
*Perang Pendekar Sanggana (Pepes)*
Pasukan militer dan pendekar Kerajaan Sanggana Kecil telah berbaris rapi di dalam benteng Istana, siap menyongsong pasukan Kerajaan Siluman yang datang menyerang.
Saat ini, ada sekitar empat ribu pasukan Kerajaan Siluman berkumpul di perbatasan barat wilayah Kerajaan Sanggana Kecil, yaitu di kaki Gunung Prabu. Mereka telah mengirim seribu pasukan yang sudah bergerak menerobos hutan, yang berseberangan langsung dengan benteng Istana Sanggana Kecil.
Atas perintah Ratu Getara Cinta, seribu pasukan pertama yang dikerahkan oleh musuh dibiarkan bergerak maju dengan bebas menuju benteng Istana.
Melihat kedatangan Ratu Getara Cinta dan para permaisuri dari dalam Istana, Mahapati Turung Gali segera menghadap.
“Pasukan musuh sudah berada di dalam hutan, Gusti Ratu. Kami menunggu perintah!” kata Mahapati Turung Gali.
“Siapkan Pasukan Muda di balik gerbang!” perintah Ratu Getara Cinta.
Terkejutlah Mahapati Turung Gali dan para permaisuri yang lain mendengar perintah itu, sebab Pasukan Muda adalah pasukan rekrutan baru yang baru belajar jadi prajurit. Tidak mungkin pasukan rekrutan baru dipasang di barisan depan, sebab kemampuan mereka masih belum matang.
“Gusti Ratu!” sebut Permaisuri Tirana bernada keberatan.
“Tidak apa-apa, prajurit baru perlu merasakan ganasnya peperangan!” kata Ratu Getara Cinta lalu melesat terbang menuju tangga untuk naik ke atas benteng.
“Dalam kondisi seperti ini, kalian harus percaya dengan pemimpin kalian,” kata Permaisuri Nara, lalu ia pun melesat terbang menyusul di belakang Ratu Getara Cinta.
Akhirnya para permaisuri meyakini bahwa perintah Ratu Getara Cinta tidak akan mencelakakan. Sang ratu pasti memiliki siasat tertentu, pikir mereka. Mereka lalu turun melesat terbang mengikuti sang ratu naik ke atas benteng.
“Pasukan Mudaaa! Ambil posisi perang di belakang gerbang!” teriak keras Mahapati Turung Gali.
Terkejutlah para prajurit dari Pasukan Muda, yaitu pasukan yang seluruh personelnya adalah prajurit rekrutan baru, yang hingga saat ini mereka masih dalam tahapan pendidikan dasar bertempur. Selain dari komandannya, tidak ada satu pun dari mereka yang punya pengalaman berperang.
Pasukan Muda yang terdiri dari tiga ratus prajurit, dipimpin oleh Komandan Kebo Loreng.
“Pasukaaan! Bergerak ke belakang gerbang!” teriak Kebo Loreng, menindaklanjuti perintah Mahapati Turung Gali.
Prajurit pembawa panji Pasukan Muda segera berlari. Para prajurit Pasukan Muda segera memisahkan diri dari barisan utama, mengikuti pembawa panji dalam kondisi jantung yang berdebar-debar.
Breg breg breg!
Suara derap langkah kaki pasukan terdengar memberi irama intro menuju musik peperangan. Pasukan Muda berhenti dan berbaris di belakang gerbang.
“Posisi siap peraaang!” teriak Komandan Kebo Loreng berkomando.
“Huh!” sentak seluruh prajurit Pasukan Muda serentak membahana, sambil memasang kuda-kuda dengan tombak dan tameng anyaman rotan berbentuk lingkaran. Meski demikian, mereka jadi benar-benar tegang, bahkan sebagian harus mulai berkeringat dingin pada dahinya. Kepala mereka hanya dililit oleh kain tebal dengan model seragam. Berulang kali mereka menelan ludah kering.
Di atas benteng, para wanita sakti berdiri dengan rambut dan pakaian berkibar-kibar tertiup angin lembah di utara kaki gunung. Mereka adalah Ratu Getara Cinta, Permaisuri Yuo Kai, Permaisuri Tirana, Permaisuri Nara, Permaisuri Kusuma Dewi, Permaisuri Sandaria, Permaisuri Sri Rahayu, dan Permaisuri Dewi Ara.
Di bawah benteng adalah parit yang besar seperti sungai. Di depan ada padang rumput luas yang memisahkan parit dengan hutan. Sepertinya padang rumput itu akan menjadi medan perang pertama bertemunya dua pasukan.
Dari dalam hutan berkeluaran prajurit-prajurit berseragam hijau gelap, yang semakin lama semakin banyak jumlahnya. Pasukan Kerajaan Siluman itu memilih berhenti, belum memutuskan untuk maju ke padang rumput.
__ADS_1
Seribu prajurit itu dipimpin langsung oleh Panglima Siluman Merah Muda. Sosoknya adalah seorang lelaki yang pakaiannya didominasi warna merah muda. Ia bersenjatakan dua gada logam yang besarnya sedang-sedang saja. Tubuhnya memang besar dan gagah berotot.
Ia memberi tanda kepada pasukan pejalan kakinya untuk berhenti dan berbaris di sepanjang pinggiran hutan.
Ia dan pasukannya memandang jauh ke depan, tepatnya ke atas benteng Istana. Dilihatnya sejumlah wanita berpakaian bagus warna-warni berdiri memandang ke arah dia dan pasukannya. Kondisi itu jelas menunjukkan bahwa kubu Kerajaan Sanggana Kecil menunggu mereka untuk menyerang benteng.
“Tidak ada pasukan di depan benteng. Hmm…” ucap Siluman Merah Muda lirih kepada dirinya sendiri. Ia tampak curiga.
“Apa yang Panglima perintahkan?” tanya tangan kanan si panglima, namanya Gatot Watu.
“Tunggu. Kita terlalu mudah sampai ke depan benteng. Seharusnya mereka sudah menghadang kita di perbatasan. Ini terlalu mudah. Pasti ada jebakan,” kata Siluman Merah Muda sambil memikul kedua gadanya.
“Tapi tidak tanda-tanda. Jika mau menjebak kita, seharusnya dalam hutan ini adalah tempat yang paling tepat,” kata Gatot Watu.
“Kerahkan dua ratus prajurit untuk memancing reaksi jebakan. Mereka memasang pasukan panah di atas benteng. Berhentilah pada jangkauan terjauh anak panah!” perintah Siluman Merah Muda.
“Baik, Panglima!” ucap Gatot Watu.
Ia lalu segera pergi. Kemudian ia memimpin dua ratus prajurit bergerak maju secara berkelompok. Mereka bergerak maju dengan mengedepankan perisainya yang berbentuk lengkungan persegi panjang.
Hingga kelompok prajurit itu berada di tengah padang, belum ada serangan dari benteng atau dari arah lain yang bertujuan menyergap mereka.
“Turunkan jembataaan!” teriak Mahapati Turung Gali ketika ada tanda dari Ratu Getara Cinta.
Krekr krekr!
Pasukan Muda yang ada di belakang pintu gerbang jadi semakin tegang dan berdebar. Jembatan penyeberangan sedang diturunkan. Sebentar lagi gerbang pasti akan dibuka. Itu artinya mereka mau tidak mau harus maju berperang.
Melihat pergerakan pintu gerbang itu, Gatot Watu menghentikan pergerakan dua ratus pasukannya. Mereka bertahan di tengah.
“Mereka hanya mengandalkan pasukan di dalam benteng. Jika gerbang dibuka, ada peluang bagi pasukanku untuk menyerbu masuk,” pikir Siluman Merah Muda. “Jika ada jebakan di dalam benteng, mereka tidak akan sanggup mengatasi jumlah yang terlalu banyak.”
Sementara di atas benteng Istana, Ratu Getara Cinta memberi perintah kepada seorang prajurit panah.
Set! Tep!
Seorang prajurit panah melepaskan anak panah tunggal. Anak panah itu melessat jauh ke tengah padang, lalu menancap di salah satu tameng kayu tebal prajurit pimpinan Gatot Watu. Itu menunjukkan bahwa posisi kedua ratus pasukan itu berada di dalam jangkauan pasukan panah.
“Mundur!” teriak Gatot Watu.
Kedua ratus prajurit itu serentak melangkah mundur teratur, dengan tameng yang menjadi perisai berjemaah.
“Berhenti!” teriak Gatot Watu lagi, menghentikan pergerakan pasukannya.
“Bersiaaap!”
Di bagian belakang, Panglima Siluman Merah Muda justru menyiapkan pasukannya untuk menyerang. Tinggal menunggu komando selanjutnya.
“Bersiaaap!” teriak Gatot Watu pula, ia berniat maju paling terdepan jika panglimanya memutuskan maju.
__ADS_1
Semua prajurit tegang, tidak ada yang tersenyum. Mereka serius kuadrat karena memang sedang menantang maut.
Jbreg!
Akhirnya, ujung jembatan kayu besar yang menghubungkan gerbang dengan tanah padang rumput turun rapat ke tanah.
“Buka gerbaaang!” teriak Mahapati Turung Gali lagi.
Prajurit penjaga gerbang pun segera membuka pintu gerbang benteng, sehingga terbuka lebar.
“Menang! Menang! Menang!” teriak Gatot Watu menciptakan yel yel penyemangat bagi pasukannya.
“Menang! Menang! Menang!” teriak pasukan Kerajaan Siluman mengikuti yel yel itu.
Suara semangat itu terdengar jelas sampai ke dalam benteng Istana Sanggana Kecil.
“Pasukan Muda!” teriak Komandan Kebo Loreng memanggil pasukannya.
“Pasukan Muda di sini!” sahut tiga ratus prajurit Pasukan Muda.
“Kita sudah berjanji setia kepada Prabu Dira dan Kerajaan Sanggana Kecil! Kita adalah pelindung. Tumpah darah dan melayangnya nyawa akan jadi kebanggaan kita demi Sanggana Kecil. Kini musuh ada di depan mata. Mati dalam perang adalah kebanggaan kita!” teriak Kebo Loreng berorasi untuk membakar semangat dan adrenalin pasukannya. “Jika Sanggana Kecil diserang, siapa yang akan jadi terdepan?!”
“Pasukan Muda!” jawab seluruh prajurit Pasukan Muda, membuat nyali sebagian dari prajurit itu kembali terangkat.
Naiknya atmosfir semangat Pasukan Muda menjalar pula ke jiwa-jiwa pasukan lainnya, terlebih semangat tarung dari para pasukan pendekar yang memang doyang gelut. Mereka jadi berpikir, mati pun tidak mengapa, asalkan mati sebagai seorang ksatria.
“Majuuu!” teriak Kebo Loreng begitu keras memberi aba-aba. Ia berlari maju lebih dulu keluar melewati pintu gerbang.
Breg breg breg…!
Pasukan Muda berlari kecil mengikuti komandannya bergerak keluar dari benteng.
Melihat ada pasukan yang muncul dari dalam benteng, Siluman Merah Muda jadi tersenyum setan.
“Seraaang…!” teriak Siluman Merah Muda kencang, memutuskan.
“Seraaang…!” teriak Gatot Watu pula yang pasukannya sudah ada di tengah padang rumput.
Maka dua ratus pasukan yang sudah ada di tengah padang lebih dulu berlari maju sambil tetap memasang tameng sebagai pelindung.
Delapan ratus prajurit yang ada di belakang juga berlari beramai-ramai siap menyerbu benteng Istana Sanggana Kecil.
“Tahaaan!” teriak Ratu Getara Cinta kepada pasukannya.
“Tahaaan! Posisi bertahan!” teriak Kebo Loreng menindaklanjuti perintah sang ratu.
Breg!
Pasukan Muda jadi berhenti di atas jembatan. Mereka langsung memasang posisi bertahan dengan mengedepankan perisai rotannya dan tombak siap tusuk. Mereka menunggu kedatangan ratusan orang pasukan musuh yang berlari mendekat. Jantung mereka semakin berlari sprint. (RH)
__ADS_1