8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
PCR 6: Ikut ke Sanggana Kecil


__ADS_3

*Pelabuhan Cinta Ratu (PCR)*


 


Puluhan penduduk yang baru saja dibebaskan dari perbudakan, kini berkumpul di hadapan Anjas. Mereka tampak sudah membersihkan diri. Para wanita diberi pakaian layak.


“Kalian sudah bebas, kalian bukan lagi budak. Silakan kalian pergi dengan bahagia!” seru Anjas seraya tersenyum kepada mereka semua yang duduk bersila di tanah berumput.


“Gusti Prabu, rumah kami semua ada di Kadipaten Repakulo, tetapi di sana dikuasai oleh para pendekar jahat. Keluarga kami pun masih banyak yang ditahan di Repakulo. Jika kami pergi ke tempat lain, kami bingung harus ke mana, bisa-bisa justru kami bertemu lagi dengan orang-orang jahat itu,” kata lelaki tua yang ditokohkan di antara mereka, namanya Ki Bulungan.


Tampak Surina Asih ikut duduk di tengah-tengah para kaum wanita. Ia tersenyum-senyum sendiri.


“Kami akan melewati Kadipaten Repakulo untuk sampai ke Kerajaan Sanggana Kecil. Kemungkinan besar kami akan bertemu lagi dengan orang-orang jahat itu. Silakan kalian memilih,” kata Anjas.


“Jika diperbolehkan, kami ingin ikut ke Kerajaan Sanggana Kecil dan tinggal aman di sana!” sahut seorang lelaki separuh baya, ia duduk berdampingan bersama putrinya yang cantik.


“Aku bukan penguasa Kerajaan Sanggana Kecil, tetapi Permaisuri Tirana adalah salah satu permaisuri di Kerajaan Sanggana Kecil. Dialah yang bisa memberi izin apakah kalian boleh pergi tinggal di Sanggana Kecil atau tidak,” kata Anjas lalu beralih memandang kepada Tirana.


Para warga pun jadi menengok memandang kepada Tirana yang duduk bersama Putri Manik Sari.


“Kerajaan Sanggana Kecil sedang membuka banyak lahan pertanian dan menggarap hutan. Jika kalian ingin hidup di Sanggana Kecil, pekerjaan yang tersedia adalah petani. Kerajaan akan membangunkan kalian rumah untuk setiap keluarga!” seru Tirana.


“Kami mau ikut!” teriak Ki Bulungan cepat penuh antusias.


“Aku ikut!” teriak yang lain.


“Aku ikut! Aku adalah petani pisang!”


“Aku petani cabai dan tomat!”


“Aku pedagang sayur!”


“Aku petani wortel!”


“Aku petani kepiting!”


“Hahaha…!” tawa mereka bersama mendengar kata “petani kepiting”.


“Baiklah! Tapi kalian harus berjalan kaki untuk sampai ke Kerajaan Sanggana Kecil, sebab kami tidak memiliki kuda!” seru Tirana.


“Baik! Baik! Baik!” teriak para warga itu sangat gembira.


“Apa pun yang terjadi, kami tidak akan meninggalkan kalian. Kalian akan dipimpin oleh Demang Yono Sumoto!” kata Tirana lalu menunjuk santun kepada Demang Yono Sumoto.


“Tirana!” panggil seorang perempuan tiba-tiba, membuat semua mata memandang kepadanya. Wanita itu adalah Surina Asih. Dia terlihat tersenyum-senyum malu.


“Ya, ada apa, Kakak Surina?” sahut Tirana seraya tersenyum sejuk kepada Surina.


“Aku mau kawin. Hihihi…!” jawab Surina Asih sambil tertawa-tawa.


“Hahaha…!” tertawa riuhlah mereka mendengar permintaan Surina.


“Kakak Surina akan aku nikahkan dengan seorang pendekar, tapi harus rajin berobat dulu jika sampai di Sanggana Kecil,” kata Tirana.


“Iya iya iya!” sahut Surina mengangguk-angguk sambil tertawa senang sendiri, sementara jari tangannya menggulung-gulung ujung bajunya berulang-ulang.


“Baik, semuanya!” seru Anjas. “Kita akan lanjutkan perjalanan. Jika kita bertemu dengan kelompok penjahat, kalian harus segera berkumpul mengamankan diri!”

__ADS_1


“Baik!” jawab para warga itu serentak.


“Raja Anjas begitu bijaksana,” puji Putri Manik Sari kepada Tirana.


Tirana tersenyum lebar sambil melirik wajah cantik Putri Manik Sari.


“Juga begitu tampan, meski usianya sudah matang. Tapi Gusti Mulia sudah punya dua istri,” kata Tirana setengah berbisik.


“Tidak, aku tidak tertarik untuk menjadi istri mudanya!” sangkal Putri Manik Sari cepat. Ia lalu berjalan cepat meninggalkan Tirana dan naik ke atas bak pedati lebih dulu.


Tirana hanya tersenyum melihat tingkah Putri Manik Sari.


Maka, Anjas Perjana melanjutkan perjalanannya. Kali ini ia tidak menjadi sais, karena ada seorang warga yang menawarkan jasa menjadi sais. Sementara para warga yang jumlahnya puluhan itu berjalan kaki di belakang rombongan kereta kuda. Dengan adanya rombongan warga yang ikut itu, kecepatan perjalanan mereka harus menjadi lebih lambat.


Tampak Putri Manik Sari sesekali mencuri pandang kepada Anjas Perjana yang begitu mesra kepada Ningsih Dirama. Hal itupun tidak bisa Putri Manik Sari hindari, sebab mereka berada di atas satu pedati, termasuk bersama Permaisuri Tirana.


“Putri!” panggil Tirana yang membuat Putri Manik Sari agak terkejut, karena saat itu ia sedang melirik kepada Anjas.


“Apakah kau sudah memiliki kekasih atau calon suami?” tanya Tirana.


Pertanyaan Tirana itu agak membuat Putri Manik Sari terkesiap.


“Aku seorang putri yang galak,” jawab Putri Manik Sari jujur. “Aku orangnya sangat pemilih dan para pemuda pun tidak berani mendekatiku.”


“Biasanya, gadis seperti itu memang sulit mendapat pasangan. Namun, ketika dapat, dia akan mendapat pasangan yang terbaik,” timpal Anjas.


“Aku tidak tahu seperti apa yang disebut pasangan terbaik itu,” kata Putri Manik Sari.


“Putri adalah seorang yang sakti, tentunya pasangan yang lebih sakti. Orang itu mencintai karena kau adalah Putri Manik Sari, bukan orang yang mencintaimu karena kau sekedar wanita yang jika sudah bosan kau akan ditinggal. Orang yang mencintai karena kau adalah Putri Manik Sari, bukan orang yang mencintaimu hanya di kala kau sebagai putri seorang raja,” tutur Anjas.


“Berarti beruntung Kakak Ningsih karena memiliki suami seorang yang terbaik,” kata Putri Manik Sari seraya tersenyum. “Karena hanya orang yang mengerti yang bisa memiliki karakter terbaik seperti itu.”


“Mungkin,” jawab Anjas.


“Sayang sekali, kita tidak bisa menghadiri pernikahan Joko,” ucap Ningsih Dirama kecewa.


“Tidak apa-apa. Yang terpenting kau bisa berkumpul dengan putramu setelah puluhan tahun berpisah,” kata Anjas menenangkan.


“Jadi, Putri Sri Rahayu adalah istri Joko yang keberapa, Tirana?” tanya Ningsih Dirama.


“Yang kedelapan, Ibu,” jawab Tirana.


Mendengar “istri kedelapan” membuat Putri Manik Sari mendelik.


“Maaf, Gusti Permaisuri. Siapa lelaki yang sedang kalian bicarakan?” tanya Putri Manik Sari. Ia begitu penasaran.


“Prabu Dira, suamiku,” jawab Tirana seraya tersenyum.


“Hah!” pekik Putri Manik Sari. “Tunggu tunggu tunggu! Jadi, Gusti Permaisuri adalah istri kedua dan Prabu Dira akan menikahi istri yang kedelapan?”


Anjas dan Ningsih Dirama hanya tertawa rendah melihat reaksi Putri Manik Sari.


“Iya, bahkan Prabu Dira masih akan menikah lagi dengan seorang wanita dari Jurang Lolongan,” jawab Tirana.


“Oooh,” desah Putri Manik Sari sambil mengembuskan napas kelemahan. Ia lalu turun berbaring dan meringkuk di sudut bak pedati dengan wajah menghadap ke papan. Lalu ucapnya, “Aku tidak bisa memikirkan kerumitan cinta seperti itu.”


“Hihihi…!” Tirana tertawa panjang mendengar komentar Putri Manis Sari.

__ADS_1


“Berhenti!” seru seseorang dari arah depan jalan.


Orang berkuda itu datang bersama tiga rekannya yang sesama pendekar. Di belakang mereka ada tiga puluh prajurit bersenjata berseragam biru putih.


Dua dari keempat pendekar berkuda itu adalah Bedak Kerang dan Jambang.


Telah sampai laporan bahwa sebanyak lima puluh budak telah dirampas oleh rombongan berkereta kuda di tengah jalan. Karenanya, penguasa Kadipaten Repakulo mengirim Bedak Kerang, Jambang dan dua rekannya untuk memimpin pasukan tiga puluh orang prajurit guna merebut kembali para budak itu.


Melihat kemunculan satu pasukan, rombongan warga yang ada di barisan belakang segera berkumpul satu.


Tirana lalu bangkit dan melompat ke punggung kuda pedati. Di sana Tirana tidak duduk, tetapi ia berdiri tenang di atas punggung kuda.


“Apa yang kalian inginkan?” tanya Tirana.


“Kami ingin mengambil lima puluh tawanan budak itu!” jawab Jambang lantang.


“Mereka sudah menjadi warga Kerajaan Sanggana Kecil. Jika berani mau merebut wargaku, jangan harap pulang bawa nyawa!” tegas Tirana.


“Beraninya kalian menantang kuasa Kelompok Tinju Dewa!” teriak Bedak Kerang.


“Orang yang kalian bawa untuk merebut orang-orangku terlalu sedikit, kembalilah dan datanglah dengan jumlah yang lebih banyak!” kata Tirana.


“Kalian, prajurit Baturaharja!” teriak Putri Manik Sari tiba-tiba. Ia berdiri marah di sisi kusir pedati.


Melihat keberadaan Putri Manik Sari, terkejutlah para prajurit berseragam pasukan Kerajaan Baturaharja itu.


Terkejutlah Bedak Kerang dan Jambang karena pasukan yang mereka bawa terlihat berubah jadi galau tanpa pegangan.


“Kalian para prajurit Baturaharja, aku beri pilihan. Jika kalian memilih mengabdi kepada penguasa Kadipaten Repakulo, aku sendiri yang akan membunuh kalian. Namun, jika kalian memilih mengikuti perintahku, kalian akan hidup!” seru Putri Manik Sari.


Maka tampak bingunglah para prajurit itu. Mereka saling pandang kepada sesama temannya, seolah meminta pendapat, tetapi tidak ada yang berani berpendapat.


“Baiklah, maka rasakanlah kematian kalian!” teriak Putri Manik Sari lalu melompat naik ke udara.


Zress! Zress!


Kedua lengan Putri Manik Sari tiba-tiba diselimuti sinar kuning yang menyala-nyala seperti api.


Para prajurit itu mendelik ketakutan. Sebagian dari mereka pernah menyaksikan kekejaman Putri Manik Sari saat menghukumi para prajurit. Kedua lengan sang putri sudah siap menghentak.


“Ampuni kami, Gusti Putri!” teriak para prajurit kompak sambil menjatuhkan diri bersujud di tanah.


Buru-buru Putri Manik Sari membelokkan hentakkan tangannya.


Bruss!


Dua gelombang sinar kuning seperti semprotan api yang besar membakar pinggiran jalan, menciptakan kobaran api yang cukup besar.


“Ampuni kami, Gusti Putri! Kami mengabdi kepada Gusti Putri!” teriak seorang prajurit yang memimpin rekan-rekannya.


Terkejutlah Bedak Kerang dan Jambang melihat pasukan mereka.


“Beraninya kalian membelot!” teriak Bedak Kerang gusar.


“Kembalilah kalian berempat. Datanglah dengan pasukan yang lebih besar atau orang-orang yang lebih tangguh!” kata Tirana. “Atau tunggulah kami di Repakulo, kami akan lewat di sana!”


“Ayo!” teriak Jambang sambil memutar balik arah kudanya.

__ADS_1


Ketiga lelaki berkuda lainnya segera berbalik dan pergi meninggalkan pasukannya yang dalam waktu singkat membelot. (RH)


__ADS_2