
*Misteri Kematian Pendekar (Mis Kekar)*
Untuk pertama kalinya Prabu Dira Pratakarsa Diwana melakukan perjalanan dinas menggunakan kereta kuda. Ia membawa satu pasukan yang tidak besar. Permaisuri yang diajaknya sebagai pendamping adalah Permaisuri Mata Hijau.
Ada tiga orang Pengawal Bunga yang ikut mengawal, yaitu Hantam Buta, Warok Genang dan Lintang Salaksa. Mereka bertiga mengendarai kuda di sebelah depan kereta kuda raja. Ada tiga puluh prajurit pasukan pejalan kaki di sebelah depan dan dua puluh pasukan berkuda di sisi belakang. Masih ada satu kereta kuda biasa yang mengangkut enam orang dayang bagi permaisuri, berjalan di belakang kereta kuda raja.
Di depan ada prajurit yang membawa bendera kerajaan berwarna biru gelap, bergambar bentangan sayap burung tanpa kepala dan badan berwarna kuning emas. Itulah bendera baru kebangsaan Kerajaan Sanggana Kecil. Sayap itu adalah simbol burung rajawali raksasa Gimba.
Joko Tenang sedang menuju ke Kerajaan Baturaharja. Sejak Kerajaan itu diambil kembali oleh ahli warisnya, yaitu Prabu Banggarin dan Putri Wilasin, Joko Tenang belum pernah melakukan kunjungan. Untuk menghormati raja sahabat, Joko Tenang memilih datang dengan formal.
Namun, sebelum pergi langsung menuju Ibu Kota Kerajaan Baturaharja, Joko Tenang mampir lebih dulu di Padepokan Hati Putih karena memiliki satu urusan kepada Resi Tambak Boyo.
Kedatangan rombongan Kerajaan Sanggana Kecil itu tiba di Padepokan, agak lama setelah kepergian Gadis Cadar Maut dan ketiga lainnya ke kediaman Rara Sutri.
Mau tidak mau, Joko Tenang dan Kerling Sukma dilanda terkejut mendapat kabar duka atas kematian Resi Tambak Boyo. Lebih terkejut lagi karena kabar bahwa Padepokan baru saja selesai memakamkan Ki Sombajolo dan Gujara.
Joko Tenang sempat menitikkan setetes air mata karena merasa sangat kehilangan Gujara. Ia pernah begitu dekat dengan Gujara. Joko Tenang dan istri ditunjukkan makam Ki Sombajolo dan Gujara yang berada di lingkungan Padepokan.
“Joko Tingkir bersama Gadis Cadar Maut dan adiknya, juga Lanang Jagad, pergi ke kediaman Rara Sutri untuk memburu pembunuh itu,” kata Ranggasula.
“Pembunuh ini jelas berkesaktian terlalu tinggi, sehingga tokoh sekelas Resi dan Ki Sombajolo bisa dibunuhnya dengan mudah,” kata Joko Tenang.
“Dengan mudah?” tanya Ranggasula seakan kurang sependapat. Ia tidak percaya jika gurunya bisa dibunuh dengan mudah.
“Itu hanya penilaianku, Guru. Luka yang sama pada tempat yang sama menunjukkan pembunuh itu bisa melakukan niatnya untuk memberi pesan yang serupa kepada orang-orang yang hidup,” kata Joko Tenang.
“Cepatnya pertarungan di gerbang Padepokan memang menunjukkan bahwa pembunuh itu tidak membutuhkan waktu yang lama,” kata Ranggasula.
__ADS_1
“Atau mungkin saja pembunuhnya bukan satu orang, tetapi lebih,” kata Kerling Sukma, memberi pilihan kemungkinan lain. “Jika satu orang, akan cukup sulit jika dalam waktu singkat bisa membunuh empat orang, terlebih dua orang adalah Ki Sombajolo dan Paman Gujara.”
“Jadi, kemungkinan besar pembunuhnya pendekar tua sakti dengan jumlah lebih dari satu orang,” simpul Ranggasula.
“Apakah ada keterangan tentang tujuan dari pembunuhan berantai ini?” tanya Joko Tenang.
“Tidak ada,” jawab Ranggasula.
“Untuk sementara kami hanya bisa berharap Gadis Cadar Maut dan Joko Tingkir bisa menemukan pembunuh itu, karena kami dalam perjalanan menuju Istana Baturaharja. Aku datang ke mari untuk meminta bantuan kepada Resi agar mau mengirim satu atau dua guru. Rakyat Kerajaan Sanggana Kecil membutuhkan guru untuk memberantas buta baca dan tulis,” ujar Joko Tenang.
“Pasti akan kami pertimbangkan dan mudah-mudahan bisa segera mengirim sejumlah pengajar ke Sanggana Kecil,” kata Ranggasula.
“Terima kasih, Guru,” ucap Joko Tenang.
Setelah menyampaikan maksud kedatangannya ke Padepokan Hati Putih, Joko Tenang dan rombongan segera pergi menuju Jayamata, ibu kota Kerajaan Baturaharja. Menurut perkiraan, mereka akan tiba tepat di kala malam menjelang.
“Jika benar guru Surya Kasyara menjadi calon korban berikutnya, berarti bukan yang berada di luar saja,” kata Joko Tenang.
“Apakah mungkin Putri Aninda Serunai yang melakukannya?” tanya Kerling Sukma yang ia tahu bahwa suaminya pun tidak tahu jawabannya.
“Bukan. Jika Tongkat Jengkal Dewa masih ada padanya, aku yakin adikku itu sudah menjadi ratu di Kerajaan Siluman. Jika ia seorang ratu, tidak mungkin turun langsung melakukan pekerjaan kotor seperti itu. Untuk sementara dugaan kuat kita bahwa pembunuh ini adalah orang suruhan Kerajaan Siluman, sebab musuh utama aliran putih saat ini adalah mereka.”
“Apakah Kakang Prabu nanti akan menyerang ke Istana Siluman?” tanya Kerling Sukma.
“Iya. Tetapi Permaisuri Asap Racun ingin mengumpulkan Pasukan Siluman Generasi Pertama lebih dulu. Ia tidak mau orang-orang yang setia kepadanya dimanfaatkan oleh Aninda Serunai. Ia ingin mengambil haknya atas tahta dan menempatkan Ibunda Ratu Sri sebagai ratu di sana,” kata Joko Tenang.
“Bukankah Ayahanda Prabu Anjas akan memberikan kerajaan baru bagi Ibunda Ratu Sri?”
__ADS_1
“Ibunda Ratu Sri akan mengubah permintaannya jika Ayahanda datang berkunjung,” jawab Joko.
“Itu berarti Ibunda Ratu akan meminta pasukan dari Kerajaan Sanggana untuk menyerang Kerajaan Siluman?” terka Kerling Sukma.
“Belum tentu. Permaisuri Penjaga pernah mengatakan, Kerajaan Sanggana memiliki aturan yang melarang Kerajaan terlibat perselisihan atau hubungan kerja sama dengan pihak luar, demi menjaga kemurnian peradaban di Hutan Urat Dewa.”
“Jika Kerajaan Sanggana dan Kerajaan Siluman berperang, apakah Kakang Prabu akan melibatkan pasukan Kerajaan Sanggana Kecil?”
“Ada atau tidaknya perang, aku memang memiliki urusan dengan adikku, tapi bukan dengan Kerajaan Siluman. Namun, jika Ratu dan Permaisuri Sri menginginkan haknya, mungkin aku akan membantu, tetapi bisa dilakukan seperti cara Ayahanda ketika membunuh Prabu Raga Sata, sehingga tidak perlu mengorbankan banyak nyawa di kalangan para prajurit. Kasihan para prajurit jika harus mati hanya karena mengikuti perintah tanpa mengerti permasalahan,” kata Joko Tenang.
“Bukankah memang seperti itu sistem dalam dunia kekuasaan, Kakang Prabu?”
“Benar. Namun, jika ada jalan yang lebih pintas tanpa harus mengorbankan banyak prajurit, itulah yang harus dilakukan,” tandas Joko Tenang.
“Bagaimana dengan dendam Permaisuri Geger Jagad kepada Dewa Kematian?” tanya Kerling Sukma kembali memindahkan topik.
“Belum jelas kelanjutannya. Dengan menguasai ilmu Delapan Dewi Bunga, seharusnya Permaisuri Dewi Ara lebih percaya diri untuk menuntaskan dendamnya kepada Kakek Buyut. Namun, sepertinya dia bimbang….”
“Bimbang kenapa, Kakang Prabu?” tanya Kerling Sukma cepat memotong perkataan suaminya.
“Permaisuri Dewi Ara mensyukuri kehidupan barunya sebagai seorang permaisuri. Ia mengaku sudah lelah dengan urusan permusuhan yang tidak kunjung habis. Perdamaiannya kembali dengan Permaisuri Nara memberinya banyak renungan yang mempengaruhi pikirannya.”
“Menurutku, dendam itu lebih baik disudahi. Aku rasa, jikapun Permaisuri Dewi Ara sudah memnguasai ilmu Delapan Dewi Bunga, tetapi penguasaan Dewa Kematian terhadap ilmu itu jauh lebih lama dan pastinya lebih hebat dari pemula.”
“Aku juga berpandangan demikian,” kata Joko Tenang sepakat.
“Gusti Prabu, kita sudah memasuki Istana Baturaharja!” lapor Hantam Buta dari luar bilik kereta. (RH)
__ADS_1