8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
De Bude 18: Memimpin Sendiri


__ADS_3

*Dewi Bunga Kedelapan (De Bude)*


 


“Kita sedikit pun tidak terlibat dalam pertemuan para tetua itu, juga tidak ada perwakilan. Berarti kita benar-benar tidak tahu permasalahan apa yang akan mereka bahas, Gusti Prabu,” kata Tirana saat para permaisuri sedang berkumpul bersama Joko Tenang, plus Dewi Ara dan Murai Manikam. Saat itu, Dewi Bayang Kematian sedang pergi ke sungai.


Mereka tidak mengelilingi api unggun yang cukup besar, tetapi membentuk lingkaran kecil di sisi barat api.


“Benar, Kakang Prabu. Aku pikir Kakang Prabu akan dipilih menjadi pemimpin aliran putih, sesuai ramalan Malaikat Serba Tahu waktu itu,” kata Kerling Sukma sambil asik menggendong Arda Handara.


Di sisi Kerling Sukma duduk Dewi Ara. Wanita yang nyatanya sudah berusia ribuan tahun itu, seolah sudah menjadi bagian istri-istri Joko Tenang. Meski Kerling Sukma adalah murid dari Dewi Mata Hati, tetapi dia tidak mau turut campur dalam urusan besar gurunya dengan Dewi Geger Jagad.


“Aku secara terpaksa telah berbuat jahat kepada Dewi Ara. Ilmu Kakek Buyut Dewa Kematian yang ditanam pada tubuh Dewi Ara, menciptakan daya pemikat birahi yang sangat tinggi, yang tidak bisa aku tahan. Akhirnya dengan sangat terpaksa aku menodai mayat Dewi Ara yang mati sementara, sehingga lahirlah Arda Handara. Aku harus memperbaiki kejahatan itu dengan menikahi Dewi Ara dan tidak meninggalkan Arda tanpa ayah. Namun sayang, ternyata Dewi Ara sangat ternama di dunia luar. Yang lebih mengejutkan, ia bersengketa dengan kakek buyutku dan istriku juga. Aku tetap harus memilih dan ini pilihan yang sangat berat. Jika aku berpihak pada Kakek Buyut yang jelas-jelas salah, atau berpihak kepada para tetua karena mereka aliran putih, berarti aku akan meninggalkan Dewi Ara yang aku sudah berjanji kepadanya bahwa aku akan bertanggung jawab. Berarti aku akan membiarkan kendi yang sudah retak jatuh ke tanah,” tutur Joko Tenang.


“Aku merasa sangat berharga di tanganmu, Joko,” kata Dewi Ara seraya tersenyum kecil.


Joko Tenang tersenyum pula kepada Dewi Ara yang masih begitu jelita meski sudah beranak satu.


“Jika aku membiarkan diriku tetap bertahan di sana, selain harus menanggung malu, aku dan Dewi Ara akan dihujani caci maki. Aku harap kalian sudi hidup berdampingan dengan Dewi Ara, terlebih kalian tidak punya alasan untuk memusuhinya,” kata Joko Tenang kepada para istrinya.


“Dengan senang hati, Kakang Prabu,” ucap Tirana.


“Kami akan berbagi nasi, berbagi air, berbagi pakaian, berbagi rumah, hingga berbagi suami,” kata Kerling Sukma.


“Hihihi! Tapi tetap aku yang paling manja!” sahut Sandaria seraya tertawa ramai sendiri.

__ADS_1


Istri yang lain hanya tersenyum melihat tingkah Sandaria.


“Hahaha!” tawa pendek Joko Tenang.


“Apakah kau juga ingin ikut berbagi suami dengan kami, Murai?” tanya Tirana yang memang sejak awal menjadi marketing jodoh bagi Joko Tenang.


“Ah?” kejut Murai Manikam jadi salah tingkah karena dirinya tiba-tiba ditanya. Lalu sambil tertawa ia pun menjawab, “Hihihi! Terima kasih tawaranmu, Gusti Permaisuri. Aku belum siap untuk tingkat cinta setinggi itu.”


“Hihihi!” tertawa rendahlah para wanita-wanita cantik itu.


“Sebelum pertemuan para tetua, kita sudah melakukan pemberantasan orang-orang jahat dan aku sudah memimpin. Selagi aku masih menjadi seorang raja, aku akan tetap memimpin memberantas kalangan jahat, membantu pihak yang lemah tapi benar, dan melindungi orang-orang yang meminta perlindungan. Aku akan tetap memimpin pasukan dan rakyatku!” kata Joko Tenang layaknya seorang pemimpin partai yang sedang berkampanye di antara para istrinya.


Para istri hanya tersenyum mendengar tekad suami mereka yang optimis.


“Lalu bagaimana dengan seteru Permaisuri Guru dengan Dewi Ara?” tanya Kusuma Dewi.


“Tapi Kakang Prabu harus mencari jalan keluar agar Permaisuri Guru tidak bertarung dengan Dewi Ara. Pasti akan ada yang begitu kehilangan jika salah satu dari mereka ada yang mati,” kata Sri Rahayu.


“Aku akan memikirkannya,” kata Joko Tenang. “Lalu bagaimana dengan Tongkat Jengkal Dewa?”


“Setelah Kakang Prabu jatuh, kami melaksanakan perintah dengan mundur ke Jurang Lolongan. Jadi yang kami ketahui, tongkat itu masih di tangan Putri Aninda Serunai. Dia masih menjadi orang yang tidak terkalahkan,” kata Tirana.


“Kita harus cepat mewujudkan ilmu Delapan Dewi Bunga. Dengan demikian, selain ilmu Delapan Dewi Bunga kita kuasai, kesaktianku akan kembali. Dengan kembalinya ilmu-ilmuku, mungkin akan lebih mudah merebut Tongkat Jengkal Dewa, karena tongkat itu tidak mempan kepadaku,” kata Joko Tenang.


“Kita baru bisa mewujudkan ilmu itu jika Permaisuri Guru dan Dewi Ara tidak berkonflik. Selagi mereka masih bermusuhan, maka ilmu itu tidak bisa terwujud. Kedelapan Dewi Bunga harus saling berkasih, karena ilmu ini adalah ilmu yang melibatkan hati,” kata Tirana, satu-satunya orang yang memahami prosesi dalam penguasaan ilmu Delapan Dewi Bunga.

__ADS_1


“Tapi aku heran, kenapa Putri Aninda Serunai tidak mengejar kita, padahal pasukannya habis oleh pasukan kita?” kata Yuo Kai.


“Sebelum aku jatuh ke jurang, aku sempat mempengaruhi dan memanasi hatinya, tapi aku tidak tahu berhasil atau tidak. Jika berhasil, mungkin Putri Aninda Serunai lebih memilih kembali ke Istana Siluman untuk berebut tahta dari Jin Gurba,” kata Joko Tenang.


“Berarti akan ada pertumpahan darah di Istana Siluman,” kata Sri Rahayu.


“Mungkin,” kata Joko Tenang. “Itu aku lakukan agar Putri Aninda Serunai tidak memburu kalian ketika mundur ke Jurang lolongan.”


“Maafkan hamba, Gusti Prabu. Aku berharap Gusti Prabu tidak begitu lama membiarkan Tongkat Jengkal Dewa lepas. Dengan adanya pusaka itu di tangan orang yang jahat seperti saat ini, segala kejadian buruk bisa saja terjadi kepada orang-orang aliran putih,” ujar Murai Manikam.


“Aku harus akui, aku tidak bisa merebut pusaka itu hanya dengan kasaktianku saat ini. Aku memerlukan kesaktianku yang lama. Aku membutuhkan ilmu Delapan Dewi Bunga, tetapi pertengkaran antara Nara dan Ara harus selesai lebih dulu. Aku dan Nara sudah sepakat, sebelum menikahi dia, aku lebih dulu akan menikahi Ratu Lembayung Mekar di Balilitan. Aku sudah menentukan harinya dan sudah mengirim utusan, agar Ratu Lembayung segera mempersiapkan pesta pernikahannya di sana. Setelah itu, barulah aku akan menikah dengan Dewi Ara. Aku minta kepada kalian, tidak ada pertarungan antara Nara dan Ara selama kepergianku!”


“Baik, Kakang Prabu,” ucap para permaisuri.


“Apakah saat menikah di Balilitan, Kakang Prabu tidak mengajak seorang permaisuri untuk mendampingi?” tanya Kerling Sukma.


“Tidak, tapi sebelum berangkat aku akan memberikan hakmu dan hak Ratu Getara,” kata Joko Tenang seraya tersenyum, membuat para permaisuri tertawa rendah dan membuat Kerling Sukma tersipu malu.


“Kakang Prabu, Dewi Bayang Kematian datang ke mari,” bisik Tirana saat melihat sosok Dewi Bayang Kematian dari jauh-jauh jarak.


“Aku harus menjauh,” kata Joko Tenang. Sambil berdiri dari duduknya dia berkata kepada Dewi Ara, “Ayo, Ara!”


Dewi Ara pun menurut dengan membawa bayinya. Joko dan Dewi Ara pergi bersama menuju tenda. Para permaisuri yang tahu tentang hah antara Joko Tenang dan Dewi Bayang Kematian, hanya tertawa rendah.


“Kenapa Prabu Dira pergi saat aku datang?” tanya Dewi Bayang Kematian saat tiba di antara para permaisuri, sambil memandang kepada kepergian Joko dan calon istrinya.

__ADS_1


“Arda mau ditidurkan,” jawab Tirana seraya tersenyum manis kepada wanita yang sudah segar dan harum karena usai mandi di sungai. (RH)


__ADS_2