
*Perang Pendekar Sanggana (Pepes)*
Berita duka sekaligus mengejutkan dari Jurang Lolongan membuat Joko Tenang harus terdiam. Setelah menyatakan belasungkawanya, ia kemudian meminta masukan dari Ratu Getara Cinta dan para permaisurinya dalam menyikapi berita itu.
“Kami tidak tahu siapa mereka adanya. Sekitar seratus pendekar itu, semuanya memiliki kesaktian yang cukup tinggi. Terbukti Guru bisa tewas di tangan mereka,” tutur Biladewa, salah satu murid utama Ki Rawa Banggir yang berusia empat puluh lima tahun.
“Kalian tidak tahu siapa yang melakukan penyerangan tadi malam itu?” tanya Joko Tenang seakan tidak percaya.
“Benar. Mereka semua berpakaian pendekar,” jawab Biladewa yang terlibat langsung dalam pertarungan tadi malam.
“Kakang Prabu, jumlah seratus pendekar bisa kemungkinan adalah Pasukan Siluman Generasi Puncak. Jika melihat langkah Kerajaan Siluman yang berani menyerang kerajaan kita dengan mengerahkan pasukan silumannya secara besar-besaran, tidak menutup kemungkinan seratus pendekar itu adalah Pasukan Siluman Generasi Puncak,” kata Sri Rahayu. Ia lalu bertanya kepada Biladewa, “Apakah pemimpin mereka seorang lelaki bertubuh kecil?”
“Sepertinya demikian. Aku melihat salah seorang pendekar bertubuh kecil yang memberi komando,” jawab Biladewa.
“Tidak salah lagi, mereka adalah Pasukan Siluman Generasi Puncak!” tandas Sri Rahayu.
“Lalu, bagaimana kalian bisa selamat?” tanya Joko Tenang.
“Kami bersembunyi di gua rahasia,” jawab Bunga Senja.
“Murid-murid Bukit Dalam yang tersisa pun tidak sampai dua puluh orang. Kami semua bisa selamat setelah lari bersembunyi dari para pendekar ganas itu,” kata Biladewa.
“Ada yang aneh dari serangan itu, Kakang Prabu,” kata Tirana. “Kita semua pernah ke sana, kecuali Gusti Ratu. Jadi kita tahu betapa sulitnya medan untuk turun ke dasar jurang jika tanpa pemandu, meskipun ia seorang pendekar. Mungkin hanya pendekar berkesaktian tinggi yang bisa sampai ke dasar, atau orang yang memang pernah datang ke sana. Aku rasa itu adalah pertama kali Pasukan Siluman datang ke sana.”
“Benar kata Permaisuri Penjaga. Aku yang lebih tahu tentang Pasukan Siluman Generasi Puncak. Seharusnya mereka sulit sampai ke Bukit Dalam jika tanpa pemandu. Apalagi untuk masuk ke Bukit Dalam hanya melalui Gerbang Bukit Dalam. Bagaimana mereka bisa mengetahui pintu yang tertutup rapat dan itu di malam hari?” kata Sri Rahayu pula.
“Ada pengkhianat!” tandas Nara begitu yakin.
Semua mata yang hadir segera beralih memandang kepada wanita berambut pendek seperti lelaki itu.
Mengetahui semua orang memandang kepadanya, Nara melanjutkan berkata, “Perguruan Bukit Dalam adalah tempat tersembunyi yang berbenteng kuat. Orang asing yang tidak akrab dengan daerah itu akan sangat sulit menemukannya, apalagi sampai menemukan pintu masuknya. Sangat jelas ada pengkhianat. Namun, siapa pengkhianatnya?”
Terkejutlah Bunga Senja dan keluarganya. Kemarahan jelas terpancar dari wajah-wajah mereka, terutama pada wajah kedua anak lelaki Ki Rawa Banggir dan keempat muridnya.
__ADS_1
“Jika ketahuan siapa pengkhianat itu, aku bersumpah tidak akan melepaskannya dari kematian!” geram Riskaya dengan pandangan yang mengandung dendam.
Mendengar perkataan Riskaya, Joko Tenang jadi agak delikkan mata dan naikkan alisnya.
“Jika kalian saja tidak tahu siapa pengkhianatnya, apalagi kami. Namun, ada pertanyaan di dalam benakku. Kami adalah orang-orang yang tidak disukai oleh para tetua di Jurang Lolongan pada hari pertemuan, karena aku lebih memilih membela Dewi Geger Jagad. Namun, kenapa kalian justru datang ke Sanggana Kecil. Bukankah kalian bisa datang kepada para Ketua Barisan Putih?” tanya Joko Tenang.
Terdiamlah Bunga Senja dan pihaknya. Ia dan Rani Pinang justru saling pandang.
“Maafkan jika pertanyaanku menyinggung perasaan kalian yang sedang berduka. Aku hanya ingin tahu alasan kalian memilih datang ke mari karena kami tidak memiliki hubungan dengan Barisan Putih,” ucap Joko Tenang kemudian.
“Tidak apa-apa, Gusti Prabu. Kami hanya melaksanakan perintah terakhir suami kami.” Kali ini yang bicara adalah Rani Pinang.
“Oh, begitu,” ucap Joko Tenang tanda mengerti.
“Kakang Prabu, yang diserang Pasukan Siluman adalah Ketua Barisan Putih dan perguruannya, sedangkan kita tidak memiliki kaitan dengan Barisan Putih. Kita tidak bisa mengambil kesimpulan atau keputusan yang berkaitan dengan Barisan Putih. Alangkah bijaknya jika kita minta pendapat tokoh tua yang hadir dalam pertemuan di Jurang Lolongan,” kata Ratu Getara Cinta.
“Berarti kita harus memanggil Pangeran Lidah Putih?” tanya Joko Tenang.
“Benar,” jawab Nara.
“Nenek genit itu juga!” sahut Kerling Sukma pula, merujuk kepada Bidadari Wajah Kuning.
“Hahaha!” tawa Joko Tenang mendengar sebutan “nenek genit”.
“Untung aku tidak genit. Jadi kau selamat dari hukuman, Mata Hijau!” celetuk Nara, membuat Kerling Sukma mengerenyit ngeri.
“Untung Guru tidak tersinggung…” batin Kerling Sukma.
Maka Joko Tenang memerintahkan prajurit untuk memanggil kembali Pangeran Lidah Putih, Serigala Perak dan Bidadari Wajah Kuning. Alangkah bahagianya Bidadari Wajah Kuning dipanggil kembali oleh Joko Tenang.
Namun, setibanya mereka di Aula Dewi Bunga, mereka terheran melihat kehadiran dua istri dari Ki Rawa Banggir. Dan terkejutlah mereka bertiga saat mendengar kabar kematian Ki Rawa Banggir dan pembantaian yang dilakukan oleh Pasukan Siluman Generasi Puncak.
“Ini tragedi besar. Ketua aliran putih dibunuh secara besar-besaran,” ucap Petra Kelana sedih dan marah. “Barisan Putih harus berkumpul kembali dan memilih ketua besar baru, lalu balas menyerang ke Kerajaan Siluman!”
“Urusan balas menyerang kalian rembugkan nanti saja. Menurut kalian bertiga, apa maksud Ki Rawa Banggir memerintahkan istri dan anaknya datang ke mari sebelum dia mati?” tanya Joko Tenang kepada ketiga tetua itu.
__ADS_1
“Sangat jelas bahwa Ki Rawa Banggir bermaksud menempatkan istri-istri dan anak-anaknya di dalam perlindungan Gusti Prabu. Kata lainnya adalah, Ki Banggir menyerahkan istri-istri dan anak-anaknya kepada Gusti Prabu jika dia mati oleh para penyerang itu. Kesimpulan mudahnya, agar perlindungan itu mudah diberikan, Ki Rawa Banggir menyerahkan anak gadisnya agar mau dinikahi oleh Gusti Prabu,” tutur Serigala Perak.
“Apa?!” pekik kejut Riskaya dan Sunana bersamaan mendengar analisa Serigala Perak.
Keterkejutan juga melanda Joko Tenang dan para istrinya, tetapi tidak sampai memekik senang.
“Karena Ki Rawa Banggir penganut istri lebih dari satu, jadi dia tidak akan keberatan jika anak gadisnya menjadi istri keseratus dari Prabu Dira sekalipun,” tambah Serigala Perak.
“Apa? Istri keseratus?” kejut Riskaya dan Sunana bersamaan lagi, seolah mereka tidak percaya dengan nasib mereka yang ada di depan mata. Keduanya jadi berpikir bahwa Prabu Dira benar-benar sudah beristri sembilan puluh sembilan wanita.
“Kau terlalu kejam menyebut seratus istri, Santa Marya. Lihatlah reaksi kedua putri Ki Rawa Banggir itu!” kata Nara.
“Hehehe! Aku hanya memperkuat penafsiranku, Dewi Mata Hati,” ucap Serigala Perak lalu tertawa cengengesan. Ia memang sangat segan kepada wanita tunanetra itu.
“Penafsiran Santa Marya sangat beralasan dan kuat. Aku justru sepaham dengannya,” kata Petra Kelana.
“Jika begitu penafsirannya, aku juga minta perlindungan kepada Gusti Prabu,” ujar Bidadari Wajah Kuning sambil tersenyum kepada Joko Tenang.
“Tidak apa-apa jika kau betah bertemu aku terus, Wajah Kuning,” sahut Dewi Ara.
“Huh! Aku tidak akan pernah sudi akur denganmu, Geger Jagad!” dengus Bidadari Wajah Kuning. Senyumnya seketika berubah merengut. Ia memang memiliki dendam pribadi kepada Dewi Ara. Namun, karena Dewi Ara sudah tobat dan menjadi istri Joko Tenang, ia tidak begitu menuntut harus balas dendam. “Aku lebih memilih menjadi gundik rahasia Gusti Prabu dari pada harus bertemu denganmu!”
“Tidak ada istilah gundik simpanan atau istri rahasia dalam lingkaran cinta Kakang Prabu!” sahut Kerling Sukma pula.
“Cukup cukup cukup!” lerai Joko Tenang. “Tidak elok didengar meributkan masalah seperti ini di depan umum.”
“Kakang Prabu, kita sudah memiliki hukum bahwa siapa pun yang datang meminta perlindungan, meski dia seorang yang dianggap sebagai musuh, kita akan melindunginya, terlebih mereka adalah keluarga Ketua Barisan Putih,” kata Tirana.
“Tolong Ibu Bunga Senja memperjelas kembali maksud kedatangan kalian ke Sanggana Kecil, sebab kami tidak memiliki hubungan dengan Barisan Putih!” ujar Ratu Getara Cinta.
“Izinkan aku yang menjawab, Ibu,” ucap Riskaya kepada Bunga Senja.
“Silakan, anakku,” ucap Bunga Senja mengizinkan.
Semua mata pun tertuju kepada wajah jelita Riskaya, kecuali mata Nara dan Sandaria. (RH)
__ADS_1