
*Pelabuhan Cinta Ratu (PCR)*
Tabib Rakitanjamu berjalan tergesa-gesa mengikuti prajurit yang ditugaskan memanggilnya. Ia membawa keranjang bambunya. Kali ini ia dibawa langsung ke kamar pribadi Prabu Dira Pratakarsa Diwana.
“Tabib Istana tibaaa!” teriak prajurit penjaga depan pintu kamar Joko Tenang.
Orang yang membukakan pintu Tabib Rakitanjamu adalah Ratu Getara Cinta. Ketika Tabib Rakitanjamu masuk ke dalam kamar Joko Tenang yang luasnya seluas lapangan sepak bola, di ruangan itu hanya ada Joko Tenang yang sedang berbaring di ranjang megahnya, Permaisuri Nara dan Permaisuri Sri Rahayu. Joko berbaring mengenakan baju, tetapi tubuh bawahnya ditutupi oleh selimut.
“Apa yang Gusti Prabu lakukan lagi, Gusti Ratu?” tanya Tabib Rakitanjamu kepada Ratu Getara Cinta sambil berjalan menuju ranjang raja yang berwarna emas dikombinasi warna kain hitam.
“Gusti Prabu pergi berkuda untuk menemukan ibu Permaisuri Sri Rahayu yang jatuh ke jurang. Setelah menangani Gusti Prabu, kau harus mengobati ibu Permaisuri Si Rahayu dan lima orang abdinya yang terluka oleh Gusti Prabu,” ujar Ratu Getara Cinta.
“Berarti kondisi Prabu Kecil semakin buruk?” terka Tabib Rakitanjamu.
“Ya, seperti itulah keadaannya, Tabib,” jawab Ratu Getara Cinta.
Akhirnya Tabib Rakitanjamu tiba di sisi tubuh Joko Tenang.
“Keluarkan kemampuan terbaikmu, Tabib Teguk Getir. Jangan sampai milik Gusti Prabu tidak berfungsi lagi,” kata Nara kepada Tabib Rakitanjamu dengan menyebut julukan ternama lelaki tua itu.
“Baik, Gusti Permaisuri,” ucap Tabib Rakitanjamu.
“Periksalah, Tabib!” perintah Joko Tenang dengan wajah yang tidak ceria, sebab ia sejak tadi menahan rasa sakit yang berdenyut pada pusakanya.
“Maafkan hamba, Gusti Prabu,” ucap Tabib Rakitanjamu meminta izin untuk melihat pusaka sang prabu di bawah selimut.
Setelah mengintip sejenak singa di bawah selimut, Tabib Rakitanjamu kemudian melepas kembali selimut itu dari tangannya.
“Ini begitu parah, Gusti Prabu. Memang ini bisa sembuh kembali, tetapi akan memakan waktu sekitar tiga hari. Hamba akan membuatkan obat yang lebih keras untuk dioleskan. Setelah pengobatan, Gusti Prabu jangan bercelana lebih dulu selama masa pembengkakan. Dan ingat, jangan dipakai dulu!” ujar Tabib Rakitanjamu.
“Baik, aku akan patuh demi keutuhan rumah tanggaku,” kata Joko Tenang.
“Pengobatan hamba hanya akan meredakan rasa sakitnya. Nanti hamba akan buatkan salep yang baru,” kata Tabib Rakitanjamu. “Izinkan hamba, Gusti Prabu!”
Tabib Rakitanjamu lalu melakukan gerakan tangan kanan dalam posisi telunjuk tegak berdiri dan jari yang lainnya menggenggam. Jari telunjuk itu kemudian bersinar hijau terang.
Tus tus tus!
Tiga tusukan telunjuk kemudian didaratkan pada area pangkal paha Joko yang tertutup selimut. Sangat jelas terlihat, setelah itu ada tugu Monas yang berdiri gagah di bawah selimut.
Melihat hal itu, Ratu Getara Cinta dan Permaisuri Sri Rahayu sebenarnya ingin tertawa, tetapi mereka tahan. Sementara Permaisuri Nara tidak bereaksi, meski ia tahu apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
Tabib Rakitanjamu lalu melesatkan satu garis aliran sinar hijau kepada tugu Monas yang berdiri di bawah selimut. Dalam proses itu, tampak tangan kanan Tabib Rakitanjamu sampai gemetar, seolah tenaga dalam yang ia kerahkan cukup besar.
Tidak berapa lama, proses pengobatan itu berakhir.
Joko Tenang sendiri merasakan rasa sakit pada pusakanya telah berkurang dan berganti dengan denyut-denyut manja belaka.
“Sudah selesai, Gusti Prabu,” ucap Tabib Rakitanjamu.
“Terima kasih, Tabib,” ucap Joko Tenang seraya tersenyum.
“Tidak apa-apa, Gusti Prabu. Menjaga kesehatan Prabu Kecil sangat penting bagi seorang lelaki, terlebih seorang raja. Nanti aku pun akan membuatkan ramuan harian untuk Gusti Prabu dan para permaisuri agar bisa berhubungan lebih maksimal,” kata Tabib Rakitanjamu.
“Terima kasih, Tabib!” ucap Joko Tenang lagi.
“Hamba mohon diri, Gusti Prabu,” izin Tabib Rakitanjamu lalu menjura hormat kepada Joko Tenang dan para permaisuri.
Tabib Rakitanjamu pun pergi. Ia dibawa oleh prajurit menuju kamar tempat Ratu Sri Mayang Sih berada.
“Aku tahu kalian ingin tertawa,” kata Joko Tenang kepada ketiga istrinya.
“Aku tidak akan tertawa,” kata Nara.
“Hihihi…!” tawa Ratu Getara Cinta pada akhirnya.
Sementara Permaisuri Sri Rahayu sebagai pihak yang bersalah hanya tersenyum. Kedua wanita jelita itu melihat sejenak ke selimut, terlihat tugu Monas sudah tidak tegak karena terkena imbas PPKM Darurat.
“Jika benar Raja Anjas yang membunuh Ayahanda, maka aku akan mencoba menuntut balas, karena Kakang Prabu berjanji tidak akan ikut campur,” jawab Sri Rahayu.
“Jika Ayahanda Raja Anjas tiba di sini, lebih baik kita perjelas lebih dulu duduk perkaranya. Sebagai seorang raja dan pendekar sakti, aku berkeyakinan Ayahanda Raja Anjas tidak akan berdusta atau menutupi perkara yang sebenarnya seperti apa,” kata Ratu Getara Cinta.
“Lalu bagaimana dengan Ibunda Ratu?” tanya Joko Tenang.
“Ibunda baru akan puas jika bertarung habis-habisan dengan Raja Anjas. Namun, jika Raja Anjas bisa membunuh Ayahanda, berarti kesaktian Ibunda akan sangat jauh di bawah Raja Anjas. Sementara kelima pangeran dalam kondisi terluka parah. Mungkin Ibunda akan mengandalkanku untuk bertarung dengan Raja Anjas,” kata Sri Rahayu.
“Aku berharap tidak ada yang mati di antara kalian. Kalian semua adalah orang-orang yang kami cintai,” kata Joko Tenang.
“Aku mengerti, Kakang Prabu,” kata Sri Rahayu.
“Kakang Prabu, purnama kedua tinggal sepekan lagi. Setelah tiga hari penyembuhan, Kakang Prabu harus segera ke Jurang Lolongan agar tidak terlambat,” kata Ratu Getara Cinta.
“Aku yang akan menemani Kakang Prabu pergi ke Jurang Lolongan. Aku harus menghadapi dunia sebagai istri dari murid mantan kekasihku,” kata Nara.
“Apakah kita akan berangkat bersama Tabib Rakitanjamu dan Iblis Takluk Arwah?” tanya Joko Tenang.
__ADS_1
“Biarkan mereka berangkat masing-masing. Aku tidak mau kebersamaan denganmu diganggu oleh orang lain,” kata Nara.
“Lalu bagaimana dengan Kerajaan Baturaharja dan Ratu Lembayung Mekar?” tanya Ratu Getara Cinta.
“Rencana aku ke Baturaharja terpaksa aku batalkan. Kita tunggu laporan dari sana. Kita juga belum mendapat kabar dari Permaisuri Pedang. Sudah cukup lama ia pergi ke Kerajaan Walangan. Untuk Ratu Lembayung Mekar, aku baru bisa menemuinya setelah aku sembuh dari sakitku. Sering-seringlah berbincang dengannya, tapi jangan ceritakan tentang apa sakitku,” kata Joko Tenang.
“Baik, Kakang Prabu,” ucap Ratu Getara Cinta.
Sementara itu di salah satu koridor Istana, Tabib Rakitanjamu harus menghentikan langkahnya saat menuju ke kamar Ratu Sri Mayang Sih.
“Tabib Teguk Getir!” panggil seseorang dari sisi samping.
Tabib Rakitanjamu berhenti melangkah dan berpaling melihat siapa yang memanggil gelarnya. Dilihatnya sosok Anyam Beringin sedang berlari kecil mendatanginya.
“Kau pergilah, Prajurit!” perintah Tabib Rakitanjamu.
Prajurit yang mengantar sang tabib pun segera pergi setelah menjura hormat.
“Hahaha! Tidak aku sangka kau ada di istana ini!” sapa Anyam Beringin sambil tertawa.
“Bagaimana bisa kau ada di sini, Dewa Seribu Tameng?” tanya Tabib Rakitanjamu pula yang mengenali Anyam Beringin.
“Hahaha! Aku mengikuti calon istriku. Dan kau pasti tidak tahu, calon istriku adalah janda Malaikat Dewa Raja Iblis. Hahaha!” kata Anyam Beringin.
“Apa? Jadi Malaikat Dewa Raja Iblis sudah mati?”
“Benar. Jandanya sangat cantik, langsung membuatku jatuh hati,” kata Anyam Beringin.
“Kau tidak berubah, masih saja mata keranjang,” kata Tabib Rakitanjamu. “Apakah janda yang kau maksud adalah ibu dari Permaisuri Sri Rahayu yang akan aku obati?”
“Ah, benar sekali. Benar benar benar, kau harus mengobati calon istriku. Tapi dia adalah wanita yang galak. Apa jabatanmu di Kerajaan Sanggana Kecil ini?” kata Anyam Beringin.
“Aku adalah Tabib Istana,” jawab Tabib Rakitanjamu.
“Teguk Getir, apakah kau juga termasuk yang diundang ke Jurang Lolongan?” tanya Anyam Beringin.
“Iya,” jawab Tabib Rakitanjamu.
“Ah, kita bisa berangkat bersama,” kata Anyam Beringin.
“Di sini juga ada Iblis Takluk Arwah sedang bersemadi. Dia juga akan pergi ke Jurang Lolongan,” kata Tabib Rakitanjamu.
“Berarti kita bisa berangkat bersama,” kata Anyam Beringin.
__ADS_1
“Aku harus segera mengobati ibu Permaisuri Sri,” kata Tabib Rakitanjamu lalu berjalan meninggalkan Anyam Beringin.
Anyam Beringin cepat menyusul dan berjalan menyertai Tabib Rakitanjamu. (RH)