8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Perjaka 12: Nasib Aninda Serunai


__ADS_3

*Pendekar Raja Kawin (Perjaka)*


 


Aninda Serunai berlari terengah-engah di dalam hutan. Ia bahkan sudah beberapa kali berhenti untuk mengumpulkan daya dan melunakkan deru napasnya. Sepasang bibir merahnya yang berkumis halus terbuka untuk leluasa menarik dan membuang napas.


Setelah kalah dari kakaknya dan kehilangan seluruh kesaktiannya, Aninda Serunai pergi menyelamatkan diri dengan bersembunyi di jalan rahasia di dalam Istana. Melalui jalan rahasia, akhirnya Aninda Serunai bisa pergi meninggalkan Istana Siluman. Hanya, dia harus meberobos hutan belantara sekitar Istana untuk pergi jauh.


“Hiks hiks hiks! Joko Kutu Tikus! Teganya kau membuatku seperti ini!” maki Aninda Serunai seraya menangis. Ia lalu berteriak, “Suatu hari nanti aku akan membalasmu, Jokooo!”


Teriakannya membuat sekelompok burung yang sedang tidur-tidur ayam di atas rerimbunan daun pohon, terkejut dan terbang serempak.


Pergerakan burung di atas hutan justru mengejutkan Aninda Serunai. Ia jadi sadar bahwa ia sedang berada di dalam hutan rimba. Sebagai seorang yang sudah tidak berkesaktian sedikit pun, sangat berbahaya jika keributan dirinya memancing minat hewan buas.


Hingga malam tiba, Aninda Serunai masih berada di dalam hutan. Sebagai mantan orang sakti nomor satu di dunia, ternyata tidak membuatnya kebal takut. Ia melalui malam dengan perasaan takut penuh was-was. Sedikit-sedikit menengok kaget di dalam kegelapan. Sedikit-sedikit angkat kayu yang dipegangnya. Sedikit-sedikit tegang. Semuanya kok sedikit-sedikit?


Sulit sekali baginya untuk tidur. Jika bisa tidur pun, itu hanya sebentar karena faktor kelelahan fisik yang sangat mendera.


Keberuntungan masih berpihak pada Aninda Serunai karena ia masih selamat dari bahaya hingga pagi tiba. Ia melanjutkan perjalanannya untuk keluar dari hutan. Ia menggunakan tongkat ranting kayu guna membantunya berjalan.


“Hoekh!” mual Aninda Serunai ketika terpaksa memakan daun-daun muda. Rasa lapar yang menuntut, memaksanya harus makan sesuatu yang bisa dimakan di sekitarnya.


Sejak kecil Aninda Serunai hidup di istana dengan makanan dan minuman istana. Ia tidak pernah dan bahkan anti makan dedaunan seperti hewan ternak. Karenanya, rasa daun yang tidak biasa membuatnya mau muntah. Akhirnya Aninda pun menghentikan makan dedaunan. Ia lebih memilih menahan lapar.


Namun, ia masih punya sejumlah perhiasan di tubuhnya. Jika dijual, itu akan sangat membantunya untuk bertahan hidup.


Di saat sedang berjalan di daerah terbuka sekeluarnya dari hutan, tiba-tiba Aninda Serunai mendengar suara samar lari beberapa ekor kuda. Dengan wajah yang tegang, Aninda Serunai menengok.


Dilihatnya di kejauhan ada enam ekor kuda yang ditunggangi oleh prajurit berseragam hijau gelap, seragam khas prajurit Kerajaan Siluman. Arah lari kuda jelas akan lewat di jalan tempat ia berada.


Kemunculan prajurit berkuda itu membuat Aninda Serunai jadi panik. Ia jadi berjalan buru-buru, meninggalkan alur jalan. Ia menerabas semak belukar demi menjauhi jalan dan kedatangan para prajurit tersebut.


“Hei, berhenti!” teriak seorang prajurit saat ia dan rekan-rekannya sudah semakin dekat dan melihat tindak-tanduk wanita berpakaian ungu itu.


Karena melihat Aninda Serunai terus berjalan tergopoh-gopoh, prajurit tadi segera menggebah kudanya memisahkan diri dari rombongan. Ia mengejar Aninda Serunai dan kemudian menghadangnya dengan kuda.


Aninda Serunai terkejut dan refleks mundur lalu jatuh terduduk di rumput liar. Hadangan kuda itu begitu dekat. Meski tidak terkena, tetapi membuat takut terkena.


“Hei! Siapa kau?” tanya prajurit itu.


Aninda Serunai memilih menundukkan wajahnya. Saat itu, kelima prajurit lainnya datang mendekat dari belakang.

__ADS_1


Dengan wajah tetap tertunduk, rambut meriap-riap tidak rapi, Aninda bergerak bangkit berdiri. Terlihat jelas bahwa tangan dan kakinya gemetar, disebabkan ia memang dalam kondisi lemah.


“Siapa kau, Nisanak?” tanya prajurit yang berkuda di depan Aninda.


“Aku adalah … ratumu,” ucap Aninda Serunai lirih, tapi masih terdengar oleh prajurit di depan itu.


“Ratuku?” ucap si prajurit dengan kening berkerut, tidak mengerti. Lalu perintahnya, “Angkat wajahmu!”


Dengan tatapan tajam dan bibir menyeringai, Aninda Serunai mengangkat wajahnya.


Melihat wajah cantik, dekil, berbibir merah itu, sang prajurit cukup terkejut. Ia sepertinya mengenali Aninda Serunai, tetapi logikanya meyakini lain.


Prajurit itu jadi memandang kepada kelima rekan-rekannya, menunjukkan ekspresinya yang tidak jelas. Ia memutuskan menjalankan tunggangannya menghampiri rekan-rekannya. Sementara Aninda Serunai bergeming bersama tunjangan tongkat kayunya.


“Kenapa?” tanya salah satu rekannya si prajurit.


“Wajah wanita itu seperti Ratu Aninda Serunai!” jawab si prajurit.


“Hah!” desah kelima prajurit lainnya terkejut.


Mereka berenam jadi memandang serius kepada sosok Aninda Serunai.


“Heah!”


Wajah Aninda Serunai mudah diingat. Selain memang cantik jelita di mata setiap lelaki, bibir merah dan kumis halusnya menjadi kekhasan dari kecantikannya. Terlebih dia mengaku “ratumu”.


“Apakah kalian akan terus bertindak lancang kepadaku, Prajurit!” bentak Aninda Serunai tiba-tiba, tapi terdengar jelas getaran pada suaranya, menunjukkan memang kondisinya tidak baik-baik saja, terlebih penampilannya yang meski mewah, tetapi terlihat lusuh dan kumal. Ia seperti macan tanpa cakar dan taring, tetapi berusaha terlihat buas.


“Siapa kau, Nisanak?!” tanya satu prajurit dengan nada agak membentak.


“Sudah aku katakan, aku adalah ratumu, Ratu Aninda Serunai!” jawab Aninda Serunai mendesis.


“Tidak mungkin. Ratu kami sekarang adalah Gusti Ratu Sri Mayang Sih. Ratu Aninda Serunai sudah dikalahkan dan sudah mati. Jikapun masih hidup, dia pasti ada di penjara Kerajaan Siluman!” bantah prajurit yang bertanya tadi.


“Wajahmu memang mirip Ratu Aninda Serunai, tapi jelas kau hanya wanita pesakitan!” kata prajurit lainnya.


“Tangkap dan penjarakan di Kerajaan!” perintah prajurit yang memimpin.


Tiga orang prajurit segera melompat turun dari punggung kudanya dan bergerak hendak meringkus Aninda Serunai.


Melihat tindakan para prajurit itu, Aninda Serunai buru-buru berbalik hendak lari.

__ADS_1


“Mau lari ke mana kau, Nisanak?!” teriak salah seorang prajurit, tetapi dua orang yang kompak segera mencekal kedua lengan Aninda Serunai.


Tanpa memandang itu adalah wanita yang sangat lemah, dua prajurit itu kompak mendorong tubuh Aninda Serunai sehingga tersungkur di rerumputan.


“Prajurit Bangkai! Lepaskan aku!” teriak Aninda Serunai mencoba berontak.


Namun, selain tenaganya sangat lemah, tangan kekar para prajurit itu begitu kuat membekuk tangannya di belakang punggung.


Set! Blugk!


Tiba-tiba ada sekelebatan sinar merah tipis melesat. Tahu-tahu tubuh ketiga prajurit yang bekerja meringkus Aninda Serunai, tumbang dalam kondisi mengerikan. Tubuh mereka terpotong dua.


Kejadian tiba-tiba itu jelas mengejutkan ketiga prajurit yang masih duduk di punggung kuda.


“Lari!” teriak satu prajurit yang sadar akan bahaya. Kematian ketiga rekan mereka jelas pertanda bahaya.


Ketiganya cepat menggebah kuda mereka sekencang mungkin untuk meninggalkan Aninda Serunai dan tempat itu.


Namun, arah lari kuda mereka menemui seorang wanita berbadan tinggi dan lebar. Wanita itu berjalan tenang.


Set!


Tanpa melakukan gerakan tertentu, tubuh wanita berpakaian abu-abu itu melesatkan sinar merah tipis. Apalah daya para prajurit jika menghadapi pendekar sakti. Ketiga prajurit itupun jatuh dari kudanya dengan tubuh terbagi dua. Sementara kuda-kudanya terus berlari tanpa penunggang lagi.


Aninda Serunai buru-buru menengok guna melihat apa yang terjadi.


“Pendekar Tanpa Nyawa!” sebut Aninda Serunai terkejut. “Apakah dia akan membunuhku atau menolongku?”


Tidak butuh waktu lama, wanita yang faktanya adalah Pendekar Tanpa Nyawa itu, sudah berdiri di dekat Aninda yang masih terduduk.


“Jadi seperti ini nasibmu sekarang, Ratu. Sedikit pun tidak punya kesaktian lagi,” sapa Pendekar Tanpa Nyawa yang bisa tahu kondisi Aninda Serunai.


“Apakah kau mau membunuhku?” tanya Aninda Serunai dengan suara gemetar.


“Ikutlah denganku. Asalkan kau mau mengabdi padaku, aku akan berbaik hati kepada budakku.”


Mendelik terkejut Aninda Serunai mendengar kata “budakku”. Namun, pilihan lain selain budak, pastilah kematian. (RH)


********************


IMBAUAN

__ADS_1


Sehubungan ini adalah bulan terakhir bagi 8 Dewi Bunga Sanggana, bagi Readers yang dg murah hati memberi vote dan hadiah, dianjurkan menyimpan vote dan poinnya untuk kebutuhan yang lain. 


Selain novel ini, karya Om yg masih akan aktif adalah audio book Pendekar Pedang Berlian karya Aa Petruk. Semoga bisa memakluminya. Terima Kasih.


__ADS_2