
*Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)*
Joko Tenang dan keempat orang yang bersamanya sudah tiba di jalanan Bukit Tiga Pucuk. Namun mereka belum menemukan rombongan pendekar yang mereka kejar.
Joko Tenang berhenti saat melihat seorang lelaki separuh baya sedang mengendarai seekor kerbau yang berjalan penuh khidmat.
Joko Tenang mendekatkan kudanya ke depan perjalanan si kerbau, lebih tepatnya menghadang.
“Maaf, Ki. Apakah Kisanak melihat rombongan pendekar berlalu di sepanjang jalan ini?” tanya Joko Santun.
“Ada, Nak Pendekar,” jawab lelaki penunggang kerbau.
Saat itu Joko Tenang dan permaisurinya mengenakan pakaian pendekar, bukan pakaian sebagai raja atau ratu.
“Jadi mereka sudah ada di depan sana?” terka Joko Tenang menyimpulkan sambil menunjuk jauh ke belakang si bapak.
“Iya, belum lama,” jawab pengangon kerbau tersebut seraya tersenyum.
“Terima kasih, Ki. Silakan, Ki!” ucap Joko Tenang seraya tersenyum ramah, lalu menggeserkan kudanya agar kerbau bapak itu bisa melenggang dengan damai.
“Mereka sudah ada di depan,” kata Joko kepada rombonganya.
“Apa rencanamu, Kakang Prabu?” tanya Sri Rahayu.
“Karena kita berlima, aku berencana menculik lima orang pertama dari mereka,” jawab Joko Tenang.
“Berarti kita melakukan penyergapan?” tanya Bidadari Wajah Kuning.
“Benar, tapi hanya aku dan Permaisuri Asap Racun. Kalian bertiga menunggu mangsa yang kami beri,” jawab Joko Tenang.
“Baik,” kata Arya Mungga.
“Jika kita berniat menyergap, lebih baik kuda kita simpan dan kita naik ke atas bukit!” usul Bidadari Wajah Kuning.
“Ayo!” ajak Joko Tenang.
Mereka pun mencari tempat yang bagus untuk menambatkan kuda.
“Arya Mungga!” panggil Joko Tenang saat ia menambatkan kudanya.
“Hamba, Gusti Prabu,” jawab Arya Mungga.
“Apakah kau suka mendaki bukit?” tanya Joko Tenang.
“Setiap hari, Gusti Prabu,” jawab Arya Mungga.
“Berarti kau punya banyak istri?” tanya Joko Tenang.
“Ah?” desah Arya Mungga tidak mengerti, jelas-jelas ia masih jomblo ori.
__ADS_1
“Aku, jika tidak memiliki istri, aku tidak bisa mendaki bukit. Dengan istri banyak, aku bisa lebih sering mendaki bukit,” jelas Joko Tenang serius.
“Hahaha!” tawa Arya Mungga pendek yang jadi mengerti arti “mendaki bukit” itu apa.
Justru Riskaya yang jadi tersenyum malu menggemaskan menyikapi selorohan Joko Tenang yang tanpa senyum itu.
“Kakang Prabu!” ucap Sri Rahayu seraya tersenyum, tapi melirik tajam.
“Hihihi…!” Yang tertawa panjang justru Bidadari Wajah Kuning. “Kalau aku tidak suka mendaki, tapi suka didaki. Hihihi!”
“Hahaha!” tawa Joko Tenang dan Arya Mungga mendengar kegenitan Bidadari Wajah Kuning.
Mereka lalu bergerak naik mendaki salah satu bukit dari tiga bukit yang tumbuh besar berdampingan. Dengan ringannya mereka berlima berkelebat seperti belalang yang melompat ke sana ke sana tanpa rehat beristirahat.
Hingga akhirnya, mereka tiba pada satu sisi pinggang bukit. Posisi itu cukup tinggi dari jalan raya yang mengelilingi separuh kaki bukit.
“Mereka ada di bawah,” bisik Joko Tenang. Ia belum melihat rombongan pasukan yang mereka incar, tetapi dia sudah mendengar keramaian yang ada di jalan di bawah sana. Lalu perintahnya, “Kalian bertiga tunggulah di kaki bukit timur. Persiapkan kesaktian kalian!”
Ketiga pengikut Joko Tenang mengangguk serentak. Ketiganya lalu berkelebat pergi menuju lokasi yang kira-kira dimaksud oleh raja ganteng itu.
Joko Tenang dan Sri Rahayu lalu melongokkan kepalanya ke depan, mengintai rombongan manusia yang jauh di bawah sana. Mereka melihat puluhan orang berperawakan pendekar. Jumlah mereka sudah bukan seratus lagi, karena sejumlah dari mereka tewas dalam pertarungan di Perguruan Bukit Dalam.
Di deretan depan rombongan berjalan Siluman Raksasa dan empat pemimpin pasukan.
“Kau dan aku bisa masuk ke alam gaib. Yang paling belakang kita ambil satu per satu,” ucap Joko Tenang lirih kepada istrinya, yang rapat kepadanya.
“Jika aku yang mengambil, mereka akan keracunan. Mereka pun akan mencium keberadaanku,” kata Sri Rahayu.
Wanita beracun itu hanya tersenyum seiring tubuh Joko Tenang lenyap begitu saja. Joko Tenang telah menggunakan ilmu Merah Raga-nya. Maka Sri Rahayu pun menghilang masuk ke alam gaib.
Siluman Pisau Angin nama lelaki yang berjalan paling belakang. dia pria berusia tiga puluh lima tahun. Lelaki berpakaian biru keputihan itu tidak berbekal senjata apa pun, karena senjatanya adalah angin. Ia berjalan tiga tombak di belakang pendekar di depannya.
Clap!
Tiba-tiba sosok Siluman Pisau Angin lenyap begitu saja. Hilangnya Siluman Pisau Angin tidak diketahui oleh dua rekannya yang berjalan di depannya.
“Kenapa kita tidak berlari saja?” keluh lelaki berbadan agak gemuk dan berkepala botak. Kepalanya dilingkari oleh cincin logam yang pada titik dahi ada miniatur kepala kodok. Lelaki berusia empat puluh tahun itu bernama Siluman Kodok Botak. Ia bersenjatakan pisau sabit tanpa gagang.
“Karena Panglima ingin berlama-lama bebas dari tugas,” jawab pemuda berbadan kurus berkepala besar. Rambutnya yang gondrong membuat kepalanya terlihat besar. Ia membawa dua toya kecil berwarna hijau gelap. Toya itu hanya sepanjang satu hasta. Dia bernama Siluman Tongkat Mungil.
“Pisau Angin!” panggil Siluman Kodok Botak sambil menengok ke belakang. Namun si botak itu harus kecele. Orang yang dipanggilnya tidak ada di belakang. “Loh, ke mana Pisau Angin?”
“Ah, biasanya pergi kencing di bawah pohon kenangan. Hahaha!” jawab Siluman Tongkat Mungil lalu tertawa sendiri.
“Kebiasaan!” rutuk Siluman Kodok Botak sambil berhenti sejenak dengan mata tetap mencari-cari keberadaan rekannya yang diduga pergi pipis.
Clap!
Tahu-tahu Siluman Kodok Botak lenyap begitu saja, tanpa ada yang melihat kehilangannya.
“Ih, bau wangi mawar,” ucap Siluman Tongkat Mungil.
__ADS_1
Namun, perkataan Siluman Tongkat Mungil tidak ada yang menyahuti atau mengomentari. Hal itu membuatnya menengok ke belakang. Ia jadi berhenti berjalan dengan sepasangan alis naik terdiam, sementara matanya bergerak memandang ke sekitar. Sedikit pun ia tidak melihat keberadaan Siluman Kodok Botak.
“Loh, kok tidak ada?” tanya Siluman Tongkat Mungil kepada dirinya sendiri.
Ia lalu berbalik memandang punggung keempat temannya yang berjalan di depan.
“Gatal! Rambut Gaib!” panggil Siluman Tongkat Mungil.
Meski dua orang yang dipanggil, tetapi tiga lelaki dan satu wanita yang menengok kepada Siluman Tongkat Mungil. Mereka berhenti berjalan.
“Kenapa?” tanya Siluman Gatal sambil menggaruk punggung tangan kirinya. Pemuda berkulit titik-titik hitam karena banyak bekas bentol gatalnya itu, menyandang sebuah golok besar di punggungnya.
“Ke mana Pisau Angin dan Kodok Botak?” tanya Siluman Rambut Gaib sebelum Siluman Tongkat Mungil menjawab.
“Tidak tahu,” jawab Siluman Tongkat Mungil.
“Tidak tahu bagaimana?” tanya Siluman Belai Menjerit, wanita bermata sayu berpakaian putih hijau muda. Usianya masih muda.
“Ya tidak tahu,” tandas Siluman Tongkat Mungil. “Hei, apakah kalian mencium wangi bunga mawar?”
“Iya. Kenapa?” jawab Siluman Rambut Gaib lalu balik bertanya.
“Kalian anggap itu biasa?” tanya Siluman Tongkat Mungil.
Terdiamlah keempat siluman lawan bicara Siluman Tongkat Mungil.
“Harum mawarnya seperti aroma tubuh Bidadari Asap Racun,” kata Siluman Gatal.
Perkataan Siluman Gatal itu membuat mereka berlima mendadak tegang. Sementara mereka mulai agak jauh dari barisan belakang rombongan.
“Aku curig….”
Perkataan Siluman Tongkat Mungil mendadak terputus bersamaan dengan lenyapnya tubuhnya dari pandangan keempat rekannya. Siluman Tongkat Mungil jelas-jelas menghilang di depan mata. Dua tongkat mungilnya jatuh tertinggal di tanah jalanan.
“Kita diseraaang!” teriak Siluman Gatal yang tersadar harus berbuat apa.
Teriakan Siluman Gatal yang terdengar sampai ke barisan paling depan mengejutkan semua pendekar itu. Seketika mereka melihat ke berbagai arah. Namun kemudian, mereka tidak melihat seorang pun musuh.
“Siapa yang menyerang, Gatal?!” teriak Siluman Panah Kosong, wanita cantik dan seksi, salah satu pimpinan pasukan itu.
“Tidak tahu!” jawab Siluman Gatal berteriak.
“Jangan bergurau kau, Siluman!” maki Siluman Pedang Botak, seorang pemimpin pasukan juga.
“Tapi Siluman Tongkat Mungil baru saja disambar genderuwo!” sahut Siluman Belai Menjerit.
“Pisau Angin dan Kodok Botak juga hilang!” teriak Siluman Gatal lagi.
Suasana berubah riuh dan tegang.
Siluman Raksasa dan keempat pemimpin pasukan itu segera berjalan ke belakang rombongan dengan ekspresi wajah yang serius. (RH)
__ADS_1