan rumah.”
“Benar, Gusti Prabu. Hanya aku dan Riri Liwet yang akan pulang kembali ke Wongawet untuk membantu Mak Gandur membangun desa kami itu,” jawab Wiro Keling.
“Baik, semoga kalian bisa membantuku untuk membangun Sanggana Kecil menjadi sebuah kerajaan yang makmur,” kata Joko.
Setelah pertemuan itu, Joko Tenang dan para permaisuri menerima para ahli tambang dari Kerajaan Tabir Angin. Rombongan itu dipimpin oleh Badak Jawara, salah satu komandan Kerajaan Tabir Angin.
Bertemu dengan Ratu Getara Cinta membuat mereka menghormat sangat dalam, sebab Getara Cinta adalah ratu mereka sebelum Ratu Puspa memimpin.
Setelah ramah tama, para penambang yang jumlahnya seratus orang lebih itu kembali ke barak, tempat mereka tinggal sementara. Adapun Badak Jawara dan empat orang pemimpin para penambang, dipertemukan dengan Adipati Yono Sumoto yang kemudian pergi ke gua, tempat ditemukannya sumber daya alam di Gunung Prabu. Mereka melakukan peninjauan awal.
Keesokan pagi, pesta kembali tergelar. Para prajurit militer dan prajurit pendekar berpesta bersuka ria, karena orang yang menikah adalah pemimpin mereka, yaitu Senopati Batik Mida. Yang lebih membuat heboh adalah karena pengantin wanitanya Dewi Bayang Kematian.
Selain itu, pasangan Surya Kasyara dan Sugigi Asmara tidak kalah menggebraknya. Bahkan pernikahan mereka menghancurkan perasaan seorang wanita lain, yaitu Garis Merak. Namun, siapa yang peduli.
Di saat semua prajurit tertawa riang dalam pesta pernikahan dua pasangan sekaligus, Geris Merak lebih memilih menyendiri di atas perahu seorang diri.
Tanpa sepakat dan tanpa disangka, Reksa Dipa justru datang ke pinggiran telaga yang juga bertujuan menyendiri. Namun, tujuan penyendirianya berujung dengan berduaan.
“Kenapa kau tidak ikut berpesta?” tanya Reksa Dipa kepada Garis Merak.
“Kau sendiri?” Garis Merak justru belik bertanya.
“Aku tidak suka keramaian dan kebisingan,” jawab Reksa Dipa sambil memandang jauh ke tengah telaga.
“Kalau aku sedang patah hati. Tidak aku sangka mereka berdua begitu cepat memutuskan menikah,” kata Garis Merak jujur.
“Kau cantik, tidak sulit untuk mencari lelaki yang suka melirikmu,” kata Reksa Dipa menghibur.
Garis Merak hanya tersenyum sambil melirik pemuda tampan berwajah dingin itu. (RH)
__ADS_1