
*Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)*
Bidadari Wajah Kuning, Arya Mungga dan Riskaya menunggu di sebuah cekungan dari dua kaki bukit. Sesuai perintah orang yang mereka ikuti, mereka harus menunggu kira-kira di sekitar tempat tersebut.
Clap!
Tiba-tiba Joko Tenang muncul di dekat mereka bersama seseorang, yang tidak lain adalah Siluman Pisau Angin. Kondisi siluman yang tidak seperti siluman itu, tertotok. Namun, ketika Joko Tenang mendorongnya hingga terjatuh di tanah berumput di depan Bidadari Wajah Kuning, Arya Mungga dan Riskaya, totokannya terbebas.
“Jika ingin balas dendam, bunuhlah pendekar siluman ini!” kata Joko Tenang lalu tiba-tiba menghilang.
Arya Mungga langsung melompat dengan telapak tangan membara hijau, menunjukkan pukulan itu akan berbahaya jika mengenai tubuh.
Namun, tiba-tiba Siluman Pisau Angin melesat mundur menghindari serangan tiba-tiba itu sambil kedua tangannya menghentak.
Seset!
Suara lesatan angin padat terdengar jelas melesat ke arah mereka meski tidak terlihat mata. Arya Mungga yang gagal dalam serangan awal, cepat memasang ilmu perisai lapisan sinar merah melengkung.
Sementara Riskaya begitu cepat menghindari sesuatu yang menyerang tapi tidak tampak. Terlihat pada tanah berumput ada sesuatu yang seakan menancap, tetapi yang terlihat hanya gerakan rumput dan tanahnya yang tertusuk. Riskaya menghindar sambil melesat ke posisi di belakang Siluman Pisau Api, guna menutupi jalan meloloskan diri.
Seng seng!
Sementara Bidadari Wajah Kuning hanya menggerakkan tangan kanannya di depan wajah seperti gerakan menyingkap gorden jendela. Yang tercipta adalah sebuah bidang seperti cermin. Sesuatu yang tidak terlihat itu menghantam cermin gaib, membuat tenaga yang tidak terlihat memantul balik menyerang Siluman Pisau Angin.
“Hah! Busyuk!” maki Siluman Pisau Angin terkejut sambil refleks menghindari senjata angin padatnya sendiri. “Akk!”
Entah bagaimana prosesnya, tapi sepertinya Siluman Pisau Angin terkena senjatanya sendiri. Bersamaan dengan tubuhnya yang terloncat lalu jatuh terbanting, ada luka sayatan yang tercipta pada bagian bahu kanannya, cukup dalam. Darah merembes cepat.
Sambil tangan kirinya membekap lukanya agar darah tidak begitu banyak yang membebaskan diri dari dalam tubuh, Siluman Pisau Angin bangkit dan kembali siap bertarung.
“Kubalaskan kematian ayahku!” teriak Riskaya sambil maju dengan cepat dan telapak tangan membara hijau.
Siluman Pisau Angin cepat berbalik sambil menghentakkan pula tangan kanannya yang bersinar hijau pula, tetapi lebih seperti menyala api.
Pak!
Peraduan dua pukulan telapak tangan bertenaga dalam tinggi terjadi. Ternyata kedua sama-sama terjajar tiga langkah. Namun, kondisi Siluman Pisau Angin tidak bagus. Sebab, Arya Mungga langsung masuk menyerang ke lubang yang lowong.
Bak baks!
__ADS_1
Dalam kondisi gerakan terdorong seperti itu, Siluman Pisau Angin mencoba menangkis serangan tangan Arya Munga, tetapi tetap saja lolos. Dua pukulan mendarat keras lagi cepat di dada Siluman Pisau Angin. Dada pendekar siluman itu jebol, hingga rangka dadanya terlihat putihnya di balik kemerahan daging dan darah.
Sets!
Disusul sambaran Riskaya yang menggunakan sebilah kujang perak ke leher Siluman Pisau Angin. Maka tumbanglah korban balas dendan pertama Arya Mungga dan Riskaya.
Clap! Bsruk!
Tiba-tiba Permaisuri Sri Rahayu muncul di antara mereka. Ia membuang sosok tubuh besar dan gemuk, yaitu Siluman Kodok Botak. Namun, lelaki gundul itu kondisinya sudah tanpa nyawa. Tubuhnya kejang dengan mata melotot. Kulit tubuhnya menghitam dan darah gelap mengalir dari mulut dan hidungnya. Siluman Kodok Botak mati oleh racun tangan Sri Rahayu.
“Jangan disentuh. Dia sudah mati!” ujar Sri Rahayu. Ia lalu kembali menghilang, menyusul Joko Tenang.
“Baru dua,” ucap Bidadari Wajah Kuning. “Aku merasa kurang asik harus mengeroyok seorang musuh.”
“Mereka lebih licik. Ayah kami seorang diri dikeroyok oleh puluhan dari mereka sekaligus!” tandas Arya Mungga.
“Ya ya ya, aku mengerti,” kata Bidadari Wajah Kuning. “Aku sangat penasaran, siapa orang yang dengan kejinya menjadi seorang pengkhianat.”
“Apakah di antara tetua ada pendekar yang memendam dendam atau sakit hati, tetapi hadir dalam pertemuan lalu di Bukit Dalam?” tanya Riskaya.
“Perkara sakit hati adalah lumrah dan banyak yang memendam itu di antara sesama tokoh aliran putih. Tetapi kesamaan sebagai orang-orang aliran putih mencegah kami untuk saling membunuh. Aku memiliki dendam dengan Dewi Geger Jagad, tapi sekarang dia justru berbagi suami dengan Dewi Mata Hati. Setiap orang memiliki hak untuk menikmati jalan yang lurus. Maka benar-benar keji pengkhianat itu. Jika aku tahu, ingin rasanya aku jadi orang yang pertama membunuhnya,” tutur Bidadari Wajah Kuning.
Clap!
Lelaki itu adalah Siluman Tongkat Mungil yang tanpa membawa tongkatnya. Ia terkejut bukan main melihat dua rekannya sudah tergeletak tanpa nyawa. Lalu ia cepat melihat siapa orang-orang yang ada di sekelilingnya.
“Selamat membunuh,” ucap Joko Tenang kepada Bidadari Wajah Kuning dan dua lainnya.
“Hiaat!” pekik Bidadari Wajah Kuning dan Riskaya bersamaan sambil maju, seolah berebut mangsa.
Bress!
Dengan cepat Siluman Tongkat Mungil melempar tangannya menebar serbuk tepung di udara.
“Awas racun!” teriak Arya Mungga cepat, memperingatkan.
Riskaya gesit membelokkan gerakannya dan melompat menjauh ke samping. Berbeda dengan Bidadari Wajah Kuning yang berhenti terkejut, seolah mati langkah, sehingga serbuk racun itu mengenai wajahnya.
Mendelik Joko Tenang melihat apa yang terjadi dengan Bidadari Wajah Kuning. Nenek cantik itu tumbang ke samping, lalu tergeletak bebas di rerumputan.
Hal itu mengejutkan Siluman Tongkat Mungil sendiri. Setahu dia, racunnya tidak sehebat itu yang bisa langsung menumbangkan korban.
__ADS_1
Wuss!
Arya Mungga memilih melepaskan pukulan jarak jauh, jaga-jaga dari serangan racun. Siluman Tongkat Mungil bisa melompat mengelak.
Setelah itu, Riskaya yang merangsek masuk. Ia tetap berani bertarung jarak dekat, meski tadi lawan menggunakan racun.
Joko Tenang serius menyaksikan pertarungan Riskaya yang cepat dan bersih, dalam arti gerakannya benar-benar terlatih dan sempurna, tidak asal-asalan atau setengah-setengah. Untuk sementara Joko mengabaikan kondisi Bidadari Wajah Kuning.
“Sial, Prabu Joko mengabaikanku…” membatin Bidadari Wajah Kuning, yang mulai merasakan tubuhnya berubah lemah. Sebenarnya saat itu dia masih bisa bangun, tetapi ia tidak mau menunjukkan bahwa kondisinya tidak terlalu buruk.
Pertarungan fisik Riskaya dengan Siluman Tongkat Mungil berlangsung alot, sampai-sampai Arya Mungga membiarkan sejenak pertarungan itu.
Ketika adu kecepatan gerak tangan ditampilkan saling berusaha memasukkan pukulannya dan saling tangkis, tiba-tiba Riskaya memainkan satu trik yang mengejutkan Siluman Tongkat Mungil.
Seet!
“Aaak!”
Tanpa terlihat oleh Siluman Tongkat Mungil, tangan kanan Riskaya menyambar senjata kujangnya yang tersembunyi. Ketika serangan tangan beradu, Riskaya melakukan gerakan merobek dengan kujangnya, menciptakan garis panjang berdarah pada batang tangan kanan Siluman Tongkat Mungil.
Seraya menjerit kesakitan, Siluman Tongkat Mungil memilih melompat mundur. Pada saat itulah, Arya Mungga masuk dengan serangan yang menggila, seperti orang gila kesurupan setan Dewa Mabuk.
Bukbuk!
Dua tinju bertenaga dalam tinggi menghajar perut Siluman Tongkat Mungil, membuatnya terjajar dua tindak.
Arya Mungga terus memburu, kali ini dengan telapak tangan membara hijau. Siluman Tongkat Mungil masih mampu mengelaki serangan maut itu dengan melompat ke samping, sebab di belakangnya berdiri Joko Tenang.
Ctas!
“Ak!” pekik tertahan Arya Mungga saat seutas cambuk sinar biru melecuti punggungnya, membuat baju dan kuling punggung Arya Mungga terbakar. Lawannya tahu-tahu bersenjata cemeti sinar.
Sreet!
“Aaak!” Kali ini yang menjerit adalah Siluman Tongkat Mungil.
Beberapa detik sebelum jeritan itu, Riskaya datang melompat menyerang dari samping, Siluman Tongkat Mungil siap menyambut serangan telapak membara si gadis. Namun, Riskaya yang diduga menyerang dengan pukulan, jari-jari tangannya justru melesatkan lima benang sinar hijau kecil tanpa putus, menyergap tubuh depan Siluman Tongkat Mungil.
Lima sinar hijau seperti belalai makhluk alam lain itu, tidak bisa dihindari, sehingga menembus dada Siluman Tongkat Mungil di lima titik sampai tembus ke punggung. Ilmu itu sedikit mirip dengan ilmu Serat Darah milik Reksa Dipa.
Saat tubuh lawan menegang dalam kondisi berdiri, Riskaya menarik kembali kelima benang sinar hijaunya.
__ADS_1
Bluk!
Siluman Tongkat Mungil akhirnya tumbang tanpa nyawa. (RH)