
*Perang Pendekar Sanggana (Pepes)*
Siang itu para pendekar berpesta bakar-bakaran. Ratu Puspa dan para permaisuri baru saja panen ikan raksasa di Telaga Fatara. Dalam mendapatkan ikan yang banyak itu, sang ratu dan dua permaisuri, yaitu Yuo Kai dan Sandaria harus bertaruh nyawa.
Untung saja, ketika mereka dikeroyok oleh ikan-ikan besar, pertolongan dari sang prabu datang, baik itu Prabu Dira ataupun Prabu Anjas. Dan hasilnya, mereka jadi panen ikan besar yang melimpah. Para pendekar pun ditugaskan untuk memotong-motong ikan dari besar menjadi bagian-bagian kecil, sebab itu membutuhkan tenaga yang besar.
Para pendekar pasukan Kerajaan Sanggana dan para pendekar Pasukan Siluman berbaur satu, larut dalam pesta ikan bakar. Setelah perang kemarin, hari ini begitu mudahnya mereka bakucanda.
Sementara para pendekar senior sedang bertemu dengan Joko Tenang dan ayahnya, termasuk dengan Ratu Sri Mayang Sih dan Permaisuri Sri Rahayu. Pendekar senior yang hadir adalah Serigala Perak, Pangeran Lidah Putih, Pangeran Mabuk, Bidadari Wajah Kuning, Gadis Cadar Maut, dan Dewa Seribu Tameng.
Joko Tenang dan Raja Anjas memberitahukan tentang rencana mereka pergi menyerang ke Kerajaan Siluman.
Pada saat itu, tibalah rombongan Nenek Rambut Merah, Setan Ngompol, Joko Tingkir, Arya Permana, Lanang Jagad, Limarsih, Rara Sutri, dan Tembangi Mendayu. Mereka datang bersama rombongan tiga orang Pengawal Bunga, yakni Hantam Buta, Warok Genang dan Lintang Salaksa. Termasuk sejumlah pendekar Pasukan Hantu Sanggana dan pasukan prajurit.
Ketika di Jalur Bukit, Joko Tenang terpaksa meninggalkan mereka karena adanya kabar penyerangan Pasukan Kerajaan Siluman terhadap Kerajaan Sanggana Kecil. Sementara Murai Manikam memilih kembali ke kediaman gurunya.
Karena tidak nyaman dengan tatapan Sri Rahayu terhadap dirinya, Tembangi Mendayu akhirnya pergi bercampur ke dalam pesta bakar-bakar ikan. Ia ditemani oleh Limarsih.
Di dalam perjalanan, Limarsih dan Tembangi Mendayu jadi akrab, karena mereka sama-sama membenci Joko Tingkir, terlebih Limarsih telah disakiti oleh pemuda mata bakul itu. Di dalam perjalanan, Limarsih justru mulai dekat dengan Arya Permana yang memang masih jomblo.
Dalam pertemuan dengan Joko Tenang dan Raja Anjas, para pendekar itu terpecah dua. Kecuali Serigala Perak, Pangeran Mabuk, Dewa Seribu Tameng dan Rara Sutri, yang lainnya sepakat ikut menyerang ke Kerajaan Siluman.
Pangeran Lidah Putih memutuskan ikut karena ia bagian dari aliansi Barisan Putih. Bidadari Wajah Kuning ikut karena ia pernah menjadi korban kejahatan Kerajaan Siluman sebanyak dua kali, terutama ia bisa pergi bersama dengan Joko Tenang. Adapun Gadis Cadar Maut ikut sebagai bentuk solidaritas dan dalam rangka memberantas kejahatan di muka bumi ini.
Nenek Rambut Merah, Setan Ngompol, JokoTingkir, Arya Permana dan Lanang Jagad jelas membawa dendam atas kematian saudara dan guru mereka.
Mereka akhirnya sepakat untuk berangkat ke Kerajaan Siluman besok pagi dengan berkuda. Pertemuan pun bubar.
__ADS_1
Namun pada menjelang senja, Joko Tenang dan para istrinya dikejutkan oleh laporan kedatangan rombongan keluarga Perguruan Bukit Dalam asal Jurang Lolongan. Laporan kedatangan itu disikapi serius oleh Joko Tenang. Karenanya dia dan para istrinya akan menyambut langsung kedatangan keluarga Ketua Besar Barisan Putih itu.
“Sepertinya telah terjadi sesuatu sehingga tiba-tiba keluarga Perguruan Bukit Dalam datang ke kerajaan kita,” kata Ratu Getara Cinta.
“Benar. Tapi kenapa prajurit itu tidak menyebut Ketua Besar Barisan Putih, atau Ganesa Putih, atau Ketua Perguruan Bukit Dalam?” tanya Joko Tenang.
“Mungkin Ketua Barisan Putih tidak ikut datang,” jawab Tirana.
Pada akhirnya, rombongan keluarga Perguruan Bukit Dalam tiba di pelataran Istana. Rombongan berkuda itu terdiri dari sepuluh orang, yaitu dua istri Ki Rawa Banggir yang bernama Bunga Senja dan Rani Pinang, dua orang anak lelaki Ki Rawa Banggir yang bernama Arya Mungga dan Badika, dua anak gadis Ki Rawa Banggir yang bernama Riskaya dan Sunana, serta empat murid senior perguruan yang lolos dari pembantaian.
Melihat mereka disambut langsung oleh Raja Kerajaan Sanggana Kecil yang sangat tampan, bersama Ratu dan para permaisuri, rombongan berpakaian putih-putih itu memilih turun dari kuda ketika jarak masih cukup jauh. Mereka lalu berjalan datang mendekat.
“Hormat sembah kami kepada Gusti Prabu dan Ratu,” ucap Bunga Senja, janda Ki Rawa Banggir yang berusia enam puluh tahun, lalu menghormat dengan cara berlutut, diikuti oleh yang lainnya.
“Bangunlah, Ibu!” ucap Ratu Getara Cinta sambil cepat maju dan mengangkat kedua lengan Bunga Senja agar berdiri.
“Perkenalkan, Gusti Prabu. Hamba bernama Bunga Senja, istri pertama Ki Rawa Banggir,” ucap Bunga Senja.
“Hamba Rani Pinang, istri ketiga Ki Rawa Banggir,” kata Rani Pinang, wanita yang berusia lima puluh tahun.
“Hamba Arya Mungga, putra pertama ayahku,” kata Arya Mungga.
“Hamba Badika, putra keempat ayahku, Gusti Prabu,” ucap Badika, pemuda yang masih berusia tujuh belas tahun.
“Hamba Riskaya, anak kedua ayahku, Gusti Prabu,” ucap gadis cantik jelita berusia dua puluh lima tahun. Riskaya memiliki kecantikan yang menonjol pada hidung bangirnya yang lurus, seolah ia bukan wanita pribumi. Parasnya setengah mirip dengan Sandaria versi besar dan versi bermata terbuka. Bibirnya sama-sama menggemaskan. Jika sandaria rambutnya lebat keriting, maka Riskaya lebat lurus.
“Hamba Sunana, anak ketiga ayahku, Gusti Prabu,” ucap Sunana, adik Riskaya yang tidak kalah cantik dari kakaknya, hanya ia lebih kurus.
“Empat lelaki lainnya adalah murid-murid utama Ki Rawa Banggir,” kata Bunga Senja.
__ADS_1
Permaisuri Tirana lalu tampil memperkenalkan Joko Tenang sebagai Prabu Dira Pratakarsa Diwana, Ratu Getara Cinta dan empat permaisuri lainnya yang turut menyambut, yaitu Permaisuri Yuo Kai, Kerling Sukma, Sri Rahayu, dan Sandaria. Tirana tidak lupa memperkenalkan dirinya sendiri.
Bunga Senja dan Rani Pinang tidak terkejut menyaksikan bahwa Joko Tenang memiliki istri lebih dari empat orang. Namun bagi keempat anak Ki Rawa Banggir, itu menjadi hal yang waw bagi mereka. Ternyata Prabu Dira lebih gila dari ayah mereka dalam hal jumlah istri.
“Permaisuri Serigala, kau punya kembaran,” bisik Kerling Sukma kepada Sandaria.
“Hah, kembaran?!” pekik Sandaria kencang dan mengejutkan. Ia lalu menyerobot maju sampai melampaui tempat Joko Tenang berdiri, “Mana, mana yang katanya kembaranku?”
“Eit, bukan kembaran, tapi hanya mirip!” sergah Ratu Getara Cinta lalu dengan lembut menarik tangan Sandaria lembut.
Sandaria menurut dan hanya tersenyum menggemaskan.
Mereka hanya tersenyum melihat tingkah Sandaria yang imut menggemaskan, itulah yang tidak dimiliki oleh Riskaya, meski ia memiliki kemiripan dengan Sandaria.
“Silakan masuk, Ibu Ketua!” ucap Joko Tenang seraya tersenyum manis dan ramah.
Keluarga Ki Rawa Banggir itupun menjadi tamu bagi Keluarga Istana Sanggana Kecil. Joko Tenang dan para istrinya belum menaruh curiga. Mereka sekedar menduga ada urusan keluarga yang mau dijalin oleh keluarga Ki Rawa Banggir, sehingga kedua ibu itu juga membawa dua anak gadisnya.
Rombongan keluarga Ki Rawa Banggir diterima di Aula Dewi Bunga. Ketika di Aula Dewi Bunga, Permaisuri Nara dan Dewi Ara turut datang bergabung. Dewi Ara membawa bayinya, Arda Handara dalam gendongannya.
Kedatangan keduanya kian membuat Riskaya dan Sunana terkesiap dalam hati. Demikian pula dengan Arya Mungga dan Badika. Dua pemuda itu disuguhi kecantikan jelita yang berderet, tetapi tidak bisa dimiliki.
“Jadi, urusan penting apa yang dibawa oleh Keluarga Ki Rawa Banggir?” tanya Joko Tenang dengan santun, setelah semuanya sudah duduk dengan sempurna di kursinya masing-masing.
“Ki Rawa Banggir telah tewas tadi malam,” ujar Bunga Senja.
“Apa?!” kejut Joko Tenang dan sebagian istrinya.
“Perguruan Bukit Dalam telah dibantai dalam semalam,” tambah Bunga Senja. (RH)
__ADS_1