8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mis Kekar 8: Tiga Nenek Putih


__ADS_3

*Misteri Kematian Pendekar (Mis Kekar)*


 


“Murai, aku ingin sekali beritirahat dan tidur. Angin di pinggiran hutan ini sangat memanjakan mata tuaku,” ujar Emping Panaswati kepada Murai Manikam.


“Baik, Nek,” jawab Murai Manikam, wanita cantik yang kedewasaannya tidak membuatnya berhenti bersikap seperti anak penurut.


Urusan mereka di Kerajaan Sanggana Kecil sudah selesai. Mereka memutuskan pulang. Tidak seperti Joko Tingkir, mereka berdua tidak dibekali kendaraan. Memang Emping Panaswati menolak naik kuda, dalihnya bahwa ia sudah tua. Ia lebih suka melesat terbang seperti burung walet, meskipun pada faktanya mereka berjalan kaki.


Emping Panaswati dengan enaknya merebahkan diri di tanah miring yang berlapis dedaunan bambu kering. Sementara Murai Manikam memilih duduk sambil menyelonjorkan kedua kakinya.


“Murai, apakah kau tidak tertarik menjadi salah satu permaisuri di Sanggana Kecil?” tanya Emping Panaswati tiba-tiba.


Pertanyaan itu membuat sepasang mata Murai Manikam mendelik.


“Kenapa Nenek tanyakan itu? Bukankah kita sudah meninggalkan Sanggana Kecil?” Murai justru balik bertanya.


“Joko Tenang itu cucuku, meski bukan cucu dari garisku. Sedangkan aku menyukaimu sejak kau masih mungil. Jadi aku ingin kau mendapat kehidupan yang lebih baik daripada terus mengikuti Anai Layang, yang hanya menyendiri tanpa cinta dan kasih sayang,” jawab Emping Panaswati.


“Seharusnya Nenek menanyakannya sebelum kita meninggalkan Sanggana Kecil,” kata Murai Manikam sambil tersenyum sendiri.


“Lalu, jika aku menanyakannya sebelum kita pergi, kau bersedia jika Joko Tenang mau memperistrimu?” tanya Emping Panaswati.


“Hihihi!” tawa Murai pelan, menunjukkan rona merah pada wajahnya. Namun, itu tidak dilihat oleh si nenek yang berbaring dengan memejamkan matanya, menikmati belaian angin senja.


“Jika kau tertawa, berarti sebenarnya kau tertarik kepada Joko Tenang, tetapi kau hanya malu,” kata Emping Panaswati menyimpulkan.


“Waktu di Gua Lolongan, Permaisuri Tirana menawariku, tapi aku jawab bahwa aku belum siap bercinta seperti mereka. Lagipula aku pikir, apalah artinya aku di antara para permaisuri yang kecantikannya begitu indah-indah dan masih begitu muda-muda,” kata Murai Manikam sambil senyum-senyum samar dan memandang jauh ke depan, ke arah sungai yang letaknya cukup jauh.


“Aku melihat Joko Tenang tidak begitu. Meski masih muda, tetapi ia bijak. Kau lihat sendiri keberhasilannya menundukkan Dewi Geger Jagad. Aku rasa jika kau menjadi istrinya, yaaa pastilah kau juga akan mendapat bagian ranjang. Hihihi…!” kata Emping Panaswati, lalu akhirnya tertawa panjang, menggoda Murai Manikam yang memang belum pernah punya pasangan lelaki selama hidupnya, padahal dia tergolong wanita yang cantik.


“Nenek!” sebut Murai Manikam jadi merengut malu, tapi akhirnya tersenyum simpul.


Emping Panaswati terus tertawa berbuntut panjang.


“Nek, aku mau ke sungai di sana, Nenek jangan ke mana-mana ya!” kata Murai Manikam.


“Pergilah. Aku tidak akan ke mana-mana karena pasti sebentar lagi aku akan tertidur,” kata Emping Panaswati lirih, terdengar begitu mengantuk.


Murai Manikam lalu bangkit dan melangkah pergi menyusuri tanah berumput yang luas menuju sungai.


“Kerr!”


Suara dengkuran halus terdengar dari mulut tua Emping Panaswati, menunjukkan ia benar-benar tertidur.

__ADS_1


Ketika Murai Manikam sudah tiba di sungai, tiba-tiba ada tiga orang berpakaian putih-putih yang mendarat di dekat Emping Panaswati. Tiga orang itu adalah tiga orang wanita tua berambut serba putih, berpakaian serba putih. Semuanya menggenggam sebatang toya pendek setebal jari yang juga berwarna putih. Meski sudah tua, tetapi ketiganya masih terlihat segar.


Seet!


Tiba-tiba tongkat bambu Emping Panaswati yang melingkar di pinggang, bergerak melesat cepat menjadi lurus dan menyerang ketiga wanita tua yang datang.


Ketiga nenek serba putih itu terkejut mendapat serangan tongkat bambu lentur Emping Panaswati. Kompak mereka melompat mundur menghindari sambaran tongkat. Ketika ketiganya sudah mendarat halus dari lompatannya dan fokus kepada lawan, ternyata Emping Panaswati sudah berdiri dan tongkatnya sudah tergenggam di tangan kanan.


“Cuih! Orang-orang sakti berdosa tiba-tiba muncul. Kalian pasti ingin membunuhku!” ketus Emping Panaswati dengan didahului meludah ke tanah.


“Habisi!” perintah nenek putih yang bertubuh agak gemuk dan paling pendek. Ia bernama Reka Wani.


Dua nenek putih yang bernama Sunik Rangkai dan Surti langsung bergerak seperti gerakan setan. Tanpa terlihat gerakan berpindahnya, tahu-tahu mereka bertiga sudah dalam posisi mengepung Emping Panaswati.


Zezz!


Emping Panaswati mengepalkan tangan kirinya dengan tenaga sakti yang seketika menyebar dalam wujud sinar kuning. Tiga sinar kuning seperti mata tombak melesat ke tiga arah yang menyerang pengeroyoknya.


Kompak ketiga nenek itu meloncat cepat dengan gaya seperti tupai terbang, tubuhnya berpose tengkurap di udara, membuat sinar kuning yang menyerang mereka lewat di bawah tubuh.


Clap!


Ketika mereka berada di udara itu, ketiganya lenyap dari pandangan. Hal itu mengejutkan Emping Panaswati.


Seet!


Dags!


Tiba-tiba ujung tongkat bambu terbang itu menghantam sesuatu yang tidak terlihat. Namun akibatnya, sesosok tubuh nenek serba putih muncul keluar dari lapisan udara dalam kondisi yang terdorong mundur nyaris jatuh.


Pada saat yang sama, nenek bernama Reka Wani muncul di atas Emping Panaswati yang langsung memukulkan tongkat kecil putihnya ke arah kepala.


Daks!


Emping Panaswati tidak punya cara lain selain menangkis dengan silangan kedua tangan bersinar hijau ke atas. Ternyata tangkisan itu mampu menahan tingginya tenaga sakti yang ada pada tongkat itu.


Paks!


“Ak!” jerit Emping Panaswati tertahan saat nenek yang bernama Surti tiba-tiba muncul di sisi kirinya dengan membungkuk sambil mendaratkan satu tamparan ke lutut kiri.


Paks!


“Ak!” jerit Emping Panaswati lagi, setelah Surti bergerak lincah memutari belakang kakinya dan mendaratkan serangan serupa pada lutut kanan.


Emping Panaswati seketika itu tidak bisa mengangkat kaki, kedua kakinya seolah dibuat terpaku.

__ADS_1


West!


Tongkat terbang Emping Panaswati melesat cepat menyerang Surti, yang kembali menghilangkan diri dari pandangan mata.


Zess! Sess! Bluaarr!


Giliran Sunik Rangkai yang melesat maju menusukkan tongkat putihnya. Seperti tongkat penyihir, dari ujung toya pendek itu melesat sinar merah berbentuk bola kecil.


Dalam kondisi kedua kaki terpaku, Emping Panaswati melesatkan pula sinar putih bulat berpijar.


Kedua sinar bertemu di pertengahan jarak, menciptakan ledakan tenaga yang dahsyat dan nyaring. Nenek putih bernama Sunik Rangkai terlempar balik dan jatuh berguling. Sementara Emping Panaswati terpental keras ke belakang.


Furr!


Di saat Emping Panaswati terpental itu, sosok dari Reka Wani melintas di atas tubuhnya sambil menaburkan bubuk putih ke tubuh lawannya.


Sementara itu di sungai, Murai Manikam terkejut ketika mendengar suara ledakan yang berasal dari tempat yang agak jauh.


Murai cepat naik ke atas tanah dan melihat ke arah tempat ia dan Emping Panaswati tadi beristirahat. Murai terkejut ketika ia melihat ada empat orang yang sedang bertarung di sana.


“Nenek Emping dikeroyok tiga nenek!” ucap Murai Manikam lirih.


Clap!


Tiba-tiba sosok Murai Manikam hilang dari pandangan mata. Namun, sepertinya ia akan terlambat, sebab Emping Panaswati sudah ambruk.


Serbuk racun yang ditabur Reka Wani membuat Emping Panaswati langsung melemah.


Setelah jatuh dari terpentalnya, Emping Panaswati cepat bangkit, tetapi pengaruh racun yang menerpa tubuhnya dan terhirup oleh hidungnya langsung bereaksi. Emping Panaswati jadi berdiri terhuyung.


Pada saat itulah, sosok Surti tahu-tahu muncul di udara tepat di atas kepala Emping Panaswati.


Suk!


“Hekrr!”


Dari sisi atas, ujung tongkat putih Surti menusuk batang kiri leher Emping Panaswati. Nenek Tongkat Lentur menjerit tertahan.


Ketika tongkat itu dicabut, maka tumbanglah Emping Panaswati. Darah mengalir deras dari lubang di lehernya.


Racun dan luka pada leher membuat Emping Panaswati cepat mati. Reka Wani bertindak cepat menulis serangkai kalimat pada kain baju Emping Panaswati, menggunakan ujung tongkat yang dicelup darah.


Setelah itu, ketiga nenek putih cepat berkelebat pergi. Meski mereka tidak tahu tentang kedatangan Murai Manikam yang tidak terlihat, tetapi mereka telah pergi sebelum gadis itu tiba di lokasi pertarungan.


Clap!

__ADS_1


“Nenek Emping!” teriak Murai Manikam setibanya di lokasi pertarungan. Ia muncul dari balik tabir udara. Ia jadi bingung, apakah harus mengejar para pembunuh atau mengurusi mayat Emping Panaswati.


Ketika ia hendak menyentuh tubuh Emping Panaswati, ia cepat menahan diri ketika mencium bau tajam dari racun yang membunuh wanita tua itu. (RH)


__ADS_2